Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 45


__ADS_3

Wiwit tersenyum puas karena usahanya berhasil. Dendamnya terbalaskan sudah. Walaupun dia tak yakin Citra meninggal, tapi setidaknya dia bisa membalaskan rasa sakit hati dalam hatinya karena Citra.


Wiwit keluar dari tempat penyimpanan barang dan segera menguncinya. Dia masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang rumahnya. Dia berjalan masuk dengan senyum puas.


"Mudah-mudahan aja dia segera mati. Jadi kan nggak sia-sia usaha aku tadi," gumamnya.


"Siapa yang kamu doakan cepat mati?" Sebuah suara mengejutkan Wiwit yang sedang bergumam seorang diri.


Wiwit terdiam mendengar pertanyaan itu. Wajahnya menjadi pucat pasi. Lidahnya terasa kelu dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Jawab! Siapa yang kamu doakan cepat mati?" Suara itu bertanya lagi.


Wiwit semakin gemetaran. Dia tak berani menatap seseorang yang ada di belakangnya. Dia masih menghadap pintu belakang yang baru saja ia tutup.


"Kamu nggak punya mulut? Jawab pertanyaan saya tadi?" bentak suara itu.


"Em... em... em... itu Bu. Nyamuk Bu. Iya nyamuknya biar cepat mati dikasih obat nyamuk semprot aja. Iya nyamuk," ucap Wiwit tergagap.


"Oh jadi kamu suka sama suami saya? Kamu doain saya cepat mati biar bisa menikah dengan suami saya gitu?"


Wiwit mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan ucapan yang ia dengar. Suami? Suami siapa? Dia tak pernah berhubungan dengan suami orang?


Wiwit menoleh ke belakang. Dia kemudian berjalan perlahan menuju ruang tengah. Dan berapa terkejutnya dia saat melihat Bu Aminah tengah menonton sinetron


ikan terbang.


"Fiuh! Ternyata cuman sinetron. Kirain tadi dia yang nanya!" ucapnya lega.


"Kamu baru pulang Wit?" tanya Bu Aminah yang melihat Wiwit baru masuk ke dalam rumah.


"Iya," jawab Wiwit pendek. Gadis itu lantas berjalan menuju kamarnya dan masuk. Tak lupa ia kunci pintu kamarnya rapat-rapat.


Sementara itu, tubuh Citra yang tergeletak di jalan segera diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Anne ikut masuk ke dalam ambulans mendampingi Citra.


"Citra, maafin aku. Maafin aku yang nggak bisa jagain kamu. Maafin aku yang ninggalin kamu di gerbang tadi," kata Anne disela isak tangisnya.


"Dek, sebaiknya kamu hubungin orang tua korban. Nanti biar mereka bisa segera menyusul ke rumah sakit." Seorang perawat yang berada di dalam ambulans itu memberi saran pada Anne.


Anne menganggukkan kepalanya. Dia segera mengambil ponselnya yang ia simpan di saku bajunya.


"Assalamu'alaikum Ma," ucap Anne dengan suara bergetar menahan tangis.


"Wa'alaikumusalam Nak," balas sebuah suara di seberang telepon.

__ADS_1


"Mama lagi di mana?" tanya Anne.


"Lagi di rumah ini. Mau OTW jemput kalian," jawab Bu Mirna.


"Mama bisa langsung ke rumah sakit aja?" tanya Anne lagi.


"Ke rumah sakit? Kenapa? Siapa yang sakit?" Bu Mirna mulai panik mendengar kata rumah sakit.


"Citra Ma. Citra kecelakaan. Sekarang aku ada di jalan mau ke rumah sakit," jawab Anne dengan suara bergetar.


"APA?!" Bu Mirna memekik kaget.


"Terus sekarang gimana keadaan Citra?" tanyanya panik.


"Ini masih di jalan Ma. Mau ke rumah sakit. Mama cepetan ke rumah sakit ya," ucap Anne.


Panggilan telepon pun berakhir. Bu Mirna segera menghubungi sang suami. Di tengah kepanikannya, wanita itu sampai melupakan apa yang sedang ia kerjakan.


Bu Mirna segera masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Kemudian dengan terburu-buru, wanita itu segera keluar dari dalam rumah. Bu Mirna juga lupa memberitahu asisten rumah tangganya tentang Citra. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Citra. Dia takut Citra terluka parah.


"Pak Kosim tolong anterin saya ke rumah sakit ya sekarang," ucap Bu Mirna pada supir pribadinya.


