Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 39


__ADS_3

Tian mengabaikan telpon yang masuk ke dalam ponselnya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dari nama yang tertera di ponselnya.


Ponselnya kembali berdering nyaring. Nama yang sama muncul di layar. Tian lagi-lagi mengabaikan panggilan telpon dari nama itu. Hatinya masih sakit saat mengingat apa yang sudah dilakukan oleh pemilik nama itu.


Penelpon itu tak putus asa. Dia kembali menghubungi Tian. Tian yang merasa geram dan kesal akhirnya mau juga mengangkat telpon itu.


"Halo Tian," sapa seseorang di telpon.


Tian tak membalas sapaan itu. Dia berdecak kesal karena ulah di penelpon.


"Bisa kita ketemu? Aku mau jelasin semuanya sama kamu," ucap orang itu.


Tian tersenyum miring saat mendengar ucapan orang itu yang tak lain adalah Marta, mantan tunangannya dulu.


"Enggak perlu. Aku udah tahu semuanya," jawab Tian dengan nada ketus.


"Enggak. Kamu belum tahu. Kamu salah paham aja Yan," ucap Marta.


"Aku nggak seperti yang kamu pikirkan," lanjut Marta.


Tian tersenyum miring mendengar ucapan Marta. Hati dan perasaannya untuk Marta sudah membeku. Dia sudah tak ingin lagi mendengar apapun tentang Marta.


"Salah paham apa? Semuanya jelas aku lihat di depan mata. Kamu dan keluarga kamu sengaja menghina keluargaku di depan banyak orang," geram Tian.


"Aku dan keluargaku nggak bermaksud begitu Yan. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk mempermalukan kalian di depan umum," kilah Marta.


Tian lagi-lagi hanya tersenyum miring. Hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa. Rasa itu tak akan pernah bisa diobati hanya dengan kata maaf.


"Aku dan keluargaku sudah cukup memaklumi kamu dan keluargamu. Tapi apa yang kami dapatkan? Hinaan demi hinaan terus saja kami terima. Tak hanya itu saja, kamu dan keluargamu sudah membuat kakakku harus menikah di depan jenazah ayahku. Karena ayahku meninggal setelah mendengar hinaan dari keluargamu," kata Tian.


Marta terdiam mendengar perkataan Tian. Tak mudah memang mengembalikan kaca yang sudah pecah menjadi utuh kembali. Kalaupun bisa, pasti akan ada bekasnya. Itulah yang saat ini tengah Tian rasakan.


"Dan asal kamu tahu. Aku nggak pernah dendam sama kamu dan keluargamu. Tapi seumur hidupku, aku akan terus mengingat itu semua."


Tian segera menutup telponnya tanpa memberikan kesempatan pada Marta untuk berbicara. Dadanya naik turun seiring emosi yang naik turun juga.


Tian menarik napas panjang. Kemudian dia menghembuskannya secara perlahan. Pemuda itu berusaha menenangkan gejolak hatinya yang sedang tak menentu.


Di tempat lain, Arga tengah duduk di ruang tamu rumahnya. Di sana ada kedua orang tuanya, kakak-kakaknya, Shania, dan kedua orang tua Shania.


"Biar bagaimanapun juga, Arga harus tanggung jawab. Karena Shania kini tengah mengandung anaknya," ucap seorang lelaki dengan alis tebal dan kumis memanjang di bawah hidungnya.


"Ya aku setuju," sahut Pak Salman.


"Tapi ada baiknya kita lakukan pengecekan di rumah sakit. Supaya kita bisa tahu apakah Shania benar-benar hamil atau hanya pura-pura," lanjutnya.


"Jadi kalian nggak percaya kalau Shania hamil? Kalian mau lari dari tanggung jawab?" sentak seorang wanita dengan make up penuh dan memakai perhiasan di seluruh tubuhnya.


"Bukan gitu. Tapi kami sangat mengenal Arga seperti apa. Kami juga mengenal siapa anak kalian sebenarnya," ucap Bu Salman.


