Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 73


__ADS_3

Setelah berhasil melepaskan ikatannya, Citra segera berlari keluar melalui pintu belakang. Kakinya sempat tersandung kaki kursi dan membuat kursi itu terguling.


Mendengar suara kursi terjatuh, Arga segera berlari masuk ke dalam. Tian dan Tegar pun mengikuti Arga masuk ke dalam rumah itu.


"Citra!" Panggil Arga sembari membuka pintu kamar yang ada di sana.


"Citra!" Dia terus memanggil nama Citra.


"Sepertinya dia sudah lari," ucap Tian.


"Kalau begitu, kamu cepetan kejar Citra. Aku rasa dia belum menjauh dari sini," kata Tegar.


Tian mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi, pemuda itu segera berlari mengejar Citra.


Mendengar itu Arga kembali murka. Dia menyerang Tegar dan mencengkeram kerah baju pria itu.


"Ini semua gara-gara elo. Gara-gara elo Citra pergi dari gue. Gara-gara elo Citra menjauh dari gue," kesalnya.


Tegar berusaha untuk tetap tenang namun waspada. Dia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini kala bertugas.


Sementara itu, Citra terus berlari tanpa arah. Dia tak memperdulikan keadaan sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bisa lari sejauh mungkin dari Arga.


Tian mengejar Citra yang lari entah ke mana. Pemuda itu terus berlari sembari meneriakkan nama Citra. Dia berharap Citra mendengarnya dan menjawab panggilannya.


Arga yang menyadari jika Tian tak berada di sana, segera melepaskan cengkeramannya di baju Tegar.


"Citra!" gumamnya.


Dia lantas berlari menuju pintu keluar. Dia mengejar Citra yang telah kabur sejak tadi. Tegar menyusul di belakang Arga.


Sementara itu, Azwan dan Pak Bayu mencari Citra di rumah Pak Hamzah dan Bu Aminah yang lama.


"Papa yakin Citra ada di sini?" tanya Azwan.


"Yakin nggak yakin sih. Tapi apa salahnya kita coba cari ke sini. Siapa tahu Citra kangen sama rumah lamanya kan?" ujar Pak Bayu.


Azwan manggut-manggut mendengar ucapan sang ayah. Mereka berdua lantas turun dari mobil dan segera berjalan menghampiri pintu.


"Pintunya digembok dari luar. Itu artinya Citra nggak ke sini Pa." Ucap Azwan yang melihat pintunya terlihat digembok dari luar.


"Iya. Pintunya digembok," sahut Pak Bayu.


Pria itu menghela napas panjang. Dia terlihat putus asa karena apa yang mereka cari tidak ada di sana.


"Kita cari ke rumahnya Arga aja gimana Pa?" usul Azwan.


"Rumah Arga?" ulang Pak Bayu.

__ADS_1


"Iya. Siapa tahu dia ada di sana," sahut Azwan.


Tanpa pikir panjang lagi, Pak Bayu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya menuju rumah Arga.


"Kamu yakin Citra ada di sana?" tanya Pak Bayu pada Azwan saat keduanya berada dalam perjalanan menuju rumah Arga.


"Siapa tahu aja Pa. Arga kan obses banget sama Citra. Siapa tahu dia menculik Citra dan menyembunyikannya di rumahnya," jawab Azwan.


"Maksud kamu?" tanya Pak Bayu tak mengerti.


Azwan kemudian menceritakan semuanya pada sang ayah. Tak ada lagi yang ia tutup-tutupi. Dia ceritakan semuanya pada ayahnya malam ini.


"Jadi, kamu dan Citra pernah saling suka?" tanya Pak Bayu saat Azwan selesai menceritakan semuanya.


"Iya. Aku sayang sama dia. Tapi aku juga yang bodoh. Melepaskan dia demi menuruti permintaan Dirga," jawab Azwan.


"Tapi aku bersyukur. Citra sudah bahagia bersama dengan Pak Tian. Aku bersyukur ternyata dia bisa bahagia tanpa aku," lanjutnya.


Pak Bayu tersenyum mendengar kisah sang anak. Dia tak menyangka jika Azwan dan Citra pernah saling menyukai.


Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah kompleks perumahan. Mobil itu terus melaju hingga berhenti di sebuah rumah mewah.