Tanpa banyak tanya lagi, Pak Kosim segera mengantarkan sang majikan ke rumah sakit. Lelaki paruh baya itu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Sayang!" panggil Bu Mirna.


Melihat kedatangan sang mama, Anne segera menghambur ke dalam pelukan mamanya. Dia menangis dalam dekapan hangat sang mama.


"Maafin Anne Ma. Anne nggak bisa jagain Citra," ucap Anne.


Bu Mirna mengelus lengan sang anak dengan lembut. Wanita itu mencoba menenangkan sang anak.


"Maafin Anne yang ninggalin Citra sendirian di gerbang sekolah tadi. Maafin Anne Ma," ucapnya.


Anne merasa bersalah karena dirinya meninggalkan Citra sendirian di gerbang sekolah tadi. Seandainya dia tak meninggalkan Citra, mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Mungkin Citra tak akan pernah terbaring berdarah seperti ini.


"Anne tenang ya Sayang. Ini kecelakaan. Ini bukan salah Anne." Bu Mirna mencoba menenangkan sang anak.


"Sekarang kita. berdoa ya supaya Citra cepat sadar," kata Bu Mirna.


Anne menganggukkan kepalanya dalam dekapan sang ibu. Dalam hati dia berharap Citra segera melewati masa kritisnya. Dia berharap Citra segera membuka matanya dan segera sembuh.


"Bagaimana keadaan Citra?" tanya Azwan yang baru saja tiba di sana.

__ADS_1


Anne melepaskan pelukannya dan menatap Azwan yang masih mengenakan baju basket lengkap dengan sepatunya.


"Citra masih di dalam. Dia masih diperiksa oleh Dokter," jawab Bu Mirna mewakili Anne.


Azwan menarik napas lega. Walau tak bisa dipungkiri dalam hatinya masih diliputi perasaan cemas dan khawatir.


"Gimana ceritanya kok bisa Citra kecelakaan?" tanya Azwan.


"Tadi pas mau pulang, barang gue ada yang ketinggalan. Jadi gue bilang sama Citra untuk mengambil barang gue itu," jelas Anne.


"Pas gue balik lagi. Citra udah tergeletak di jalan," lanjut Anne.


Azwan hendak menyahuti ucapan Anne saat ekor matanya melihat seorang dokter keluar dari ruang UGD. Pemuda itu lantas mendekati dokter itu disusul oleh Bu Mirna dan Anne.


"Gimana keadaan Citra Dok?" tanya Azwan.


Dokter muda itu melepas kacamatanya dan menatap Azwan.


"Anda siapa? Saya perlu berbicara dengan orang tua pasien," kata dokter itu.


"Saya mamanya Citra. Gimana keadaan anak saya Dok?" Bu Mirna langsung melontarkan tanya pada dokter itu.


"Mari Bu ikut saya ke ruangan. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada Ibu," ucap dokter itu.


"Anne, Azwan! Kalian tinggi sini ya. Nama mau ke ruangan dokternya dulu. Nanti kalau Papa udah sampai, tolong kalian suruh Papa untuk ke ruangan dokternya ya," ucap Bu Mirna sebelum melangkah menuju ruang dokter.


"Iya Ma," jawab Azwan dan Anne berbarengan.


Azwan dan Anne menunggu di depan ruang UGD. Perasaan keduanya berkecamuk. Entah apa yang akan dokter itu katakan pada sang Mama. Tapi keduanya berharap agar Citra tak mengalami hal yang buruk. Mereka berharap Citra bisa segera sadar.


"Silahkan duduk Bu," ucap dokter itu pada Bu Mirna.


"Terimakasih Dok. Jadi gimana keadaan anak saya Dok?" Bu Mirna mengulangi pertanyaannya.


Dokter muda itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bu Mirna.


"Benturan di kepala Citra cukup keras. Sepertinya dia ditabrak dari belakang oleh motor atau mobil sehingga dia terpelanting dengan kerasnya," Dokter itu memulai penjelasannya.


Bu Mirna mendengarkan penjelasan dokter itu dengan saksama. Wanita itu tak ingin melewatkan setitik informasi dari dokter itu.


"Karena hal itu, tempurung kepala Citra mengalami keretakan. Dan akibatnya...."


"Apa Dok? Retak?" Bu Mirna memekik tak percaya pada pendengarannya. Lemas sudah tubuhnya saat mendengar itu.

__ADS_1


"Iya Bu. Dan akibatnya dia mengalami..."


__ADS_2