
Citra berdiri di jendela kamarnya. Dia menatap keluar dengan pandangan kosong. Hatinya masih nyeri kala mengingat kejadian di rumah Bu Aminah tadi.
Citra menghela napas panjang. Menenangkan gejolak hatinya yang seperti gunung berapi. Tiba-tiba saja perkataan Arga terngiang di telinganya. Perkataan yang sedikit demi sedikit mengikis rasa takutnya.
Ponsel Citra berdering. Citra meraih ponselnya dan membaca identitas penelpon.
"Assalamu'alaikum Mas Tian," ucap Citra.
Sekarang Citra mulai membiasakan diri memanggil Mas kepada Tian jika mereka berada di luar sekolah. Mendengar Citra memanggilnya dengan sebutan itu, Tian tersenyum. Hatinya berbunga-bunga dan dia sangat bahagia.
Obrolan mereka berlanjut hingga larut malam. Tian memberikan perhatiannya pada Citra. Pemuda itu berusaha keras untuk bisa mendapatkan hati Citra.
"Belum tidur Sayang?"
Sebuah suara mengagetkan Citra. Dia lantas menoleh ke belakang. Pak Bayu sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Belum tidur Sayang?" Pak Bayu mengulangi lagi pertanyaannya.
Citra yang terkejut hanya bisa menggeleng. Dia memaksakan senyumnya yang terasa kaku.
"Kenapa?" tanya Pak Bayu lagi.
Citra diam saja mendengar pertanyaan dari ayahnya itu. Tian pun demikian. Walau hatinya diselimuti rasa penasaran, dia memilih diam dan mendengarkan apa yang Citra dan orang itu obrolkan.
"Enggak apa-apa kok. Citra belum terbiasa aja berada di rumah ini," jawab Citra.
Pak Bayu tersenyum mendengar jawaban anak gadisnya. Tangan kekar lelaki itu membelai lembut rambut sang anak.
"Enggak apa-apa. Kamu mungkin masih butuh adaptasi di lingkungan yang baru. Papa maklum itu," ucap Pak Bayu.
Citra tersenyum tipis mendengar ucapan sang ayah. "Makasih Pa. Papa udah mau ngertiin Citra," jawab Citra.
Tian mendengarkan obrolan ayah anak itu dalam diam. Pemuda itu mendengarkan semua obrolan itu sembari menatap foto Citra yang ia bingkai dengan manisnya.
"Oh iya. Tadi Papa dengar kamu lagi ngobrol sama seseorang? Lagi telponan sama siapa?" tanya Pak. Bayu.
"Oh... ini..."
Citra melihat melihat ke layar ponselnya. Dia terkejut saat ponselnya masih tersambung dengan telpon Tian.
Pak Bayu tersenyum saat melihat identitas si penelpon. "Anak Papa sudah punya pacar ternyata," goda Pak Bayu.
Wajah Citra merona saat mendengar ucapan sang ayah. Begitu juga dengan Tian. Pemuda itu tampak mengulas senyum malu-malu saat ayah Citra mengatakan itu.
"Udah malam Nak. Sekarang tidur ya. Besok kan bisa lanjut lagi ngobrolnya," ucap Pak Bayu.
"Iya Pa. Maaf kalau suara Citra ganggu tidur Papa," jawabnya.
Pak Bayu tersenyum. Pria itu lantas berbalik dan kembali ke kamarnya. Tapi baru beberapa langkah, pria itu kembali menoleh ke arah Citra.
"Besok pacar kamu suruh ke rumah ya. Papa sama Mama pengin tahu dan pengin kenal sama dia," ucap Pak Bayu.
Citra dengan polosnya mengangguk saja. Dia masih belum menyadari arti ucapan sang ayah.
"Ya sudah. Sekarang tidur. Besok kan harus ke sekolah," ucap Pak Bayu lagi.
Setelah mengucapkan itu, Pak Bayu berbalik arah dan berjalan keluar dari kamar Citra. Sedangkan Citra masih berdiri di samping jendela.
