Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 61


__ADS_3

Tian membawa Citra ke sebuah kafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Selama perjalanan, Citra hanya diam saja. Dia tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Tian mencoba untuk menyentuh jemari Citra. Namun dengan cepat, Citra menarik tangannya.


"Fokus nyetir aja," ketusnya.


Tian hanya bisa mengangguk saja. Dia kembali fokus menyetir. Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi tampak memasuki sebuah kafe yang terkenal akan tempatnya yang bagus dan instagramable.


"Kita turun yuk!" ajak Tian.


Tanpa berbicara, Citra membuka pintu mobil dan keluar dari dalam. Tian pun melakukan hal yang sama dengan Citra.


Saat berjalan memasuki kafe, Tian ingin menggandeng tangan Citra. Tapi dengan cepat Citra menarik tangannya. Dia seolah tak ingin disentuh oleh Tian.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Tian saat mereka berdua sudah berada di dalam kafe.


"Terserah!" jawab Citra pendek.


Tian menghela napas panjang. Kemudian dia memutuskan untuk memesan dua gelas minuman dingin dan dua makanan ringan.


"Mohon ditunggu ya Kak!" ujar seorang waiter.


Tian mengangguk sembari tersenyum. Kemudian waiter itu masuk ke dalam untuk membuatkan pesanan Tian.


"Kamu kenapa sih? Dari kemarin kamu cuekin aku kayak gini? Aku ada salah sama kamu?" tanya Tian.


Citra diam tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak ada senyum yang setiap hari Tian lihat.


"Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu," ucap Tian.


Citra masih terdiam. Dia masih enggak untuk membuka mulutnya untuk bersuara.


"Cit!" panggil Tian. Tangannya meraih jemari Citra dan menggenggamnya dengan erat. Citra berusaha menarik tangannya. Tapi Tian menggenggamnya dengan erat sekali.


"Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu," ulangnya.


Citra tak membalas ucapan Tian. Dia hanya menatap Tian dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Aku minta maaf kalau sikapku kurang berkenan di hati kamu. Aku minta maaf...."


"Soal pelukan di ruang guru dan berlanjut di taman sekolah?" potong Citra cepat. Dia sudah tak tahan lagi untuk menyimpan semuanya.


Tian terbelalak tak percaya. Dari mana Citra tahu semuanya. Dari mana dia tahu kejadian yang hingga saat ini membuatnya tak nyaman itu.


"Enggak perlu kamu jelasin lagi. Aku udah tahu semuanya. Aku tahu raga kamu emang untuk aku. Tapi hati dan cinta kamu cuman untuk Bu Luna, iya kan?" Citra berkata sambil mengibaskan tangannya hingga terlepas dari genggaman Tian.


Tian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak Cit. Kamu salah paham. Aku sama Luna nggak ada hubungan apa-apa. Aku sama dia cuman temenan aja kok," jelas Tian.

__ADS_1


Citra menyunggingkan senyum miring saat mendengar penjelasan Tian.


"Sayang, lihat aku! Aku nggak pernah bohong sama kamu. Aku nggak pernah punya niatan untuk ngeduain kamu. Aku sayang sama kamu Citra!" lanjutnya..


Citra menepis tangan Tian yang hendak menyentuh wajahnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak mengigat kembali kejadian kemarin dan dua hari yang lalu.


"Siapa yang percaya Pak? Siapa yang percaya kalau diantara kalian nggak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja?"


"Aku serius Cit. Aku sama Luna nggak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja. Hubungan kami hanya sebatas itu nggak lebih." Tian masih berusaha menjelaskannya pada Citra.


Citra tersenyum miring. Dia sama sekali tak bisa percaya pada ucapan lelaki yang ada di depannya ini. Dia sama sekali tak bisa mempercayainya lagi.


"Aku berani bersumpah demi apapun. Aku nggak ada hubungan apapun sama Luna. Aku sama dia cuman teman nggak lebih dari itu," ucapnya lagi.


"Citra, aku nggak pernah bohong sama kamu. Aku jujur sama kamu. Aku cuman sayang sama kamu. Dan cuman kamu yang ada di hati aku," lanjutnya.


Citra sedikit tersentuh dengan ucapan Tian. Memang selama ini Tian tak pernah berbohong padanya. Dia selalu jujur padanya. Tak pernah dia mencoba untuk membohongi dirinya.


"Kamu percaya kan sama aku Sayang?" ujar Tian.


