
Tak ada kesibukan membuat Anna sangat bosan. Sebenarnya bukan tak ada kesibukan, melainkan banyak sekali, mulai dari membersihkan rumah, mencuci baju, hingga mencuci piring. Sayang Anna sama sekali tak mau melakukannya, dia serahkan semua itu pada art yang dikirim mamanya setiap hari. Dulu awalnya tiga hari sekali, tapi karena Anna tak mau mencuci piring, jadilah art itu datang setiap hari dan pulang di sore hari.
Anna menghubungi teman temannya, niat hati ingin mengajak mereka shopping atau sekedar nongkrong, sayangnya mereka semua sibuk kuliah.
"Apa aku main ke kantornya Kak Saga aja ya?" Anna tiba tiba menemukan ide cemerlang. Dia segera bersiap siap lalu berangkat ke kantor suaminya itu.
"Besar juga kantornya Kak Saga." Anna mengagumi kantor pusat SE Corp yang memang sangat besar dan megah. "Sayang dia belum jadi bos." Anna kembali bermonolog. Dia lalu menuju meja recepcionist untuk menanyakan dimana ruangan Saga.
"Permisi, dimana ruangan Kak Saga?"
Resepcionist itu mengernyit mendengar pertanyaan Anna. "Maksud saya Pak Saga Dirgantara." Anna meralat kata katanya.
"Maaf, apakah sudah ada janji sebelumnya?"
"Sepertinya tak perlu bikin janji, saya istrinya."
Dua orang resepsionist yang berdiri dibelakang meja langsung melongo. Menatap Anna dari atas kebawah lalu tertawa sambil menutupi mulut dengan telapak tangan.
"Kenapa, ada yang lucu?" Anna tak tahu kenapa mereka seperti menertawakannya.
"Hai dek, mending kamu pulang sana. Sekolah yang baik. Jangan jangan kamu bolos hari ini?"
"Pak Saga udah nikah, jadi jangan digangguin." Resepsionis satunya ikut menimpali.
"Saya istrinya." Geram Anna sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Gak usah ngaku ngaku. Istri Pak Saga itu pakai cadar, bukan gadis tengil yang berpakaian seksi kayak kamu." Dari mulut sekretaris Saga lah berita ini awalnya muncul, hingga tersebar keseluruh kantor jika istri Saga berniqab.
"Pakai cadar darimananya, saya ini istri Pak Saga." Anna masih kekeh menjelaskan.
"Pak." Salah satu dari mereka melambaikan tangan pada sekurity. "Bawa gadis ini keluar. Pagi pagi udah bikin rusuh dengan ngaku ngaku jadi istri Pak Saga."
"Heh, saya memang istrinya, bukan ngaku ngaku." Anna menggebrak meja recepsionis saking kesalnya. Hobinya yang suka menggebrak meja memang susah dihilangkan.
"Dek, jangan bikin rusuh, ayo keluar." Anna menepis tangan sekurity yang hendak menarik tangannya.
"Gak usah pegang pegang." Seru Anna sambil melotot tajam. Dia mengambil ponsel didalam tas, hendak menelepon Saga.
"Diam kalian semua, aku mau telepon Kak Saga. Siap siap saja kalian dipecat." Anna menunjuk resepcionis dan sekurity satu persatu. Bukannya takut, mereka malah geleng geleng sambil menyebikkan bibir, seolah olah apa yang mereka dengar hanyalah bualan semata.
"Kak Saga." Seru Anna begitu teleponnya tersambung.
__ADS_1
Resepsionis dan sekurity seketika menelan ludah susah payah.
"Aku ada di lobi. Gak boleh masuk keruangan kamu." Anna berkata sambil menatap tajam mereka semua. Setelah itu dia memberikan ponselnya pada sekurity sesuai permintaan Saga.
"Nih, Pak Saga Dirgantara mau ngomong sama kamu." Anna menyodorkan ponselnya pada sekurity. Pria yang diseragamnya tertulis nama Joko itu, menerima ponsel dengan tangan gemetaran.
"Ha, ha , hallo Pak."
"____"
"B, baik Pak." Setelah sambungan terputus, sekurity mengembalikan ponsel tersebut pada Anna.
"Mari saya antar keruangan Pak Saga."
Anna menatap resepsionis yang saat ini sedang gemetaran. "Sudah percaya sekarang?"
"Maafkan kami mbak, eh Bu." Jawab mereka sambil menunduk takut dan saling senggol satu sama lain.
Anna tak menjawab, dia melenggang begitu saja saat sekurity mempersilakannya. Berjalan mengikuti arahan sekurity sambil sibuk dengan ponselnya. Maklum, sebentar lagi boy band idolanya mau ngadain konser, dia dan teman temannya heboh digrup.
"Awas Bu, awas Bu lantainya licin."
"Aww..." Anna memekik kencang saat tiba tiba terpeleset dan jatuh terduduk dilantai. Dia merasa bokongnya sangat sakit akibat mencium lantai yang keras. Tapi dibanding sakit itu, malunya lebih parah lagi karena semua perhatian tertuju padanya. Bahkan dia bisa melihat dan mendengar beberapa orang yang ada dilobi menertawakannya.
