Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 22


__ADS_3

Raut wajah Wiwit berubah saat mendengar penjelasan dari keluarga Rayhan. Darahnya mendidih mendengar fakta yang diputar-balikan oleh Rayhan.


"Kalau udah nggak mau sama anak saya, bilang aja. Enggak usah fitnah anak saya segala," ketus seorang wanita paruh baya.


"Lihat ini anak saya. Wajahnya lebam karena ulah kamu." Tunjuknya tepat di wajah Wiwit.


Mendengar suara orang membentak, Citra segera keluar dari dalam kamarnya.


"Ada apaan sih Mas di depan?" tanya Citra yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Tegar menoleh ke arah Citra sembari mengangkat bahunya.


"Mas nggak tahu Dek. Kita ke depan yuk," ajak Tegar.


Tegar dan Citra berjalan beriringan menuju ruang tamu. Di sana duduk sepasang suami istri dan seorang pemuda yang wajahnya nampak lebam. Melihat itu, Tegar membisikkan sesuatu pada Citra. Gadis itu pun mengangguk paham. Dia lantas kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya.


"Ada apa ini?" Tegar bertanya sambil menatap semua yang ada di ruang tamu secara bergantian.


"Ini perempuan kurang ajar banget. Dia sudah bikin anak saya babak belur." Wanita itu kembali mengeluarkan suaranya yang keras dan tajam.


"Saya nggak pernah nyuruh orang buat mukulin Mas Rayhan. Karena saya nggak sejahat itu," elak Wiwit. Gadis itu sama sekali tak menunjukkan raut wajah takut saat berhadapan dengan wanita itu.


"Alah! Mana ada maling yang mau ngaku? Emang kamu pikir anak saya mukulin wajahnya sendiri, begitu?" ujar pria yang duduk di samping wanita itu.


Tegar melirik ke arah sang adik dan kembali menatap kedua orang tua yang berada di hadapannya. Matanya menatap tajam ke arah kedua orang tua itu. Kedua orang tua itu membalas tatapan Tegar tak kalah tajamnya. Sedangkan Rayhan tak berani membalas tatapan mata Tegar.


"Kamu itu beruntung. Anak saya mau sama perempuan kayak kamu. Harusnya kamu bersyukur anak saya milih kamu sebagai pacarnya," ucap pria yang bernama Pak Sofyan itu.


Pak Hamzah dan Bu Aminah yang tahu apa-apa hanya bisa diam. Kedua orang tua itu bukan tak mau membela sang anak. Tapi mereka memilih untuk tak ikut campur dalam masalah anak-anak mereka.


"Betul itu. Harusnya kamu bersyukur Rayhan mau sama perempuan seperti kamu. Anak orang miskin aja belagu," ucap Bu Patmi.


Wiwit menatap tajam ke arah perempuan yang baru saja menghinanya itu.


"Saya memang orang miskin tapi saya nggak pernah mengemis. Apalagi mengemis cinta sama laki-laki," balas Wiwit.


"Halah! Belagu banget sih jadi orang." Bu Patmi mencibir ucapan Wiwit.


"Sekarang saya mau tanya sama Rayhan," kata Tegar. Suaranya terdengar serak dan berat. Membuat wajah Rayhan berubah.


"Kapan kejadian itu terjadi? Maksud saya kejadian pemukulan itu?" tanya Tegar. Matanya menatap Rayhan dengan tajam.


Rayhan masih menundukkan kepalanya. Dia masih tak berani mengangkat wajahnya apalagi bersuara.


Bu Patmi menyenggol lengan sang anak. Wanita itu memberi kode lewat tatapan matanya agar sang anak menjawab pertanyaan Tegar.


"Rayhan," panggil Tegar.


Rayhan mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Tegar sekilas kemudian dia menundukkan kepalanya lagi. Kali ini dia menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Lihat! Akibat ulah kamu, anak saya menjadi seperti ini. Dia menjadi takut sama orang lain," ujar Bu Patmi.


