
Citra menatap tajam ke arah Arga dan Anne. Dia menatap mereka secara bergantian.
"Apa yang kalian lakuin?" tanya Citra.
Anne dan Arga yang terkejut hanya bisa diam. Mereka tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Citra.
"Aduh Mochi! Sini Sayang sama Ibu. Kamu nggak apa-apa kan Nak?" Ujarnya sambil menggendong kucing kesayangannya.
"Kalian apakan Mochi? Kan aku udah bilang jangan mainin bukunya. Bulunya Mochi masih suka rontok. Kenapa nggak mau dengar sih?"
Arga dan Anne tak bisa menjawab. Mereka berdua juga tak kuasa menatap wajah Citra yang diselimuti amarah. Tak hanya Arga dan Anne yang kaget. Maria dan Azwan pun juga kaget. Mereka berdua tak menyangka Citra bisa semarah itu.
"Maafin kita Cit. Habisnya aku gemes sama Mochi. Dia lucu banget. Bulunya juga halus banget. Makanya aku mainin. Aku nggak tahu kalau bulu Mochi masih suka rontok," ucap Anne.
Citra menghela napas. "Ya udah aku maafin. Tapi lain kali jangan kayak gitu ya. Kasihan kan si Mochi," sahut Citra. Suaranya sudah tak setinggi tadi.
Anne tersenyum. Arga dan yang lainpun juga ikut tersenyum senang.
"Kucing aja disayang sampai segitunya. Apalagi Pak Tian!" gumam Maria.
"Apa Mar? Kamu ngomong Apa?" tanya Citra.
"Eh enggak. Enggak ngomong apa-apa kok. Yuk lanjut belajar lagi!" anaknya.
Mereka akhirnya melanjutkan lagi kegiatan belajar mereka. Hingga tak terasa hari sudah menjelang sore. Mereka menyudahi kegiatan belajarnya. Arga dan Maria pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Gue pamit dulu ya An, Wan, Cit!" ucap Maria.
"Iya Mar. Hati-hati ya," balas Citra.
"Aku pamit dulu ya Sayang. Nanti sampai rumah aku telepon kamu," kata Arga.
"Ehem... Ehem... Ingat tempat kenapa sih! Ada jomblo nih di sini," ujar Maria.
Arga meleletkan lidahnya. Dia tak peduli pada perkataan Maria.
"Iya. Hati-hati ya. Jangan kelayapan aja. Belajar lagi di rumah. Besok udah ujian soalnya," sahut Anne.
Arga mengangguk. "Iya aku ngerti kok. Udah ya aku pulang dulu," pamitnya.
Sepeninggal Maria dan Arga, Citra dan Anne tampak membereskan teras belakang yang mereka gunakan untuk belajar tadi. Satu kebiasaan baik yang Anne biasa lakukan semenjak ada Citra di rumah ini.
"Mama kok belum pulang ya Cit?" Tanya Anne sambil membereskan bungkus makanan yang berserakan.
"Sabar. Bentar lagi pasti Mama pulang," ucap Citra.
Tak berapa lama mereka sudah selesai beres-beres. Teras belakang pun sudah bersih. Mereka berdua lantas masuk dan naik menuju kamar mereka di lantai atas.
Citra masuk ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas pembaringan. Dia mengusap layar ponselnya dan melihat begitu banyak pesan yang masuk. Namun ada satu pesan yang menarik perhatiannya. Pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal itu cukup menyita perhatiannya.
...****************...
__ADS_1
Hari ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas. Anne dan Citra berada di kelas yang sama. Sedangkan Maria berada di kelas yang berbeda.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Tian.
"Selamat pagi Pak," jawab mereka dengan kompak.
Tian mengedarkan pandangannya dan tersenyum. "Baik. Sebelum memulai ujian, kita berdoa terlebih dahulu sesuai agama dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa mulai," ucap Tian.
Semua siswa kompak menundukkan kepalanya seperti saat mengheningkan cipta. Suasana menjadi hening dan tenang.
"Berdoa selesai!" ucap Tian lagi.
Setelah itu, Tian membagikan soal ujian dan kertas jawaban pada semua anak didiknya.
"Oke. Semuanya sudah dapat soal dan kertas jawaban?" tanyanya.
"Sudah pak," jawab mereka serentak.
"Baik. Selamat mengerjakan!" pungkasnya.
