Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 21


__ADS_3

Wiwit duduk termenung di kursinya. Matanya menatap kosong ke arah gelap malam. Sesekali tangannya mengusap air matanya yang jatuh perlahan.


Ingatannya kembali ke kejadian siang tadi. Saat dirinya memergoki Rayhan bersama dengan seorang wanita. Wiwit sempat bertanya siapa perempuan itu. Awalnya Rayhan tak mengaku siapa sebenarnya wanita itu. Tapi pengakuan justru keluar dari mulut wanita itu.


"Kamu Wiwit ya?" ujarnya. Tatapan matanya lembut dan penuh kasih sayang.


"Kebetulan kita ketemu di sini. Perkenalkan saya Mayang. Saya istrinya Mas Rayhan," ucap wanita itu dengan ringan.


Tubuh Wiwit membeku seketika. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Hatinya terasa panas bagai tersambar petir.


"Istrimya Mas Rayhan?" Wiwit membuka mulutnya demi memastikan lagi apa yang didengarnya adalah salah. Air mata perlahan menetes di kedua pipinya.


Wanita bernama Mayang itu mengangguk seraya tersenyum ramah. Tak ada gurat kekesalan yang tergambar di wajahnya.


"Saya dan Mas Rayhan sudah menikah tiga tahun lalu. Dan sekarang kami sedang menanti kehadiran anak pertama kami." Mayang berkata sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Wiwit memejamkan matanya. Menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan kala mengingat kejadian itu. Hatinya terasa nyeri dan sakit sekali.


"Wiwit," panggil seseorang.


Wiwit membuka matanya dan menoleh ke belakang. Sosok lelaki yang ingin dia hindari kembali berdiri di hadapannya.


Rayhan berjalan menghampiri meja Wiwit. Tanpa ragu dan tanpa permisi, Rayhan mengambil tempat duduk di depan Wiwit.


"Wit aku... aku bisa jelasin ini sama kamu. Aku...." Rayhan mencoba meraih tangan Wiwit.


Wiwit menepis tangan Rayhan yang ingin menyentuhnya. Matanya menatap tajam ke arah lelaki yang selama ini menjadi raja dalam hatinya.


"Aku bisa jelaskan semuanya sama kamu. Ini nggak seperti yang ada dalam pikiran kamu," ucapnya lagi.


Wiwit menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Rayhan. Dia tak ingin Rayhan menyentuh kulitnya sedikitpun. Senyum sinis tergambar di wajahnya.


"Mayang dan aku memang sudah menikah. Tapi aku nggak cinta sama dia. Aku sama sekali nggak mencintai dia Wit," jelasnya.


Wiwit menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Sandiwara apa lagi yang kamu mainkan Mas?" ujar Wiwit.


"Aku udah nggak percaya lagi sama semua omongan kamu. Aku udah nggak percaya lagi sama mulut busuk kamu itu," ujarnya lagi.


Rayhan menatap mata Wiwit lekat-lekat. Lelaki itu ingin menunjukkan pada Wiwit bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Namun percuma saja. Wiwit sudah tak percaya lagi pada semua yang ada pada lelaki itu. Wiwit sudah tak ada hati dengan lelaki bernama Rayhan itu.


"Sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah ganggu aku lagi. Jangan pernah hubungi aku lagi. Mulai saat ini dan selamanya, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi." Wiwit berkata seraya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.


Wiwit berjalan meninggalkan Rayhan yang masih duduk termenung di mejanya. Lelaki itu tak bisa menahan langkah kaki Wiwit yang terus menjauh meninggalkannya.


Sementara itu, Anne dan Citra tampak sedang menikmati semangkuk bakso di sebuah warung bakso langganan keluarganya. Tampak pula Bu Mirna dan Pak Bayu menemani kedua gadis itu makan makanan favorit mereka itu..


"Mau nambah lagi Nak?" tanya Bu Mirna pada Citra.


"Makasih Tante. Udah cukup," tolak Citra dengan halus.


Bu Mirna tersenyum. Wanita itu terkesan dengan sikap sopan yang ditunjukkan oleh Citra. Gadis itu sama sekali tak menunjukkan sikap bencinya walaupun dia berada di tengah-tengah keluarga pemuda yang pernah menyakiti dirinya.


"Jangan sungkan ya Nak. Kalau mau nambah, kamu bilang aja," sahut Pak Bayu.


