Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
MEMBALAS ZIZI


__ADS_3

Saga yang tak tahu maksudnya hanya diam saja sambil menatap Anna. Sungguh, dia dibuat bingung dengan kedatangan Anna yang tiba tiba disertai tingkah yang aneh pula.


"Ish Kak Saga gak peka." Anna berdiri dari pangkuan Saga dengan wajah cemberut. Kedua lengannya dilipat didada sambil membuang muka kearah pintu.


Saga garuk garuk kepala. Gak peka, emang dia harus gimana?


"Kamu lagi ngidam apa gimana sih Yang? Kok mendadak aneh gini?"


Anna makin naik darah dikatakan aneh. Dengan langkah kesal dia berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan bobot tubuhnya disana.


Teringat jika mood ibu hamil mudah naik turun, Saga segera menghampiri Anna lalu duduk disebelahnya.


"Sini." Saga menepuk pahanya. Anna yang masih kesal tak menghiraukan perintah Saga. Tapi Saga tak tinggal diam, ditariknya pelan pinggang Anna dan dia dudukkan diatas pangkuannya.


"Jangan ngambek." Saga menarik kedua pipi Anna agar wanita itu tersenyum. "Ntar anaknya jelek kalau mamanya suka ngambekan."


"Masaksih?" Anna yang duduk miring dipangkuan Saga langsung menatap suaminya itu. Bisa bisanya dia percaya dengan ucapan itu.


"Bohong, ya enggaklah." Saga terkekeh pelan. "Masa mamanya secantik ini anaknya jelek, ya gak mungkin." Saga mengecup singkat bibir Anna agar tak lagi cemberut.


"Kamu kenapa, dateng dateng tiba tiba ngambek?" Saga mengusap pipi dan bibir Anna dengan punggung tangannya. Tak lupa ibu jarinya bermain main dibibir Anna yang pink menggoda dan rasa strawberry. Karena saat ditaksi tadi, Anna memoles lip ice rasa strawberry dibibirnya.


Anna menarik tangan Saga lalu meletakkan diatas dadanya seperti tadi. Lagi lagi membuat Saga bingung.


"Pengen gede."


"Hah!" Saga mengerutkan kening.


"Ih...tuh kan gak paham." Anna memegang punggung tangan Saga, membantu menggerakkannya agar mere mas dadanya. Dari situ akhirnya Saga paham. Bukannya bergerak sesuai ajaran Anna, dia malah ketawa ngakak.


"Kok malah ketawa." Anna yang kesal hendak bangkit dari pangkuan Saga tapi tak berhasil karena pinggangnya ditahan oleh pria itu.

__ADS_1


Merasa bersalah karena telah membuat Anna kesal, akhirnya Saga menuruti permintaan wanitanya itu. Dia melepaskan kedua tangannya yang ada dipinggang Anna lalu mulai mere mas kedua bukit indah itu. Anna melingkarkan kedua lengannya dileher Saga sambil memiringkan badannya menghadap Saga. Meski beberapa hari ini dadanya terasa sedikit nyeri, tapi ini enak sekali. Sudah lama sejak Saga ke China, mereka tak berkeringat bersama.


Ann menggingit bibir bawahnya untuk menahan desa hannya. Matanya terpejam menikmati dadanya yang seperti diurut lembut.


"Kau yakin ini bisa membuat ukurannya lebih besar?"


"Hem...kata Dess si begitu." Jawab Anna dengan terputus putus karena nafasnya mulai terangah. Ini enak sekali, rasanya sulit untuk menahan de sahan.


"Tapi aku menyukai yang seperti ini sayang. Ini sangat pas digenggamanku." Tak tahan melihat ekspresi keenakan Anna, Saga memajukan wajahnya, mengulum bibir Anna.


Suara kecipak ciuman mereka menggema diseluruh ruangan. Tak ingat lagi sedang berada dimana sekarang. Yang ada dikepala keduanya hanya teringin menyalurkan hasrat yang dua minggu ini tertahan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka.


Anna hendak turun dari pangkuan tapi Saga menahannya. Dia memegangi pinggang Anna dan kembali menciumnya, mengabaikan ketukan dipintu.


Tok tok tok


"Tunggu sebentar."


Dengan langkah malas Saga berjalan menuju pintu lalu membukanya. Ternyata Zizi yang mengetuk.


"Ada yang perlu Bapak tandatangani."


"Tak bisakah nanti saja?"


"Maaf Pak, ini urgent."


Saga berdecak kesal lalu membiarkan Zizi masuk.

__ADS_1


Anna sungguh muak melihat Zizi yang pakaiannya terlihat begitu ketat. Dia masih ingat jika beberapa waktu lalu Zizi sempat berhijab, tapi sekarang sudah tidak lagi. Entah hilang kemana hijabnya itu. Tiba tiba muncul ide dikepalanya untuk mengerjai sekretaris gatel itu.


"Ada lagi?" tanya Saga setelah menandatangani berkas yang sempat dia baca sebentar.


"Sudah Pak itu saja." Zizi mengambil kembali berkas tersebut lalu pamit undur diri.


"Tunggu." Anna sengaja menahan kepergiannya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?" Zizi tersenyum manis, entah itu hanya kepura puraan belaka atau apa.


"Benar sekali, aku sedang butuh bantuanmu."


Tiba tiba Zizi merasa tak enak, sepertinya ada yang tidak beres mengingat istri bosnya itu suka sekali membuat ulah.


"Kau tahukan kalau aku sedang hamil?" Zizi mengangguk. Kabar itu memang sudah terdengar sejak pagi ini. Bahkan baru saja, semua karyawan mendapatkan makan siag gratis dari bos Elgar sebagai syukuran karena akan memiliki cucu.


"Aku sedang ngidam ingin rujak buah. Dan anakku ingin, kau yang membelikannya."


"Baik Bu, akan segera saya belikan." Zizi merasa itu sama sekali tak susah karena didekat kantor ada penjual rujak buah.


"Aku belum selesai bicara."


Zizi mengerutkan kening, firasatnya makin tak enak.


"Aku mau rujak buah yang bumbunya gak ada kacangnya. Isiannya mangga muda, kedondong, belimbing dan jambu kristal. Pastikan semuanya berwarna hijau, baik mangga mudanya maupun belimbing."


"Tapi Bu, biasanyakan belimbingnya sudah kuning."


"Ya kamu cari dong yang hijau." Sahut Anna telak, tak mau dibantah lagi.


"Baik Bu." Zizi memaksakan diri tersenyum meski hatinya dongkol.

__ADS_1


Itu hukuman buat kamu karena sengaja mencarikan art yang muda buatku.


__ADS_2