Wanita berdandan menor itu tampak mencebikkan bibirnya. Dia seolah mengejek keluarga Arga.

__ADS_1


"Kalian ini memang keluarga nggak tahu diri ya? Dulu aja kalian menolak perjodohan anak-anak kita. Tapi nyatanya, Arga malah meniduri anak kami hingga hamil," sindir wanita itu.


Vania dan Nanda tampak geram mendengar keluarga mereka dihina oleh orang lain. Darah mereka seolah mendidih mendengar kalimat penghinaan itu. Padahal tak seperti itu kenyataannya.


"Kalau sudah tahu begitu, kenapa masih minta pertanggungjawaban sama kami? Apa nggak malu besanan sama keluarga nggak tahu diri?" Nanda menyuarakan pendapatnya. Dia tak bisa berdiam diri saja mendengar penghinaan yang diterima oleh keluarganya.


Ayah Shania memelototkan matanya dengan tajam. Dia merasa kesal dengan perkataan Nanda barusan. Sedangkan ibunya Shania tampak mencebikkan bibirnya.


"Sekarang kita ke rumah sakit. Kita cek bareng-bareng. Biar kita tahu bagaimana hasilnya," ucap Nanda akhirnya.


Kedua orang tua Shania tampak keberatan dengan usul Nanda. Mereka ingin Arga tanggung jawab tanpa harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Kenapa nggak mau? Apa kalian berbohong tentang kehamilan Shania?" sindir Nanda.


"Kami nggak takut. Kami hanya malas ribet kalau harus melakukan cek kandungan ke rumah sakit," jawab Ibunda Shania.


"Kita pulang aja yuk Bunda!" lirih Shania.


"Aku punya firasat buruk tentang ini," ucapnya lagi.


Nanda menatap curiga pada Shania dan ibunya yang tampak sedang berbisik-bisik.


"Atau gini aja. Kita nggak ke rumah sakit. Kita langsung nikahkan saja tapi..."


Nanda sengaja menggantung ucapannya. Dia ingin tahu reaksi keluarga Shania dan tentunya Shania sendiri.


"Nah kami setuju kalau langsung menikah," sahut Ayah Shania.


"Kita cek di sini," ucap Nanda.


"Lho tadi katanya nggak pakai tes-tes segala. Kenapa sekarang malah manggil dokter ke rumah?" Ibunda Shania mencoba melayangkan protes.


Nanda tersenyum mengejek. "Enggak mungkin lah kami akan langsung menikahkan Arga tanpa tahu kebenarannya," ucap Nanda.


"Sayang tolong cek dia ya. Kamu tungguin sampai dia selesai memakai alat tesnya," kata Nanda pada dokter cantik itu.


Dokter cantik yang ternyata adalah Naima itu menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengajak Shania untuk ke kamar mandi.


"Kalian keterlaluan," sentak Ayah Shania.


"Keterlaluan bagaimana? Kami hanya ingin mengetahui sebuah kebenaran saja. Karena kami tidak mau masa depan Arga hancur hanya karena berita yang nggak jelas," sahut Pak Salman.


Setengah jam berlalu. Shania dan Naima tampak keluar dari dalam kamar mandi. Mereka berjalan menuju ruang tamu. Di mana seluruh keluarga sedang menunggu hasilnya.


"Bagaimana hasilnya Sayang?" tanya Nanda. Pemuda itu tak sabar ingin mengetahui yang sebenarnya.


Naima tersenyum tipis. Kemudian dia menatap ke arah Pak Salman dan Bu Salaman.


"Shania saat ini sedang datang bulan. Jadi dia tidak sedang mengandung," jelas Naima.


Semua yang ada di sana menarik napas lega. Arga pun menarik napas lega karena tak harus menikah dengan perempuan licik seperti Shania.

__ADS_1


"Enggak mungkin. Dia pasti keguguran. Kamu pasti yang menyebabkan Shania keguguran, iya kan?" bentak Ibunda Shania.


