
Taksi yang ditumpangi Anna berhenti didepan pagar tinggi rumahnya. Tiba tiba ada perasaan ragu untuk turun. Orang tuanya akan tahu dia ada masalah dengan Saga jika hampir tengah malam seperti ini tiba tiba pulang. Tidak, dia sudah bertekad untuk berubah lebih baik. Mengadu masalah rumah tangga pada orang tua bukanlah pilihan yang tepat, bukan tindakan dewasa.
"Udah sampai Mbak, gak mau turun?" tanya supir taksi.
"Kita kembali lagi aja ketitik awal saat menjemput saya tadi."
"Ke apartemen lagi?" Supir taksi tersebut dibuat geleng geleng dengan tingkah gak jelas penumpangnya. "Bayarannya kali ini juga tiga kali lipatkan?"
Anna langsung memelototi supir yang menoleh kearahnya itu.
"Kamu gak lihat seperti apa rumah saya?" Anna menunjuk kearah rumahnya. "Kamu pikir saya gak kuat bayar kamu?" bentak Anna.
"Yaelah mbak, cuma nanya doang, udah disemprot." Supir taksi itu menghela nafas lalu kembali fokus pada kemudinya. Melajukan mobil menuju titik awal penjemputan.
.
.
Meski tubuhnya sangat lelah karena mengurusi Kai dirumah sakit, Saga memaksakan diri untuk menyusul Anna yang dia pikir ada dirumah Papa Jeremi. Dulu Anna sudah berjanji tak akan ke club malam lagi, jadi Saga pikir, dia pasti ada di rumah orang tuanya atau dirumah temannya waktu itu.
Dengan langkah terburu buru, Saga menyusuri koridor menuju lift. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Anna keluar dari lift. Dia bernafas lega, segera menghampiri Anna dan memeluknya.
"Akhirnya pulang juga. Kakak mengkhawatirkanmu."
__ADS_1
Cih, bohong banget.
Anna mendorong Saga hingga pelukan pria itu terlepas. Berjalan begitu saja meninggalkannya menuju unit mereka..
Saga berdecak pelan lalu mengekor dibelakang Anna. Menunggu sampai diunit mereka baru meminta maaf.
"An, maafin kakak ya udah buat kamu kesel karena nunggu lama."
Bukannya menyahuti, Anna malah langsung masuk kamar.
"Anna." Saga meraih pergelangan tangan Anna agar wanita itu berhenti dan mendengarkan penjelasanya.
"Lepasin." Seru Anna sambil menarik tangannya dari cekalan Saga. "Kak Saga udah bener bener keterlaluan. Tega Kak Saga giniin aku." Tangis Anna yang tadinya udah reda, kembali pecah. Sakit sekali jika ingat Saga lebih memilih menjenguk Rania daripada pulang kerumah disaat dia sudah mewanti wanti agar langsung pulang.
"Bohong!" Sahut Anna cepat. "Kak Saga emang sengajakan gak ngabarin aku? Biar apa, biar aku gak gangguin kebersamaan kalian hah?" Emosi Anna terlihat meluap luap, sampai sampai Saga bingung. Hanya karena telat pulang dan tidak ngabari, sampai semarah ini. "Kenapa Kak, kakak ingin balikan dengan wanita itu? Ya, dia sudah menjadi janda sekarang, tak ada lagi penghalang karena pria bisa menikah lebih dari satu."
Saga bingung dengan apa yang dibicarakan Anna. Kenapa tiba tiba bahas janda dan poligami.
"Maksud kamu apa sih An? Kakak gak ngerti?"
Anna menyeka air matanya sambil tersenyum miring. "Kakak pikir aku bodoh, jadi segampang itu kakak bohongi, pakai pura pura gak ngerti. Kakak kerumah sakit buat jenguk Rania kan?"
Mata Saga seketika membulat sempurna. Akhirnya dia tahu kenapa Anna semarah ini. Dia pikir, Anna marah karena menungunya yang tak ada kabar, ternyata gara gara ini.
__ADS_1
"Aku nungguin kakak sejak sore. Hari ini, aniv 4 bulan pernikahan kita. Aku pengen ngerayain kecil kecilan. Ternyata apa, Kakak malah asik jagain janda yang sakit dirumah sakit."
"Kamu salah paham Anna." Saga hendak memegang bahu Anna tapi wanita itu lebih dulu menghindar.
"Gak usah ngelak lagi. Jelas jelas Kak Saga udah kepergok berada dirumah sakit."
Saga menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal melainkan pusing. Dia tahu karakter Anna. Wanita itu selalu ngeyel, apalagi jika merasa benar. Jadi lebih baik dia diam dulu saja ada waktu yang tepat buat ngejelasin.
"Aku tahu dia lebih segalanya dari aku. Tapi seenggaknya, hargai aku sebagai istri kakak. Apa pantas seorang pria beristri mengunjungi mantan kekasihnya yang sudah menjadi janda? Apalagi tanpa sepengetahuan istrinya. Aku juga punya hati Kak, pikirin perasaanku?" Air mata Anna jatuh makin deras. Hatinya benar benar sakit. Disaat dia sudah jatuh cinta sejatuh jatuhnya, malah seperti ini pembalasan Saga.
Saga masih diam, dia biarkan Anna mengeluarkan semua isi hatinya.
"Tolong hargai perasaanku. Jangan sakiti aku seperti ini Kak, ini sakit, sakit sekali." Anna menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Aku tahu aku tak sesempurna Rania. Tapi disini, akulah istri kakak. Aku, bukan Rania. Aku istri sah Kakak, meski Kakak tidak mencintaiku."
Saat itu juga, Saga langsung memeluk Anna erat.
"Lepas kak, lepas."
Bukannya melepas, Saga malah mempererat pelukannya.
"Aku mencintaimu Anna."
__ADS_1