Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 40


__ADS_3

Arga menarik napas lega saat mengetahui bahwa Shania berbohong soal kehamilannya. Ternyata itu adalah caranya untuk menjerat Arga agar dirinya mau menikahinya. Karena Shania tak yakin ada yang mau menikah dengannya setelah skandal terbesar dalam hidupnya terbongkar.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar Arga mau menikah denganku?" ucapnya dalam hati.


"Aku harus cari cara lain supaya Arga mau menikah dengan aku," lanjutnya.


Shania terus memikirkan cara agar Arga mau menikah dengannya. Tanpa dia peduli pada perasaan orang lain. Tanpa peduli pada perasaan kedua orang tuanya yang sudah kepalang malu dengan ulahnya.


"Besok kita kembali Jerman. Kita akan tinggal di sana lagi. Ayah sudah tak punya muka lagi untuk tinggal di sini." Ayah Shania berkata tanpa menoleh ke belakang.


"Kalau perlu sekarang juga kita berangkat," lanjutnya.


Shania terkejut mendengar ucapan sang ayah. Gadis itu mencoba protes. Tapi keputusan sang ayah tak dapat diganggu gugat. Ayahnya tetap memaksanya untuk segera pergi dari Indonesia.


Sementara keluarga Shania tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke luar negeri. Arga tampak sedang menunggu kedatangan seorang gadis yang tadi diteleponnya.


Arga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia harap-harap cemas saat menunggu kedatangan gadis itu.


"Lama banget sih! Tadi katanya udah di jalan," gerutu Arga. Dia kembali melihat ke arah pintu masuk kafe. Tak ada siapapun yang masuk.


Arga kembali fokus pada ponselnya. Dia mencoba menghubungi gadis pujaannya lagi. Tapi tak diangkat. Arga tak menyerah. Dia kembali mencoba menghubungi kekasih hatinya itu.


"Maaf telat." Ucap seseorang sembari menepuk pundak Arga.


Arga menoleh dan seketika senyumnya terkembang. Dia senang akhirnya sang kekasih datang juga.


"Iya nggak apa-apa kok," jawabnya.


Gadis berseragam SMA itu tersenyum mendengar jawaban Arga. Dia lantas duduk di hadapan Arga.


"Mau pesan apa?" Tanya Arga begitu sang kekasih duduk di hadapannya.


"Em... es coklat pakai topping oreo," jawab gadis cantik itu.


Arga segera memanggil waiters dan memesankan minuman untuk gadisnya itu.


"Mohon ditunggu ya Kak," ucap sang waiters.


Arga menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada waiters itu.


"Tadi kenapa nggak ke sekolah?" tanya gadis itu.


"Ada sedikit masalah tadi. Makanya aku nggak ke sekolah," jawab Arga.


Gadis itu manggut-manggut mendengar jawaban Arga. "Masalah apa?" tanyanya.


"Kamu ingat nggak, aku pernah cerita soal mantan aku yang baru pulang dari Jerman?" ujar Arga.


"Iya ingat. Cewek yang pernah nyamperin Citra itu kan? Yang rambutnya kayak rambut jagung itu kan?"


"Rambut jagung lagi! Jagung bakar dia mah." Arga tertawa setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Anne hanya tersenyum melihat Arga tertawa lepas seperti ini.


"Emang dia kenapa lagi? Masih mau minta pertanggungjawaban kamu?" tanya Anne.


Ya! Gadis yang menjadi kekasih Arga saat ini adalah Anne. Gadis yang selama ini selalu berdebat dengannya itu telah berhasil mencuri hatinya. Dia telah berhasil menggeser posisi Citra dalam hati Arga.


"Iya. Dia datang sama orang tuanya. Orang tuanya bahkan meminta aku untuk menikah dengan dia hari ini juga," kisah Arga.


Anne mendengarkan kisah yang meluncur dari mulut sang kekasih dengan saksama. Dia tak memotong ucapan sang kekasih sedikitpun.


"Terus sekarang gimana Sayang?" tanya Anne.


Arga menghela napas panjang sebelum melanjutkan kisahnya.


"Menurut kamu aku harus gimana?" Arga balik bertanya pada kekasihnya itu.


"Kok malah nanya ke aku?" Anne mengerutkan keningnya.


"Ya kan sebagai kekasih yang baik, kamu bantuin aku kasih saran. Aku harus gimana? Aku harus nikahin dia atau gimana?" ujar Arga.