"Anak kami menjadi seperti ini karena dia merasa trauma. Dia trauma dengan suara keras dan bentakan," imbuh Pak Sofyan.

__ADS_1


"Terus kalian mau apa?" tanya Wiwit. Gadis itu mulai tak bisa menahan emosinya karena sejak tadi disudutkan oleh keluarga Rayhan.


"Kalian mau saya dan keluarga saya mengganti biaya yang sudah kalian keluarkan untuk Rayhan berobat?" tantang Wiwit.


"Dasar nggak punya sopan santun kamu. Apa kamu nggak pernah diajari sopan santun oleh orang tua kamu? Hah!" bentak Pak Sofyan.


Wiwit melipat kedua tangannya di dada. Senyum miring terukir di wajahnya membuat Rayhan bertambah takut dan khawatir.


"Justru kalian yang nggak punya sopan santun. Kalian datang bertamu ke rumah saya dan membuat keributan di rumah saya," balas Wiwit.


Suasana menjadi tak terkendali saat tiba-tiba Bu Patmi berdiri dan menampar wajah Wiwit. Bu Aminah yang melihat itu menjadi berang. Wanita yang kesehariannya terkenal kalem dan tak pernah terlihat marah itu, membalas tamparan Bu Patmi.


Pak Hamzah tak berhasil meredam amarah sang istri. Lelaki itu bahkan sempat terkena siku sang istri saat berusaha menarik lengan sang istri untuk kembali duduk.


"HENTIKAN!" teriak Tegar.


Seketika kedua wanita paruh baya yang sedang beradu mulut itu terdiam. Bu Aminah kembali duduk di samping sang suami. Sementara Bu Patmi kembali duduk di samping Rayhan.


Tegar menatap semuanya secara bergantian. Matanya menyorot tajam terutama pada keluarga Rayhan yang sejak pertama datang terus saja menyudutkan Wiwit.


"Saya akan menindak tegas siapa saja yang bersalah dalam kasus ini. Saya tidak akan tebang pilih. Kalau memang Wiwit terbukti bersalah, dia akan saya proses sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetapi kalau kalian yang terbukti bersalah..." Tegar menatap tajam ke arah tiga tamunya itu.


"Siap-siap saja kalian," ucapnya dengan nada tegas.


Raut wajah Rayhan semakin bertambah pucat pasi. Dia merasa takut dan khawatir mendengar ucapan Tegar barusan. Dia takut semuanya akan terbongkar.


"Citra, tolong ke mari Dek," panggil Tegar. Matanya tak lepas dari sosok Rayhan yang mulai terlihat gelisah di kursinya.


Citra berjalan menghampiri sang kakak dengan membawa sebuah botol berisi pembersih make up dan juga kapas.


"Bu, ayo kita pergi dari sini," ajak Rayhan. Dia sudah menduga jika Tegar akan melakukan hal ini. Dia kenal betul siapa Tegar.


"Maaf, kami harus pergi. Masih ada urusan yang harus kami selesaikan." Rayhan berkata sambil berdiri dari tempat duduknya. Disusul kemudian oleh Pak Sofyan dan Bu Patmi.


Tegar dan yang lain tak menghiraukan mereka yang telah berdiri. Pemuda itu masih menuangkan cairan pembersih itu ke sebuah kapas.


Rayhan berpikir inilah saatnya untuk kabur. Namun saat mencapai pintu....


"Kalian boleh pergi setelah sebuah kebenaran terungkap," ucap Tegar.


Wajah Rayhan dan juga kedua orang tuanya nampak pucat pasi. Mereka yang awalnya ingin menekan keluarga Wiwit malah mereka sendiri yang tertekan. Mereka yang awalnya ingin membuat Wiwit takut dan terintimidasi, justru mereka sendiri yang terintimidasi oleh keluarga Wiwit.


*****


Hari sudah beranjak siang saat Anne dan kedua orang tuanya tiba di depan rumah Citra. Anne segera turun dari mobilnya.


