Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
KOPI BIKINAN ANNA


__ADS_3

Anna masuk kedalam kamar mertuanya dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Dari aromanya, seperti enak, tapi entah rasanya. Semoga seenak eromanya.


Saga dan Elgar, kedua pria beda generasi itu sama sama menelan ludah. Ketegangan tampak diwajah mereka. Aneh memang, hanya ingin meminum kopi saja, tapi setegang itu. Udah kayak mau minum kopi yang dicampur sianida aja.


"Ayo Pah, Kak, cobain kopi buatan Anna." Tutur Anna sembari menyodorkan nampan kearah mereka berdua yang kebetulan duduk hampir berhadapan. Anna tersenyum lebar, beda sekali dengan kedua pria didepannya yang terpaksa tersenyum.


Kalau boleh meminta, Elgar ingin sekali memutar waktu. Kembali ke beberapa menit tadi, menolak saat Anna menawarkan membuat kopi untuknya.


"Pah, Saga, kok bengong. Buruan kopinya diambil. Kasian Anna capek," ujar Mila.


Dengan perasaan tak karuan dan sangat terpaksa, Elgar dan Saga mengambil masing masing satu cangkir kopi yang ada diatas nampan.


"Yakin deh, Papa dan Kak Saga bakal ketagihan sama kopi buatanku."


"Waduh, mama bakalan kalah saing nih kayaknya." Kelakar Mila dan langsung disambut tawa oleh Anna. Elgar dan Saga, jangan ditanya, jangankan untuk tertawa, bernafas saja merasa terasa sesak.


"Ayo dicobain." Ujar Mila yang sejak tadi melihat Saga dan Elgar hanya menatap kopi tersebut.


"Masih panas Mah, nanti dulu." Elgar meletakkan kopi tersebut diatas nakas. Merasa itu ide yang paling tepat, Saga ikut ikutan meletakkan kopinya diatas nakas.


Mereka lalu lanjut mengobrol sebentar, menanyakan tentang rencana Anna yang tahun ajaran ini akan daftar kuliah. Meski otaknya pas pasan, Anna ingin mencoba ikut tes masuk perguruan tinggi negeri.


Tak ingin kopi buatannya dingin dan tak enak diminum, kembali Anna mempersilakan suami dan mertuanya untuk segera menikmati kopi buatannya.


"Diminum dulu kopinya, entar kalau dingin malah gak enak."


Elgar dan Saga saling menatap sebentar, menghela nafas berat lalu mengambil kopi diatas nakas.

__ADS_1


Elgar menatap horor kopi yang ada dihadapannya. Tidak ada cara lagi untuk menghindar. Diawali dengan bismillah, dia mulai menyeruput kopinya.


"Gimana Pah, enak gak?" Anna tampak sangat penasaran, ingin tahu seperti apa pendapat mertuanya.


"Enak, enak banget kopi buatan kamu. Udah hampir mirip dengan buatan mama."


Anna girang sekali mendengar pujian itu. Tak sia sia usahanya tadi, bahkan hingga tangannya terkena sedikit air panas.


Pintar sekali papa berakting. Bisa bisanya wajahnya seperti benar benar meminum kopi yang nikmat?


Saga yakin papanya hanya sedang berakting seperti yang mamanya perintah.


"Kak Saga, kok gak diminum?"


"I, iya, sayang."


Astaga, kenapa aku bisa regfek manggil Anna sayang. Tak mungkin hanya karena akting tadi, aku jadi nyaman dengan panggilan itu.


Saga mengangkat cangkir kopinya. Kali ini dia hanya bisa pasrah dengan rasa yang mungkin akan menyakiti lidahnya, mengganggu kenyamanan tenggorokannya dan membuatnya ingin muntah.


Saat kopi itu mendarat dimulutnya, Saga dibuat tercengang.


Enak, bagaimana mungkin Anna bisa membuat kopi seenak ini?


"Papa gak nyangka kamu bisa bikin kopi seenak ini An." Elgar kembali menyeruput kopinya.


"Makasih Papa." Tak terkira girangnya hati Anna. Bisa membuat kopi, sudah suatu pencapaian luar biasa baginya.

__ADS_1


"Enak sekali kopi buatan kamu." Saga ikut memuji sambil tersenyum menatap Anna.


Setelah makan malam, mereka berdua berpamitan pulang. Saga menolak saat mamanya meminta menginap. Tapi dia berjanji akan sering sering mengunjungi mamanya. Serta meminta wanita yang telah melahirkannya itu untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Sepanjang perjalanan pulang, Saga masih terus kepikiran tentang kopi yang enak tadi. Benarkah kopi itu Anna yang buat? Atau jangan jangan, malah art yang ada didapur?


"Emm...An, beneran kopi tadi bikinan kamu?" Tanya Saga sambil menoleh kesamping. Daripada penasaran, mending bertanya meski kemungkinan besar Anna akan tersinggung.


"Kenapa, Kak Saga gak percaya kalau aku bisa bikin kopi yang enak?" Benar saja, Anna tampak tersinggung. "Kakak pikir, aku akan salah membedakan antara gula dan garam, seperti dicerita cerita novel lainnya?"


Saga tersenyum absurd sambil menggaruk tengkuk, jujur, itu yang dia takutkan.


"Aku gak sebodoh mereka dicerita novel itu. Sebelum aku menaruh gula kedalam cangkir, lebih dulu aku cicipi rasanya."


Saga tersenyum mendengarnya. Sepertinya dia terlalu meremehkan Anna.


"Aku pikir dalam 24 jam selama 365 hari, otak kamu gak pernah cemerlang, ternyata ada saatnya juga kamu pintar."


"Kak Saga." Seru Anna sambil memukul lengan Saga. Keterlaluan sekali hinaan suaminya itu.


"Maaf, maaf, aku hanya becanda." Saga mengusap pelan kepala cewek yang lagi cemberut itu.


"Lihat ini." Anna menunjukkan punggung tangannya yang sedikit melepuh karena terkena cipratan air panas.


"Astaga, kenapa bisa seperti ini?" Saga melihat sebentar lalu kembali fokus melihat jalanan.


"Terkena air panas pas bikin kopi."

__ADS_1


"Kenapa baru bilang? Harus segera diobati biar gak membekas. Ya udah, nanti sampai rumah, kakak obati."


__ADS_2