Naima hanya tersenyum menanggapi bentakan dari wanita itu. Dia kemudian menunjukan sample darah yang keluar dari v****a Shania.


Nanda dan Arga bergidik jijik saat melihat sampek yang dibawa oleh Naima. Mereka menutup mulutnya agar tak muntah di sana.


"Ini sampel darah yang saya ambil dari pembalut Shania. Darah ini berbeda dengan darah ketika seseorang mengalami abortus. Baik abortus secara alami atau tidak," jelas Naima.


Ibunda Shania mencebikkan bibirnya. Perempuan itu tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naima.


"Halah kalian memang keluarga pembohong. Pasti ini akal-akalan kalian saja. Supaya Arga tak bertanggung jawab pada Shania," ucap perempuan itu.


"Terserah kalian mau bilang apa. Tapi yang jelas ini adalah fakta yang sebenarnya," sahut Pak Salman.


"Bukan karena kami nggak mau tanggung jawab. Tapi kami sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu saat Arga tiba-tiba menolak perjodohan ini," timpal Bu Salman.


"Iya. Semua itu ada alasannya. Kenapa saya menolak perjodohan itu." Arga yang sejak tadi terdiam, akhirnya angkat bicara.


"Saya dulu menerima perjodohan ini karena saya juga suka sama Shania. Saya dulu pernah mencintai Shania. Tapi itu dulu. Sekarang...."


"Tunggu apalagi? Kalian saling mencintai bukan? Terlepas Shania hamil atau tidak, kalian sebaiknya menikah saja," potong Ayah Shania.


"Maaf saya nggak bisa," jawab Arga tegas.


"Kenapa? Bukannya kalian saling suka?" tanya Ayah Shania.


"Dulu memang saya suka sama Shania. Tapi sekarang rasa suka saya berubah menjadi rasa jijik. Itu semua karena saya pernah melihatnya di hotel bersama dengan dua orang lelaki," jawab Arga.


"Terus kalau lihat Shania sama cowok di hotel kenapa? Mereka nggak ngapa-ngapain kan. Mereka mungkin sedang ada perlu atau menghadiri pesta," kata Ibunda Shania.


"Iya. Mereka memang ada perlu. Dan keperluan mereka itu yang membuat saya illfeel sama Shania," jawab Arga.


Arga lalu mengambil ponselnya yang ia simpan dalam saku celananya. Dia mengusap layar ponsel itu dan membuka galeri di ponselnya. Dia kemudian memutar sebuah video dan menunjukkannya pada kedua orang tua Shania.


Mata kedua orang tua itu membelalak tak percaya saat melihat rekaman video itu. Mereka tak menyangka jika sang anak akan berbuat seperti itu.


"Enggak mungkin. Ini pasti editan. Ini pasti ada yang nggak suka sama Shania dan mengedit video ini," ucap Ibunda Shania.


"Awalnya saya berpikir ini adalah editan. Tapi itu adalah kenyataan. Itu adalah fakta yang saya dapat setelah saya mencari informasi tentang Shania," jawab Arga.


Shania hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sudah tak ada muka untuk menatap wajah Arga dan keluarganya. Dia merasa sangat malu. Awalnya dia dan keluarganya berniat untuk mengintimidasi Arga serta keluarganya. Tapi ternyata dia dan keluarganya lah yang merasa malu.


Karena tak kuasa menahan malu, Shania dan keluarganya keluar dari rumah Arga. Mereka keluar dari rumah itu dengan membawa perasaan malu yang tiada tara. Mereka merasa malu karena ulah sang anak gadis.


Sepeninggal Shania dan keluarganya, Arga segera menghubungi seseorang. Dia ingin berbagi kebahagiaannya dengan orang itu.


"Halo, bisa ketemuan nggak? Ada yang mau gue ceritain sama elo?" tanya Arga.


Terdengar suara orang itu menjawab dengan suara lirih. Senyum terkembang saat mendengar jawaban dari orang itu.


"Oke deh. Nanti gue jemput ke rumah lo ya. Love you," ucap Arga akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2