
Kai memutar kedua bola matanya saat menatap spion tengah. Pemandangan dua orang yang tengah bermesraan dibangku belakang sungguh membuatnya jengah. Apalagi saat Saga mengeluarkan gombalan gombalan mautnya, membuatnya serasa mau muntah. Sial sekali hari ini dia, sudah layar hp nya retak, masih juga ditahan gak boleh pulang, harus menjadi supir pribadi, mengantar Saga dan Anna ke rumah sakit.
"Aku baik baik saja Kak, harusnya gak perlu kerumah sakit." Ujar Anna manja sambil bergelayut mesra dilengan Saga.
"Tapi aku tetap tak bisa tenang sebelum dokter mengejek kondisimu dan baby girl sayang." Sahut Saga sambil mengelus perut Anna lalu menciumnya beberapa kali.
"Dia gerak Kak, dia gerak." Anna menegakkan badannya begitu merasakan pergerakan babynya.
Mata Saga berbinar melihat pergerakan di perut Anna. Baby mereka terlihat sangat aktif, perut Anna sampai terlihat meleyot kesana kemari.
"Lagi ngapain sayang, main bola?"
"Cewek Ga." Celetuk Kai sambil memutar kedua bola matanya malas. "Ya kali cewek main bola," ledeknya.
"Heh, diam lo. Suka suka gue lah. Anak anak gue sendiri, ngapain lo protes."
Anna cekikikan melihat dua orang yang sejak tadi mirip tom and jerry. Tapi asyik juga, bisa buat hiburan.
"Jangan ketawa Yang, nyebut. Amit amit jabang baby, jangan sampai anak kita mirip dia." Saga menatap ke arah Kai.
"Ya gak mungkinlah Kak, orang papanya ganteng kayak kamu." Anna menyentuh wajah Saga, mengelus pipinya pelan pelan menggunakan punggung tangan. "Masa anaknya jelek mirip Kak Kai."
Tak pelak Saga langsung ngakak mendengarnya, begitupun dengan Anna, mereka berdua sangat kompak kali ini.
"Busyet dah. Gak bisa dialusin dikit An bahasa lo?" protes Kai. "Gue sumpahin anak kalian mirip gue."
Saga dan Anna tak menggubris sumpah Kai, mereka masih saja asyik tertawa.
Mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah sakit tempat praktek dokter kandungan Anna. Setelah menurunkan Saga dan Anna didekat lobi, Kai pergi mencari tempat parkir.
Ternyata ada Kalani ditempat parkir. Melihat ada mobil kakaknya terparkir tak jauh dari mobil temannya, segera dia menghampiri dan mengetuk kaca jendela.
"Kak Kai." Lani terkejut saat kaca diturunkan, ternyata Kai yang ada didalam.
"Kok lo ada disini Lan? Sama siapa?" Kai celingukan mencari sesiapa yang bersama Lani.
"Aku sama teman teman." Lani menunjuk kearah mobil temannya. "Ada teman aku yang dirawat disini."
__ADS_1
"Oh...." Kai hanya manggut manggut.
"Kok Kak Kai pakai mobilnya Kak Saga?"
"Oh ini, kakak lo ada didalam. Gue cuma nganter aja."
"Kak Saga ada didalam? Kenapa, dia sakit?" Wajah Lani seketika berubah cemas.
Kai menghela nafas, heran dengan para wanita yang mudah sekali panik. Emang hanya orang sakit yang boleh masuk rumah sakit?
"Nganter kakak ipar lo cek kandungan."
Raut wajah Lani langsung berubah lagi. Kali ini, dia terlihat senang dan bersemangat. "Jadi mereka cek kandungan?"
Kai menganggguk.
"Anter aku ketempat mereka Kak, aku mau ikut ngelihat calon ponakan."
"Udah gede masak gak berani. Udah masuk sana sediri, langsung ke poli kandungan. Palingan mereka juga masih ngantri."
"Tapi aku gak tahu dimana poli kandungan, anterin," rengek Lani.
