Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 81


__ADS_3

Tian dan Citra kompak menoleh. Mereka saling lempar pandang saat mendapati seorang gadis berdiri dengan tatapan nyalang.


"Ternyata dia yang bikin Pak Tian nyuekin aku akhir-akhir ini?' ucap gadis itu.


Tian terbengong mendengar ucapan gadis itu. Dia menatap ke arah Citra yang juga tengah menatapnya.


"Jadi karena dia, Pak Tian lari dari aku?" ucapnya lagi.


Citra menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak menyangka jika Tian ada hubungan dengan gadis lain selain dirinya.


"Pak Tian jahat! Pak Tian bilang kalau cuman aku yang ada di hati Bapak. Tapi apa nyatanya? Bapak jalan berdua dengan cewek jelek ini." Silvi menunjuk ke arah Citra yang terdiam di tempatnya.


Tepat saat itu, seorang waiters datang membawa pesanan makanan Tian dan Citra. Silvi yang melihat itu lantas duduk tanpa di persilakan.


"Oh jadi kamu gini ya kelakuan kamu di belakang aku?" ujar Citra.


"Terusin acara kencan kalian. Bye!" lanjutnya. Dia lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari tempat itu.


Tian yang melihat itu, ikut bangkit dari tempat duduknya. Walaupun Silvi sempat mencegah Tian untuk mengejar Citra, namun Tian tak memperdulikannya.


Tian keluar dari kafe dan mengejar Citra. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Citra. Tiba-tiba sepasang tangan halus menarik lengannya.


"Citra!" pekiknya tertahan.


Citra meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Kemudian dia melongokkan kepalanya untuk melihat ke dalam kafe.


"Kita cari tempat lain aja ya!" ajaknya.


Tian mengerutkan keningnya. Dia heran dengan perubahan sikap Citra. Dia pikir Citra akan marah padanya. Tapi ternyata, Citra sama sekali tak menunjukkan rasa marahnya.


"Kamu ... nggak marah sama aku?" tanya Tian.


Citra tersenyum dan menggeleng. "Enggak lah. Ngapain aku marah sama kamu? Udah ah sekarang kita cari tempat lain buat kencan," ucap Citra.


"Ya kali aja kamu marah sama kau gara-gara cewek tadi," jawab Tian.


Citra menggeleng. "Aku nggak marah kok. Cuman kesal aja. Ganggu banget sih tuh cewek," ucapnya.


Tian menarik napas lega. Dia bersyukur karena Citra tak marah kepadanya.

__ADS_1


"Ya udah! Kita pergi dari sini. Aku tahu tempat yang oke di dekat sini," kata Tian.


Tian meraih jemari Citra dan menggenggamnya dengan erat. Ada perasaan hangat saat jemari mereka tertaut seperti ini.


...****************...


Suasana pagi ini sedikit berbeda. Cuacanya sedikit mendung dan rintik-rintik hujan mulai turun dari langit.


Silvi memasang wajah kesal sejak bangun tidur tadi. Dia tak menyangka jika Tian meninggalkannya sendirian di kafe dan membuatnya membayar makanan yang sama sekali tak ia pesan.


"B******k banget sih tuh orang! Lihat aja! Gue pasti bakalan bikin perhitungan sama tuh cewek," ujarnya.


Matanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan seringai licik. Dia merencanakan sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.


"Silvi! Buruan bangun! Udah siang juga! Elo tidur apa mati sih?!"


Seorang perempuan muda berteriak dari balik pintu kamar Silvi. Silvi berdecak kesal mendengar teriakan perempuan yang ternyata adalah ibu tirinya itu.


"Gue hitung sampai tiga. Kalau elo nggak. bangun juga, gue siram lo pakai air comberan!" teriaknya lagi.


Silvi berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya dengan malas.


Perempuan muda itu membelalakkan matanya. Dia tak menduga Silvi akan berani menjawab ucapannya.


"Enggak usah melotot gitu! Wajah lo lebih serem dari kuntilanak!" Silvi menutup kembali pintu kamarnya sebelum....


