Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 83


__ADS_3

Citra memekik saat mengetahui siapa yang menegurnya itu. Raut bahagia terpancar dari wajahnya.


"Mbak Vania!" ucapnya. Senyum terkembang di wajahnya yang manis.


"Apa kabar, Mbak?" Citra memeluk Vania sembari bertanya.


"Alhamdulillah baik, Cit. Kamu apa kabar?" Kali ini Vania balik bertanya pada Citra.


Citra tersenyum. "Alhamdulillah aku baik, Mbak!" jawab Citra.


"Kamu ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanya Vania.


"Oh itu. Aku lagi nungguin tunangan aku, Mbak. Dia kecelakaan tadi pagi saat berangkat ke sekolah," jawab Citra.


"Tunangan? Dia... teman sekolah kamu juga?" tanya Vania.


Citra menggeleng. "Dia guru di sekolah aku, Mbak."


Vania manggut-manggut mendengar jawaban Citra.


Hening kembali menyelimuti keduanya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Arga apa kabar, Mbak?" tanya Citra.


Vania menghela napas panjang. "Kamu udah makan siang?" tanya Vania tanpa menjawab pertanyaan Citra.


"Belum, Mbak," jawab Citra.


Vania mengulas senyum. "Temenin makan siang yuk!" ajak Vania.


"Ada yang mau aku sampein ke kamu," ucap Vania.


Citra menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengikuti langkah Vania.


Sementara itu, Tian tampak gelisah karena Citra tak kunjung kembali ke kamar. Dia mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi Citra tak menjawab telepon darinya.


"Ke mana aja sih nih anak? Pamitnya ke toilet. Tapi lama bener dah," gerutunya.


Bu Hamidah yang baru saja kembali dari musala, hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar gerutuan sang anak.


"Bucin banget sih jadi orang? Mungkin Citra lagi beli makan ke kantin. Tungguin aja. Sabar!" sahut Azwan yang mendengar gerutuan Tian.


Tian berdecak kesal mendengar ucapan Azwan. Dia melirik Azwan dengan lirikan tajam.


"Eh ada tamu rupanya. Kalian sudah lama di sini?" tanya bu Hamidah.


Anne dan Maria tersenyum. "Lumayan, Bu!" jawab Anne dan Maria bersamaan.


"Sudah makan siang belum?" tanyanya lagi.


"Sudah, Bu. Tadi sebelum ke sini kita makan dulu." Maria menjawab dengan senyum terkembang.

__ADS_1


Bu Hamidah mengulas senyum. Kemudian wanita itu berjalan mendekat ke arah ranjang. Tian masih sibuk dengan ponselnya kala sang ibu mendekatinya.


"Ck!"


Tanpa sadar Tian berdecak kesal. Matanya menyorotkan rasa kesal karena Citra tak juga mau mengangkat telepon darinya.


"Mau ke mana kamu, Yan?" Bu Hamidah bertanya kala melihat Tian turun dari ranjang.


"Mau keluar bentar. Mau nyari Citra," jawabnya.


"Ibu temani ya!" tawar bu Hamidah.


"Enggak usah. Tian bisa sendiri," tolak Tian.


Bu Hamidah tak bisa memaksa Tian. Wanita itu memilih untuk diam dan membiarkan Tian melakukannya sendiri.


"Azwan bantu ya, Pak!" tawar Azwan.


Tian menatap Azwan sejenak. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Di luar kamar, Citra dan Vania masih bercerita. Mereka masih betah bercengkrama.


"Mau ketemu sama Arga?" ujar Vania.


Citra menatap Vania dengan heran. "Maksud, Mbak Vania?"


Vania mengulas senyum. "Arga juga dirawat di sini. Bunda yang yang minta. Karena Bunda nggak tega lihat Arga dirawat di rumah sakit jiwa," ucap Vania.


"Kalau kamu nggak mau, aku nggak bisa maksa. Yah! Aku paham gimana perasaan kamu waktu itu," ucapnya lagi.


"Ya udah kalau gitu, aku kembali ke ruangan Arga dulu. Kasihan Mas Faisal. Dia pasti nungguin aku," ucapnya.


Setelah berkata demikian, Vania berjalan menjauh dari Citra. Tapi baru beberapa langkah, Citra kembali memanggilnya.


"Aku boleh ikut, Mbak?" tanya Citra.


Vania mengangguk dan tersenyum. "Ayo kita ke kamar Arga sekarang!" ucapnya.