Para murid kembali sibuk dengan kertas soal yang ada di depan mereka. Suasana menjadi hening dan sepi. Tak ada yang berbicara sedikitpun. Hanya bunyi detik jam yang terdengar memekakkan telinga.
Di saat para murid sedang mengerjakan soal, tiba-tiba Luna masuk ke kelas dan menghampiri Tian. Citra menatapnya sekilas dan kembali fokus mengerjakan soal ujiannya.
"Dasar ganjen! Caper mulu jadi orang!" gerutunya dalam hati.
"Em... maaf Pak Tian. Ada lebihan soal nggak? Soal ujiannya di kelas saya kurang nih!" ucapnya dengan nada lembut dan manja.
Citra menatapnya lagi dan mencebikkan bibirnya. Anne yang duduk di sebelah Citra hanya bisa menahan geli melihat ekspresi wajah Citra yang terlihat menggemaskan.
...****************...
"Ah! Akhirnya selesai juga ujian hari ini," ucap Maria.
"Kantin yuk! Lapar gue gara-gara ngerjain soal," ajak Maria pada teman-temannya.
Anne dan yang lainnya kompak menganggukkan kepalanya. Mereka berlima berjalan menuju kantin.
"Mau pesan apa? Biar gue yang pesenin," tanya Arga.
"Bakso babat. Minumnya es cappucino," jawab Citra.
"Gue juga bakso babat. Minumnya es teh aja," sahut Maria.
"Kamu mau pesan apa Sayang?" tanya Arga pada Anne.
"Aku minum aja deh. Lagi males makan," jawab Anne.
"Kamu kenapa? Kamu nggak sakit kan?" tanya Arga khawatir.
Anne menggeleng. "Aku lagi nggak mood makan. Bawaannya pengin muntah aja kalau bau makanan," ucap Anne.
__ADS_1
Azwan dan yang lainnya saling lempar pandang. Mereka mengira jika Anne dan Arga....
"Enggak udah nethink dulu deh. Gue begini karena lagi haid. Bukan karena hamil." Sewot Anne saat melihat ekspresi wajah Azwan dan yang lainnya tak biasa.
"Hehehehe... kirain kalian udah nyicil cucu buat Papa dan Mama," ujar Azwan.
Anne melotot tajam. Azwan yang menyadari itu segera menutup mulutnya.
"Makanya jangan macam-macam sama cewek kalau lagi mode singa begini," bisik Maria.
Azwan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah gue pesankan makanannya dulu ya," ucap Arga.
Sepeninggal Arga, mereka kembali diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Maria tampak sibuk dengan ponselnya. Azwan juga tampak sibuk dengan game di ponselnya.
"Halo semuanya. Lagi mau makan siang ya?" tanya Tian.
Mereka berempat menoleh ke asal suara. Tak terkecuali Citra.
"Eh Pak Tian. Mau jemput putri solo ya Pak?" ujar Anne.
Tian tersenyum mendengar ucapan calon adik iparnya itu.
"Bawa aja tuh Pak. Di sini tempatnya udah full," timpal Azwan.
Tian lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan calon adik iparnya itu.
"Kita pindah ke sebelah aja yuk!" ajak Tian pada Citra.
Citra mendengus kesal. Tapi dia menurut juga apa kata Tian.
"Kamu udah pesan makanan?" tanya Tian saat keduanya ada di bangku lain.
"Udah. Arga yang pesenin," jawab Citra.
Tian menghela napas panjang. "Maaf soal yang tadi ya!" ucapnya.
"Soal apa?"
"Aku tahu kamu marah sama aku. Aku tahu kamu kesal karena tadi aku kelihatan ngeladenin sikap manja Luna. Aku minta maaf kalau kamu ngerasa kurang nyaman dengan sikap ku tadi," jawabnya.
"Kalian kan rekan kerja. Enggak lebih dari itu kan?" ujar Citra. Dia sengaja menekankan suaranya saat menyebut rekan kerja.
Tian menghela napas panjang. Dia jadi semakin merasa bersalah saat melihat sorot mata Citra.
"Mending kalau di sekolah, kita jaga jarak aja deh," ucap Citra.
"Maksud kamu?" tanya Tian tak mengerti.
"Enggak mungkin Pak Tian nggak ngerti maksud perkataan aku," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu salah paham lagi kan sama aku. Aku sama dia nggak...."
"Pak Tian, maaf mengganggu!" ujar seseorang.