"Makasih Om. Citra sudah kenyang," jawab Citra halus.


"Enggak usah malu. Keluarga lo nggak akan mampu bayar makanan di sini," sinis Azwan.


Citra menatap wajah pemuda yang pernah menjadi kekasihnya itu dengan pandangan tak percaya.


"Elo apa-apaan sih? Kalau nggak suka, mending diam aja. Daripada kata-kata lo nyakitin perasaan orang lain," sentak Anne. Gadis itu paling tidak suka ada orang yang menghina sesamanya.

__ADS_1


Azwan tersenyum sinis sambil matanya melirik ke arah Citra yang kini tertunduk dalam.


"Citra," panggil Bu Mirna. Tangan wanita itu menyentuh bagian Citra dan mengusapnya dengan lembut.


"Maafin Azwan ya Nak. Jangan kamu masukin hati perkataan dia," ucap Bu Mirna.


Citra hanya mengangguk pelan. Setetes bening meluncur bebas dari matanya. Hatinya sakit sekali mendengar kalimat penghinaan yang Azwan lontarkan tadi.


*****


Malam semakin beranjak naik. Suasana sepi dan gelap tampak menyelimuti malam ini. Suara binatang malam sesekali terdengar menemani malam yang gelap ini.


Pak Bayu tampak duduk termenung di sofa ruang tamu rumahnya. Lelaki itu terbayang wajah dan senyuman Citra. Bukan karena lelaki itu jatuh cinta pada Citra. Tapi senyuman dan wajahnya mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.


"Papa belum tidur?" tegur Bu Mirna yang berniat akan ke dapur.


Pak Bayu terkejut mendengar teguran sang istri. Lelaki itu mencoba tersenyum setelah berhasil menguasai rasa kagetnya.


"Kok belum tidur Pa?" By Mirna mengulangi pertanyaannya.


"Belum bisa tidur Ma," jawab Pak Bayu.


Bu Mirna tersenyum. Kemudian wanita itu menempatkan dirinya di samping sang suami.


"Ada yang lagi Papa pikirkan?" tanya Bu Mirna.


Pak Bayu menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Seolah ada beban puluhan kilo yang menghimpit dadanya.


"Papa kepikiran sama Citra Ma." Akhirnya Pak Bayu bersuara juga setelah terdiam beberapa saat.


Kening Bu Mirna berkerut mendengar ucapan suaminya. "Kepikiran Citra? Kenapa Pa?" tanya Bu Mirna.


Lagi-lagi Pak Bayu menghela napas panjang. Dadanya semakin sesak mendengar pertanyaan dari sang istri.


Bu Mirna terdiam mendengar penjelasan Pak Bayu. Hatinya terasa nyeri saat mendengar sang suami menyebut nama wanita lain.


"Papa seperti melihat mata Ambar saat bertatapan dengan Citra. Bahkan cara bicaranya pun mirip sekali dengan Ambar," lanjut Pak Bayu.


Bu Mirna menghela napas panjang. Rasa cemburu menguasai hatinya saat mendengar sang suami menyebut nama wanita lain. Walaupun wanita itu adalah wanita di masa lalu sang suami.


"Boleh Mama ngomong sesuatu sama Papa?" ujar Bu Mirna. Wanita itu menatap mata sang suami dengan lekat.


"Mau ngomong apa?" tanya Pak Bayu.


Bu Mirna menghela napas panjang. Wanita itu mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini berusaha ia tutupi.


"Maaf kalau Mama selama ini nggak ngomong sama Papa tentang hal ini," katanya.


Pak Bayu mengerutkan keningnya tak mengerti. "Maksud Mama?" tanya lelaki itu.


Lagi-lagi Bu Mirna menghela napas panjang. "Selama ini Mama menutupi sesuatu dari Papa. Mama selama ini menutupi sebuah fakta dari Papa," lanjutnya.


Pak Bayu semakin tak mengerti dengan ucapan sang istri. Lelaki itu menatap sang istri dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Maksud Mama apa sih? Papa nggak ngerti deh," ujar Pak Bayu.


Bu Mirna menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa sangat bersalah pada sang suami karena sudah menutupi sebuah rahasia besar dalam hidupnya. Sebuah fakta yang mungkin akan mengubah hidupnya untuk kedepannya.