Anne memasang wajah aneh saat mendengar ucapan Arga. Gadis itu tampak tak suka saat Arga menceritakan gadis lain saat bersama dengannya.


"Terserah! Aku nggak mau terlalu ikut campur urusan itu," ketus Anne.


"Silahkan Kak. Selamat menikmati," ucap waiter itu. Waiter itu datang di saat Arga akan membuka mulutnya untuk menjawab ucapan ketus Anne.


"Makasih," ucap Anne.


Waiter itu tersenyum kemudian segera berlalu dari meja mereka berdua.


Anne semakin menunjukkan raut wajah aneh saat mendengar pertanyaan Arga.


"Uuuhhh! Enggak peka banget sih jadi cowok," gerutu Anne dalam hati.


Arga menyunggingkan senyum tipis saat melihat ekspresi wajah Anne yang berubah.


"Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?" tanya Arga lagi.


"Marah? Siapa yang marah?" Anne masih saja menunjukkan ekspresi yang membuat Arga semakin gemas.


"Terus kenapa kamu diam aja? Kenapa cemberut aja dari tadi?" goda Arga.


"Siapa yang cemberut sih? Aku nggak cemberut kok," jawab Anne.


Arga meraih tangan gadisnya itu. Tapi dengan cepat Anne menarik tangannya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?" tanya Arga.


"Pikir aja sendiri," ketus Anne.


Arga tersenyum mendengar suara ketus Anne. "Maaf kalau aku ada salah sama kamu," ucap Arga.

__ADS_1


"Aku tadi cuman bercanda aja Anne. Aku nggak mungkin mau nikah sama Shania. Nikah sama orang yang akan menyulitkan hidupku nantinya," lanjut Arga.


"Nikah beneran juga nggak apa-apa. Kan aku emang cuman bayangan aja buat kamu," kata Anne.


Arga menghela napas panjang. Dia tahu kalau bercandanya tadi sudah kelewat batas.


"Maaf Anne. Aku nggak bermaksud gitu kok. Aku tadi cuman bercanda aja. Aku iseng aja tadi nanya kayak gitu," ucap Arga.


"Lagian apa kamu rela lihat pacar kamu nikah sama orang lain?" tanya Arga.


"Ya enggak lah. Gila apa?" sahut Anne.


"Nah makanya jangan ngambek lagi. Nanti aku diambil orang kalau kamu ngambek." Arga mencubit gemas pipi Anne.


"Arga! Sakit tahu," pekik Anne.


Arga tertawa melihat ekspresi wajah Anne. Dia merasa lega karena Anne tak lagi marah padanya.


"Kamu tadi ke sini sama siapa?" tanya Arga.


"Sama Citra." Jawab Anne sambil menyeruput es coklatnya.


"Terus sekarang dia di mana? Kok nggak ikut ke sini juga?" tanya Arga.


"Dia lagi sama Pak Tian mereka kencan di toko buku," jawab Anne.


Arga manggut-manggut mendengar jawaban Anne. "Mereka udah jadian ya?" tanya Arga.


"Aku nggak tahu pasti. Tapi yang jelas Papa sama Mama udah ngasih lampu hijau buat mereka berdua," jawab Anne.


"Kira-kira aku bisa dikasih lampu hijau juga nggak ya sama Om Bayu kalau ngelamar kamu?"


"Apaan sih? Aku masih mau sekolah lagi. Aku masih mau meniti karir. Belum ada pikiran mau nikah," ucap Anne.


Arga tertawa mendengar ucapan Anne. Dia kemudian menyeruput minumannya dan kembali menggoda Anne.


*****


Hari telah beranjak sore. Citra baru saja tiba dirumahnya. Dia pulang dengan diantar oleh Tian.


"Makasih ya Mas udah mau nganterin Citra pulang," ucap Citra setelah turun dari motor.


"Sama-sama. Aku senang bisa nganterin kamu pulang," sahut Tian.


Citra tersenyum mendengar ucapan Tian. "Aku... aku masuk dulu ya. Sekali lagi makasih ya Mas!"


Tian tersenyum mendengar ucapan tulus dari Citra. "Iya Citra. Sama-sama," jawabnya.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya," pamit Citra.


Tian menganggukkan kepalanya. Memberi izin pada Citra untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia menunggu Citra hingga tubuh gadis itu hilang di balik pintu.

__ADS_1


Citra masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia dan berbunga-bunga. Senyumnya terus terkembang hingga....


"Dari mana saja kamu?" bentak sebuah suara.


__ADS_2