"Papa sama Mama tenang aja. Aku nggak kemana-mana kok. Aku di rumahnya Citra aja," ucap Anne saat berada di luar mobil.


Gadis itu mengira jika kedua orang tuanya ada urusan di tempat lain. Tapi ternyata kedua orang tuanya justru ikut turun dari mobil.


"Kok malah ikut turun? Tadi katanya ada urusan?" tanya Anne heran.


Bu Mirna tersenyum mendengar ucapan sang anak. Tanpa menjawab pertanyaan sang anak, wanita itu lantas berjalan ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.

__ADS_1


Walau masih diliputi perasaan heran dan penasaran, Anne tetap mengikuti langkah kedua orang tuanya memasuki halaman rumah Citra.


"Assalamualaikum." Bu Mirna mengetuk pintu seraya mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Mirna lagi.


Mendengar ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Wiwit keluar dari kamar disusul oleh Citra.


"Kamu yang buka pintunya Dek. Mbak masih takut," ucap Wiwit. Wajahnya terlihat takut dan tegang.


Citra menganggukkan kepalanya. Dia lantas berjalan menuju pintu depan dan segera membukanya.


"Wa'alaikum salam," jawab Citra.


"Hai Citra," sapa Anne begitu melihat wajah Citra.


Citra tersenyum membalas sapaan Anne. "Mari silahkan masuk Om, Tante," ajak Citra.


Pak Bayu dan Bu Mirna tersenyum mendengar ajakan Citra. Kemudian mereka berdua mengikuti langkah Citra masuk ke dalam rumah.


"Silahkan duduk Om, Tante," kata Citra mempersilahkan.


Lagi-lagi kedua orang tua itu tersenyum mendengar perkataan Citra.


"Mau minum apa Om, Tante?" tawar Citra.


"Enggak usah repot-repot. Kami cuman sebentar kok." Pak Bayu mewakili sang istri menjawab pertanyaan Citra.


"Iya Citra. Papa sama Mama cuman nganterin aku aja kok. Soalnya Papa sama Mama mau ada urusan," timpal Anne.


Bu Mirna tersenyum. "Em... Ayah sama Ibu kamu ada Nak?" tanya Bu Mirna.


"Bapak sama Ibu masih di toko Tante," jawab Citra.


"Bisa tolong dipanggilkan? Tante sama Om ada perlu sedikit dengan Ayah dan Ibu kamu," ujar Pak Bayu.


Citra mengangguk. Walau dalam hati dia merasa heran. Tapi dia tak membantah saat kedua orang tua sahabatnya itu ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia lantas masuk ke dalam rumahnya dan memberitahu Wiwit.


"Mbak boleh minta tolong panggilin Bapak sama Ibu nggak?" tanya Citra.


"Ngapain?" Wiwit balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Citra.


"Itu Om Bayu sama Tante Mirna mau ketemu sama Bapak dan Ibu," jawab Citra.


Wiwit menghela napas sebelum mengiyakan permintaan sang adik.


"Ya udah. Kamu tunggu bentar ya. Mbak OTW ke toko sekarang," ucap Wiwit. Gadis itu lantas bangkit dari duduknya dan segera berjalan keluar dari kamarnya.


"Tunggu sebentar ya Tante, Om. Mbak Wiwit masih menyusul Bapak sama Ibu ke toko," jawab Citra saat dirinya telah berada di ruang tamu.


Kedua orang tua itu menganggukkan kepalanya. "Kamu sudah berapa lama tinggal di sini Citra?" tanya Pak Bayu. Sepertinya lelaki itu sudah tak sabar ingin mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Dari kecil Om," jawab Citra.

__ADS_1


Pak Bayu manggut-manggut mendengar jawaban gadis manis itu. Obrolan mereka berlanjut hingga sebuah suara yang amat di kenal oleh Pak Bayu menyapu gendang telinga lelaki itu.


__ADS_2