"Gue mau telepon cewek gue Lan, udah sana masuk sendiri. Tanya sama satpam atau siapa gitu kalau gak tahu."
"Emang kakak punya cewek?" Nada bicara Lani terdengar seperti mengejek.
"Yaelah ni bocah. Gak kakak gak adik, sama sama nyebelin," geram Kai.
Melihat Kai yang kesal Lani langsung kabur. Dia menghampiri teman temannya untuk berpamitan karena tak jadi ikut pulang bersama. Setelah temannya pergi, Lani kembali masuk kedalam. Rumah sakit itu lumayan besar, sepertinya dia memang harus bertanya daripada bingung.
Setelah mendapatkan informasi dimana poli kandungan, Lani segera menuju tempat tersebut. Matanya sibuk melihat keatas, membaca petunjuk arah menuju poli kandungan.
Bruk
Karena tak fokus melihat depan, Lani menabrak seorang pria yang sedang terburu buru.
"Sorry." Lani menunduk untuk mengambil map milik pria tersebut yang terjatuh. Kembali menegakkan badan lalu menyodorkan map tersebut. "I_" Lani tak melanjutkan kalimatnya saat mengetahui pria yang ditabraknya adalah laki laki tempo hari yang bertemu dia dia bandara.
__ADS_1
"Kamu yang_"
"Permisi." Lani cepat cepat pergi setelah pria itu memegang mapnya. Dia tak ingin ketinggalan Saga dan Anna masuk kedalam ruangan dokter.
"Tunggu." Lani berdecak sambil menghentikan langkahnya. Terdengar suara derap langkah, pria tersebut berjalan menghampiri Lani.
"Ada apa Om?" tanya Lani saat pria tersebut sudah ada dihadapannya.
"Kamu kuliah di Bina Bangsa kan?"
Lani heran kenapa pria tersebut bisa tahu dimana tempat kuliahnya. Jangan jangan pria itu menguntitnya selama ini. Tak pelak Lani menjadi was was.
"Saya Bian." Pria itu mengulurkan tangan.
"Kalani." Meski ragu, Kalani tetap menjabat tangan pria itu.
"Saya pernah melihatmu disana. Apa kamu mengenal Yasmin?"
"Yasmin?" Lani mencoba mengingat nama itu. Memang ada kating bernama Yasmin yang sangat populer difakultasnya, tapi dia tak yakin Yasmin itu yang dimaksud.
"Maaf, saya tidak kenal."
"Apa kau yakin? Biar aku tunjukkan fotonya." Bian mengambil ponsel disaku jas lalu mencari foto yang dia maksud. Tanpa kedua orang itu sadari, ada seorang perempuan berjalan cepat kearah mereka.
"Dasar pelakor, wanita tak tahu diri." Kalani kaget saat seorang wanita tiba tiba datang dan menyerangnya.
Kalani memekik kesakitan saat hijabnya ditarik kuat kebelakang hingga dia hampir terjatuh. Sumpah serapah keluar dari bibir wanita yang kira kira berumur tiga puluhan tersebut.
"Lepas, lepaskan dia Tari." Bian mencoba menarik tangan wanita bernama tari itu agar melepaskan hijab Lani. Sontak kejadian itu menarik perhatian banyak orang. Tak hanya melihat dan menggunjing, mereka ada yang merekam juga.
"Oh, jadi kamu lebih membela pelakor ini Mas?" Tari makin kalap. Dia makin keras menarik narik hijab Kalani. Kalani tak tinggal diam, dia berusaha menahan tangan wanita itu tapi kalah tenaga dan postur tubuh.
"Dasar pelakor sok suci, kamu tak pantas memakai hijab." Tari menarik kuat hijab Kalani hingga terlepas lalu melemparnya jauh.
PLAK
Sebuah tamparan keras melayang kepipi Tari, siapa lagi kalau bukan Bian yang melakukannya.
__ADS_1
Para penonton syok melihat istri sah yang ditampar didepan pelakor, setidaknya, itu yang ada di pikiran mereka.
Sedangkan Kalani, dia berjongkok sambil menangis dan menutupi kepalanya dengan kedua tangan.