Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 75


__ADS_3

Anne semakin terlihat tak nyaman kala Citra terus saja membicarakan tentang Arga. Hatinya masih terasa perih kala ada orang lain yang menyebut nama mantan kekasihnya itu.


"Stop Cit!" ujarnya sedikit membentak.


"Aku nggak suka kamu terus ngomongin soal Arga, Arga, dan Arga," lanjutnya.


Citra seketika terdiam mendengar suara keras Anne. Ada perasaan takut yang tergambar jelas dalam sorot matanya kala Anne membentaknya tadi.


"Mungkin kamu merasa kasihan atau apalah itu. Tapi bagi aku, itu menyakitkan. Jadi tolong berhenti membicarakan atau menyebut nama lelaki itu," pungkasnya.


Setelah berkata demikian, Anne segera turun dari mobil. Gadis itu berjalan cepat memasuki halaman sekolah tanpa menunggu Citra yang masih terdiam.


"Sudah nggak usah kamu pikirkan. Nanti dia juga bakalan baik lagi kok. Dia cuman lagi ngerasa patah hati aja." Azwan berkata sambil mengelus pundak saudaranya itu.


Citra mencoba tersenyum. Kemudian dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju halaman sekolah bersama dengan Azwan.


Citra terus berjalan hingga masuk ke kelasnya. Dia mencari sosok Anne yang tadi lebih dulu masuk ke dalam. Tapi dia tak menemukan sosok yang dia cari.


"Hai Citra. Selamat pagi!" sapa Maria.


"Hai Mar. Selamat pagi," balas Citra.


Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia seolah sedang mencari seseorang.


"Anne mana?" tanyanya begitu tak menemukan sosok Anne.


"Anne...."


"Gue di sini!" seru seseorang dari belakang mereka.


Citra dan Maria kompak menoleh. Seulas senyum tergambar jelas di wajah Maria. Dia lantas berjalan menghampiri Anne yang ada di ambang pintu kelas.


"Anne! Apa kabar lo?" tanya Maria.


"Gue baik," jawab Anne.


Senyum manis tergambar jelas di wajah cantik Anne. Citra yang melihat Anne tersenyum menjadi lega. Dia bersyukur Anne bisa tersenyum kembali.


"Kita masuk yuk!" ajak Maria pada Anne.


Anne menganggukkan kepalanya. Dia dan Maria lantas berjalan masuk ke dalam kelas. Sedangkan Citra, dia masih berdiri diambang pintu tanpa bergerak sedikitpun.


BRUGH!!!


"Jangan ngalangin jalan dong!" bentak seseorang.


Citra yang hampir tersungkur menoleh ke belakang. Ternyata Dirga berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


"Eh! Maaf kalau aku ngalangin jalan." Citra mengucapkan itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Elo bukan cuman ngalangin jalan. Tapi elo juga merusak pemandangan. Minggir lo!" bentak Dirga lagi.


Sreettt!!!


Segores luka tergambar di hati Citra. Rasanya perih dan sakit sekali. Walaupun dia sudah sering kali mendengar kalima itu, tapi rasanya masih terasa menyakitkan.


"Heh! Enggak usah pasang wajah sok polos lo. Elo emang pantas diperlakukan begini. Dasar cewek jelek!" Dirga kembali mengeluarkan kalimat hinaan itu untuk Citra.


"Kenapa sih gue harus sekelas sama cewek jelek dan nggak tahu diri kayak lo?" hinanya lagi.


Maria dan Anne yang mendengar itu menjadi geram. Mereka lantas menghampiri Dirga yang masih dengan sombongnya berdiri di depan Citra.


"Waw ada cowok keren nih di kelas kita Mar!" Anne berujar sembari berjalan mengelilingi Dirga.


Mendengar dirinya dipuji oleh gadis secantik Anne, membuat Dirga melayang. Dia tersenyum penuh kebanggaan karena mendapatkan pujian itu.


"Iya An. Beruntung banget ya An kita sekelas sama cowok keren ini," sahut Maria.


Anne menyunggingkan senyum miring. "Tapi sayang cowok keren ini mulutnya minta disambelin," ucap Anne.


Senyum Dirga luntur seketika saat mendengar ucapan Anne. Wajahnya merah padam mendengar ucapan tajam itu.


