Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 71


__ADS_3

Anne berjalan mendekati mobil yang mencurigakan itu. Dia berjalan semakin mendekat hingga sebuah suara menegurnya.


"Maaf ini mobil saya," ucap orang itu.


"Oh iya. Maaf saat kira tadi mobil teman saya," sahut Anne.


Arga menarik napas lega. Dia memanfaatkan situasi itu untuk segera berlalu dari tempat itu. Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju luar kota.


Anne tampak kecewa. Dia yakin tadi sempat melihat bayangan tubuh Citra di dalam mobil itu. Tapi... ya sudahlah! Mungkin dirinya salah lihat.


Anne kembali menghampiri supirnya. "Kita harus nyari ke mana lagi ya Pak? Enggak mungkin kan Citra pulang sendirian," ucap Anne.


"Tadi saya sudah tanya sama orang-orang sekitar sini. Tapi mereka nggak ada yang melihatnya Non," jawab Pak Kosim.


"Nanya orang-orang sekitar sini juga percuma aja. Mereka kan nggak ada yang tahu sama Citra," ucap Anne dalam hati.


Selesai berbelanja, Bi Lani segera keluar dari pasar. Wanita itu terlihat terburu-buru keluar karena merasa ada sesuatu yang terjadi pada anak majikannya.


"Duh Gusti! Semoga firasat saya salah. Semoga Non Anne dan Non Citra baik-baik saja," ucapnya dalam hati.


Bi Lani mempercepat langkahnya menuju parkiran. Dan tubuhnya lemas seketika saat mendengar cerita dari Anne.


"Aduh Non! Gimana ini? Kita harus nyari Non Citra ke mana?" tanyanya panik.


"Bibi tenang dulu. Kita pulang sekarang. Nanti biar aku yang ngomong sama Papa dan Mama. Aku yakin mereka akan mencari solusi terbaik untuk masalah ini," ucap Anne.


Pak Kosim dan Bi Lani mengangguk setuju. Tanpa pikir panjang lagi, mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan pasar itu.


Di dalam mobil Anne tampak gelisah. Dia sejak tadi berusaha menghubungi orang-orang yang kemungkinan tahu keberadaan Citra.


"Pak Tian lagi di mana?" tanya Anne saat dirinya menghubungi Tian.


"Enggak. Citra nggak ada sama saya. Kenapa Anne? Ada apa dengan Citra?"


"Ya udah kalau gitu. Makasih ya Pak!" ucap Anne tanpa memperdulikan pertanyaan Tian.


"Jangan ditutup dulu teleponnya. Kamu belum jawab pertanyaan saya. Citra kenapa?" tanya Tian.


"Em... Citra... Citra... Aku belum tahu pasti. Yang jelas Citra sedang dalam bahaya. Ada orang yang menculik dia," jawab Anne.


Mata Tian terbelalak tak percaya. "Citra diculik? Saya ke rumah kamu sekarang."


Setelah mengatakan itu, Tian segera meraih kunci motornya dan segera keluar dari dalam kamarnya.


"Kamu mau ke mana Yan? Kok buru-buru banget?" tanya Bu Hamidah.

__ADS_1


"Tian mau keluar sebentar. Mau ke rumah Pak Bayu," jawab Tian.


"Ada apa Yan? Kenapa kelihatannya kamu panik sekali?" tanya Bu Hamidah lagi.


"Tian belum tahu pasti. Barusan Anne telepon kalau Citra diculik. Makanya Tian mau ke rumahnya Pak Bayu untuk memastikan soal ini," jelas Tian.


Mendengar penjelasan sang anak, Bu Hamidah tampak terkejut. Raut wajahnya berubah cemas seketika saat mendengar kabar berita itu.


"Tian pergi dulu ya Bu," pamit Tian.


Bu Hamidah mengangguk. Wanita itu melihat kepergian Tian dengan tatapan penuh kecemasan. Dalam hati, wanita itu berharap agar Citra segera dapat ditemukan.


...****************...


Arga terus melajukan mobilnya menuju luar kota. Dia menyeringai puas saat berhasil membawa Citra bersama dengannya.


"Akhirnya gue bisa juga membawa Citra pergi dari orang-orang yang nggak pernah menganggap dia ada," ucapnya.


"Sekarang nggak akan ada yang bisa nyakitin Citra lagi. Karena dia akan bahagia bersama gue," lanjutnya.


Mobil terus melaju membelah jalanan. Citra masih tak sadarkan diri di jok belakang mobilnya. Arga tersenyum dari balik kemudi.