Tian yang mendengar itu tampak kegirangan. Dia seolah sudah mendapat lampu hijau dari orang tua Citra. Tapi sedetik kemudian dia mulai berpikir.
"Papa? Bukannya kemarin pas aku ke sana dia manggilnya Bapak ya ke ayahnya?" tanya Tian dalam hati.
"Ah sebodo lah. Yang penting lampu hijau udah di kantong," ucapnya senang.
"Mas Tian," panggil Citra lirih.
__ADS_1
"Eh iya Cit ada apa?" Tanya Tian dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Besok Papa pengin ketemu sama Mas Tian," ucap Citra.
"Iya. Aku udah dengar kok tadi. Ya walaupun nggak begitu jelas sih," jawab Tian.
"Em... Nanti aku share loc alamatnya," ucap Citra.
Tian mengeritkan keningnya. Dia merasa heran. "Kenapa harus share loc? Kan aku udah tahu alamat rumah kamu?" tanyanya.
"Aku udah pindah," jawab Citra pendek.
"Pindah? Pindah ke mana?" tanya Tian.
"Besok aku kasih tahu. Sekarang udah malam. Aku... aku tutup dulu telponnya," ucap Citra.
Tian menganggukkan kepalanya. "Iya Cit. Maaf ya udah ganggu waktu istirahat kamu," sahut Tian.
Citra tersenyum. "Enggak apa-apa kok Mas. Aku juga senang bisa ngobrol sama Mas Tian kayak gini. Ya udah aku tutup telponnya ya. Assalamu'alaikum," ucapnya.
Seulas senyum tergambar di wajah Tian. Hati pemuda itu berbunga-bunga mendengar suara kalem Citra.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tian.
Tian kembali menyimpan ponselnya di dalam laci nakas. Pemuda itu kemudian merebahkan badannya di atas tempat tidurnya. Matanya menatap ke langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Citra yang tersenyum memenuhi benaknya. Suara Citra yang kalem dan terdengar manja menyapu gendang telinganya.
"Ah! Rasanya kok seperti ABG jatuh cinta ya?" gumam Tian. Senyum tak lepas dari wajahnya yang tampan.
Puas membayangkan wajah Citra, pemuda itu berdoa dan melanjutkan petualangannya di alam mimpi.
*****
Suara azan subuh terdengar lantang. Citra membuka matanya dan bergegas bangun. Dia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
Citra celingukan kebingungan. Dia merasa aneh karena bentuk rumahnya berbeda dari biasanya. Gadis itu kemudian menuruni tangga pelan-pelan. Dia berjalan terus hingga ke dapur.
"Lho Non Citra ngapain? Kenapa ke sini?" tanya Bi Lani, asisten rumah tangga Bu Mirna.
"Eh Bibi," sahut Citra kaget.
Bi Lani menatap Citra keheranan. "Non Citra ngapain ke dapur? Non Citra lapar?" Bi Lani mengulangi pertanyaannya.
"Eh itu Bi. Mau salat. Tapi nggak tahu tempat salatnya di mana?" ujar Citra.
Bi Lani tersenyum mendengar itu. "Non Citra mau salat?"
Citra menganggukkan kepalanya. "Iya Bi. Tempat salatnya di mana ya?" Citra celingukan kebingungan.
Lagi-lagi Bi Lani tersenyum. "Orang di rumah ini jarang ada yang salat Non. Mereka pada sibuk sama urusan masing-masing," ungkap Bi Lani.
Citra terhenyak mendengar ungkapan Bi Lani. Dia tak tahu jika di rumah ini tak ada yang beribadah.
"Tapi semenjak Pak Bayu dan Bu Mirna berhasil menemukan keberadaan Non Citra, mereka salat lagi," lanjutnya.
Citra lega mendengar itu. Dia sempat takut dan khawatir saat mendengar tak ada yang salat di rumah ini. Tapi saat mendengar kelanjutan cerita Bi Lani.
