Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
SO SWEET


__ADS_3

Teriakan serta gedoran Saga dipintu toilet, menarik perhatian beberapa mahasiswa. Beberapa diantanya mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Ada apa sih?"


"Kenapa pintunya dikunci?"


Entah kalimat apalagi yang keluar dari bibir para penonton itu. Tapi satu yang pasti, Saga tak berniat menjawabnya.


Sementara didalam, Putri panik mendengar pria memanggil manggil Anna. Dia yakin itu pasti suami Anna yang barusan dihubungi oleh wanita itu.


"Anna, buka pintunya." Saga kembali memanggil.


"Iya Kak, sebentar." Anna tak ingin membuat Saga yang berada diluar mencemaskannya. Tapi sebelum membuka pintu, dia harus menyelesaikan urusannya dulu.


Anna mendekati Putri sambil tersenyum sinis. Sekarang posisi sudah terbalik, Anna yang merasa diatas awan. "Tenang saja, gue bukan pecundang kayak lo yang beraninya main keroyokan." Anna mencengkeram kuat lengan Putri hingga cewek itu meringis. Tapi sama sekali tak berani membalas.


"Kali ini, gue maafin lo. Tapi enggak buat lain kali. Jangan main main sama gue Putri. Lo tahu apa akibatnya jika sampai gue ngadu ke bokap gue?" Tatapan intimidasi dari Anna membuat Putri gemetaran hebat. "Elo bisa di DO dari kampus ini. Bukan hal sulit buat papa gue ngelakuin itu. Dan kalian." Anna menatap satu persatu teman Putri. "Jika kalian ingin hidup tenang, berbuat baiklah padaku."


"I, iya An." Mereka bertiga kompak menjawab. Meski tak tahu siapa papa Anna, dilihat dari semua yang menempel ditubuhnya serta ponsel yang dia pakai, jelas Anna bukan anak sembarang orang.


"Tapi uang 6 jutanya, lo gak bohongkan?"

__ADS_1


Anna memutar kedua bola matanya jengah. Pertemanan bisa mereka lupakan, tapi sepertinya, tidak untuk uang. Dasar mata duitan.


"Tulis saja nomor rekening kalian dikertas, nanti aku transfer."


Buru buru mereka melakukan apa yang Anna suruh.


"Anna, An, buka pintunya." Saga kembali memanggil. Dia cemas dengan keaadaan Anna. Tadi istrinya itu menelepon dan menyuruh menjemput ditoilet, jelas Saga khawatir. Kerap kali terjadi kecelakaan tak terduga di toilet, apalagi saat ini Anna sedang hamil. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Anna maupun calon anak mereka.


Anna berjalan kearah pintu dan langsung membukanya. Penampilannya membuat Saga terkejut. Bagaimana tidak, rambut basah dan acak acakan, wajah sedikit pucat, hidung memerah serta baju yang basah kuyup.


"Astaga Anna, kamu baik baik saja?" Dengan raut wajah cemas, Saga memindai penampilan Anna dari atas ke bawah, mencari jika ada yang terluka. Melihat Anna yang terlihat kedinginan, Saga melepaskan jas nya lalu mengenakannya pada Anna.


"Aku baik baik saja Kak." Anna tak mau membuat Saga cemas.


Saga mengedarkan pandanganya. Memperhatikan satu persatu cewek yang ada didalam toilet bersama Anna. Diperhatikan seperti itu, membuat nyali mereka menciut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Teriak Saga sambil menatap nyalang kearah mereka bergantian.


Keempat cewek itu langsung gemetaran, terlebih Putri. Badannya gemetar karena takut sekaligus kedinginan.


Tubuh keempat gadis itu membeku. Tak ada satupun yang berani menjawab.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tiba tiba seorang dosen perempuan masuk kedalam toilet. Membuat suasana didalam makin menegang. Tentunya bagi Putri dan teman temannya, tidak untuk Anna.


"Tidak ada apa apa Bu. Kami hanya sedang membuat kejutan pada teman yang ulang tahun," jawab Anna. Dia memang tak ingin memperpanjang masalah ini. Takutnya bukannya jera, Putri malah makin dendam denganya. Dia sedang tak ingin mencari musuh. Lagipula, dia sudah membalas Putri tadi, bahkan dia lebih sadis lagi dalam menyemprot Putri.


Putri dan ketiga temannya bernafas lega. Mereka benar benar akan dalam masalah jika Anna mengadu.


"Dingin, pulang yuk." Anna menarik lengan Saga.


Saga seketika mengangguk. Melihat Anna yang menggigil dan pucat, Saga langsung menggendongnya ala bridal style. Tak pelak semua yang ada disana seketika melongo. Menatap iri kearah Anna yang diperlakukan semanis itu oleh suaminya.


Anna mengalungkan kedua lengannya dileher Saga. Wajahnya memerah karena malu sekaligus senang. Dia menatap Saga dengan jantung yang berdebar debar. Perlakuan manis Saga membuat dia jatuh cinta lagi dan lagi pada suaminya itu.


"So sweet banget." Entah berapa orang yang berkata demikian hingga Anna tak bisa menghitungnya.


Sambil menggendong Anna, Saga berjalan melewati beberapa mahasiswa. Sama sekali tak peduli dengan tatapan mereka. Yang ada dikepalanya, hanya ingin melindungi Anna dan memastikannya baik baik saja.


"Kak, malu."


"Lalu, mau turun?"


Anna menggeleng. "Gak mau."

__ADS_1


Saga menghela nafas sambil tersenyum. Dasar Anna, ngakunya malu digendong, tapi diturunkan tidak mau. Tengilnya gak ilang ilang meski udah mau jadi ibu.


__ADS_2