Karena sibuk dengan hp, dia tak memperhatikan lantai yang licin. Tak minggir meski ada papan tulisan lantai licin dan tak mendengar saat sekurity sudah memperingatkannya.
"Kenapa kamu gak bilang kalau lantainya licin?" Anna mengomeli sekurity saat dirinya tengah dipapah beberapa orang menuju sofa.
"Maaf Bu, saya sudah bilang dari tadi, berkali kali malah. Tapi Ibu tak mendengarnya."
"Siapa dia?" Terdengar suara beberapa orang yang penasaran karena tak pernah melihat Anna dikantor ini.
"Dia istrinya Pak Saga," sahut sekurity.
Mendengar itu, mereka langsung tersenyum sambil menunduk sopan. Beberapa orang bahkan mulai mengeluarkan jurus menjilat dengan mengambilkan air, menawarkan obat, serta menawarkan bantuan untuk menelepon Saga.
Anna menatap tajam cleaning service yang mengepel. Sampai sampai pria berbaju biru itu, gemetar ketakutan.
"Jangan salahkan saya Bu. Salahkan saja karyawan yang menumpahkan makanan, hingga saya harus mengepelnya."
Tak lama kemudian, Saga ditiba dilobi. Dia segera mendatangi Anna yang dikerumuni beberapa orang lalu menyuruh mereka bubar. Saga menatap Anna heran, dia yang kerja disini sudah lama saja tak pernah kepleset. Tapi Anna, baru sehari menginjakkan kaki di lantai SE Corp, udah kepleset.
__ADS_1
"Gimana ceritanya, kenapa bisa sampai kepleset?"
"Ibu jalan sambil main hp Pak, gak lihat jalan." Anna langsung memelototi sekurity yang lancang itu. Bisa bisanya dia mengadukannya seperti itu.
Anna menunduk saat Saga menatapnya sambil memijit mijit kening.
"Ayo keruanganku." Saga hendak membantu Anna berdiri, tapi wanita itu menggeleng cepat.
"Sepertinya kakiku terkilir Kak. Kayaknya aku gak bisa jalan deh."
"Lalu?"
Anna menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Saga mendekat.
"Gendong," bisiknya.
Saga memperhatikan sekitar, masih ada beberapa orang disana. Sepertinya tak mungkin untuk memaksa Anna jalan. Dengan terpaksa, dia mengulurkan kedua lengannya di lutut dan pinggang Anna, menggendongnya ala bridal style menuju ruangannya.
Anna mengalungkan lengannya di leher Saga. Bibirnya menyunggingkan senyum saat beberapa orang menatap iri padanya.
"Lain kali jangan jalan saja yang sambil main ponsel. Kalau bisa, makanpun sambil main ponsel, sekalian telan itu ponsel." Saga berbisik lirih sambil melotot tajam.
Sesampainya diruangannya, Saga menurunkan Anna diatas sofa. Nafasnya ngos ngosan karena kelelahan. Dia mengambil tisu yang ada diatas meja untuk mengelap keringat yang membasahi kening dan lehernya.
Anna menurunkan kedua kakinya kelantai, berjalan santai menuju meja kerja Saga untuk mengambil air disana.
"Ka, kau." Saga syok melihat Anna bisa berjalan dengan biasa. Tak tampak kesulitan atau kesakitan sama sekali.
"Maaf, aku hanya berbohong tadi." Anna tersenyum simpul lalu menegak air meniral yang ada diatas meja Saga.
Saga mengepalkan kedua tangannya, bersiap untuk mengamuk istri tengilnya itu.
"Aku terpaksa melakukan itu untuk menutupi rasa maluku. Istri calon bos terpeleset, terjengkang di lobi. Ish, mamalukan sekali jika sampai tersebar gosip seperti itu. Tapi aku yakin, sekarang gosipnya akan berubah menjadi, so sweetnya perlakuan Saga Dirgantara pada istrinya yang super cantik." Anna tersenyum senyum sendiri, masih ingat seperti apa mereka menatap iri padanya saat digendong Saga.
"ANNA," Saga menggeram dengan kedua tangan terkepal. Rahangnya mengeras, siap untuk meledakkan amarahnya pada Anna.
"Kok Kak Saga marah sih? Kak Saga gak tahu gimana perasaanku tadi." Anna menunjuk nunjuk dirinya sendiri. "Aku terpaksa berbohong karena aku sangat malu Kak. Ngerti gak sih, AKU SANGAT MALU." Anna menekankan kata katanya. Mencari pembenaran agar tak kena marah.
"Dan kau tahu Anna." Saga menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. "AKU SANGAT LELAH."
Anna cengengesan mendengar Saga akhirnya mengungkapkan uneg unegnya. Jarak dari lobi menuju ruangan Saga memang lumayan jauh. Jadi tak heran jika pria itu kelelahan.
__ADS_1