Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 69


__ADS_3

Luna berjalan menuju sebuah restoran cepat saji dengan langkah santai. Matanya terus menatap ke depan. Sebelum masuk ke dalam, dia menghela napas panjang. Menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan.


"Luna!" Seseorang memanggil Luna sembari melambaikan tangan ke arahnya.


Luna tersenyum dan berjalan cepat ke arah orang itu.


"Hai, apa kabar?" sapa Luna begitu dia sampai di depan orang itu.


"Aku baik. Kamu apa kabar?" tanyanya pada Luna.


Luna tersenyum. "Aku juga baik. Hanya perasaan ku saja yang sedang tidak baik-baik saja," ucap Luna.


Pemuda itu tersenyum. "Ikut aku yuk!" ajaknya.


"Ke mana?"


"Udah ikut aja. Kamu pasti suka. Yuk!" Dia menarik tangan Luna ke dalam genggamannya.


Luna hanya menurut saja. Dia mengikuti langkah pemuda itu menuju pintu keluar.


"Kamu tadi ke sini naik apa?" tanyanya.


"Aku tadi naik ojek online. Karena pikiranku lagi kacau, aku nggak berani nyetir sendiri," jelas Luna.


Lagi-lagi pemuda itu tersenyum. "Kalau gitu, kamu tunggu sini ya. Aku ambil motorku dulu," ucapnya.


Luna menganggukkan kepalanya. Dia berdiri di depan resto sembari matanya terus menatap ke arah pemuda itu.


"Kamu nggak pernah berubah Ndra! Kamu selalu saja perhatian dan selalu mengerti aku," ucapnya dalam hati.


"Yuk naik!" ajak pemuda itu saat dirinya berada di depan Luna.


Luna tersenyum dan segera naik ke boncengan. Keduanya lantas melesat pergi meninggalkan pelataran restoran itu.


Sementara itu, di kediaman Bu Mirna sedang terjadi kehebohan. Mereka kedatangan ustaz Helmi dan keluarganya.


"Wan! Elo ya yang ngundang mereka ke sini?" tuduh Anne.


Azwan yang juga sama kagetnya jelas membantah tuduhan itu.


"Enak aja. Enggak kok. Gue emang bilang sama Ustaz Helmi kalau elo bersedia kenalan dulu sama anaknya. Ustaz Helmi cuman senyum aja waktu itu. Gue juga nggak nyangka kalau mereka bakalan datang sekarang," jelas Azwan.


Anne mendengus kesal. Dia sama sekali tak siap dengan ini semua. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyambut tamu yang datang mendadak hari ini.


"Anne, cepetan ganti bajunya. Ustaz Helmi dan Ummi Inayah mau ketemu sama kamu," ucap Citra memberi tahu.


Azwan sedikit terpesona saat melihat Citra memakai gamis panjang lengkap dengan jilbabnya.

__ADS_1


"Cakep banget ya. Coba aja dia bukan saudara gue. Udah gue nikahin hari ini juga deh. Eh astaghfirullahalazim," ucapnya dalam hati.


"Kenapa harus ganti baju sih Citra? Baju ini aja kenapa sih?" gerutu Anne.


"Eh nggak boleh lah. Ayo buruan ganti bajunya. Azwan kamu keluar dulu gih. Aku mau bantuin Anne ganti baju," ucap Citra.


Tanpa membantah lagi, Azwan segera keluar dari dalam kamar adiknya itu.


Sepeninggal Azwan, Anne masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya.


"Nah sekarang tinggal pakai kerudungnya deh!" ucap Citra.


Citra lantas mengambil kain berbentuk persegi empat dan segera melihatnya menjadi segitiga. Dia kemudian membantu Anne memakai kerudung itu.


"Wah kamu cantik banget Anne!" puji Citra.


Wajah Anne merona mendengar pujian dari kakaknya itu.


"Jangan bikin aku jadi GR deh!" Ucapnya dengan pipi yang merona merah.


Citra tersenyum. "Beneran ih! Kamu cakep banget deh pakai pakaian kayak gini," kata Citra.


"Makasih. Eh tapi anaknya Pak Ustaz itu cakep nggak?" tanya Anne.


Citra mengangkat bahunya. "Aku nggak tahu. Soalnya yang datang cuman dua orang. Ustaz Helmi dan istrinya aja."


Anne menganggukkan kepalanya. Dia kemudian beranjak dari kamarnya, mengikuti langkah Citra yang sudah keluar terlebih dahulu.


