
Kai sangat senang melihat Saga dan Anna datang. Apalagi melihat makanan yang mereka bawa. Dia yang sebatang kara di Jakarta memang sangat butuh dikunjungi saat ini.
"Kenapa dia?" Kai menunjuk dagu kearah Anna yang termenung dikursi. Datang menjenguk orang sakit, bukannya menanyakan keadaan, malah hanya duduk bengong dikursi.
"Takut."
"Kenapa, punya trauma dengan rumah sakit?"
Saga menggeleng. "Takut melahirkan."
"Jadi Anna sudah hamil? Selamata ya." Kai ikut merasa senang.
"Belum. Tadi dia ngeliat ibu hamil yang mau melahirkan, makanya dia takut."
"Hahaha...." Kai tertawa terbahak bahak, membuat atensi Anna langsung tertuju padanya. "Nikah sama bocil sih, ya gitu. Beda cerita kalau nikahnya sama yang udah dewasa kayak Rania, pasti udah siap."
Saga mendesis pelan sambil memelototi Kai. Membuat pria itu cepat cepat menutup mulutnya yang dirasa keceplosan.
Anna langsung panas dibandingkan dengan Rania seperti itu. Dia beranjak dari duduknya, menghentakkan kaki kesal lalu keluar.
"Tuhkan ngambek dia. Punya mulut gak bisa dijaga," omel Saga.
"Sorry Ga, sorry."
Saga segera mengejar Anna. Sayangnya pas keluar kamar, dia tak lagi melihat Anna. Entah belok kekanan atah kiri, dia jadi bingung.
Anna yang kesal berjalan kesembarang arah karena tak ada tujuan. Hingga akhirnya, dia berhenti disebuah taman. Duduk didekat kolam ikan koi sambil memperhatikan ikan ikan yang terlihat hidup tenang dan bahagia itu.
Menyebalkan, kenapa selalu Rania, Rania dan Rania. Apa dia memang sesempurna itu.
Anna terus saja menggerutu dalam hati. Hanya mendengar namanya disebut saja, dia sudah emosi jiwa.
"Anna."
Anna menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Ternyata ada Umi nyai yang tengah mendorong kursi roda Rania kearahnya.
Diantara sekian banyak manusia dibumi, kenapa pula ketemunya harus Rania. Kenapa gak Song Kang atau Song jong ki aja sih?
Anna menggerutu dalam hati lalu mencium takzim tangan Umi lalu bersalaman dengan Rania. Tersenyum meski itu hanya sebuah kepura puraan.
__ADS_1
Bahkan saat tanpa make up pun, Rania tetap cantik.
"Apa kamu kesini untuk menjenguk Rania?" tanya Umi.
"Emm...iya." Terpaksa dia bilang iya karena semalam saat menanyakan rumah sakit tempat Rania dirawat, dia bilang mau menjenguknya.
"Tadi sudah ke kamar Rania?" Umi pikir Anna sudah kesana dan mendapati ranjang Rania kosong karena mereka sudah cukup lama diluar.
"Belum, masih menunggu Kak Saga. Dia masih menjenguk temannya yang dirawat disini juga."
"Jadi Saga juga ada disini?" tanya Umi.
Anna mengangguk sambil tersenyum. Dia melihat raut berbeda diwajah Rania saat nama Saga disebut. Semoga saja, wanita itu tidak masih menyimpan rasa untuk Saga.
"Bagaimana kondisi Kak Rania?" Anna berbasa basi. Tak enak juga jika bilang mau jenguk tapi tak menanyakan kondisi.
"Alhamdulilah, sudah membaik." Jawab Rania sambil mengusap perutnya. "Debainya juga sudah sehat."
"Bagaimana, kamu udah isi belum?" Tanya Umi sambil menyentuh perut Anna yang datar.
"U, u , udah. Udah isi." Anna terpaksa berbohong karena dia tak mau dianggap kalah dari Rania. Dia harus menunjukkan pada Rania jika Saga sudah move on darinya, dan sekarang mereka sangat bahagia.
"Selamat ya," ujar Rania.
"Kalian mengobrol dulu ya. Umi mau ketoilet."
Anna dan Rania mengangguk, hingga tinggalah mereka berdua disana. Suasana tiba tiba berubah menjadi kaku, tapi Rania berusaha mencairkannya.
"Apa kamu sering mengalami morning sickness?"
Apa itu morning sickness?
"I, iya." Jawab Anna meskipun dia tak tahu apa itu.
Disisi lain, Saga yang sedang mencari Anna, tersenyum lega melihat wanita itu dari kejauhan. Dia tak melihat siapa yang bersama Anna karena posisi Rania membelakanginya. Gegas dia berjalan menghampiri Anna.
"Sayang, ternyata kau disini."
Anna yang awalnya menunduk karena sedang mengobrol dengan Rania yang duduk dikursi roda seketika mengangkat wajah mendengar suara familiar itu. Begitupun Rania, dia juga menoleh kebelakang.
__ADS_1
Saga mendadak salah tingkah saat tahu Anna sedang bersama Rania. Dia tahu istrinya itu sangat sensitif tentang Rania. Semoga saja tak terjadi sesuatu saat mereka bertiga berkumpul ditempat yang sama. Untuk beberapa detik, Rania dan Saga terjebak adegan saling tatap, lalu buru buru Saga mengalihkan pandangan.
Ternyata peristiwa itu tak luput dari penglihatan Anna. Meski hanya beberapa detik, tetap saja dia merasa panas. Dia mendekati Saga dan langsung menarik lengan pria itu agar berdiri disisinya.
Rania tersenyum melihat tingkah Anna yang cenderung posesif.
"Rania, apa kabar?" Saga berbasi basi.
"Alhamdulilah, sudah lumayan baik Ga."
Anna ingin segera mengajak Saga pergi dari tempat itu. Tapi itu tidak mungkin karena tadi Umi nyai menitipkan Rania padanya.
"Selamat ya Ga."
Saga bingung saat Rania tiba tiba mengucapkan selamat.
"Kamu pasti sangat bahagia."
"Tentu, tentu sangat bahagia." Anna menyahuti lebih dulu sebelum Saga salah bicara. "Ini calon anak pertama kami." Anna meraih tangan Saga lalu meletakkan diatas perutnya.
Anak, anak apa maksudnya?"
Anna berusaha memberi kode lewat mata. Disaat itulah, Saga paham jika istrinya itu sedang berpura pura saat ini.
"Sudah berapa minggu?"
Anna dan Saga saling menatap lalu tersenyum.
"Empat."
"Delapan."
Mereka kompak memberikan jawaban, sayang yang keluar dari bibir mereka tidak sama.
"Maksudku delapan."
"Maksudku empat."
Bahkan mereka juga kompak saat mengklarifikasi. Sayangnya malah membuat membingungkan. Niat hati Saga ingin menyamakan seperti Anna. Begitupun dengan Anna.
__ADS_1
Rania mengeryit bingung. "Empat atau delapan?"
Saga dan Anna sama sama diam. Saga menunggu Anna memberi jawaban agar tak berbarengan seperti tadi, tapi rupanya, Anna juga sedang menunggu Saga. Hingga beberapa detik berlalu, hanya keheningan yang tercipta.