"Sebenarnya... Ambar... sebenarnya dia... dia melahirkan seorang anak perempuan," lirih Bu Mirna.


Pak Bayu membeku di tempat. Lelaki itu tak percaya pada apa yang didengarnya barusan.


"Anak itu sekarang diasuh oleh salah satu kerabatnya." Bu Mirna melanjutkan ucapannya dengan suara lirih tertahan

__ADS_1


"Siapa nama anak itu?" tanya Pak Bayu dengan suara bergetar.


Bu Mirna mengangkat wajahnya dan menatap lekat ke arah sang suami. Genangan air mata nampak di pelupuk mata wanita cantik itu.


"Nama anak itu... Citra," lirih Bu Mirna.


Mata Pak Bayu membulat sempurna. Telinganya bagai tersambar petir mendengar jawaban sang istri.


"Maafkan Mama Pa. Mama nggak bermaksud menutupi semua ini dari Papa. Mama hanya ingin memastikan kebenaran kabar itu," ucap Bu Mirna.


Pak Bayu tak menghiraukan ucapan. sang istri. Kedua tangannya menopang kepalanya yang terasa berputar-putar. Hatinya teriris perih mendapati kenyataan di depan matanya.


"Besok antarkan aku menemui keluarga yang mengasuh anakku," punya lelaki itu.


*****


Pagi datang begitu cepat. Matahari mulai menampakkan sinarnya yang hangat. Suara burung-burung kecil terdengar merdu di telinga.


"Mama sama Papa mau ke mana?" Anne bertanya saat melihat kedua orang tuanya sudah berdandan rapi.


Bu Mirna tersenyum mendengar pertanyaan sang putri. "Papa sama Mama mau keluar sebentar. Mama sama Papa ada urusan penting," jawab Bu Mirna.


"Ikut dong. Sampai rumahnya Citra aja deh nggak apa-apa," kata Anne.


Pak Bayu dan Bu Mirna saling pandang. Kedua orang tua itu tampak mempertimbangkan permintaan sang anak gadis.


"Boleh ya. Janji deh Anne nggak kelayapan ke mana-mana. Cuman diem di rumahnya Citra aja sampai Mama sama Papa jemput lagi," rengeknya.


Pak Bayu menghela napas panjang. Sedetik kemudian lelaki itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Mata Anne berbinar melihat anggukan kepala sang Papa. Dia lantas bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah siap, gadis itu segera berlari menuruni anak tangga. Menghampiri kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah rumah sederhana itu. Citra tampak sedang menyapu halaman. Gadis itu menyapu seluruh halaman rumahnya hingga tak ada lagi daun yang berguguran di halaman.


"Beres deh," gumam Citra. Wajahnya menunjukkan kepuasan saat melihat seluruh halaman rumahnya nampak bersih.


"Sekarang tinggal mandi dan sarapan," ucapnya lagi.


Gadis itu melangkah menuju bagian belakang rumahnya. Menyimpan semua peralatan yang ia gunakan untuk menyapu di sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai gudang.


"Udah selesai Dek?" tegur Wiwit tiba-tiba.


Mendengar teguran sang kakak yang tiba-tiba, Citra terlonjak kaget.


"Hih! Mbak Wiwit bikin jantungan aja deh," gerutu Citra.


Wiwit hanya tertawa mendengar gerutuan sang adik. "Kamu lagi ngelamun ya? Kok kaget gitu pas Mbak tegur?" tanya Wiwit.


"Ya enggak. Tapi tetap aja kaget Mbak kalau ditegur tiba-tiba kayak gitu," gerutu Citra.


"Maaf deh. Mbak nggak sengaja. Sekarang kamu mandi dulu sana. Habis itu sarapan," ucap Wiwit.


Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian gadis manis itu masuk ke dalam rumah disusul oleh Wiwit di belakangnya.


"Wit tolong buka pintunya dong." Terdengar suara Bu Aminah dari arah dapur.


"Iya Bu," jawab Wiwit.


Gadis itu lantas bergegas menuju pintu depan rumahnya. Terdengar suara ketukan pintu dan juga orang yang mengucapkan salam dari luar.


"Wa'alaikum salam." Wiwit menjawab seraya membuka pintu.


"Kamu!" pekiknya tertahan.

__ADS_1


__ADS_2