Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 35


__ADS_3

Pak Hamzah dan Bu Aminah tampak kecewa saat melihat apa yang dilakukan oleh Citra dan Tegar. Kedua orang tua itu tak bisa menyimpan rasa kecewanya lagi. Mereka mengungkapkan rasa kecewanya pada Tegar dan juga Citra.


Tegar mengatakan jika dirinya mencintai Citra. Tapi kedua orang tua angkatnya tak merestuinya. Mereka menentang hubungan Tegar dan Citra.


Tegar sempat mendebat agar diperbolehkan bersama dengan Citra. Pak Hamzah memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Tegar jika tetap ingin bersama dengan Citra.


"Apapun syaratnya akan saya penuhi asalkan saya bisa bersama dengan Citra," ucap Tegar dengan nada tegas.


Pak Hamzah menatap mata Tegar lekat-lekat. Pria itu mencari sebuah keraguan dalam sorot mata Tegar. Tapi yang didapatkannya justru sorot mata penuh keyakinan.


"Baiklah. Mulai sekarang hiduplah terpisah. Jangan pernah saling menghubungi satu sama lain," ucap Pak Hamzah.


"Maksud Bapak?" tanya Citra tak mengerti.


Pak Hamzah menatap putri angkatnya itu dengan lekat. Kemudian pria itu berkata, "tinggallah bersama dengan orang tua kandung kamu."


Citra membelalakkan matanya tak percaya. Sejurus kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mata yang sempat surut, kini menetes kembali.


"Enggak Pak. Citra nggak mau. Izinkan Citra tetap tinggal di sini bersama dengan kalian," ucap Citra.


Kini dirinya beralih kepada sang ibu. Dia mencoba membujuk sang ibu agar tetap diizinkan tinggal. bersama dengan mereka.


"Bu tolong bilang sama Bapak. Tolong jangan seperti ini. Citra akan turuti apa mau kalian. Tapi tolong jangan usir Citra. Citra mohon, Bu." Citra berkata penuh permohonan pada sang ibu. Tapi Bu Aminah tetap bergeming. Wanita itu tak menghiraukan permohonan Citra.


"Citra mohon. Jangan usir Citra. Citra mohon. Izinkan Citra tetap tinggal bersama dengan kalian," ucap Citra. Air matanya semakin menderas kala mengucapkan kalimat penuh permohonan itu.


Bu Aminah memalingkan wajahnya. Wanita itu tak kuasa melihat Citra yang diasuhnya sejak kecil harus terusir dari rumah demi memenuhi keinginan seseorang.


"Citra, jujur saja. Kami keberatan jika kamu tetap tinggal di sini. Kamu sudah tahu dan sudah bertemu dengan ayah kandung kamu. Jadi mulai sekarang, tinggallah bersama dengan orang tua kandung kamu," ucap Pak Hamzah.


Citra semakin tergugu mendengar itu. Dia merasa sangat berat meninggalkan rumah yang selama 16 tahun ini di tempatnya.


Tegar ingin sekali menggantikan posisi Citra. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa saat sepasang mata menatap ke arahnya dan mencegah langkahnya.


Akhirnya Citra keluar juga dari rumah itu. Dia meninggalkan rumah itu dengan perasaan hancur berkeping-keping. Air matanya terus menetes deras bahkan sampai Pak Bayu datang menjemputnya.


"Kamu udah makan Nak?" tanya Pak Bayu pada Citra.


Citra hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia tak berminat untuk menjawab pertanyaan sang ayah. Bahkan untuk bernapas pun, dirinya sudah tak berminat lagi.


"Kita mampir beli makanan dulu ya Sayang." Kali ini Bu Mirna yang berbicara.

__ADS_1


Citra hanya terdiam. Dia sama sekali tak merespon ucapan Bu Mirna. Hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian tadi. Dia juga tak menyangka, orang-orang yang selama ini dianggapnya baik justru membuang dirinya seperti ini.


Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah kompleks perumahan elit. Mobil masih terus melaju dan berhenti di depan sebuah rumah mewah.


Pak Komar, supir pribadi Pak Bayu membunyikan klakson sekali. Nampak seorang berpakaian satpam membukakan pintu gerbang itu.


Sementara itu, sepeninggal Citra. Bu Aminah terus menerus menangis. Wanita itu merasa sangat bersalah karena tak bisa menjaga amanah dari mendiang adiknya. Dia tak bisa menjaga Citra dengan baik.


"Sudah deh. Enggak usah lebay," ucap Wiwit.


