Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 78


__ADS_3

Menjelang malam, Tian tiba di rumahnya. Dia segera memasukkan motornya ke dalam garasi. Setelah mengucapkan salam, Tian segera masuk ke dalam rumahnya. Dia terus berjalan hingga dia masuk ke dalam kamarnya.


Tian meletakkan tas kerjanya begitu saja di lantai. Dia tampak duduk termenung di atas pembaringan. Matanya menatap lurus ke sudut kamarnya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi sore. Saat dirinya baru saja keluar dari kantor diknas.


"Tian bisa kita bicara?" ujar seseorang.


Tian menoleh dan seketika wajahnya berubah kala melihat siapa yang menegurnya. Dia tak menghiraukan perkataan gadis itu. Dia naik ke atas motornya dan segera men-starter motornya.


"Tian, please! Aku mau ngomong penting sama kamu. Tolong kasih aku kesempatan untuk ngobrol sama kamu." Gadis itu berkata sembari mencekal lengan Tian.


Tian mengibaskan tangan gadis itu dengan kasar. Dia tak peduli pada wajah Marta yang mengisyaratkan permohonan.


"Tian!" panggilnya.


"Aku janji ini yang terakhir kalinya aku nemuin kamu. Aku janji ini terakhir kalinya aku gangguin kamu. Setelah ini aku akan pergi dari hidup kamu selamanya," ucapnya.


Mendengar itu, Tian menyunggingkan senyuman miring. Dia sama sekali tak peduli pada perkataan gadis itu. Dia sama sekali tak ingin mempercayai ucapan gadis itu.


"Bisa kan kita bicara sebentar?" ujarnya lagi.


"Kalau kamu ragu atau kamu takut pacar kamu cemburu, kamu boleh mengajaknya. Biar aku juga tahu siapa gadis yang beruntung mendapatkan hati dan cinta kamu," lanjutnya.


Tian masih bergeming. Dia sama sekali tak ingin berbicara dengan gadis itu. Dia tak ingin berurusan lagi dengan gadis seperti Marta.


"Bisa kan Yan kita bicara sebentar?" ujarnya sekali lagi.


Tian menatap sekilas wajah gadis yang pernah menjadi ratu dalam hatinya itu. Gadis yang pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya dulu.


"Kalau mau ngomong, ngomong aja sekarang," ucap Tian ketus.


Marta tersenyum tipis. Dia tahu Tian tak akan pernah bisa menolaknya. Walaupun Tian sudah memiliki kekasih, pemuda itu tak akan pernah bisa menolak apapun permintaan gadis itu.


"Kita ke tempat biasa ya. Aku udah lama nggak ke sana," ucap Marta.


Tian tersenyum sinis. Dia sudah menduga akan seperti ini. Marta pasti akan memintanya untuk ke tempat kenangan mereka.

__ADS_1


"Di sini aja. Buruan ngomong. Aku nggak ada waktu lagi. Aku harus mengerjakan tugas dari diknas," ucap Tian.


Marta menghela napas panjang. Dia tahu Tian yang sekarang berbeda dengan Tian yang dulu dikenalnya. Tian yang sekarang adalah pribadi yang tegas. Berbeda dengan Tian yang dulu, yang selalu menuruti apapun kemauannya.


"Aku hamil!" ucap Marta lirih.


Tian menoleh ke sampingnya. Dia mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian dia merubah kembali ekspresi wajah kagetnya.


"Aku hamil dan orang yang menghamili ku nggak mau bertanggung jawab. Dia...."


"Lantas kenapa kamu datang padaku? Apa kamu akan memintaku bertanggung jawab atas kehamilanmu itu?" potong Tian cepat.


Marta menggeleng. "Enggak. Bukan gitu. Aku cuman mau pamit sama kamu. Aku mau pindah dan membesarkan anakku seorang diri. Aku akan mengasingkan diriku ke luar negeri," jawab Marta.


Hening menyelimuti keduanya. Tak ada yang berbicara hanya helaan napas yang sesekali terdengar.


"Aku minta maaf sama kamu. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu dulu. Aku menyesal telah melakukan itu padamu dan keluargamu," ucapnya lagi.


