Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 77


__ADS_3

Wajah kepala sekolah tampak merah padam. Emosinya sudah naik hingga ubun-ubun melihat kelakuan sang anak.


"Dasar anak tak tahu diri," ucapnya lagi.


Pria itu akan melayangkan tamparannya lagi saat Tian dan pak Dayat mencoba menghalanginya.


"Mau jadi apa kamu? Hah!" lanjutnya.


Shintya hanya bisa tertunduk. Dia tak menyangka jika kegilaannya bersama Sasha dan Dirga berubah menjadi petaka.


"Mulai besok kalian bertiga tidak usah kembali ke sekolah. Silakan suruh orang tua kalian untuk mengambil surat pengeluaran kalian ke sekolah," ucap pak Kepala sekolah dengan emosi yang masih membara.


"Shintya! Mulai sekarang Ayah akan kirimkan kamu ke pondok pesantren. Ayah sudah nggak sanggup mengurus kamu lagi," ucapnya lagi.


Mendengar itu, Shintya hanya bisa tertunduk lesu. Bayangan hari-hari menyeramkan sudah membayang di benaknya.


"Sekarang, kembali ke kelas kalian. Hari ini adalah hari terakhir kalian sekolah di sini," pungkasnya.


Setelah itu mereka bertiga segera keluar dari ruang BK. Mereka kembali ke kelas dengan perasaan campur aduk. Sasha tampak terdiam saat ada yang menanyakan tentangnya. Sementara Dirga, dengan angkuhnya dia mengambil rasnya dan keluar dari kelasnya.


Saat akan keluar dari kelas, tanpa sengaja Dirga menabrak Citra. Bukannya meminta maaf, Dirga justru memaki Citra dengan kata-kata yang tak pantas. Citra hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani membalas ucapan Dirga.


"Minggir!" bentuknya.


Citra menggeser tubuhnya ke samping. Dia bermaksud memberi Dirga jalan. Tapi Dirga menabrak bahunya dan hampir membuat Citra terjungkal.


"Kamu nggak apa-apa Cit?" tanya Maria yang baru saja tiba di sana.


Citra mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Enggak kok. Aku nggak apa-apa," jawabnya.


"Emang dia tadi ngomong apa?" tanya Anne.


"Enggak kok. Dia nggak ngomong apa-apa," jawab Citra lagi.


Anne menatap Citra dengan pandangan tak percaya. Dia mencari kejujuran dalam sorot mata Citra.


"Seriusan kamu nggak apa-apa?" tanya Anne sekali lagi.


"Heh! Dasar caper. Bilang aja kalau elo cari-cari kesempatan untuk deketin Dirga lagi?" sahut Sasha.


"Gue peringatin ya. Biarpun elo ngasih tubuh lo secara gratis buat Dirga, dia nggak akan pernah mau sama elo. Ngerti!" Sasha berkata sembari berjalan keluar dari kelasnya.


Citra hanya menghela napas panjang. Dia tak berminat untuk membalas ucapan ketus Sasha. Baginya diam adalah yang terbaik.


"Kenapa kamu nggak balas ucapan dia sih Cit? Udah keterlaluan banget tuh anak," geram Maria.


Citra mengulas senyum tipis. "Buat apa sih Mar? Biarin aja. Nanti kalau dia capek pasti bakalan berhenti sendiri kok," jawab Citra.


"Kamu emang aneh Cit. Kamu itu cewek paling aneh yang pernah aku temuin." Maria berkata sambil tersenyum.


"Udah yuk! Kita masuk kelas! Sebentar lagi bel. Pelajaran Pak Tian kan jam terakhir!"


Anne dan Maria saling lempar pandang. Sedetik kemudian mereka tersenyum jahil.

__ADS_1


"Iya Bu Guru. Kita masuk sekarang."


...****************...


Hari berlalu kian cepat. Tak terasa sudah memasuki bulan kedua Citra dan teman-temannya belajar di kelas 11 ini.


"Eh! Weekend besok jalan yuk ke mana gitu!" ajak Maria.


"Enggak capek lu tiap hari jalan terus? Sekali-kali diam di rumah gitu!" sahut Azwan.


Maria meleletkan lidahnya. Mengisyaratkan dia tak peduli pada ucapan Azwan barusan.


"Kalian berdua ini bisa nggak sih kalau nggak berantem? Berisik tahu!" ujar Citra.


"Maria nih Cit yang ngajakin debat terus," sahut Azwan.


"Enak aja. Elo tuh nyahut-nyahut nggak jelas kalau gue lagi ngomong," timpal Maria tak mau kalah.


"Udah! Udah! Kok malah jadi berantem sih?" ujar Anne yang sejak tadi diam saja.