"SILVI! KURANG AJAR LO! BERANI-BERANINYA ELO NGATAIN GUE KUNTILANAK! SILVI!" teriaknya.


Silvi menutup telinganya. "Duh! Berisik banget sih tuh nenek lampir. Dulu Papa lihat apa sih? Sampai bisa ninggalin Mama buat nikahin tuh nenek lampir," gerutunya.


Dia terus menggerutu hingga dering ponselnya menghentikan gerutuannya. Senyum manis terkembang di wajah Silvi kala melihat identitas di penelepon.


Sementara itu, Citra tampak bersiap berangkat ke sekolah. Dia tengah memakai sepatunya sembari menerima telepon dari kekasihnya.


"Kita berangkat bareng aja. Pakai mobil Papa. Lagian hari ini kan hujan. Aku nggak mau kamu sakit gara-gara hujan," ucap Citra.


"Enggak usah lah. Aku berangkat pakai motor aja. Lagian aku nggak enak sama Papa. Belum apa-apa masa udah minjam-minjam mobil sih!" ujar Tian.


Citra menghela napas panjang. "Terserah kamu aja deh! Yang jelas aku udah ngasih solusi. Tapi ternyata solusinya kamu tolak," ucap Citra.

__ADS_1


Tian hendak menjawab saat Citra tiba-tiba mematikan teleponnya. Tian menjadi serba salah. Bukan maksud hatinya untuk membuat kecewa Citra. Dia hanya tak ingin menyusahkan keluarga pak Bayu.


Tian menghela napas panjang. Dia kemudian menyambar jaket dan memasukkan tasnya ke dalam rain cover bag agar tak kehujanan.


"Bu, Tian berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum," pamitnya pada sang ibu.


"Iya. Wa'alaikumusalam. Hati-hati ya. Jalanan licin. Jangan ngebut bawa motornya," ucap sang ibu.


Tian menganggukkan kepalanya. Dia kemudian memakai jas hujan dan segera menaiki motornya.


Citra juga tampak bersiap berangkat ke sekolah. Dia naik mobilnya bersama dengan Azwan dan Anne. Sepanjang perjalanan, Citra hanya diam saja. Dia melihat ke jalanan yang tampak lengang karena hujan.


"Kamu kenapa Cit?" tanya Anne.


Citra menoleh sekilas. Kemudian dia menggeleng.


"Kamu sakit? Atau lagi ada yang kamu pikirin?" tanya Anne lagi.


"Kamu bisa berbagi cerita sama kita kalau ada masalah. Kita bukan orang lain buat kamu. Kita ini saudara." Kali ini Azwan yang berbicara. Dia tak bisa diam saja saat melihat Citra seperti ini.


Citra menghela napas panjang. "Aku nggak apa-apa. Aku cuman lagi kangen aja sama Mbak Wiwit dan almarhumah ibuku."


Akhirnya keluar juga suara dari mulut Citra. Anne dan Azwan saling tatap. Mereka mengerti perasaan Citra saat ini.


"Minggu besok kita ke makam ya. Kita ziarah ke makam Mbak Wiwit dan Ibu Ambar," ucap Anne.


Citra menatap Anne dan tersenyum. Dia bahagia dan bersyukur memiliki saudara yang begitu peduli padanya. Saudara yang begitu mengerti perasaannya saat ini.


"Iya Neng! Bapak juga siap nganterin Neng Citra ke mana aja," sahut pak Kosim.


Citra tersenyum. "Makasih Pak Kosim!" ucapnya.


Mobil terus melaju. Menembus hujan yang kian lebat saja. Citra kembali menatap ke jalanan yang basah oleh air hujan. Matanya menatap setiap tetes air hujan yang turun. Tetesan yang membawanya kembali dalam kenangan masa lalu.


Saat tengah asik menikmati hujan, tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap sesuatu. Seseorang tergeletak tak bergerak di samping sepeda motornya.


Citra terus memperhatikan orang itu. Dia sepertinya kenal dengan sepeda motor dan orang yang tergeletak itu. Tiba-tiba matanya membelalak.


"Itu kan---"

__ADS_1


__ADS_2