Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
PULANG


__ADS_3

Saga menatap bayi mungil berkulit merah yang sedang berada diatas dada Anna. Rambutnya yang berwarna pirang, mirip bayi yang ada dimimpi Saga. Bayi kecil itu sedang belajar menyusu pada Anna. Perasaannya membuncah setiap kali melihat tubuh mungil itu menggeliat. Ingin sekali Saga berada disana dan menyentuh jari jari mungil tersebut. Tapi sepertinya dia memang masih harus bersabar.


Karena tak mau baby girl terpapar radiasi ponsel, mama Luisa meletakkan tripot agak jauh. Dia juga menyuruh papa Jeremi menggantikan Saga untuk mengadzani baby girl. Saga sama sekali tak keberatan, baginya, yang terpenting adalah untuk kebaikan baby girl.


"Hai super mom." Panggil Saga mesra saat mereka hanya berdua saja. Anna sudah dipindahkan keruang perawatan. "Mungkin kata terimakasih saja tak cukup, tapi aku akan tetap mengatakannya. Terimakasih Anna, terimakasih sudah mau berjuang melahirkan anak untukku."


Mata Anna kembali memanas. Airmatanya menetas karena melihat Saga menangis. Padahal dia sudah tak ingin ada acara tangis tangisan lagi.


"Jangan membuat aku manangis lagi, aku sudah lelah." Rengek Anna sambil menyeka air matanya.


"Maaf sayang, maaf." Saga buru buru menunjukkan senyum termanisnya. "Apa masih sakit?" Dia segera mengalihkan topik.


Anna menggeleng. "Rasa itu seketika hilang saat baby lahir. Rasanya seperti mimpi, aku seorang ibu sekarang." Anna menatap kearah box bayi dimana baby girl sedang tertidur pulas.


"Dan aku seorang ayah," sahut Saga. "Anak kita pasti bangga punya ibu seperti kamu."


"Dan lebih bangga lagi punya ayah seperti kamu."


Saga tersenyum mendengar pujian Anna. Tiba tiba, dia teringin memberi hadiah setelah perjuangan panjang yang Anna lalui.


"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Saga.


"Kakak pulang dengan selamat, hanya itu yang aku inginkan. Aku sangat merindukanmu Kak."


"Aku akan segera pulang. Aku juga sangat merindukanmu. Dan pastinya juga sudah tak sabar ingin segera menggendong baby girl."

__ADS_1


"Aku dan baby girl menunggumu."


.


.


.


Setelah beberapa hari dirumah sakit, akhirnya hari ini Anna diizinkan pulang. Anna terlihat masih sangat kaku menggendong baby girl. Dia dihantui perasaan was was, takut baby mungil itu jatuh.


"Biar mama saja yang gendong." Mama Luisa mengambil alih baby girl dari gendongan Anna. Mereka sedang menunggu papa Jeremi yang menyelesaikan administrasi sebelum pulang.


"Ada apa Pah?" Tanya Anna saat melihat papanya masuk kekamar dengan wajah bingung.


"Jangan bilang papa bingung karena biaya rumah sakit?" ledek mama Luisa.


Anna seketika kaget. Sekelas papanya tak ada uang untuk bayar biaya persalinannya, memang seberapa mahal?


"Gak usah becanda deh Pah, emang berapa biaya rumah sakitnya?" tanya mama Luisa. Dia yakin suaminya itu tak sedang serius.


"Bukan masalah berapanya, tapi udah ada yang melunasi biayanya."


"Siapa?" Tanya mama Luisa dan Anna berbarengan.


Papa Jeremi mengedikkan bahunya. "Gak tahu. Bagian administrasi tak mau menyebutkan namanya."

__ADS_1


"Kak Saga." Anna seketika langsung kepikiran kesana. "Pasti Kak Saga yang udah bayar. Itu artinya, Kak Saga udah pulang." Anna langsung kegirangan.


"Kalau dia pulang, pasti langsung kesini. Mama rasa dia hanya mentrasnfer uangnya saja," ujar mama Luisa.


Anna seketika kembali lemas. Benar yang dikatakan mamanya. Kalau Saga sudah pulang, pasti langsung menemuinya, tapi ini tidak ada. Lagian suaminya itu tak bilang kalau hari ini pulang. Kemarin memang agak susah dihubungi, tapi katanya karena sedang ada kerjaan.


Karena urusan administrasi sudah beres, mereka bertiga akhirnya pulang. Dalam perjalanan, Anna mencoba menghubungi Saga tapi ponselnya tak aktif.


Sesampainya dirumah, mbok Darmi dan Bi Nuning langsung menyambut mereka. Kedua art tersebut tak henti hentinya memuji kecantikan baby girl.


"Jan ayu tenan, Non Anna aja sampai kalah," celetuk mbok Darmi.


"Mirip sama saya kan mbok? Kecantikannya nurun dari neneknya." Ujar mama Luisa yang sedang menggendong baby girl.


"Udah jelas jelas mirip papa itu." Papa Jeremi tak mau kalah.


"Salah semua, yang benar mirip den Saga." Kejujuran mbok Darmi mengundang tawa Anna. Wanita itu tertawa ngakak sambil menatap wajah kesal mamanya. "Cuma warna rambutnya saja yang nurun dari nyonya." lanjut mbok Darmi.


"Udah udah ayo buruan masuk, babynya butuh istirahat, begitu juga mamanya," ujar papa Jeremi.


Mereka semua lalu mengantar Anna dan baby girl menuju kamarnya.


"Surprise!" Anna syok saat pertama kali membuka pintu. Ternyata Saga sudah ada didalam kamar. Pria itu merentangkan kedua lengannya sambil membawa sebuket bunga.


.

__ADS_1


Maaf jika giveaway belum diumumkan hari ini. Tapi pasti diumumkan kok. Ponsel Author rusak, jadi ada kendala sedikit. Ini saja ngusahain up dengan cara pinjam ponsel Pak Su. Sekali lagi saya minta maaf.


__ADS_2