
Melihat Saga sudah bersiap siap untuk tidur, Anna ikut naik keatas ranjang. Berbaring disebelah Saga lalu memeluknya dari belakang.
"Maaf." Entah sudah keberapa kali dia mengucapkan itu, tapi tak ada respon sama sekali dari Saga.
"Kak, jangan diemin aku, aku kangen." Suara isak tangis itu masih terdengar, tapi sengaja Saga tak meresponnya. Kesalahan Anna kali ini termasuk fatal menurutnya. Sebagai suami, dia merasa tak dihargai.
Kali ini, aku akan memberikanmu pelajaran Anna. Aku ingin kamu jera dan tak mengulanginya lagi.
Anna terus meminta maaf sambil menangis hingga dia tertidur. Dan disaat bangun, ternyata Saga sudah tidak ada disebelahnya.
Anna mengecek kekamar mandi. Kosong, tak ada Saga disana. Ini hari minggu, tak mungkin Saga bekerja. Selain itu, dia baru pulang semalam, pasti dia masih cuti.
"Kak Saga, Kak." Anna berteriak teriak sambil menuruni tangga. Kalau saja Saga tidak sedang marah, dia tak akan secemas ini. Tapi kali ini beda, suaminya itu sedang marah, dia jadi takut ditinggal.
"Bik, lihat Kak Saga gak?" tanya Anna pada Bi Darmi dan Bi Ningsing yang sedang memasak didapur.
"Enggak Non."
"Saga keluar sama papah, tapi gak tahu kemana." Sahut Luisa yang baru saja masuk kedapur.
Anna meninggalkan dapur dengan langkah gontai. Duduk dikursi ruang makan sambil meletakkan kepalanya diatas meja. Gak enak banget rasanya dicuekin. Padahal udah hampir 2 minggu menahan beratnya rindu. Harusnya saat ini mereka sayang sayangan, melepas rindu. Tapi yang ada, justru diabaikan seperti ini.
"Kalian sedang berantem?" Luisa mendengar dari suaminya jika semalam, Anna tak minta ijin Saga saat mau menginap dirumah Desi.
"Kak Saga marah." Jawab Anna lemas.
"Salah kamu juga. Udah punya suami kok kemana mana gak ijin. Harusnya kamu pikir dulu sebelum berbuat sesuatu. Kurang apa sih Saga itu An? Ganteng, baik, kaya, masih aja kamu itu gak bersyukur, gak bisa berubah. Tinggal minta ijin aja apa susahnya sih? Entar kalau Saga direbut pelakor, baru tahu rasa kamu."
"Mamah!" Seru Anna sambil mengangkat kepalanya. Menatap mamanya tajam dengan nafas naik turun. "Kok ngomong gitu, mama doain ya?"
__ADS_1
Luisa geleng geleng. "Bukan doain Anna, tapi memperingati. Saga bisa saja dapat yang lebih baik dari kamu kalau dia mau. Jadi jangan coba coba bikin masalah."
Anna menelungkupkan kepalanya diatas meja. Bahunya terlihat bergetar karena dia sedang menangis. Jadi menyesal Luisa menakut nakuti seperti tadi.
"Udah jangan nangis." Luisa membelai rambut panjang Anna yang sedikit kusut karena belum sempat sisiran pas bangun tidur tadi. "Kedapur yuk, kita masak. Ambil hati suami kamu dengan belajar masak yang enak."
Anna mengangkat wajahnya lalu menyeka air mata. Sepertinya itu ide yang bagus. Saat ini, yang harus dia lakukan memanglah melunakkan hati Saga.
"Anna mandi dulu, habis itu kita masak."
"Ya udah, sana gih mandi." Luisa membantu Anna berdiri lalu mendorongnya pelan menuju arah anak tangga.
.
.
.
"Dipresto aja dagingnya An. Kalau enggak, takut gak mateng pas Saga datang."
"Tapi kata mama Mila gak presto Mah. Mama telepon papa gih, tanya masih lama gak pulangnya." Anna malah ngeyel. Belum tahu saja dia berapa lama merebus rendang itu.
"Kamu pikir masak rendang itu cepet, lama. Udah Bik, dipresto aja."
Anna hendak protes, tapi Luisa lebih dulu memelototinya. Membuatnya langsung kicep.
Sementara Bi Nuning menyiapkan panci presto, Anna sibuk menyiapkan bumbu. Dia yang tak tahu nama macam macam perbumbuan, jadi kesulitan. Alhasil mama Luisa mengenalkannya nama nama bumbu satu persatu. Anna yang memang otaknya agak pas pasan sedikit puyeng karena harus menghafal begitu banyak nama bumbu.
Dengan bantuan mama Luisa dan art, akhirnya rendang bikinan Anna siap juga. Aromanya sangat lezat dan menggugah selera.
__ADS_1
Papa Jeremi dan Saga pulang saat sudah tengah hari. Anna yang tak sabar ingin menunjukkan hasil masakannya, segera menarik Saga menuju meja makan.
"Aku masak sendiri loh Kak, minta resep dari mama kamu." Ujar Anna dengan bersemangat. "Kakak duduk dulu, aku ambilin nasinya." Anna mendorong bahu Saga kesebuah kursi. Tapi tiba tiba Saga kembali berdiri.
"Aku buru buru Anna, mau ketemu klien. Gak sempat makan kayaknya."
Anna seketika meletakkan kembali sendok nasi yang ada ditangannya. Dia menatap Saga yang meninggalkan meja makan dengan mata berkaca kaca.
Tak lama kemudian, Anna melihat Saga menuruni tangga dengan pakaian rapi. Segera dia menghampiri suaminya itu.
"Apa aku boleh ikut?"
"Aku lagi kerja An, bukan main. Udah kamu dirumah aja."
"Tapikan ini hari minggu Kak. Kakak juga baru pulang semalam, masa ya harus kerja lagi." Anna mengeluarkan protesnya.
"Aku udah telat."
Mendengar kalimat bernada tegas itu, Anna tak lagi bersuara. Dia meraih tangan Saga lalu menciumnya. Kalau biasanya akan ada balasan kecupan didahi maupun bibir, kali ini Saga tak melakukan apa apa. Pergi begitu saja meninggalkan Anna.
Aku harus gimana sih Kak, biar kamu gak marah lagi sama aku?
Sampai larut malam, Saga belum pulang juga. Berkali kali Anna telepon tapi tak diangkat, dichat juga gak dibalas.
Anna menunggunya sambil menonton tv diruang keluarga. Bosan menonton tv, dia beralih menuju ruang tamu. Berkali kali melihat kehalaman dengan harapan suaminya segera datang.
Kamu kemana sih Kak, kok belum pulang pulang?
Sudah jam 10 lebih tapi Saga tak juga pulang. Hingga tak terasa, Anna ketiduran disofa ruang tamu.
__ADS_1
Sekitar pukul 12 malam, Saga baru sampai rumah. Dia terkejut mendapati Anna yang tertidur disofa ruang tamu.