"Jangan dong An. Kok disambelin sih? Kasihan kan. Keren-keren kok mulutnya di sambelin," sahut Maria seolah membela Dirga.


"Pantesnya sih bukan disambelin An. Tapi digiling pakai gilingan mie. Tipis kan tuh jadinya," lanjut Maria.


Mata Dirga membelalak. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia bergegas berjalan menuju bangkunya.


Anne dan Maria yang melihat itu menjadi tertawa Mereka merasa puas telah bisa melawan lelaki bermulut pedas seperti Dirga.


...****************...


Hari ini sekolah bubar lebih cepat. Karena masih hari pertama jadi belum ada pelajaran. Anne, Maria, Citra, dan Azwan tampak keluar dari ruang kelas mereka.


Tahun ini mereka berempat berada di kelas yang sama. Bersama dengan Dirga dan para pembully Citra lainnya.


"Mau ke mana nih kita?" tanya Maria yang paling bersemangat saat sekolah bubar lebih awal.


"Kita ke kafe dulu aja gimana?" usul Azwan.


"Ide bagus tuh. Kita hangout dulu sebelum pulang. Lagian mau ngapain di rumah jam segini," jawab Anne.


"Gimana Cit? Mau nggak ikut kita ke kafe?" tanya Maria.


Citra menatap mereka bergantian. Saat matanya bertatapan dengan Anne, dia buru-buru menundukkan kepalanya. Masih ada rasa takut yang saat menatap mata Anne.

__ADS_1


"Aku mau pulang aja. Maaf aku nggak bisa ikut," jawab Citra tanpa mengangkat kepalanya.


"Yah! Kok gitu sih? Enggak asik ah kalau kamu nggak ikut," ucap Maria.


"Iya Cit. Ikut ya!" bujuk Azwan.


Anne hanya diam saja saat saudara dan sahabatnya mencoba membujuk Citra untuk ikut mereka. Dia masih belum bisa melupakan sikap Citra tadi pagi. Dia masih merasa kecewa karena Citra tak henti-hentinya menyebut dan membicarakan tentang Arga.


"Maaf! Aku duluan." Citra berkata sambil melangkahkan kakinya menjauh dari mereka berempat.


Azwan dan Maria saling lempar pandang. Sementara Anne membuang muka saat Maria menatap ke arahnya.


"Dia kenapa sih?" tanya Maria entah pada siapa.


Azwan hanya mengangkat bahunya. Dia tak ingin mengatakan yang sebenarnya walaupun dia tahu apa yang terjadi.


"Udah biarin aja. Mungkin dia udah ada janji sama Pak Tian," jawab Azwan akhirnya.


"Mungkin juga. Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang aja!" ujar Maria.


Azwan dan Anne mengangguk setuju. Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju kafe yang tak jauh dari sekolah mereka itu.


Sementara itu, Citra sedang duduk di sebuah bangku yang ada di sebuah taman bunga. Matanya menatap bunga-bunga yang bermekaran. Senyum tipis tersungging kala melihat kupu-kupu aneka warna beterbangan ke sana ke mari.


"Ternyata kamu di sini?" tegur seseorang dari belakang.


Citra terlonjak kaget mendengar suara itu. Dia lantas menoleh dan mendapati Tian tengah berjalan ke arahnya.


"Ternyata kamu di sini? Aku nyariin kamu dari tadi," ulangnya.


Citra tersenyum. "Ngapain nyariin aku?" tanyanya.


Tian berjalan mendekat dan duduk di sebelah Citra. Tangannya memeluk bahu kekasihnya itu dengan erat.


"Soalnya aku kangen sama kamu," jawab Tian. Senyum manis tergambar di wajah tampan guru muda itu.


"Gombal!" Citra memalingkan wajahnya yang memerah mendengar jawaban dari guru sekaligus kekasihnya itu.


"Beneran tahu! Aku kangen sama kamu!" ucap Tian lagi.


Citra mencebikkan bibirnya. "Bohong banget sih! Tadi di sekolah kan juga udah ketemu," sahut Citra.


"Iya. Tapi kalau nggak ketemu kamu sedetik aja, rasanya udah kayak setahun!"


Citra tertawa mendengarnya. "Gombal banget sih! Lebay tahu nggak!" ucapnya.


Tian hendak membalas ucapan Citra saat sebuah suara menyela obrolan mereka.

__ADS_1


"Ternyata kalian di sini?"


__ADS_2