"Sekarang aku lega. Aku udah minta maaf sama kamu. Entah kamu mau memaafkan aku atau tidak. Tapi setidaknya aku sudah meminta maaf sama kamu. Dan sekarang aku bisa pergi dengan tenang," pungkasnya.


Dering suara ponsel membuyarkan lamunannya. Tian segera merogoh saku celananya dan meraih ponselnya. Sebuah nama tertera di layarnya. Seketika wajahnya tersenyum saat membaca identitas si penelepon.


Matahari baru saja terbit dari ufuk timur. Kabut pun masih terlihat di kejauhan. Suara kicau burung mulai terdengar di mana-mana. Daun-daun dan bunga-bunga tampan basah oleh embun.


Citra tampak sedang membereskan kamarnya. Dia menata ulang kamarnya agar terlihat lebih fresh lagi. Bu Mirna tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh anak sambungnya itu.


"Anak Mama rajin banget pagi-pagi udah beres-beres kamar?" ujar wanita cantik itu.


"Eh Mama. Iya nih. Biar suasananya beda aja gitu. Biar siapapun yang masuk ke kamar Citra jadi betah," jawab Citra.


Bu Mirna mengulas senyum. Selama Citra tinggal di rumah ini, wanita itu sering sekali melihat Citra membantu pekerjaan rumah tangga. Dia juga sering menata ulang kamarnya. Katanya biar lebih fresh saja.


"Kamu mau sarapan apa pagi ini Sayang?" Bu Mirna bertanya sembari mengelus lembut rambut Citra.


Citra tampak berpikir sejenak. Kemudian dia berkata, "nasi goreng sosis enak deh kayaknya. Tapi yang pedas."

__ADS_1


Bu Mirna tersenyum. "Oke! Nanti Mama bikinin. Kalau minumnya mau apa?" tanya wanita itu lagi.


"Em... apa ya? Em... es cappucino aja Ma. Udah lama Citra nggak minum es cappucino," jawab Citra.


"Anak Mama suka minum kopi ternyata ya!" ujar Bu Mirna.


Citra hanya nyengir kuda saat Bu Mirna mengatakan itu. Sebenarnya Citra adalah penggemar minuman berkafein itu. Tapi semenjak tinggal di rumah ini, kebiasaannya minum kopi menjadi berkurang.


"Ya sudah kalau gitu. Mama bikinin dulu sarapannya ya. Oh iya tadi Tian telepon Mama. Dia minta izin sama Mama untuk ngajak kamu keluar nanti malam," ucap Bu Mirna.


"Iya Ma. Mas Tian juga udah bilang kok semalam sama Citra," jawab Citra.


"Emang mau ke mana sih? Jadi kepo deh Mama?" tanya Bu Mirna.


Citra tersenyum malu-malu saat Bu Mirna menanyakan rencananya dengan Tian nanti malam.


"Mau kencan ya?" goda bu Mirna.


Wajah Citra semakin memerah mendengar ucapan sang Mama. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Ih! Anak Mama malu-malu. Enggak apa-apa kali Cit pergi kencan. Asalkan kalian tahu batasan. Tahu mana yang boleh dan nggak boleh dilakukan." Bu Mirna memberikan nasihat pada sang anak gadis.


Citra menganggukkan kepalanya saat mendengar nasihat dari sang mama. Setelah itu dia kembali melanjutkan aktivitasnya menata kamarnya. Sedangkan bu Mirna keluar kamar untuk membuatkan sarapan pagi.


Tak berapa lama, Citra selesai menata kamarnya. Dia segera keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga. Dia bermaksud untuk turun dan membantu sang mama menyiapkan sarapan pagi.


"Citra bantuin ya Ma?" ujar Citra saat dirinya sudah berada di dapur.


"Eh Sayang. Udah selesai ya?" Bu Mirna berkata sembari tersenyum manis pada sang anak gadis.


"Udah Ma. Apa nih yang bisa Citra bantu?" tanya Citra.


"Tolong potongin mentimunnya ya!" pinta bu Mirna.


Citra tersenyum mendengarnya. Saat akan melakukan apa yang mamanya minta, terdengar suara bel berbunyi.

__ADS_1


"Tolong bukain pintunya Nak!" pinta bu Mirna.


Citra menganggukkan kepalanya. Dia bergegas berjalan menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya Citra saat tahu siapa orang yang ada di balik pintu rumahnya.


__ADS_2