Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
ART BARU


__ADS_3

Ting tong ting tong


Bunyi bel memaksa Anna yang sedang membuat kopi menghentikan aktifitasnyan. Dia kedepan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu pagi pagi sekali.


Seorang wanita dengan baju kotak kotak merah dan celana jins berdiri didepan apartemennya. Dan sebuah tas besar tergeletak dilantai, tepat disebelah kaki wanita yang kira kira berumur awal tiga puluhan itu.


"Apa benar ini rumah Pak Saga Dirgantara?" Wanita tersebut bertanya karena Anna hanya diam, menelisik penampilannya dari atas kebawah.


"Iya benar. Ada perlu apa mencari suami saya?"


"Oh, jadi anda istrinya Pak Saga. Saya Yuni, art yang akan bekerja disini." Perempuan itu mengulurkan tangannya.


Anna tercengang mendengarnya. Perempuan semuda ini akan jadi art dirumahnya. Tidak, dia tidak setuju. Sadar jika Yuni sedang mengulurkan tangan, mau tak mau menjabatnya.


"Anna." Sahut Anna sambil menjabat tangan Yuni. Pikiran Anna langsung bercabang kemana mana saat merasakan tangan Yuni yang halus. Mungkinkah orang yang terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga, tangannya bisa sehalus itu? Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Anna ingat untuk menyuruh Yuni masuk.


"Barang barang saya ditaruh dimana ya Mbak, eh Bu?"


Anna menunjukkan kamar tamu pada Yuni. Disini memang hanya ada 2 kamar saja. Kamar utama dan kamar tamu.

__ADS_1


Saga yang baru keluar dari kamar, mengerutkan dahi melihat wanita asing didalam apartemennya.


"Dia Yuni, art yang akan kerja disini," Anna memperkenalkan.


"Oh..." Saga hanya ber oh ria sambil manggut manggut.


Yuni menghampiri Saga, mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama, begitupun Saga. Hanya melihat mereka berjabat tangan saja, Anna sudah merasa cemburu. Segera dia menarik lengan Saga dan membawanya menuju dapur untuk sarapan. Dia sudah menyiapkan kopi dan roti untuknya.


Tak lama kemudian, Yuni menghampiri mereka didapur. Wanita itu terlihat sudah mengganti pakaiannya dengan daster dibawah lutut. Tak ada yang istimewa dengan daster itu, bahkan warnanya sudah terlihat pudar. Tapi bukan itu yang diperhatikan oleh Anna, melainkan dada Yuni yang terlihat aduhai, lebih besar daripada miliknya.


"Apakah ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?" Yuni bertanya dengan sopan.


"Kamu bersihin wc aja dulu, setelah itu nyuci baju." Sengaja Anna menyuruh itu agar Yuni menjauh dari dapur, lebih tepatnya dari Saga. "Oh iya satu lagi, saya tidak suka milik saya diusik, apapun itu. Jadi saat membersihkan kamar saya, pastikan kamu hanya membersihkannya saja, tak usah menguatik atik barang saya apalagi sampai membuka almari." Perkataan Anna terdengar sangat jelas dan lugas.


"Sayang, galak banget sih. Dia baru hari pertama kerja, gimana kalau gak betah?" ujar Saga.


Anna menatap Saga tajam, seketika membuat Saga garuk garuk kepala. Apakah dia salah bicara?


"Bukankah aku udah bilang, gak mau art yang muda." Anna memang tak mau berkompromi untuk urusan ini. Wanita asing yang tiba tiba masuk kedalam rumahnya, bisa jadi duri dalam daging. Sebelum itu kejadian, dia harus bertindak.

__ADS_1


"Zizi yang cari, bukan aku." Saga membela diri. "Lagi pula masa kamu cemburu sama dia sih?" Saga terkekeh pelan. "Dia gak ada apa apanya dibanding kamu." Saga meraih tangan Anna yang ada diatas meja lalu menggenggamnya. "Berapa kali aku harus bilang, percaya sama aku Anna. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya." Saga berusaha untuk meyakinkan Anna.


Selesai sarapan, Saga mengantarkan Anna ke kampus sebelum dia pergi kekantor. Sepanjang jalan, Saga selalu menggenggam tangan Anna. Dia tahu jika istrinya itu sedang galau saat ini gara gara art baru.


Saga menghentikan mobilnya didekat pintu masuk kampus. Dia membantu melepas seatbelt Anna lalu merapikan rambut istrinya itu.


"Belajar yang rajin. Jika pusing, ijin pulang aja, nanti aku jemput. Ingat, jangan dipaksain kalau gak kuat. Kuliah gak harus sekarang kok, sampai tua juga boleh. Pentingkan kesehatan kamu dan baby."


Saga menundukkan wajahnya, mencium perut Anna sambil berpamitan pada Saga junior.


"Baik baik sama mama ya. Papa kerja dulu. Bye sayang, papa akan merindukanmu." Setelah mengatakan itu, Saga mengecup beberapa kali perut Anna lalu kembali menegakkan tubuhnya. Tapi sepertinya ada yang tidak beres, Saga melihat Anna cemberut.


"Kenapa?"


"Kangennya sama baby doang, sama aku enggak?"


Saga tersenyum sambil mengikis jarak diantara mereka. Menempelkan kening mereka berdua sambil menggesek gesekkan hidungnya pada hidung Anna.


"Satu langkah saja kakimu meninggalkan mobil ini, aku sudah merindukanmu. Tak pernah sedetikpun aku tak merindukanmu. Aku mencintaimu Annaya, sangat mencintaimu." Saga menyatukan bibir mereka. Merasakan manisnya bibir yang menjadi candunya itu. Sebelah tangannya menahan tengkuk Anna agar ciuman itu bisa makin dalam. Sebelah lagi tangannya, tak pernah lepas menggenggam tangan Anna.

__ADS_1


Ciuman itu baru berhenti saat keduanya kehabisan nafas. Kalau saja tak ingat ini sudah siang, Saga masih ingin melanjutkan ciuman panas itu.


"Aku pergi dulu." Anna membuka pintu lalu turun dari mobil. Melambaikan tangan kearah Saga sambil mengatakan I love you tanpa bersuara.


__ADS_2