
Tegar mengungkapkan segala isi hatinya pada Citra malam itu juga. Tak ada lagi yang ia tutup-tutupi. Dia mengungkapkan perasaan cintanya pada gadis yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali kala melihatnya.
"Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku, Citra? Bersediakah kau menemaniku hingga tua nanti?" ungkap Tegar.
Citra menatap tak percaya pada pemuda yang diam-diam mencintainya itu. Jujur saja dia juga menyimpan rasa yang sama pada Tegar. Tapi dia masih ragu untuk mengungkapkannya. Dia takut kejadian dulu terulang lagi. Dia takut untuk patah hati lagi.
"Mas sebenarnya... sebenarnya aku...."
"Kalian ada di sini ternyata? Pantesan aja di cariin nggak ada?" ujar Wiwit tiba-tiba.
Citra dan Tegar terlonjak kaget. Mereka kompak menoleh ke asal suara. Citra segera melepaskan genggaman tangan Tegar. Sedangkan Tegar memasang wajah kesal saat mendengar suara cempreng Wiwit.
"Ganggu aja sih," gerutu Tegar kesal.
"Ganggu apaan sih? Orang kalian cuman duduk diam aja juga," sahut Wiwit yang ternyata mendengar gerutuan Tegar.
"Bapak sama Ibu mana Mbak?" tanya Citra mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada tuh. Lagi di ruang tamu sama Pak Bayu dan Bu Mirna," jawab Wiwit.
Mendengar nama kedua orang tuanya disebut, wajah Citra berubah berseri-seri. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan segera berlari ke masuk ke dalam.
Wiwit hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Citra. Dalam hati, dia bersyukur karena bisa melihat Citra tersenyum dan menjadi lebih berani lagi. Tapi dia juga takut kalau suatu saat nanti Citra akan pergi dari rumah ini dan memilih tinggal bersama dengan orang tua kandungnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Tegar. Pemuda itu merasa bersyukur karena bisa melihat senyum Citra yang tulus itu. Dia juga merasa bahagia saat Citra tak menolak ungkapan cintanya. Ya walaupun Citra juga belum menerimanya pernyataan cintanya.
"Citra beruntung banget ya Mas?" ujar Wiwit tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Tegar.
Tegar menoleh ke arah Wiwit sekilas. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Dia beruntung banget. Udah pintar, baik, murah senyum, banyak yang suka lagi," lanjut Wiwit.
"Kamu kan juga baik, pintar, dan banyak yang suka juga Wit," sahut Tegar.
"Tapi kan beda Mas," ucap Wiwit.
"Beda gimana?" Tegar mengerutkan keningnya sambil melihat ke arah Wiwit.
"Ya beda aja gitu. Dia kayak punya sesuatu yang bikin cewek-cewek pada iri sama dia," jawab Wiwit.
__ADS_1
"Termasuk kamu," tebak Tegar.
Wiwit terdiam seketika mendengar tebakan jitu Tegar. Mulutnya seolah terkunci rapat oleh kata-kata Tegar yang pendek tapi mengena di hatinya.
"Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita bisa melihat orang itu cuman dari covernya aja. Kita nggak tahu dalamnya kayak gimana," kata Tegar.
"Kamu melihat Citra seperti seseorang yang nggak punya beban dan selalu ceria. Tapi apa kamu tahu dia seperti apa sebenarnya?" ujarnya lagi.
Wiwit semakin terdiam mendengar ucapan Tegar. Dalam hati dia memang merasa iri pada Citra yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang di sekitarnya.
"Rumput tetangga memang lebih hijau. Tapi jauh lebih indah di pandang jika rumput yang kita punya, kita rawat dengan baik," pungkasnya.
Setelah berkata demikian, Tegar berlalu dari sana. Dia meninggalkan Wiwit yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Di ruang tamu, Citra tampak duduk diantara kedua orang tuanya. Dia merasa sangat bahagia bisa berada diantara orang-orang yang menyayangi dirinya.
"Kami ke sini sekalian mau izin Mbak, Mas," ucap Bu Mirna.
"Izin? Izin untuk apa?" tanya Pak Hamzah.
"Kami berdua rencananya mau mengajak Citra untuk liburan bersama Mas," jawab Pak Bayu.
"Ya itu tergantung Citra. Dia mau apa enggak diajak berlibur," ucap Pak Hamzah.
