
Saga sudah berada didepan kampus untuk menjemput Anna. Jika biasanya dia akan memeriksa pekerjaan disaat seperti ini, beda halnya dengan hari ini. Bukannya dipusingkan karena kerjaan, dia dipusingkan karena ngambeknya Anna. Bingung memikirkan cara bagaimana agar Anna berhenti mendiamkannya. Dia jadi teringat saat dulu pernah mendiamkan Anna, ternyata seperti ini rasanya didiemin, dicuekin, gak enak banget.
Tok tok tok
Suara ketukan dikaca menyadarkan Saga dari lamuanan. Segera dia membuka pintu mobil untuk Anna.
Jika biasanya Anna langsung ketawa tiwi, nyerocos tak karuan, kali ini, dia hanya diam sambil memasang sabuk pengaman. Mulutnya seperti tergembok, dan sialnya kuncinya hilang entah kemana.
"Bagaimana kuliah hari ini, lancar? Baby antengkan, gak bikin kamu kerepotan karena tendangannya?"
"Lancar." Singkat, padat dan jelas. Tak ada embel embel apapun didepan maupun belakang. Sungguh membuat Saga makin kebingungan.
Saga menyalakan mesin mobil lalu mulai membelah jalan raya yang padat.
"Kita langsung ke kedai mie aceh langganan ya," ujar Saga.
"Udah gak pengen."
Saga menelan saliva susah payah mendengar jawaban cepat itu. Mie aceh, ingin sekali Saga menghapus nama itu dari daftar nama makanan, memusingkannya saja.
"Tapi sekarang giliran aku yang pengen." Saga tetap saja melajukan mobilnya ke kedai mie aceh langganan mereka. Siapa tahu saat mencium baunya disana nanti, Anna kembali pengen. Namanya juga usaha, siapa tahu berhasil. Yang penting dicoba dulu.
Saga memarkirkan mobilnya didepan kedai mie aceh. Melihat kedai yang tak begitu ramai, dia bernafas lega. Karena itu artinya, mereka tak perlu lama mengantri.
"Ayo turun." Ajak Saga sambil membuka seatbelt nya.
"Aku gak pengen." Sahut Anna dengan mata tetap fokus pada ponsel didepannya, sama sekali tak berniat menoleh pada Saga.
"Tapi Kakak pengen, yuk temenin."
Anna menghela nafas lalu menoleh kesamping, menatap Saga. "Aku capek Kak, aku tunggu disini saja."
Saga menghela nafas berat lalu turun. Memesan 2 porsi mie aceh untuk dibawa pulang. Rasanya tak lucu jika dia harus makan sendirian.
__ADS_1
Saga kembali dengan 2 bungkus mie ditangan. Berharap aromanya yang sedap bisa meluluhkan hati Anna.
"Kita makan bareng dikantor kakak ya?"
"Aku capek, mau pulang aja." Sahut Anna datar.
"Baiklah, aku antar pulang." Akhirnya Saga nyerah. Mungkin nanti dia bisa nyari artikel diinternet atau bertanya pada papanya cara membujuk bini ngambek.
Kembali Saga memecah padatnya jalan raya dibawah teriknya matahari. Sampai didepan apartemen, tak ada satu patah katapun yang terlontar dari bibir Anna.
Sebelum Anna turun dari mobil, Saga mengusap perutnya yang buncit.
"Baby girl gak ngambek jugakan sama Papa?" Saga mendekatkan wajahnya keperut Anna, berbisik pada calon anak mereka. "Please bilangin sama mama, jangan suka ngambekan."
Begitu Saga menjauhkan kepalanya, Anna meraih tangan Saga dan menciumnya. Lalu tanpa sepatah katapun, keluar begitu saja. Ingat jika Anna tak membawa serta mie acehnya, buru buru Saga turun dan mengejarnya.
"Mie nya ketinggalan." Saga menyodorkan mie tersebut kehadapan Anna.
"Aku kan udah bilang gak pengen." Sahut Anna dengan tampang juteknya.
"Aku bilang enggak ya enggak."
