
Andra tersenyum mendengar jawaban dari Luna. Satu anggukan kepala saja sudah cukup baginya.
"Makasih ya Lun. Makasih karena sudah mau kembali bersama denganku." Ucap Andra sembari memeluk Luna.
Luna membalas pelukan itu dengan erat juga. Dia seolah tak ingin kehilangan sosok Andra untuk yang kedua kalinya.
"Kita pulang sekarang ya! Udah malam," ajak Andra. Pemuda itu menggandeng tangan Luna dan tak akan melepaskannya lagi.
Sementara itu, Anne tampak duduk termenung di dalam kamarnya. Keluarga Ustaz Helmi sudah pulang sejak tadi. Jadi Anne bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.
"Orang tuanya baik sih. Tapi gue belum pernah ketemu sama anaknya. Cuman dengar ceritanya aja dari Azwan," ucapnya lagi.
Anne mendesah pelan. Semakin dia memikirkan itu, kepalanya menjadi semakin pusing.
"Seperti saran Citra. Lebih baik aku salat istikharah. Meminta petunjuk terbaik sama Allah," ucapnya.
Tanpa pikir panjang, Anne segera berjalan menuju tempat wudhu yang ada di samping kamar Citra. Dia ingin melaksanakan salar sunat itu agar bisa mendapatkan petunjuk terbaik.
Di tempat lain, Arga sedang menyusun rencana untuk membawa Citra pergi jauh dari kota ini. Dia tak rela jika Citra jatuh ke pelukan orang lain.
"Pokoknya gue harus bisa bawa Citra pergi. Karena dia cuman milik gue. Enggak ada yang boleh miliki dia selain gue." Ucapnya dengan seringai menyeramkan.
Arga mempersiapkan semuanya hingga rencana itu terlihat sempurna di matanya. Dia bahkan sudah mempersiapkan rumah untuk mereka tinggali berdua.
"Beres! Sekarang tinggal tidur dan besok gue akan bawa Citra pergi," ucapnya lagi.
"Citra, tunggu ya! Besok aku akan bawa kamu pergi jauh dari kota ini. Kita akan hidup berdua di sana. Enggak akan ada yang bisa mengganggu kita lagi." Ucapnya sambil mengelus foto Citra yang ada di tangannya.
...****************...
Pagi datang menjelang. Citra yang sudah terbiasa bangun saat waktu subuh tiba, terlihat sedang menyirami bunga di taman belakang. Wajahnya yang manis tampak mengulas senyum. Membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta padanya.
"Pagi Citra," sapa Anne.
"Eh! Selamat pagi Anne. Baru bangun?" tanya Citra.
Anne duduk di kursi yang ada di teras. "Udah dari tadi. Tapi baru keluar aja," jawab Anne.
"Bi... Bi Lani! Tolong buatin coklat panas dong. Makasih!"
Sayup-sayup terdengar suara mengiyakan permintaan Anne itu.
"Kamu ada rencana ke mana hari ini?" tanya Anne.
__ADS_1
"Enggak tahu nih. Kayaknya di rumah aja deh!" jawab Citra.
Anne manggut-manggut mendengar jawaban Citra. "Ikut ke pasar yuk! Sama Bi Lani. Udah lama nggak ikut ke pasar kita!" ajak Anne.
Citra tersenyum. "Boleh. Jam berapa berangkat?"
"Sebentar lagi," jawab Anne.
"Aku ganti baju dulu kalau gitu," ucap Citra.
"Iya. Aku juga mau ganti baju juga. Yuk!" Anne menggamit lengan Citra dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama mereka telah berganti pakaian dan siap untuk ikut berbelanja ke pasar.
"Kalian mau ke mana?" tanya Bu Mirna saat berpapasan dengan kedua putrinya.
"Anne sama Citra mau ikut Bi Lani ke pasar," jawab Anne.
"Tumben mau ikut ke pasar? Kenapa?" Tanya Bu Mirna dengan kening berkerut.
"Enggak kenapa-kenapa. Anne pengin ikut aja. Lagian udah lama Anne nggak ikut ke pasar kan?" ujar Anne.
Bu Mirna mengulas senyum. "Ya udah kalau gitu. Tapi hati-hati ya. Jangan jauh-jauh dari Bi Lani," ucap Bu Mirna memperingatkan keduanya.
"Iya Mama," jawab keduanya bersamaan.
Sementara itu, Arga sejak subuh tadi terus mengawasi rumah keluarga Anne. Dia terus mengawasi rumah itu dari dalam mobilnya. Menunggu seseorang yang amat dia cintai keluar dari dalam rumah.