Citra mengangguk. Dia tak sabar ingin bertemu dengan Arga setelah hampir satu bulan tak bertemu dengan pemuda itu.


...****************...


Menjelang petang, Citra kembali ke kamar perawatan Tian. Senyum terkembang di wajahnya. Ada perasaan lega setelah dia bertemu dengan Arga tadi. Satu hal yang tidak bisa ia lupakan. Arga masih saja perhatian padanya.


Citra membuka pintu dan masuk ke dalam kamar perawatan Tian. Mendengar ada yang membuka pintu, Tian menoleh. Dia berpura-pura tidur saat melihat Citra masuk ke dalam.


"Kamu udah tidur?" tanya Citra.


Tian tak merespon pertanyaan Citra. Dia tetap terdiam sambil berbaring menghadap ke arah tembok.


"Aku minta maaf karena ninggalin kamu kelamaan," ucap Citra.

__ADS_1


Tian tetap saja tak merespon. Dia tetap diam sambil terus mendengarkan perkataan Citra.


Citra menghela napas. "Ya udah. Aku pamit pulang dulu ya. Besok sepulang sekolah aku ke sini lagi," ucapnya akhirnya.


Citra bangkit dari tempat duduknya. Dia bermaksud untuk beranjak dari tempat itu saat....


"Enggak usah peduliin aku. Kamu ke tempatnya Arga aja besok. Dia lebih butuh kamu kan daripada aku?" ucap Tian.


Citra mengerutkan keningnya. Dia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana. Dia kembali duduk di samping tempat tidur Tian.


"Maksud kamu apa?" tanya Citra.


Tian menyunggingkan senyum miring. "Kamu nggak usah ke sini besok. Kamu ke tempatnya Arga aja," ulangnya.


"Kamu ngomong apa sih? Aku nggak---"


Tiba-tiba ucapan Citra terhenti saat melihat sorot mata Tian yang menatapnya dengan tajam.


"Enggak perlu jelasin apa-apa lagi. Aku udah lihat semuanya," potong Tian.


Citra terkejut mendengar ucapan Tian. "Maksud kamu apa sih? Aku nggak ngerti deh?"


Tian tersenyum miring. "Enggak usah pura-pura. Aku udah lihat tadi kamu ngapain sama Arga. Aku udah lihat gimana senangnya kamu saat bisa ketemu sama Arga," ucap Tian.


Citra hendak membuka mulutnya untuk membela diri. Tapi Tian dengan cepat mengangkat sebelah tangannya. Memberi kode agar Citra diam.


"Kamu nggak perlu membela diri atau menjelaskan sesuatu sama aku. Aku udah lihat semuanya dengan mata kepala aku sendiri," lanjutnya.


"Kamu salah paham. Di ruangan itu nggak cuman ada aku aja. Ada Mas Faisal dan Mbak Vania juga. Aku nggak berduaan aja sama Arga." Citra mencoba menjelaskan pada Tian.


Tapi perasaan cemburu dan kesal menutup mata hatinya. Dia sama sekali tak menghiraukan penjelasan Citra. Dia sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan kekasihnya itu.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Yang jelas, aku udah jujur sama kamu," ucap Citra akhirnya.


Tian terdiam mendengar ucapan Citra yang terdengar putus asa itu. Sudut hatinya merasa iba saat melihat ekspresi wajah Citra. Tapi sudut hatinya yang lain menolak untuk mempercayai omongan kekasihnya itu.


"Aku pamit! Cepat sehat!" ucapnya akhirnya.


Citra bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Tian ingin mencegahnya pergi. Tapi sudut hatinya berkata jangan. Akhirnya dia hanya diam saja melihat kepergian Citra.


"Citra! Masih belum pulang?" Seseorang menegurnya kala dia baru saja keluar dari ruang perawatan Tian.


Citra mencoba tersenyum. "Belum, Mbak. Ini baru mau pulang!" jawabnya.


Amanda manggut-manggut. "Makasih ya! Udah mau repot-repot jagain Tian seharian ini," ucapnya.


"Sama-sama, Mbak. Ya udah aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumusalam. Hati-hati ya!" ucap Amanda.


Amanda melambaikan tangannya ke arah Citra yang semakin menjauh. Namun dia merasakan ada yang aneh dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Citra.

__ADS_1


"Dia sudah pulang?"


__ADS_2