Azwan dan Pak Bayu segera turun dari mobilnya. Mereka berdua berjalan menuju pintu gerbang yang tampak tertutup rapat.


...****************...


Citra terus berlari tak tentu arah. Dia tak memperdulikan ranting kayu yang menggores tangan dan kakinya. Citra sempat terjatuh saat kakinya tersandung batu. Tubuhnya tersungkur ke tanah.


"Aku harus bisa pergi dari tempat ini." Citra berkata seraya menyeret kakinya.


Susah payah dia menyeret langkahnya. Kakinya kini terasa perih karena luka gores tadi.


"Aw....!" pekik Citra.


Dia terjatuh lagi untuk kesekian kalinya. Kali ini telapak tangannya terasa perih dan sakit karena tertusuk oleh kerikil tajam.


Citra kembali bangkit dari jatuhnya. Saat itulah telinganya mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang amat sangat ia kenali.


"Mas Tian?" gumamnya.


"Apa mungkin Mas Tian ke mari? Atau jangan-jangan aku hanya salah dengar saja," ujarnya.


Citra mencoba menajamkan pendengarannya. Dia ingin memastikan bahwa pendengarannya tak salah.


"Citra!"


Suara itu terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih dekat. Citra yakin sekali itu suara Tian. Ya, dua yakin sekali kalau itu suara Tian.

__ADS_1


"Mas Tian! Aku di sini Mas!" Citra berteriak sambil mencoba berdiri.


Mendengar suara Citra, Tian mengedarkan pandangannya.


"Citra! Kamu di mana?" Tian balas berteriak.


"Di sini Mas. Aku di sini," teriak Citra.


Tian menajamkan telinganya. Dia berusaha mencari sumber suara itu.


"Di sini mana?" teriak Tian lagi.


"Di sini." Citra berkata sembari menggoyang-goyangkan pohon yang ada di dekatnya.


Tian melihat itu. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu segera melangkah mendekati tempat Citra. Dia berjalan cepat menuju tempat Citra berada.


"Citra!" panggil Tian.


"Mas Tian!" Citra menghambur ke pelukan kekasihnya itu. Badannya gemetar karena ketakutan.


Tian membalas pelukan Citra dengan erat. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Tian tanpa melepaskan pelukannya.


Citra melepaskan pelukannya dan menggeleng. "Aku nggak apa-apa. Tapi aku takut banget Mas. Aku takut!" ucapnya.


Tian memeluk Citra lagi. Sekadar memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Oh ternyata kamu di sini?"


Citra dan Tian menoleh. Ternyata Arga telah berdiri di belakang mereka. Citra segera beringsut mundur dan bersembunyi di belakang Tian.


"Citra, ke sini Sayang. Aku akan membahagiakan kamu. Aku nggak akan menyakiti kamu!" ujar Arga.


Citra semakin menyembunyikan wajahnya di belakang Tian. Dia seolah merasa sangat takut saat berhadapan dengan Arga.


"Citra! Ke marilah! Dia hanya akan menyakiti kamu saja. Hanya aku yang bisa membahagiakan kamu Citra!" Arga berkata sembari mencoba menjangkau tubuh Citra.


Tian yang melihat itu tentu saja berusaha melindungi kekasihnya itu. Pemuda itu berusaha menjauhkan Citra dari jangkauan Arga.


"Minggir lo! Gue mau bawa Citra pergi. Jangan halangi gue!" sentaknya.


Tian tak menghiraukan perkataan Arga. Dia terus saja melindungi Citra dari jangkauan Arga.


"Minggir b******k! Gue mau bawa Citra pergi. Jangan halangi gue!"


Arga semakin berani membentak Tian. Dia seolah melupakan jika Tian adalah gurunya di sekolah. Dia lupa kalau orang yang berdiri di depannya adalah orang yang harus ia hormati.


Tian tak bergerak sedikitpun. Dia tetap berdiri di depan Citra. Melindungi gadis itu dari kegilaan Arga.

__ADS_1


Arga maju hendak menyerang Tian saat sebuah tembakan tepat mengarah ke tengkuknya. Arga seketika jatuh tersungkur di hadapan Tian.


"ARGA..."


__ADS_2