"Sorry An. Habisnya kakak lo ini yang rese. Ngajakin debat aja," ucap Maria.


Azwan sudah akan membalas ucapan Maria saat ekor matanya melihat tatapan tajam Citra. Jadi dia hanya bisa diam dan mengalah.


"An, habis ini anterin ke toko buku ya!" pinta Citra.


"Mau ngapain?" tanya Maria.


"Mau beli seblak. Ya mau beli buku lah Maria," sahut Azwan.


"Gimana An? Bisa nggak?" tanya Citra.


"Bisa kok. Eh tapi kenapa nggak minta tolong sama Pak Tian aja? Hari ini kan Pak Tian free," ujar Anne.


"Dia lagi ada rapat di diknas. Jadi dia nggak bisa nganterin aku. Katanya mau ada sertifikasi atau apa gitu," jawab Citra.


"Cie... cie... hapal banget dah sama jadwal ayang beb," goda Maria.


Citra hanya tersenyum mendengarnya. Dia sudah terbiasa dengan ulah Maria yang senang menggoda dirinya ataupun Anne.


"Berangkat sekarang aja kalau gitu," kata Anne.


Citra menganggukkan kepalanya. Dia lantas bangkit dari tempat duduknya dan menyambar tas sekolahnya.


"Kalian mau ikut?" tawar Citra pada Azwan dan Maria.


"Aku nggak bisa ikut. Soalnya ada misa jam 6 nanti," jawab Maria.


"Kalau kamu Wan?" tanya Citra pada Azwan.


"Boleh deh. Yah itung-itung sebagai pengawal dua bidadari deh. Satu bidadarinya Pak Tian. Satu lagi bidadarinya Ustaz Haydar," celetuk Azwan.


Citra dan Anne hanya bisa tersenyum malu-malu mendengar celetukan Azwan.

__ADS_1


"Udah ah! Yuk berangkat. Keburu sore entar," ucap Anne.


"Gue duluan ya guys. Udah di jemput tuh sama bokap," kata Maria.


Ketiganya menganggukkan kepala bersamaan. Mereka kemudian berjalan menuju halte yang tak jauh dari sekolah.


"Kita naik taksi online aja ya," ucap Azwan.


Anne dan Citra menganggukkan kepala bersamaan. Sembari menunggu taksi online datang, Citra memainkan ponselnya. Dia mengusap layar benda pipih itu dan mulai menjelajah.


Saat tengah asik memainkan game di ponselnya, Tian meneleponnya. Citra segera mengangkat telepon dari kekasihnya itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Tian.


"Wa'alaikumusalam," jawab Citra.


"Udah pulang sekolah?" tanya Tian.


"Udah. Baru aja keluar dari sekolah. Sekarang mau ke toko buku dulu sama Anne dan Azwan," jawab Citra.


"Enggak langsung pulang?" tanyanya lagi.


"Nanti setelah dari toko buku baru pulang. Pak Tian udah selesai rapatnya?"


"Udah. Baru aja selesai. Kenapa Sayang?"


"Enggak apa-apa. Udah makan?"


"Udah tadi bareng sama peserta rapat yang lain. Kamu udah makan siang?"


"Udah tadi di kantin," jawab Citra.


"Eh itu taksinya sudah datang. Yuk buruan!" sela Azwan.


Citra dan Anne menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil itu.


"Aku berangkat ke toko buku dulu ya," pamit Citra.


"Iya. Hati-hati. Habis dari toko buku langsung pulang lho ya. Bilangin juga tuh Azwan sama Anne. Jangan kelayapan lagi. Besok ada ulangan kan?" Tian berkata panjang lebar.


"Iya Pak guruku sayang. Aku ingat kok. Besok ulangan pelajarannya Pak Tian kan?" ujar Citra.


Tian tersenyum mendengar Citra menyebut dirinya pak guruku sayang. Ada perasaan hangat yang merasuk masuk ke dalam kalbunya saat Citra mengatakan itu.


"Ya udah. Aku juga mau pulang. Assalamu'alaikum," ucapnya sebelum menutup teleponnya.


"Wa'alaikumsalam. Jangan ngebut lho ya bawa motornya. Pelan-pelan aja." Citra memperingatkan sang kekasih untuk berhati-hati.


Tian tersenyum mendengarnya. Setelah itu dia mematikan panggilan teleponnya dan segera melangkah menuju tempat parkir.


Tian berjalan penuh semangat menuju motornya. Seolah dia memang sudah menantikan jam pulang kantor seperti sekarang ini.


"Enggak ketemu kamu sehari aja rasanya kangen juga," ucapnya dalam hati. Seulas senyum terpatri di wajahnya yang rupawan.

__ADS_1


"Tian! Bisa kita bicara sebentar?"


__ADS_2