
Wiwit tak bisa berkutik sekarang. Dia tak bisa menyangkal ataupun mengelak lagi. Semua barang bukti sudah polisi dapatkan. Wiwit segera dibawa ke kantor polisi guna melanjutkan pemeriksaan.
Bu Aminah tergugu melihat Wiwit digelandang oleh dua orang polisi wanita. Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menangis.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini Pak? Kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini?" Bu Aminah menangis dalam pelukan sang suami.
Pak Hamzah tak kalah sedihnya dengan Bu Aminah. Lelaki itu merasa bersalah karena sudah menuruti semua keinginan Wiwit kala itu. Lelaki itu rela mengusir keponakannya sendiri demi Wiwit.
Di tengah kesedihan mereka berdua, tiba-tiba bayangan wajah Citra dan Tegar menari-nari di benak meraka berdua. Pak Hamzah semakin merasa bersalah pada kedua anak itu. Lelaki itu merasa telah gagal menjadi orang tua bagi anak-anak angkatnya.
"Kita bersalah pada Citra Pak. Kita bersalah pada dia," ucap Bu Aminah. Wanita itu tak bisa lagi membendung emosinya lagi.
Pak Hamzah hanya terdiam mematung. Hatinya terasa diremas-remas saat mendengar perkataan sang istri. Lelaki itu sama merasa bersalahnya pada Citra dan Tegar.
Sementara itu di rumah sakit, Citra tampak sedang berjalan-jalan di lorong. Keadaan sudah jauh lebih baik lagi sekarang. Walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
"Assalamu'alaikum," sapa Tian saat dirinya berada di depan Citra.
Citra menatap Tian sekilas. Kemudian dia memalingkan wajahnya.
"Wa'alakumusalam Nak Tian," jawab Bu Mirna.
Tian tersenyum mendengar Bu Mirna menjawab salamnya. Matanya melirik ke arah Citra yang terdiam dan memandang ke arah lain. Seperti ada yang coba dia sembunyikan dari Tian.
"Gimana keadaan Citra Tante?" tanya Tian basa basi.
"Alhamdulillah udah lebih baik. Mungkin besok udah boleh pulang," jawab Bu Mirna. Senyum bahagia tergambar di wajah cantiknya.
"Alhamdulillah. Saya ikut senang dengarnya Tante." Tian ikut tersenyum saat berkata demikian.
"Em... boleh saya bicara berdua dengan Citra Tante?" izin Tian pada Bu Mirna.
Bu Mirna melihat ke arah sang anak gadis. Kemudian wanita itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Ma," panggil Citra.
"Citra capek. Citra mau istirahat aja di kamar," ucap Citra.
"Citra, aku mau jelasin sesuatu sama kamu." Ujar Tian sembari menatap Citra.
Citra menghela napas panjang. Dia tak ingin berbicara dengan Tian untuk saat ini. Dia tak ingin mendengar sesuatu yang hanya akan menambah sakit hatinya saja. Dia tak ingin menambah luka dalam hatinya setelah Tegar pergi beberapa hari yang lalu.
"Maaf Pak. Saya masih butuh banyak istirahat. Karena kondisi saya belum sepenuhnya pulih," ucap Citra tanpa melihat ke arah Tian.
Tian tampak kecewa mendengar ucapan Citra. Dia ingin menjelaskan hubungannya dengan Luna dan apa yang sedang mereka bicarakan beberapa hari yang lalu. Dia tak ingin Citra salah paham terhadapnya.
__ADS_1
"Lain kali saja kalau Bapak ingin berbicara dengan saya. Permisi!" Citra berbalik arah dan berjalan menuju kamarnya.
Bu Mirna masih tertegun melihat kepergian Citra. Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah langkah Citra.
Tian menatap kepergian Citra dengan perasaan kecewa. Hatinya berdenyut nyeri melihat sikap Citra yang begitu dingin padanya.
"Kamu yang sabar ya. Nanti Tante coba ngomong sama Citra." Bu Mirna mencoba menenangkan Tian walaupun wanita itu tak tahu apa ya g sebenarnya terjadi.
"Makasih Tante." Jawab Tian masih mencoba untuk tersenyum.
"Kalau gitu saya permisi dulu Tante," ucap Tian.
"Lho kok buru-buru? Enggak mau ke kamar Citra dulu?" ujar Bu Mirna.
Tian tersenyum. "Makasih Tante. Tian pulang aja. Biar Citra bisa istirahat," jawab Tian dengan sopan.
Bu Mirna tersenyum mendengar jawaban Tian. Wanita itu terkesan dengan sikap sopan yang Tian tunjukkan.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu hati-hati ya Nak pulangnya. Salam buat keluarga di rumah," ucap Bu Mirna.