Mobil Arga berhenti di sebuah minimarket. Arga keluar dari dalam mobil. Dia masuk ke dalam minimarket untuk membeli makanan dan minuman.


"Citra pasti suka." Ucapnya sambil melihat ke dalam kantong yang dia bawa.


[Papa dan Mama nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja. Enggak usah nyari aku. Karena aku bahagia bisa keluar dari rumah]


Arga mengetik dan mengirimkan pesan untuk Pak Bayu dan Bu Mirna. Senyum penuh kemenangan tergambar di wajahnya yang sebenarnya tampan itu.


Dia kemudian mengetik sebuah pesan yang ditujukan untuk Tian, kekasih Citra.


[Makasih untuk semuanya. Mulai sekarang tolong lupain aku. Aku udah bahagia bersama dengan pilihan aku], ketiknya.


Senyum Arga semakin lebar kala mengirimkan pesan itu untuk Tian. Dia berharap dengan begitu tak akan ada yang mencari keberadaannya dan juga keberadaan Citra.


Arga kembali melajukan mobilnya membelah jalanan. Entah dia akan membawa Citra ke mana. Yang pasti dia akan membawa Citra jauh dari orang-orang toxic itu.


Di lain tempat, Tegar tampak baru saja selesai salat. Dia duduk bersila untuk berdzikir pada sang Maha Kuasa.


Tanpa dia rasa, air matanya tiba-tiba meleleh di pipi. Hatinya menjadi tak tenang dan pikirannya tertuju pada Citra.


"Astaghfirullahalazim. Ada apa ini?" tanyanya dalam hati.


"Ada apa dengan Citra? Semoga dia baik-baik saja," harapnya.

__ADS_1


Tegar melipat sajadah yang dia gunakan untuk salat barusan. Dia menyimpan kembali sajadah itu ke tempatnya semula.


"Ada apa dengan Citra ya? Apa dia sedang ada masalah?" tanyanya.


"Mas, makan siang udah siap!" ucap seorang wanita cantik dengan hijabnya.


Tegar tak menghiraukan panggilan wanita itu. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Mas!" Panggil wanita itu seraya menyentuh lembut bahu Tegar.


"Eh iya! Ada apa Sayang?" tanya Tegar kaget.


Wanita cantik itu mengerutkan keningnya. "Mas Tegar enggak apa-apa kan?" tanyanya.


Tegar tersenyum. "Enggak kok. Mas nggak kenapa-kenapa. Tadi kamu ngomong apa?"


Wanita itu menatap Tegar dengan pandangan menyelidik. Dia seolah menemukan keresahan dan kecemasan dalam sorot mata sang suami.


"Sayang, tadi kamu ngomong apa?" Kali ini wanita cantik itu yang terlihat kaget.


"Eh itu. Makan siang udah siap. Kita makan sama-sama ya!" ajaknya.


Tegar tersenyum. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan dengan sang istri.


"Wah! Kamu tahu aja kalau aku lagi pengin makan ini." Ucapnya saat melihat makanan kesukaannya terhidang di meja makan.


Tegar segera duduk dan mengambil piring yang ada di meja makan itu. Dia mengambil nasi dan lauk yang ada di meja makan.


Wanita itu tersenyum melihat ekspresi sang suami. "Gimana? Enak?" Tanyanya saat melihat Tegar menyuapkan nasi ke mulutnya.


Tegar mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum. Wanita. cantik itu pun ikut tersenyum. Dalam hati dia bersyukur karena sang suami menyukai apa yang dia masak.


"Nanti aku pulangnya agak malam. Jadi kamu nggak usah nungguin aku kalau mau makan malam." Kata Tegar saat dirinya berjalan menuju pintu keluar bersama sang istri.


"Iya Mas. Mas Tegar juga jangan lupa makan ya!" jawab wanita itu.


Tegar mengambil tas ranselnya dan menggendongnya di punggungnya.


"Mas berangkat dulu ya. Kunci semua pintu kalau kamu keluar atau tidur. Mas udah bawa kunci cadangan kok," ucap Tegar.


"Iya Mas. Aku ingat kok pesan Mas Tegar," sahut wanita itu.


Tegar tersenyum. Saat itulah tiba-tiba ponselnya berdering. Tegar segera mengambil ponselnya dan segera mengangkat telepon yang masuk.


"Assalamu'alaikum Pak Bayu. Apa kabar?" Sapanya dengan senyum.

__ADS_1


Namun senyumnya seketika luntur kala mendengar berita yang disampaikan oleh ayah kandung Citra itu. Matanya membulat sempurna dan mulutnya terbuka saking kagetnya.


__ADS_2