Citra menatap mata sang kekasih. Dia mencari sebuah kebohongan di sana. Tapi tak ada kebohongan dalam sorot matanya. Yang ada hanyalah ketulusan dan kejujuran saja.


Tian meriah jemari Citra lagi. Dia menggenggam erat jemari itu dan menciumnya dengan mesranya.


"Aku sayang sama kamu. Sekarang dan nanti. Aku nggak akan ngeduain kamu selamanya," ungkapnya.


Citra tersipu saat melihat perlakuan manis Tian padanya. Jantujgnya berdetak lebih cepat saat mendengar ungkapan cinta darinya.


"Silakan Kak! Selamat menikmati!" ucap si waiter.


"Makasih Mas," jawab Tian.


Tian masih menggenggam erat jemari Citra saat mengucapakan itu.


"Bapak udah sering ya main ke kafe ini?" tanya Citra. Suaranya sudah tak terdengar sedingin tadi.


"Enggak juga kok. Dulu memang sering ke sini sama Marta. Tapi semenjak putus aku nggak pernah ke sini lagi," jelasnya.


"Ooh!" Citra membulatkan bibirnya sambil menikmati minuman dinginnya.


"Mantan pacar Pak Tian namanya Marta?" tanya Citra lagi.


"Iya. Dulu kami sempat tunangan dan sudah hampir menikah," ungkapnya.


"Tapi karena ada sesuatu hal, pernikahan kami batal. Dan aku memutuskan untuk nggak lagi berhubungan dengan dia," lanjutnya.


Tian terus bercerita tentang sang mantan. Sedangkan Citra mendengarkannya dengan saksama. Tak ada rasa cemburu saat Tian menceritakan tentang mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kamu... nggak marah kan aku cerita tentang Marta?" tanya Tian.


"Marah kenapa?"


"Ya siapa tahu aja kamu merasa cemburu atau bagaimana gitu."


"Dia udah jadi mantan kan? Bukan masih jadi pacarnya Bapak kan?" ujar Citra.


"Iya Sayang. Dia udah jadi mantan sekarang. Udah masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku," sahut Tian.


Wajah Citra merona merah saat mendengar ucapan Tian itu.


"Aku ke toilet bentar ya," pamit Citra.


Citra bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet yang ada di ujung lorong kafe. Citra segera menuntaskan hajatnya saat berada di toilet itu. Setelah selesai, dia segera kembali lagi ke mejanya.


Saat itulah dia lagi-lagi melihat sesuatu yang amat sangat mengganggunya. Sesuatu yang membuatnya marah dan kesal.


...****************...


Hari berganti hari. Tanpa terasa ujian kenaikan kelas sudah di depan mata. Anne, Citra, Maria, Arga, dan Azwan menyempatkan waktu untuk belajar bersama. Seperti hari ini, mereka belajar bersama di halaman belakang rumah Anne.


"Arga, jangan pacaran aja dong. Kita kan lagi belajar." Tegur Maria yang untuk ke sekian kalinya melihat Arga bersikap mesra.


"Sirik aja lo Mar. Bilang aja elo iri sama kita!" sahut Arga.


"Ye dibilangin juga. Ngapain juga gue iri sama elo? Kita kan lagi belajar. Harusnya fokus dong," ucap Maria tak mau kalah.


"Iya kalian ini. Enggak di sekolah. Enggak di rumah, nempel aja kayak perangko," timpal Azwan.


"Udah... udah! Kok pada berantem sih?" kata Citra menengahi.


"Terusin belajarnya. Aku mau keluar bentar," lanjut Citra.


"Mau ke mana?" tanya Anne.


"Ke minimarket depan. Mau beli minuman sama camilan," jawabnya.


"Ikut dong!" kata Maria.


"Aku juga ikut dong," sahut Azwan.


Citra tersenyum dan mengangguk. Maria dan Azwan bangkit dari duduknya. Mereka mengikuti langkah Citra menjauh dari tempat itu.


"Kalian jangan macam-macam ya. Awas kalau macam-macam!" ancam Azwan.


Anne dan Arga kompak menaikkan jempolnya. Mereka meyakinkan tak akan terjadi apa-apa selama yang lain tak ada di tempat.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Maria, Citra, dan Azwan kembali dari minimarket. Mereka segera masuk ke dalam dan kembali ke halaman belakang rumah.


"Kalian? Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2