
Saga terdiam, memikirkan apa yang baru saja diucapkan Kai. Anna jelas lebih lelah daripada dia. Kemana mana harus membawa perutnya yang buncit. Dia juga merelakan tubuh langsingnya menjadi gendut demi mengandung buah hati mereka.
"Minta maaf sana sama bini lo. Bawain bunga atau ajak jalan jalan biar moodnya bagus. Kalau cinta mah, gak akan ada kata capek Ga. Ingatkan gimana kata pujangga. Laut kan kuseberangi, gunung kan kudaki, demi apa coba, demi cinta." Kai belum selesai juga dengan ceramah kenegaraannya. Sok bijak, sok ngerti urusan rumah tangga, padahal dia sendiri belum nikah.
"Halah, itu mah bulshit. Siapa juga mau menyeberangi lautan? Yang ada mati. Cinta boleh, goblok jangan." Sahut Saga sambil memutar kedua bola matanya malas.
Kai berdecak lalu berdiri. "Heh, tuh berita tipi, ada yang bunuh diri gegara putus cinta. Yang kayak gitu masih bisa bilang bulshit lo?" Kai jadi ikutan naik darah.
"Kalau lo diputusin sama Mary, bunuh diri juga lo?"
"Ya enggak juga sih." Sahut Kai sambil nyengir lalu duduk kembali.
Saga geleng geleng sambil membuang nafas kasar. Nasehatin orang emang gampang, tapi dia sendiri belum tentu bisa menerapkan itu.
"Intinya gini aja sih Ga. Hamil itu gak tiap hari, begitupun ngidam. Kuat kuatin dulu lah sampai baby kalian lahir."
Saga mengambil air mineral diatas meja lalu menegaknya hingga habis. Kesimpulan yang dia ambil dari ceramah Kai yang panjang plus lebar tadi adalah dia harus sabar. Sabar dan lebih mengalah lagi, itu intinya.
Kai melihat jam tangganya, baru sadar jika mereka sudah telat. Mereka harus meninjau pembangunan kantor baru.
.
.
.
Anna duduk didepan tv sambil termenung. Dipangkuannya, ada setoples cemilan yang hanya dibuka, tapi gak dimakan sama sekali. Sama seperti tv, meski menyala, tapi dia tak fokus menonton.
Dia kepikiran dengan Saga. Tak biasanya pria itu marah sampai buang makanan seperti tadi siang. Saga adalah orang yang sangat menghormati makanan, paling anti yang namanya membazir. Semua itu karena ajaran dari mamanya yang terbiasa hidup susah sejak kecil.
"Ibu hamil gak boleh stres, bahaya kalau sampai darah tinggi." Ujar Yuni yang manghampirinya lalu duduk lesehan dikarpet bawah sofa yang Anna duduki.
__ADS_1
"Duduk sini aja mbak." Anna menepuk bagian sofa disebelahnya. Bagaimanapun, Yuni lebih tua dari dia, rasanya tak pantas jika dia duduk diatas sedang Yuni dibawah.
Seperti perintah Anna barusan, Yuni pindah kesofa. "Mau dipijitin Non kakinya?"
Anna menggeleng. "Gak usah." Mendadak dia rindu kakinya dipijitin Saga. Sebenarnya tak hanya rindu dipijitin, tapi juga rindu orangnya.
"Mikirin apa sih Non, kok kayaknya galau gitu?"
"Mbak Yuni anaknya 2 kan?"
Yuni mengangguk. Dia memang pernah menceritakan soal itu pada Anna. Kedua anaknya diasuh orang tuanya dikampung, karena dia harus bekerja menggantikan tugas suaminya yang telah tiada. Ya, suami Yuni meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu.
"Dulu pas hamil, sering ngidam juga?"
"Pernah, tapi gak sering. Ngidamnya juga gak kayak Non Anna, minta babymoon ke Itali. Mbak paling ngidamnya martabak, telor asin gitu gitu aja Non. Pernah dulu kepengen banget makan buah delima."
"Keturutan?"
"Suami idaman banget. Kak Saga mah, aku cuma minta mie aceh aja gak diturutin, alasanya capek, ngeselin bangetkan?" Rasa kesal itu kembali menguasai hati Anna.
"Ya mungkin emang lagi capek Non. Saya lihat Pak Saga itu orangnya baik banget, perhatian dan sayang sama Non Anna. Mbak yakin kalau gak capek pasti ya diturutin meski nyari sampai ke aceh. Hari itu aja, minta makan laksa di Singapura diturutin, masa iya cuma mie aceh aja enggak?"
Dalam hati, Anna membenarkan ucapan Yuni. Apa mungkin dia saja yang keterlaluan. Terlalu memaksa dengan dalih ngidam.
"Nona marahan ya sama Pak Saga. Saya lihat tadi pagi kok diem dieman pas makan, gak kayak biasanya."
"Saya kesal sama dia Mbak."
"Kesel boleh Non, tapi jangan lama lama, kasihan Pak Saga. Entar kalau sudah kehilangan kayak saya, baru menyesal. Saya saja sering menyesal jika ingat dulu pernah marah sama suami." Yuni menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Melihay Yuni menangis, Anna yang memang sensitif karena faktor hormon kehamilan, jadi ikutan nangis. Tak bisa membayangkan jika dia ada diposisi Yuni. Masih muda tapi sudah ditinggal mati suaminya.
__ADS_1
"Yang sabar mbak." Dia yang awalnya mau curhat, malah mendengarkan curhatan Yuni, dan sekarang sedang menyemangati wanita itu.
"Pak Saga itu baik Non. Saya yakin bukan niat dia gak nurutin mau nya Non Anna. Jangan marahan, jangan sampai nanti kalau dia udah gak ada, Non Anna menyesal."
"Mbak Yuni kok ngomong gitu sih." Tangis Anna makin kencang.
"Ya udah, biar hatinya plong, Pak Saga juga gak kepikiran Non Anna yang ngambek, mending sekarang telepon dia."
Anna melihat jam dinding. Sebantar lagi waktunya Saga pulang. Mending dia telepon sekarang, selain minta maaf, juga nanyain apakah dia lembur atau tidak.
Anna mengambil ponsel yanga ada diatas meja. Mencari nomor Saga lalu meneleponnya. Panggilan pertama tak dijawab, begitupun dengan panggilan kedua. Tiba tiba, Anna merasa gelisah, semoga saja suaminya itu dalam keadaan baik baik saja sekarang. Anna kembali menghubunginya, alhamdulilah, kali ini tersambung.
"Hallo." Bukan Saga yang menjawab, melainkan Kai. Anna melihat ponselnya, takutnya dia salah nomor.
"Hallo An, ini Kak Kai."
"Oh..." Anna lega karena ternyata dia tak salah nomor. "Kenapa ponselnya Kak Saga ada pada Kakak, dimana dia?"
"I, itu, Saga barusan kecelakaan."
Anna langsung syok mendengarnya, ponsel yang dia pegang terjatuh dan pandangannya seketika gelap.
"Non Anna, Non Anna kenapa? Bangun Non." Yuni panik melihat Anna tiba tiba pingsan.
"Hallo An, Anna, hallo Anna." Kai memanggil manggil Anna saat mendengar suara panik Yuni. Sekarang, dia ikutan panik juga. "Anna, An."
Saga yang baru kembali dari toilet heran mendengar Kai memanggil manggil nama istrinya. Saat dia dekati, ternyata Kai sedang berbicara menggunakan ponselnya.
"Kenapa Anna?"
Kai kaget melihat Saga sudah berdiri disebelahnya. "Kayaknya bini lo pingsan Ga."
__ADS_1
"APA!"