Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
PULANG


__ADS_3

Kalani menguap berkali kali sambil sesekali melihat jam tangannya. Harusnya kakaknya sudah datang, tapi entahlah, pesawat kakaknya belum juga landing. Dia yang duduk disebuah bangku panjang, menyandarkan kepalanya kedinding.


Karena ngantuk yang teramat berat, sampai sampai dia ketiduran. Tanpa sadar, kepalanya jatuh kesamping, tepat dibahu seorang pria yang sedang sibuk bermain ponsel.


Merasa tak nyaman, pria tersebut menegakkan kepala Lani lalu lanjut bermain ponsel. Tapi tak lama kemudian, kepala itu kembali jatuh kebahunya.


"Nona, Nona, bisakah kau tegakkan kepalamu."


Suara itu lumayan kencang, membuat Kalani terjaga dari tidurnya. Menyadari dia bersandar disebuah bahu, cepat cepat dia menegakkan kepalanya.


Hal pertama yang dia lakukan adalah mengelap sudut bibirnya. Jaga jaga kalau tadi dia ngiler.


Dan benar saja, ia mendapati sudut bibirnya basah. Kalani melotot saat melihat ada bekas tetesan liurnya dibahu pria itu.


"Ma, Maaf Om." Kalani menunduk sebentar lalu berdiri dan buru buru pergi dari tempat itu karena malu.


"Tunggu." Teriakan pria tadi menghentikan langkahnya.


Sial, jangan jangan dia mau menyuruhku mengganti jas nya yang mahal itu. Bisa bisa aku diomeli mama kalau minta duit lagi karena aku baru minta ponsel baru.


Kalani membalikkan badannya sambil memasang senyum semanis mungkin.


"Ponsel kamu tertinggal."


Kalani menepuk dahinya sendiri melihat ponselnya tergeletak dibangku. Nasib baik tak hilang. Dia berjalan menuju bangku yang dia duduki untuk mengambil ponselnya.


"Kamu anak orang kaya?"


Kalani mengernyit mendapati pertanyaan seperti itu? Apakah pantas orang yang tak saling kenal bertanya seperti itu? Rasanya dia tak perlu menjawab.


"Itu ponsel keluaran terbaru yang harganya sangat mahal. Tapi jaman sekarang, tak hanya anak orang kaya saja yang bisa memilikinya. Banyak gadis muda yang rela menukar tubuhnya demi gaya hidup termasuk ponsel."


Kalani langsung melotot mendengar itu.


"Semoga saja kamu bukan salah satu diantara mereka." Pria itu beranjak, pergi begitu saja meninggalkan Kalani.

__ADS_1


"Dasar orang gak jelas."


Gara gara itu, kantuk Lani langsung menghilang.


Tak lama kemudian, pesawat yang ditumpangi Saga mendarat. Kalani langsung melambaikan tangannya kearah Saga sambil memanggilnya. Tanpa sengaja, dia kembali melihat pria tadi. Pria itu terlihat memeluk seorang wanita muda yang baru datang. Sepertinya satu pesawat dengan Saga.


Itu pacarnya, apa anaknya?


Tanpa sadar, Kalani terus saja memperhatikan orang tersebut. Sampai sampai dia terkejut saat ada yang menepuk bahunya. Ternyata kakaknya sudah ada disebelahnya.


"Lihat apa sih, sampai bengong gitu?" tanya Saga.


Lani hanya nyergir ditanya seperti itu. Gak mungkin dia menjawab lagi ngelihatin om om.


"Kangen." Kalani langsung memeluk Saga erat.


"Halah boong. Palingan kangen sama oleh olehnya."


Kalani melepaskan pelukaannya sambil cekikikan. Ketahuankan modusnya.


Saga menyentuh kepala adiknya yang tertutup hijab sambil tersenyum. "Mana mungkin kakak ngelupain pesenan adik kesayangan. Semua pesenan kamu udah Kakak beliin."


"Yee..." Lani langsung berteriak kegirangan.


Saga yang ingin segera sampai rumah langsung mengajak Lani meninggalkan bandara. Di tempat parkir, sudah ada Pak Reno, supir yang menunggu mereka.


Saga sengaja tak memberitahu kepulangannya pada Anna. Dia ingin memberi surprise pada istrinya itu.


"Lan, pesenan Kakak gak lupa kan?" tanya Saga yang sedang memasukkan koper kedalam bagasi, dibantu oleh Reno.


"Enggak dong. Tuh ada di bangku belakang." Lani membuka mobil bagian belakang. Memperlihatkan boneka teddy besar serta sebuket bunga yang tadi dipesan kakaknya.


"Good job." Puji Saga sambil mengusap puncak kepala Lani.


Saga tak sabar ingin segera sampai di rumah mertuanya. Ingin melihat wajah istri yang di rindukan selama dua belas hari ini.

__ADS_1


Anna pasti senang aku tiba tiba pulang.


Saga yang duduk didepan menatap teddy dan bunga dari center miror. Dia membayangkan bagaimana reaksi Anna saat melihat dia datang sambil membawa teddy bear dan bunga.


"Kak Anna pasti seneng banget dapat kejutan dari kakak." Lani memajukan duduknya, mendekat kearah Saga. "Kakakku ini memang sangat romantis," pujinya lagi.


"Masih kurang romantis." Sahut Pak Reno yang duduk dikursi kemudi. "Dulu bapak kamu kalau ngasih bunga ke mama kamu bukan yang kayak gini, tapi bunga hidup. Kalau bunga gini mah, cepat layu."


"Masak sih Om?" Lani penasaran.


"Iyakan Ga?" Reno menoleh kearah Saga.


"Iya, aku masih ingat itu. Papa emang romantis banget orangnya," puji Saga.


"Aku jadi pengen punya suami kayak papa," ujar Lani.


"Jangan." Sahut Saga dan Reno berbarengan.


Lani menatap bingung pada dua pria didepannya bergantian.


"Mau kamu punya suami yang pengalaman nikah 3 kali?"


Pertanyaan Reno itu disambut tawa oleh Saga dan Lani. Mereka memang sudah tahu seperti apa perjalanan cinta orang tuanya dulu.


Reno menurunkan Saga didepan rumah mertuanya. Sedangkan dia dan Lani langsung pulang karena sudah sangat larut.


Sekurity membantu membawakan koper, sedangkan Saga membawa teddy bear dan buket bunga.


Bik Darmi yang ditelepon sekurity langsung membukakan pintu untuk Saga.


"Kok gak bilang kalau mau pulang Den? Tahu gitu bibik siapin makanan."


"Saya gak lapar kok Bi." Saga yang sudah rindu berat pada Anna, langsung menaiki tangga menuju kamar istrinya itu. Senyum senantiasa terukir dibibirnya, tak sabar ingin melihat reaksi Anna dengan kedatangannya yang tiba tiba ini.


Saga membuka pintu pelan pelan agar tak membangunkan Anna. Tapi begitu dia masuk, yang dia lihat hanya ranjang kosong, tak ada Anna disana.

__ADS_1


__ADS_2