
Anna mencoba untuk tenang. Mungkin saja hanya mulas biasa atau kontraksi palsu. Dia menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Melakukan itu berkali kali hingga rasa sakit itu hilang.
Anna ke kamar kecil sebentar lalu kembali naik ke atas ranjang. Mencoba untuk tidur kembali, tapi sayangnya rasa sakit itu datang lagi. Takut terjadi apa apa, Anna mendatangi kamar orang tuanya.
"Mama, Ma, Pa." Anna mengetuk pintu sambil memanggil mereka. Mungkin saking nyenyaknya tidur atau apa, tak ada yang mendengar panggilan Anna. "Mamah.." Anna berteriak sangat kencang karena sebal mamanya tak kunjung keluar.
Brak brak brak, dia menggedor dengan sangat keras. Akibat hal itu, tak hanya mama papanya yang terbangun, tapi mbok Darmi dan Bi Nuning ikutan terbangun.
"Anna!" Geram Luisa sambil melotot tajam. "Apa gak ada kerjaan lain, malam malam bikin keributan?" Siapa yang tak kesal jika tidur nyenyaknya diganggu.
"Aku kayaknya mau lahiran Mah."
"WHAT!" Pekik Mama Luisa. Rasa kantuknya seketika hilang dan berganti dengan panik. Begitupun dengan papa Jeremi. Segera dia masuk kedalam untuk mengambil kunci mobil.
"Tenang sayang, tarik nafas buang, inhale, exhale." Mama Luisa mempraktekkan, sedang Anna malah nyengir. "Malah nyengir, lakukan seperti apa yang mama perintah," bentak Luisa.
"Tapi sekarang lagi gak sakit Mah. Tadi sakit pas Anna teriak manggil mama."
Mama Luisa menepuk dahinya sendiri. Bukankah memang seperti itu yang namanya kontraksi, sakitnya hilang timbul. Ditahap pembukaan awal, kontraksi terjadi setiap 5-20 menit sekali.
"Ayo kita kerumah sakit." Papa Jeremi sudah siap dengan tas selempang, dompet, ponsel dan kunci mobil.
"Tapi aku belum mau melahirkan Pah, aku mau nunggu Kak Saga," ujar Anna.
Plak
__ADS_1
"Aduh." Pekik Anna saat mama Luisa mencubit lengannya.
"Kamu pikir waktu kelahiran itu bisa kamu atur sesuka hati? Kalau udah saatnya lahiran yang harus lahiran, mana bisa nunggu bapaknya dulu." Mama Luisa yang tadinya panik dan cemas, jadi kesal gara gara ucapan Anna.
"Udah jangan berdebat, ayo kita kerumah sakit sekarang." Papa Jeremi yang paling gercep.
"Tunggu, mama siap siap dulu. Kamu juga Anna, siap siap sana. Mbok Darmi, bawa keluar koper yang sudah saya siapkan dikamar Anna." Jauh jauh hari, mama Luisa sudah menyiapkan apa saja yang akan dibawa Anna saat melahirkan nanti. Memasukkan semuanya kedalam koper agar nanti tinggal langsung bawa.
"Jangan lama lama dandannya Mah." Papa Jeremi hafal kebiasaan istrinya yang suka dandan lama.
"Tenang Pak." Ujar Mbok Darmi. "Orang melahirkan itu ada prosesnya. Gak setelah sakit tiba tiba langsung brojol kayak di tipi. Kalau dilihat dari lamanya jarak kontraksi, Non Anna sepertinya masih pembukaan 1, masih lama menuju lahiran. Bapak tenang saja, nyetirnya juga woles, jangan ngebut."
"Ganti profesi jadi bidan aja Mbok, cocok kayaknya," ujar papa Jeremi.
"Gak cocok Pak kalau jadi bidan." Bi Nuning menimpali. "Lebih cocok jadi dukun beranak."
"Sudah sudah, cepetan siap siap."
Selesai bersiap siap, mereka bertiga menuju rumah sakit. Dan setelah dicek, ternyata benar kata Mbok Darmi, masih pembukaan 1.
Pagi hari setelah subuh, Anna berjalan jalan disekitar rumah sakit ditemani mama Luisa. Dia tak menyangka jika proses pembukaan selama ini. Dari tengah malam tadi dia merasakan kontraksi, tapi hingga subuh, masih saja pembukaan 1.
Tak sengaja, Anna melihat sepasang suami istri yang sedang duduk ditaman. Sang istri tampak meringis menahan sakit, sedang suaminya dengan penuh perhatian mengusap punggungnya. Air mata Anna menetes, andai saja ada Saga, pria itu pasti juga akan memperlakukan dia seperti itu.
"Apa kau ingin menelepon Saga?" Mama Luisa paham apa yang Anna rasakan.
__ADS_1
"Ini masih jam 5 sore waktu sana Mah. Mungkin dia baru selesai bekerja, atau bahkan belum. Nanti kalau dia sudah tak sibuk dan ada dihotel, pasti meneleponku." Anna tak mau mengganggu kerja Saga.
Mereka melanjutkan jalan kaki sambil menghirup udara segar. Tak lama kemudian, papa Jeremi datang dengan sekeresek besar makanan. Dibelakangnya juga ada dua orang asistennya yang juga membawa makanan. Anna dan mama Luisa sampai melongo.
"Ayo makan dulu biar banyak tenaganya saat melahirkan nanti." Papa Jeremi mengambil 3 kotak makanan berlogo restoran ayam goreng yang sangat terkenal. Meletakkan diatas bangku sebelah Anna duduk.
"Banyak sekali makannya Pah?" tanya Anna.
"Bukan untuk kamu semua, tapi untuk dibagikan kepada mereka." Papa Jeremi menunjuk beberapa orang yang sedang ada ditaman. "Sedikit berbagi, siapa tahu mereka ikut mendoakan agar lahiran kamu lancar dan mudah."
"Aamiin." Mama Luisa dan Anna mengaminkan.
"Makasih banyak Pah." Anna berdiri lalu memeluk papanya. "Maaf, selama ini Anna selalu merepotkan papa. Selalu bikin ulah dan mengecewakan papa." Anna menangis sesenggukan saat teringat seperti apa kelakuannya selama ini yang selalu membuat kedua orang tuanya pusing.
"Jangan bilang seperti itu." Papa Jeremi ikut meneteskan air mata. Tangannya bergerak mengusap punggung Anna. "Papa sayang kamu. Meskipun kamu sangat tengil, tapi papa bangga punya anak seperti kamu."
Mama Luisa yang menyaksikan itu ikut menangis. Anna memang sering merepotkan mereka, tapi Anna tetaplah anak mereka satu satunya yang paling mereka sayang.
...----------------...
Hai hai hai....Author lagi mau bikin giveaway nih. Bantuin Author nyari nama buat anaknya Saga dan Anna. Buat baby girl ya. Nama depan saja karena belakangnya pakai nama Dirgantara sesuai nama Saga.
Buat nama yang terpilih, akan ada hadiah pulsa sebesar 20k. Jangan diketawain kalau cuma dikit hadiahnya 🤭🤭🤭. Sayembara nama ditunggu hi ngga hari sabtu. Komen di bab yang ini aja untuk namanya.
Dan untuk pemberi dukungan terbanyak dinovel ini, juga akan dapat pulsa 20k.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk semua pendukung setia.