"Iya Tante. Kalau gitu saya pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucap Tian akhirnya.
"Wa'alakumusalam," jawab Bu Mirna.
Setelah itu, Tian berjalan kembali ke arah pintu keluar rumah sakit. Pemuda itu pulang dengan membawa rasa kecewa dalam hatinya. Langkahnya terlihat tiara bersemangat. Kakinya masih terasa berat meninggalkan area rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi.
"Bisa bicara sebentar Pak?" ucap seseorang yang tak lain adalah Azwan.
Tian mengernyitkan keningnya. Selama ini Azwan selalu bersikap dingin padanya. Seolah-olah pemuda itu tak suka jika dirinya mendekati Citra.
"Mau ngomong apa?" tanya Tian. Dia berusaha seramah mungkin pada Azwan.
Azwan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Seolah ada beban berat dalam hatinya saat akan menjawab pertanyaan dari Tian.
...****************...
Matahari sudah bergulir ke arah barat. Semburat warna jingga tampak begitu cantik sore ini. Citra tampak sedang berdiri di samping jendela di dalam kamarnya. Matanya menatap sinar jingga itu dengan perasaan campur aduk.
"Saya suka sama Pak Tian."
Tiba-tiba suara Luna kembali terngiang di telinganya. Seraut wajah yang merona kembali membayang di pelupuk matanya.
Citra memejamkan matanya. Dia mencoba mengusir bayangan itu dengan sekuat hatinya. Namun bayang-bayang itu justru semakin lekat membayang.
"Saya cinta sama Pak Tian. Izinkan saya menjadi bagian dari hidup Pak Tian. Izinkan saya menjadi sosok masa depan untuk Pak Tian."
__ADS_1
Lagi dan lagi. Suara Luna kembali terngiang di telinganya. Citra menghela napas berat. Dadanya terasa sesak saat teringat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya memilih untuk mundur secara perlahan.
"Lho Citra kok berdiri di situ? Kok nggak rebahan Sayang?" Bu Mirna bertanya sembari meletakkan nampan berisi makanan di meja di samping tempat tidur Citra.
Citra terlonjak kaget mendengar suara Bu Mirna. Dia lantas menoleh dan memaksakan senyumnya.
"Bosan Ma. Di rumah sakit kerjaan Citra cuman makan tidur... makan tidur. Masa di rumah juga sama," jawab Citra.
Bu Mirna tersenyum. Wanita itu lantas berjalan mendekat ke arah anaknya itu.
"Kan kamu harus banyak istirahat Sayang. Biar cepat sehat," ujar Bu Mirna.
Citra menghela napas mendengar ucapan mamanya itu. Dia lantas berkata, "lagi pengin nikmatin senja Ma. Kayaknya damai banget kalau lihat langit senja kayak gini."
Bu Mirna tersenyum. "Makan dulu ya Nak. Mama udah masak kesukaan kamu. Habis makan terus minum obatnya ya Nak," ujar Bu Mirna.
Citra tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Gadis itu lantas berjalan menuju tempat tidurnya.
"Mau Mama suapi Sayang?" tawar Bu Mirna.
"Emang boleh Ma?" tanya Citra.
"Boleh dong. Mama justru senang kalau kamu mau Mama suapi," jawab Bu Mirna.
Citra tersenyum. Dia kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Boleh Mama tanya sesuatu sama kamu Sayang?" Tanya Bu Mirna sembari menyuapi Citra.
"Mama mau tanya apa?"
Bu Mirna tampak mengulas senyum sebelum menjawab pertanyaan sang anak.
"Gimana hubungan kamu sama Tian?" tanya Bu Mirna.
Citra terdiam beberapa saat. Dia seolah sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan sang mama.
"Gimana apanya Ma?" Citra balik bertanya pada sang Mama. Kedua alisnya terpaut sempurna kala melontarkan tanya itu.
Bu Mirna tersenyum. "Ya hubungan kalian gimana? Mama lihat Tian selalu perhatian sama kamu. Dan Mama suka sama kepribadian Tian yang sopan," ucap Bu Mirna.
Citra kembali terdiam. Gadis itu tak lantas menjawab pertanyaan sang Mama. Kepalanya tertunduk dalam seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari sang Mama.
"Kalian lagi ada masalah?" Tanya Bu Mirna saat melihat Citra tak kunjung bersuara.
Citra masih terdiam. Dia sama sekali tak membuka mulutnya untuk mulai menjawab pertanyaan sang mama. Hingga...
__ADS_1
"Dicariin juga. Ternyata lagi di kamar."