
Luisa tercengang menatap tiga buah testpack yang keseluruhannya menunjukkan 2 garis merah. Dia bahkan sampai mengucek mata, takut jika penglihatannya ada masalah. Tapi ternyata tidak, berapa kalipun dia mengucek mata, tetap dua garis merah yang dia lihat, gak berubah jadi dua garis biru kayak judul film, wkwkwk.
Anna menahan tawa sambil bersedekap. Bibirnya gatal pengen ngeledeki mamanya yang tadi tak percaya, tapi karena gak mau dianggap durhaka, dia diam saja dan hanya mencibir dalam hati.
"Udah percaya kan nenek?" Anna menggodanya dengan memanggil nenek.
Bukannya menjawab, Luisa malah berjalan tergesa gesa menuju kamar sambil membawa 3 buah testpack tersebut.
"Ish, mama kok malah pergi gitu aja sih." Anna menghentakkan kakinya sambil cemberut. Dia pikir bakalan dikasih selamat. Ngarep ngarep dikasih tas branded keluaran terbaru, tapi ternyata malah ditinggalin gitu aja.
Anna menyusul mamanya kedalam kamar. Langkahnya terhenti didepan pintu saat mendengar mamanya sedang bicara ditelepon.
"Bener Pah, ini kita lagi gak di prank, Anna hamil."
Anna tersenyum mendengarnya. Ternyata mamanya buru buru kekamar untuk menelepon papanya. Memberitahu kabar gembira ini.
"Nih lihat hasil testpacknya." Luisa yang sedang melakukan video call, menunjukkan testpack tersebut kearah kamera.
Anna mendorong pintu didepannya. Membuka lebar pintu yang awalnya terbuka sedikit itu. Anna masuk lalu memeluk mamanya dari belakang. Dia bisa melihat wajah papanya diponsel.
"Hai kakek." Sapa Anna sambil menyeringai lebar.
"Hai calon mommi." Jeremi balik menyapa Anna. "Gimana kabar baby?"
"Babynya lagi ngambek Kek, minta lamborghini aventador."
"Mulai deh." Luisa dan Jeremi kompak menepuk jidat. Tapi mau protes sama siapa, Anna seperti ini juga karena salah mereka. Kesalahan mereka dalam mendidik Anna. Sejak kecil selalu dimanja karena anak tunggal, setiap permintaannya selalu dituruti meski kadang tak masuk akal.
.
.
__ADS_1
.
Sore hari, Anna dan Saga pergi kedokter untuk memeriksakan kandungan. Saga terlihat sangat antusias, apalagi saat melihat layar usg. Padahal dia gak ngerti, cuma melihat bentuk bulat saja, tapi rasanya, dia sangat bahagia.
"Mamanya kurus banget. Jangan diet ya, makannya ditambahin dikit porsinya." Ujar dokter Nila, spesialis kandungan yang dipilih Saga karena dia ingin dokter wanita yang menangani Anna.
"Tapi babynya sehat kan Dok?" tanya Saga.
"Sehat kok Pah. Nanti saya kasih vitamin dan jangan lupa minum susu buat ibu hamil." Saga dan Anna mengangguk cepat mendengar nasehat bu dokter. "Ada yang mau ditanyakan?" Dokter Nila menatap Anna dan Saga bergantian. "Sepertinya mama ingin bertanya?" Dokter Nila seolah bisa membaca itu dari wajah Anna.
"Emmm...." Anna ragu, tapi sangat penasaran dan ingin tahu.
"Iya Mama, tanya saja, gak usah malu."
"Em...apakah melahirkan itu sangat sakit Dok?"
Dokter Nila tersenyum mendengarnya. Sangat wajar jika wanita semuda Anna dan masih hamil pertama kali menanyakan tentang itu.
Anna merinding mendengar jawaban itu.
"Tapi perbandingannya, jika digigit semut, pas digigit gak begitu sakit, tapi setelahnya, malah gatal gak ilang ilang. Kalau melahirkan, sakit pas babynya mau keluar aja, pas udah keluar, langsung lupa sama sakitnya. Bahkan gak kapok sama sekali, setelah 40 hari, langsung bikin lagi. Iya gak Pah?" Digoda seperti itu, membuat Saga seketika menunduk karena malu. Beda dengan Anna, dia malah cekikian melihat wajah memerah suaminya.
"Beneran Dok, setelah anaknya lahir, udah gak sakit lagi?"
"Benaran, kalau gak benar, mana mungkin ada orang yang anaknya sampai 10, bahkan 12."
Anna manggut manggut. Benar juga, kalau memang sangat sakit, mereka tak akan mau melahirkan lagi dan lagi. Buktinya tak sedikit orang yang mempunyai banyak anak.
Selesai dari rumah sakit, mereka mampir ke supermarket untuk membeli susu hamil. Saking antusiasnya Saga sampai memborong susu berbagai macam rasa. Tak hanya sampai disitu, berbagai macam cemilan sehat serta buah, sayur dan berbagai macam makanan diborong oleh Saga hingga troli mereka penuh.
"Kak, apa ini gak kebanyakan?"
__ADS_1
"Enggak, kan kata dokter kamu harus nambah porsi makannya. Dan inget, gak boleh diet."
"Tapi ntar kalau aku gemuk?"
"Aku cari yang baru."
"Kak Saga." Anna memukul lengan Saga karena dibecandain seperti itu.
"Kayaknya ada yang lupa belum aku beli, kamu tunggu sini bentar ya." Saga meninggalkan Anna yang sedang mengantri, sementara dia kembali menuju bagian snack untuk mengambil biskuit kesukaan Anna yang tadi lupa belum mereka beli.
Saat kembali, dia melihat seorang pria yang berdiri di deretan antrian sebelah Anna, memfoto Anna tanpa sepengetahuan wanita itu. Anna terlalu asyik dengan ponselnya, sampai sampai dia tak menyadari itu.
Geram dengan kelakuan pria itu, segera Saga menghampirinya dan merebut ponselnya.
"Hei, apa apan sih, maling kamu?" Bentak pria tersebut. Sontak semua mata langsung menatap kearah mereka, tak terkecuali Anna.
"Anda yang maling, ini buktinya." Saga menunjukkan beberapa foto Anna yang ada di ponsel pria itu. Pria itu tampak gugup saat tertangkap basah seperti ini. Tapi dia masih berusaha membela diri.
"Memang apa urusannya sama kamu?" Pria itu hendak merebut kembali ponselnya tapi dicegah oleh Saga.
"Apa urusannya? Dia itu istri saya."
Wajah pria itu langsung merah padam mendengarnya. Semua orang disana langsung kompak membulli pria itu.
Saga menghapus semua foto Anna lalu mengembalikan ponsel tersebut.
"Minta maaf sama istri saya," bentak Saga.
"Ma, maaf Mbak, Mas."
"Huuu...." Semua orang langsung menyorakinya.
__ADS_1