Saga membuang nafas kasar sambil mengumpat dalam hati. Lama lama kesal juga dia. Udah dibaik baikin, malah menjadi jadi. Saga membawa pergi mie tersebut lalu melemparkannya ketempat sampah. Kembali kedalam mobil dan meninggalkan apartemen.
.
.
.
.
Saga kembali ke kantor dengan muka ditekuk. Tak pernah dia sepusing ini gara gara Anna. Sampai sampai dia tak bisa fokus bekerja.
__ADS_1
"Kenapa tuh muka?" tanya Kai yang baru saja memasuki ruangan Saga. "Kusut amat Bro," cibirnya.
"Gak usah mancing, gue lagi kesel banget." Sinis Saga dengan mata yang masih fokus ke layar laptop tapi pikiran kemana mana.
"Emang lo ikan gue pancing." Kai malah tertawa cekikikan. "Coba deh cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu." Kai menarik kursi yang ada didepan Saga lalu duduk disana. Menunggu sahabatnya itu bercerita.
Saga menutup laptopnya, memijit mijit kening sambil menyandarkan punggung. "Anna ngambek."
Mendengar itu, makin kencang lagi Kai tertawa. Seorang Saga Dirgantara sampai pusing seperti ini gara gara bininya ngambek, hebat banget. Mungkin inilah yang dinamakan the power of women, bisa bikin pria kelabakan hanya gara gara ngambeknya.
"Gue lagi gak butuh diketawain." Ujar Saga garang.
Kai berusaha menahan tawanya mendengar itu. "Terus lo butuh apa, saran? Cerita apa yang bikin Anna ngambek, biar gue selaku dokter cinta ini bisa ngasih solusi."
"Hanya karena ngidamnya gak keturutan, dia ngambek, ngediemin gue."
"Gimana ceritanya sampai gak keturutan? Hari itu aja minta laksa singapur langsung di Singapura lo turutin. Terus minta pizza bikinan tangan lo, bisa juga lo turutin meski gue yakin rasanya ambyar." Kai menutupi mulutnya dangan telapak tangan agar tawanya tak pecah, meski perutnya sakit sekali.
"Kali ini dia minta mie aceh."
"Langsung di Aceh?" tebak Kai.
Saga menggeleng, lalu menceritakan duduk perkaranya hingga Anna ngambek. Sampai kejadian siang ini juga tak luput di ceritakan.
"Wah wah wah, gila lo Ga. Bisa bisanya sampai buang makanan, ngapa gak dikasih ke gue aja sih."
Pletak
Bolpoin seketika melayang kejidat Kai. Saga sedang mode gak ingin becanda saat ini, alias mode kepala ngebul.
"Ya harusnya gak sampai buang makanan juga sih Ga. Bini ngambek tuh dielus, bukan lo ikutan ngamuk." Ujar Kai sambil mengusap jidatnya yang panas akibat lemparan bolpoin yang lumayan berat. Gak kayak bolpoin 2ribuan yang super ringan.
"Kurang gue elus gimana lagi sih Kai. Dari dulu ngidamnya udah gue turutin meski kadang gak masuk akal. Cuma semalem aja enggak karena gue capek banget. Gak bisa ngertiin banget sih dia, gue itu capek. Capek pakai banget." Saga mulai terbawa emosi.
__ADS_1
Kai ketawa sambil geleng geleng mendengarnya. "Emang lo pikir Anna gak capek ngebawa anak kalian kemana mana? Tuh perut, lo pikir bikin dia nyaman, gak berat gitu? Dia ngeluh capek gak bawa anak lo kemana mana? Bisa lo kalau Anna capek terus gantian lo yang bawain tuh baby, enggakkan Ga? 9 bulan loh Ga, gak sehari dua hari. Bisa lo bayangin capeknya dia? Belum lagi nanti kalau lahiran taruhannya nyawa Bro. Mikir sampai kesana Ga, mikir. Jadi laki jangan mau enaknya aja. Dia lebih capek daripada lo." Kenapa jadi Kai yang marah marah sekarang?