Bu Aminah menatap wajah Citra yang berseri-seri. Wanita itu kemudian bertanya pada anak angkatnya itu.
"Citra, gimana? Kamu mau Nak ikut berlibur bersama orang tua kamu?" tanya Bu Aminah.
Citra melihat ke arah Bu Aminah dan Pak Hamzah secara bergantian. Kemudian dia menganggukkan kepalanya perlahan.
Pak Bayu dan Bu Mirna tersenyum senang saat melihat Citra menganggukkan kepalanya.
"Kalau boleh hari ini Citra kami ajak menginap di rumah kami," kata Pak Bayu.
Pak Hamzah dan Bu Aminah saling lempar pandang. Mereka terkejut saat mendengar perkataan Pak Bayu. Inilah yang mereka takutkan. Mereka takut jika Pak Bayu dan Bu Mirna membawa Citra pergi jauh.
Citra juga sama terkejutnya dengan Pak Hamzah dan Bu Aminah. Dia juga tak menyangka Pak Bayu dan Bu Mirna akan memintanya untuk menginap di rumahnya.
"Bagaimana Citra? Kamu mau kan menginap di rumah Papa?" tanya Pak Bayu.
__ADS_1
Citra kembali terdiam mendengar tawaran dari sang ayah. Dia tak berani menjawab pertanyaan itu. Walaupun dia sangat ingin pergi dan menginap di rumah orang tua kandungnya.
Citra kembali teringat ancaman yang Shintya katakan padanya. Ancaman yang tak bisa ia sepelekan. Perlahan Citra menggeleng.
"Kenapa Nak?" tanya Bu Mirna.
"Maaf. Tapi Citra nggak bisa kalau harus menginap di rumah Bapak dan Ibu," ucapnya.
Kepalanya tertunduk dalam setelah mengatakan hal itu. Pak Bayu tampak menghela napas. Lelaki itu tampak memaklumi apa yang Citra putuskan.
"Ya sudah kalau gitu. Enggak apa-apa. Yang penting kamu mau kan kalau kami ajak liburan bersama?" tanya Pak Bayu sekali lagi.
Citra menganggukkan kepalanya. Pak Bayu dan Bu Mirna menarik napas lega melihat anggukan kepala Citra.
Setelah berbincang sejenak. Pak Bayu dan Bu Mirna undur diri. Karena hari juga sudah larut malam. Pak Hamzah dan Bu Aminah mengantarkan Pak Bayu hingga ke halaman.
*****
Malam semakin jauh naik. Rembulan masih setia menyorotkan sinarnya yang lembut. Bintang-bintang pun masih setia dengan kerlipnya.
Citra tampak sedang duduk di atas ranjangnya. Matanya enggan terpejam walau sedikit. Percakapannya dengan Tegar kembali terngiang di telinganya.
"Izinkan aku menjadi bagian dalam hatimu. Izinkan aku menemani hidupmu hingga tua nanti."
Ucapan Tegar kembali terngiang di telinganya. Citra memejamkan matanya. Dia mencoba mencari jawaban terbaik untuk pernyataan Tegar.
Di saat dirinya sedang memejamkan mata, sekelebat wajah Arga tiba-tiba hadir dalam benaknya. Wajah dengan senyum tulus itu tak mau hilang dari pelupuk matanya.
"Jangan takut. Aku akan selalu ada untuk kamu. Menjaga kamu dan melindungi kamu."
Kembali ucapan Arga terngiang di telinganya. Citra menyentuh cincin pemberian Arga. Hatinya berdesir saat kulitnya menyentuh permukaan benda logam itu.
"Aku mencintai kamu tulus dari hati aku. Izinkan aku menjadi obat penawar kecewamu. Izinkan aku menjadi bintang di hatimu."
Ungkapan cinta Arga kembali terngiang. Citra menghela napas berat. Dia menjadi dilema. Siapa yang harus dipilihnya. Arga tak pernah memaksanya untuk menerima pernyataan cintanya. Tapi jelas terlihat bahwa dia mengharapkan balasan cinta dari Citra.
Citra lagi-lagi memejamkan matanya. Lagi-lagi bayang-bayang wajah Arga memenuhi pikirannya. Bayangan itu seolah tak ingin hilang dari benak Citra.
Saat itu ponsel yang ia letakkan tak jauh darinya, berdering. Citra segera meraih ponselnya dan membaca identitas si penelpon. Keningnya berkerut saat membaca identitas si penelpon.
__ADS_1