Namun hingga menjelang siang, Citra tak kunjung keluar juga. Arga hampir putus asa karenanya. Di saat dirinya hampir menyerah, ekor matanya menangkap bayangan Citra yang berdiri di teras rumahnya. Dia tak sendiri melainkan bersama dengan Anne.
"S****n! Kenapa harus sama Anne sih?" Umpannya sambil memukul kemudi mobilnya.
Arga kembali memperhatikan Citra dan Anne. Dia berharap Anne masuk ke dalam rumah. Tapi harapan tinggallah harapan. Anne sama sekali tak membiarkan Citra sendirian. Dia terus berasa di samping Citra. Seolah sudah tahu jika Arga sedang mengincar gadis itu.
"Lho, kok mereka masuk mobil? Mau ke mana mereka?" tanyanya.
Tanpa pikir panjang, Arga mengikuti mobil itu. Dia membuntuti ke manapun mobil itu melaju.
"Gue nggak boleh kehilangan Citra. Gue harus bisa dapetin dia. Gue harus segera membawa dia pergi dari sini," ucapnya.
Mobil terus melaju hingga sampai di sebuah pasar tradisional. Arga menghentikan laju mobilnya dan menunggu Citra keluar dari mobilnya.
"Cit, anterin ke toilet dong! Aku kebelet nih?" ujar Anne.
Citra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bibi masuk aja. Nanti kami menyusul," ucap Citra.
__ADS_1
"Hati-hati ya Non," pesan wanita itu.
"Iya. Bibi belanja aja. Nanti kalau misalnya kita nggak masuk ke dalam, berarti kita nunggu di sini," ucap Citra lagi.
"Iya Non. Kalau gitu Bibi belanja dulu ya," jawabnya.
Anne dan Citra menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Kemudian keduanya berjalan menuju toilet umum yang tak jauh dari tempat parkir.
"Aku tunggu di luar ya!" ucap Citra sebelum Anne masuk ke dalam toilet.
"Iya. Tunggu bentar ya!"
Citra menunggu Anne sembari memainkan ponselnya. Dia membalas pesan dari Tian yang menanyakan dirinya sedang berada di mana.
"Udah belum An?" teriak Citra.
"Bentar lagi. Perut aku mules banget ini," jawab Anne dari dalam toilet.
Citra kembali fokus pada ponselnya. Dia masih berbalas pesan dengan sang kekasih. Saat sedang asik berbalas pesan. Tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dari belakang. Citra berusaha memberontak namun tenaganya kalah kuat dengan orang itu.
Arga tersenyum puas. Dia menahan tubuh Citra agar tak terjatuh ke tanah. Kemudian dia menyeret tubuh Citra menjauh dari tempat itu.
Arga celingukan sebelum membawa tubuh Citra ke dalam mobil. Dia harus berhati-hati agar tak ada yang curiga padanya.
"Heh! Ngapain lu? Kalau pacaran jangan di sini dong. Sono cari tempat lain. Modal dikit jadi cowok." Ucap seseorang yang memergoki Arga sedang memeluk tubuh Citra.
Arga hanya tersenyum. Dia tak menjawab ucapan orang itu. Sepeninggal orang itu, Arga kembali membawa tubuh Citra ke mobilnya.
"Fiuh! Akhirnya bisa juga gue bawa dia pergi," ucapnya.
Arga membelai wajah Citra yang tak sadarkan diri itu. Dia tersenyum puas karena telah berhasil melakukan rencana besarnya.
Anne keluar dari dalam toilet dan tampak kebingungan. Dia berteriak memanggil nama Citra. Gadis itu lari ke arah parkiran.
"Lho Non Anne kok sendirian? Non Citra mana?" tanya sang supir.
"Lho justru aku yang mau nanya sama Bapak. Citra enggak ada pas aku keluar dari toilet," ucap Anne.
Wajah sang supir seketika berubah panik. "Waduh! Saya dari tadi di sini dan nggak ngelihat Non Citra."
"Terus Citra ke mana dong Pak?" tanya Anne panik.
Di saat sedang panik itu, Anne melihat sebuah mobil yang mencurigakan. Dia seperti mengenal mobil itu. Dia berjalan mendekat ke arah mobil itu dengan langkah hati-hati.
Arga yang melihat itu menahan napasnya. Dia menjadi takut jika rencananya akan gagal lagi kali ini.
__ADS_1
Anne terus mendekatkan langkahnya. Saat langkah kakinya hendak mencapai mobil itu. Tiba-tiba....