"Anne mana Ma? Kok lama banget nggak keluar-keluar?" bisik Pak Bayu pada sang istri.


"Mama nggak tahu. Mama tadi udah nyuruh Citra buat ngajak Anne turun. Tapi kok lama banget ya?" ujar Bu Mirna.


"Mama susulin gih! Enggak enak bikin Ustaz Helmi dan keluarga menunggu terlalu lama," ucap Pak. Bayu.


Bu Mirna mengangguk. Kemudian wanita itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga. Baru saja wanita itu akan melangkah lebih jauh, tampak Citra dan Anne turun dari lantai atas.


"Kok lama banget sih?" tanya Bu Mirna.


"Maaf Ma. Tadi bantuin Anne pakai kerudung dulu," jawab Citra.


"Ya sudah. Ayo buruan ke depan. Enggak enak sama keluarga Ustaz Helmi udah nunggu terlalu lama," ucap Bu Mirna.


Anne mengangguk. Dia lantas mengikuti langkah sang ibu menuju ruang tamu rumahnya.


"Nah ini dia Ustaz. Adik saya, namanya Anne." Jelas Azwan saat melihat sang adik tiba di ruang tamu rumahnya.


"Subhanallah cantik sekali, Abi! Enggak salah kalau Nak Azwan mengenalkannya pada Haydar," ucap Ummi Inayah.

__ADS_1


"Iya Ummi. Cantik sekali," sahut Ustaz Helmi.


"Halo Om, Tante!" sapa Anne.


Azwan menepuk keningnya. Dia lupa memberitahu Anne kalau harus memanggil keduanya dengan sebutan Ustaz dan Ummi.


Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tapi sedetik kemudian senyum terkembang di wajah keduanya.


"Kita dapat panggilan baru Ummi," ucap Ustaz Helmi.


"Eh maaf. Ustaz, Ummi!" Ralat Anne saat mendengar ucapan dari Ustaz Helmi.


"Enggak apa-apa Nak," ucap Ummi Inayah.


"Jadi gimana? Kamu mau kan. menjadi istri anak saya, Haydar?" tanya Ustaz Helmi to the point.


Pak Bayu dan keluarga terkejut mendengar pertanyaan Ustaz Helmi yang langsung pada intinya itu.


"Maaf sebelumnya Ustaz. Bukannya saya menolak maksud baik Ustaz dan keluarga. Tapi anak saya ini masih sekolah. Dia masih kelas 2 SMA. Jadi masih jauh kalau untuk menikah," jelas Pak Bayu.


Ustaz Helmi tersenyum. "Iya Pak Bayu. Saya dan istri sudah tahu itu. Azwan sudah banyak bercerita tentang Anne pada kami," sahut Ustaz Helmi.


Pak Bayu menarik napas lega mendengar ucapan sang Ustaz.


"Kami memang berencana untuk mencarikan jodoh untuk anak kami. Tapi sebelum itu kami ingin lebih mengenal Anne terlebih dahulu."


"Nah Anne, apa kamu bersedia mengenal Haydar lebih dekat?" tanya Ustaz Helmi.


Anne terdiam. Dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Dia bingung hendak menjawab bagaimana niat baik kedua orang tua ini.


"Em... maaf Ustaz. Em... boleh saya meminta waktu sebentar untuk memikirkan semuanya? Saya nggak mau menyesal di kemudian hari karena keputusan yang saya ambil," ucap Anne.


Tak hanya Anne yang sedang dilanda kebingungan. Luna pun mengalami hal yang sama. Dia juga tengah bingung untuk menjawab sebuah pertanyaan dari pemuda yang kini tengah berdiri menatapnya.


"Bagaimana Lun? Apa kamu bersedia kembali bersamaku dan merajut kisah kita berdua?" tanyanya.


Luna terdiam. Dia bingung hendak menjawab apa atas pertanyaan itu.


"Aku... aku... tapi aku bukan Luna yang dulu Ndra. Aku udah berbeda!"


"Aku nggak peduli Lun. Bagi aku, kamu tetaplah Luna yang sama. Luna yang manja dan bisa membuatku jatuh cinta berulang kali," ucapnya.


Luna masih terdiam. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak sanggup menatap wajah pemuda yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


"Luna!" Pemuda itu meraih jemari Luna dan menggenggamnya dengan erat.


"Maukah kamu kembali merajut. kisah kita yang belum usai?"

__ADS_1


__ADS_2