Bu Aminah menatap nyalang ke arah gadis itu. Gadis yang dulu dikenalnya sebagai pribadi yang lemah lembut kini berubah menjadi gadis kejam dan juga licik.


"Cuman ditinggal gitu doang aja udah nangis," ucapnya lagi.


"Puas kami sekarang? Hah! Puas kamu," ujar Bu Aminah.


"Citra sudah diusir dari sini. Dia sudah pergi dari sini. Sekarang apa lagi mau kamu?" pelik wanita paruh baya itu.


Wiwit menatap sang ibu dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku nggak pernah puas sebelum lihat dia menderita. Aku selama ini selalu mengalah demi dia. Tapi dia nggak tahu diri. Dia merebut perhatian dan hati Mas Tegar dari aku," balas Wiwit.


Tegar yang mendengar namanya disebut segera menoleh. Dia tak menyangka jika dirinyalah penyebab perubahan sikap Wiwit akhir-akhir ini.


"Aku cinta sama Mas Tegar. Setiap hari aku berusaha ngasih perhatian buat Mas Tegar. Tapi apa? Mas Tegar justru cinta sama cewek s****n itu," pekik Wiwit.


"Kalian juga. Kalian sebagai orang tua angkat ku nggak pernah sayang sama aku. Kalian selalu menomor satukan Citra. Kalian selalu membanggakan Citra. Bahkan saat aku ada masalah dengan Rayhan aja kalian tetap cuek," lanjutnya.


"Itu nggak benar Nak. Kami sayang kalian semua. Kami sayang sama kamu. Sama Tegar juga walau kalian lahir bukan dari rahim Ibu," sahut Bu Aminah.


Wiwit tersenyum sinis mendengar ucapan ibu angkatnya itu. Hatinya telah mengeras sekarang. Itu karena rasa iri dan dengki yang selama ini tumbuh subur dalam hatinya.


*****


Malam semakin larut. Suasana semakin terasa sepi. Tapi mata Citra tak bisa terpejam. Matanya tetap terbuka walau dia telah berusaha memejamkan matanya.


Citra turun dari ranjangnya. Dia berjalan menuju jendela kamarnya. Dia menatap keluar dengan pandangan kosong. Saat itu tiba-tiba saja perkataan Arga kembali menyapu gendang telinganya.


"Jangan takut. Aku akan selalu ada untuk kamu."


Citra memejamkan matanya. Dadanya berdesir saat mengingat kata-kata Arga itu. Citra berusaha menepis segala rasa dalam hatinya. Dia menghela napas panjang dan membuka matanya. Tepat saat itu ponselnya berdering. Sebuah nama terpampang di layar ponselnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Mas Tian," ucap Citra.


"Wa'alaikumsalam. Kamu udah tidur?" sahut Tian. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Apalagi saat mendengar Citra memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Belum. Belum bisa tidur," jawab Citra.


"Kenapa? Kaki kamu masih sakit?" tanya Tian khawatir.


"Enggak kok. Kaki aku udah baikan. By the way, makasih ya Mas."


"Makasih untuk apa?"


"Makasih udah mau nolongin aku tadi. Udah mau ngobatin kaki aku juga," jawab Citra dengan malu-malu.


Tian tersenyum mendengar itu. Hatinya berbunga-bunga saat mendengar suara Citra yang tak jutek dan ketus lagi.


"Iya sama-sama. Besok aku jemput kamu ya," ucap Tian.


Citra terdiam mendengar ucapan Tian. Dia bimbang. Akankah dia berbicara yang sebenarnya atau tidak? Kalau mau jujur, Citra masih belum terlalu percaya pada Tian. Hatinya masih ragu pada ketulusan Tian.


"Citra," panggil Tian saat telinganya tak mendengar suara Citra.


"I-iya Mas. Kenapa?" sahut Citra.


"Kamu masih di sana kan? Kamu belum tidur kan?" ujar Tian.


"Aku... aku belum tidur kok. Kenapa Mas?"


Tian menarik napas lega saat mendengar suara Citra lagi.


"Alhamdulillah. Aku pikir kamu udah tidur," ucap Tian.


Citra tersenyum tipis mendengar ucapan Tian. "Belum. Aku belum tidur kok. Kenapa Mas?"


"Enggak. Aku cuman mau jemput kamu besok. Kita berangkat ke sekolah bareng-bareng. Gimana?"


Citra masih terdiam. Dia tak lantas menjawab pertanyaan Tian itu.


"Em... aku... aku...."


"Kamu belum tidur Sayang?"

__ADS_1


__ADS_2