
Saga mengernyit saat melihat istrinya dilayar ponsel. Sekarang jam 1 siang di US, itu artinya, jam 1 tengah malam di Jakarta. Dan Anna, mata wanita itu masih terlihat terang benderang. Tak ada tanda tanda mengantuk sama sekali.
"Udah malam, kenapa telepon Kakak?"
"Gak bisa tidur, kengen."
Saga menghela nafas. Andai saja dia ada disana, sudah pasti akan dia peluk Anna sampai tertidur pulas.
"Udah dicuci belum itu?" Saga menunjuk dagu kearah kemeja yang dipakai Anna.
"Belum." Sahut Anna sambil tertawa cekikikan. Entah sudah berapa kali Saga menyuruh Anna mencucinya, tapi wanita itu kekeh tidak mau. Tiap malam, dia akan menggunakannya saat tidur. Entah sudah seperti apa baunya karena ini sudah hari ke 8 Saga ada di US. "Tiap hari aku semprotin parfum kamu." Anna menarik sedikit kemeja yang dia pakai lalu menciumnya. "Masih wangi."
"Wangi tapi kotor, sama aja bohong. Cuci terus kasih parfum lagi kan sama aja."
Anna menggeleng cepat. "Beda, gak ada bau keringat kamu." Saga seketika tergelak mendengarnya. Bumil kalau lagi rindu, kelakuannya suka aneh aneh.
"Tidur gih, udah malem."
"Masih kangen," rengek Anna.
"Gak baik begadang. Besok pagi aku telepon kamu. Sekarang bobok ya." Kenapa jadi seperti bapak yang nyuruh anaknya tidur?
Anna mendengar seseorang memanggil Saga, sepertinya suaminya itu sedang sibuk saat ini. "Sibuk?"
"Sedikit." Saga melihat jam tangannya. "Masih ada waktu 5 menit untuk melepas rindu."
Anna tersenyum mendengarnya. Jika dulu waktu 5 menit tak ada artinya. Saat terpisah jarak seperti ini, 5 menit terasa sangat berharga. Biarpun setiap hari video call berkali kali, tetap saja tak bisa menghapus rasa rindunya.
"Jadi pulang kapan?"
__ADS_1
Ekspresi Saga seketika berubah. Dua hari yang lalu, dia bilang jika besok akan pulang. Tapi ternyata, urusannya belum selesai.
Melihat wajah keruh suaminya, Anna menduga kepulangannya pasti ditunda.
"Kenapa, gak jadi besok?"
Saga menggeleng. "Maaf, mungkin masih sekitar seminggu lagi."
What, seminggu lagi? Hampir saja Anna berteriak karena syok. Hpl nya 5 hari lagi, jika Saga pulang seminggu lagi? Semoga saja dia belum lahiran saat itu. Tapi dia tak mau menunjukkan kegelisahannya.
Anna mengulum senyum. "Tak apa, bukankah aku wonder women. Jangankan hanya menahan rindu, melawan 4 orang dengan tangan kosong aja aku menang." Anna tergelak, tapi bersamaan dengan itu, air matanya menetes. Sesungguhnya, dia sudah sangat tersiksa dengan rindu ini. Setiap hari hanya bisa melihat dan bicara tanpa bisa menyentuh. Tiap malam tersiksa karena tak bisa tidur. Menyebalkan sekali situasi ini.
"Hei, jangan menangis. Mana ada wonder women yang nangis. Tidurlah, akan aku bacakan dongeng hingga kamu tertidur."
Anna tertawa sambil menyeka air mata. "Emang aku anak kecil dibacain dongeng?"
"Anggap saja aku sedang bacain dongen buat baby girl. Apa kabar dia? Tidak menendang kuatkan hari ini?"
Anna rebahan lalu meletakkan ponsel yang terganjal bantal disebelahnya. Dia tidur miring sambil menatap Saga yang membacakan dongeng. Tapi baru dimulai, Saga sudah dipanggil lagi.
"Ya udah Kakak kerja lagi. Aku tak mau mengganggu, takut malah gak selesai selesai dan gak pulang pulang. Bye bye my hubby, I love you, emmuaahh."
Dengan sangat terpaksa, Saga harus mengakhiri panggilan video call tersebut.
"Love u too baby."
.
.
__ADS_1
.
Sudah hampir tengah hari Anna baru terbangun. Itupun karena panggilan dari Saga. Jam tidurnya memang kacau sejak tak ada Saga. Tidur selalu diatas jam 1, dan bangun saat hampir siang hari.
Anna keluar dari kamar sambil menguap. Kemeja milik Saga masih menempel dibadannya. Kalau saja tidak lapar, dia masih ingin lanjut tidur lagi. Tapi dia tak boleh egois, baby girl pasti juga lapar.
Seperti biasa, Bi Nuning akan langsung menyiapkan makanan saat nona mudanya itu duduk dimeja makan. Dengan mata yang setengah tertutup, Anna berusaha menghabiskan makanannya.
"Kita jalan jalan yuk." Ajak mama Luisa yang menghampiri Anna dimeja makan.
"Malas ah Ma, ngantuk."
"Kamu jangan tidur aja. Mendekati persalinan harus banyak jalan, banyak olah raga agar nafasnya kuat saat melahirkan. Kita ke mall, belanja kebutuhan baby."
Anna menghela nafas lalu meminum air putih yang ada didepannya. Dalam 8 hari ini, 6 hari dia jalan ke mall bersama mamanya. "Udah terlalu banyak kita belanja Mah. Bisa bisa kamar baby girl nanti gak muat buat naruh baju dan sepatunya."
"Masak sih udah banyak?" Mama Luisa garuk garuk kepala. Setiap mereka shopping, mama Luisa yang selalu kalap membeli barang. Sampai sampai Anna menyadari satu hal, yaitu hobi shoppingnya adalah turunan dari mamanya.
"Kita jalan-jalan keliling komplek aja nanti sore." Papa Jeremi yang baru datang ikut menimpali.
"Papa gak kerja?" tanya Anna.
"Capek kerja terus. Papa yang capek nyari uang, kalian berdua capek menghabiskan." Serunya sambil menunjuk Anna dan Mama Luisa bergantian.
"Ya udah mulai sekarang mama gak akan ngabisin duit papa. Tapi kalau mama jelek karena tak perawatan, papa jangan protes." Sahut Mama Luisa santai.
Anna tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kearah mama Luisa.
"Dan kalau Anna sampai kurus, jangan salahkan Anna kalau Kak Saga ngamuk ngamuk pas pulang karena istrinya gak dikasih makan enak." Anna ikut ikutan menyudutkan.
__ADS_1
"Angel wes angel." Kalau sudah begini, papa Jeremi hanya bisa garuk garuk kepala.