
Perlahan lahan, Anna mulai membuka matanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Samar samar, dia bisa mendengar suara Saga yang terus terusan memanggil namanya.
"Kak Saga." Anna berusaha mengeluarkan suara meski tubuhnya terasa sangat lemah. Dia mencoba mengingat ingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan.
"Anna, sayang, kamu sudah sadar sayang." Saga menggenggam tangan Anna dan menciumnya berkali kali. Lega saat melihat Anna kembali membuka mata. Begitupu dengan Yuni dan Kai, keduanya langsung mengucap syukur. Cepat cepat Yuni kedapur untuk mengambilkan Anna minum.
"Kak Saga." Tangis Anna langsung pecah saat ingat kejadian sebelum pingsan tadi. Segera dia peluk Saga kuat kuat sambil meringsek ke dadanya.
Melihat Anna yang menangis histeris, Saga jadi panik sekaligus cemas.
"Sayang, ada apa? Apanya yang sakit? Kita kerumah sakit ya sekarang?" Saga melepaskan pelukan Anna. Memperhatikan wajahnya yang pucat sambil memegang perutnya, takut sesuatu terjadi pada anak mereka.
Anna tak kalah cemasnya dengan Saga. Dia memperhatikan suaminya dari atas hingga kebawah. Melihat tak ada luka sama sekali, dia makin gelisah. Apa ini wajar, seorang yang baru saja kecelakaan tidak mengalami luka sedikitpun. Anna menggeleng cepat dengan tubuh bergetar hebat. Berusaha menggerakkan tangannya yang lemas untuk menyentuh wajah Saga. Semoga saja, yang dia lihat saat ini bukanlah arwah Saga.
"Kak Saga, kamu belum matikan?" tanya Anna saat telapak tangannya berhasil menyentuh wajah Saga.
"Hahahaha...."Tawa Kai meledak saat itu juga. Mati? Konyol sekali pertanyaan itu.
Bug
Meski tanpa melihat, Saga bisa melemparkan bantal sofa tepat mengenai kepala Kai. Membuat pria itu langsung berhenti tertawa. Nyengir sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
__ADS_1
"Kakak gak apa apa sayang. Kakak baik baik saja." Saga mendekap tubuh Anna sambil menciumi puncak kepalanya berkali kali.
Anna masih saja terus menangis dalam dekapan Saga. Dia melingkarkan tangannya dipinggang Saga erat erat, takut kehilangan tempat ternyamannya itu.
"Jangan pergi Kak, jangan tinggalin aku. Kakak gak boleh mati, aku gak bisa hidup tanpa Kakak." Ucap Anna disela sela isak tangisnya.
"Kakak baik baik saja sayang. Kakak ada disini, Kakak gak akan pergi kemana mana." Saga melepaskan dekapannya. Menatap Anna lalu menghujani wajahnya dengan ciuman. Dan yang terakhir, dia mencium bibir Anna, dalam dan lama.
"Busyet dahhh.." Kai berdecak lalu membuang pandangannya kearah lain, begitupun dengan Yuni yang ikut merasa malu. Tontonan yang biasanya mereka lihat di film film , hari ini langsung live didepan mata.
"Jadi Kakak baik baik saja?" Lagi lagi, Anna memperhatikan kondisi Saga.
"Kakak baik baik saja." Saga merapikan rambut Anna dan menyelipkannya dibelakang telinga.
Saga seketika menoleh kearah Kai. Menatap pria itu tajam.
"Aku tadi belum selesai ngomong An, tapi kamu udah pingsan duluan," ujar Kai.
"Maksudnya?" Anna menatap bingung kearah Saga dan Kai bergantian.
Kai garuk garuk kepala, tak menyangka jika karena kalimatnya, terjadilah kesalah pahaman seperti ini.
__ADS_1
"Kecelakaan yang aku maksud tadi..." Kai menahan tawa mengingat kejadian tadi sore. "Saga kepeleset dilokasi pembangunan kantor baru. Sekarangkan musim hujan, banyak genangan air. Dia yang fokus membaca laporan, gak ngelihat kalau jalanan becek. Akibatnya kelepeset, jatuh nyungsep kegenangan air." Kai menutup mulutnya dengan telapak tangan. Berusaha menahan tawa ketika ingat wajah hancurnya Saga saat nyungsep digenangan air berlumpur.
"Jadi kecelakaan yang dimaksud seperti itu?" Tanya Anna sambil menatap Saga.
"Iya sayang. Aku gak papa, gak usah khawatir. Justru aku yang khawatir sama keadaanmu dan baby." Saga memperhatikan sambil mengelus perut Anna.
"Aku gak papa kok Kak." Anna kembali menyandarkan kepalanya didada Saga dengan kedua lengan membelit pinggang. Saat ini, dia ingin berlama lama seperti ini, merasakan sandaran ternyamannya.
"Tapi kok bersih?" Yuni masih merasa ada yang janggal dengan cerita Kai.
"Pas Anna telepon tadi, Saga sedang ganti baju. Untung ada baju dimobil, kalau enggak, udah pasti penampilannya kayat tikus got saat ini, hahaha."
Pletak
"Awww..." Kai meringis saat kepala terkena lemparan sesuatu yang berat dan keras. "Paan sih yang lo lempar Ga? Sakit banget tau gak?"
Kai menelisik kebawah. Mencari tahu benda apa yang barusan dilempar Saga ke kekepalanya.
"Ponsel baru gue." Pekik Kai saat melihat bangkai ponselnya dilantai. Layarnya retak meski masih bisa menyala. Tadi saat hendak menciprati wajah Anna dengan air, Kai meletakkan ponselnya diatas meja. Tak punya firasat buruk jika ponsel itu akhirnya akan melayang ke kepalanya dan mendarat dikerasnya lantai lalu berakhir dengan layarnya retak.
"Kejam lo Ga. Nih ponsel kreditannya belum lunas." Kai terduduk dilantai sambil menatap nanar ponselnya yang bernasib naas.
__ADS_1
"Untung ponsel lo yang gue lempar, bukan lo nya."
"Kejam!"