"Citra," panggil Bu Mirna.
Citra menoleh dan tersenyum saat melihat Bu Mirna berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu kok di sini?" tanya Bu Mirna.
"Saya permisi dulu Non, Bu," pamit Bi Lani.
Bu Mirna dan Citra menganggukkan kepala bersamaan.
__ADS_1
"Kamu kok di sini?" Bu Mirna mengulangi pertanyaannya.
"Itu Ma. Tadi Citra mau salat subuh. Citra bingung di mana tempat salatnya," jawab Citra.
Bu Mirna tersenyum. "Kamu masih mengira ini di rumah lama kamu ya Sayang?" ujar Bu Mirna.
Citra mengangguk. "Iya Ma. Mungkin Citra harus membiasakan diri lagi," ucapnya.
"Iya. Pelan-pelan aja. Tempat salatnya ada di lantai atas. Di sebelah kamar kamu. Yuk kita salat bareng," ucap Bu Mirna.
Kedua wanita beda generasi itu lantas berjalan kembali. Mereka kembali menaiki tangga dan terus berjalan menuju tempat salat. Keduanya lantas mengambil air wudhu dan siap melaksanakan salat. Ternyata Pak Bayu dan yang lain sudah menunggu di sana.
Matahari semakin jelas menampakkan dirinya. Menyorotkan sinarnya yang hangat dan nyaman. Citra dan Anne tampak sedang menikmati sarapan mereka.
"Gimana tidurnya semalam?" tanya Anne pada Citra.
"Alhamdulillah nyaman," jawab Citra.
Anne tersenyum simpul mendengar jawaban Citra. "Iyalah nyaman. Orang pangerannya nelpon," kata Anne.
"Dih apaan sih? Aku sama Pak Tian nggak ada hubungan apa-apa kok." Citra berusaha mengelak tapi wajahnya tak bisa diajak kompromi.
"Ciyus nggak ada hubungan apa-apa?" goda Anne.
"Beneran. Kamu kan tahu sendiri aku kesel banget kalau ada di dekat dia," jawab Citra.
Anne mencebikkan bibirnya. Kemudian dia kembali menggoda Citra. "Halah. Terus kenapa semalam kamu manggil Mas Tian... Mas Tian gitu. Hayo?"
Wajah Citra kian memerah. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum malu-malu dan rona wajah yang seperti tomat.
"Cie... cie... dia malu-malu mau. Bilangnya aja kesal sama Pak Tian. Tapi nyatanya... hhmm...." Anne semakin bersemangat menggoda Citra.
"Jadi Citra udah punya pacar?" Bu Mirna ikut nimbrung obrolan kedua anaknya.
"Eng-enggak kok Ma. Anne asal aja nih ngomongnya," elak Citra.
"Anne nggak bohong kok Ma. Semalam Papa juga tahu kalau Citra lagi telponan sama pacarnya," sahut Pak Bayu.
"Papa apa-apaan sih? Aku sama Mas Tian... eh Pak Tian kan nggak pacaran," elak Citra.
"Cie... cie... salting cie...."
"Ih beneran. Aku sama Pak Tian nggak pacaran kok. Kami cuman... cuman lagi... deket aja," lirihnya.
"Tuh kan ngaku. Dasar malu-malu mau. Gitu bilangnya nggak mau. Gitu bilangnya kesal kalau dekat sama dia," ucap Anne.
"Ya kan emang kesal. Kan kamu lihat sendiri kemarin pas di kantin," sahut Citra.
"Kesal kok wajahnya memerah gitu," celetuk Anne.
Citra kontan memegang wajahnya. "Merah apaan sih?" kesal Citra.
"Tuh..." Anne mengangsurkan cermin kecil pada Citra.
Gadis manis itu menerima cermin itu dan menatapnya. Benar saja, wajahnya merona merah. Dia kemudian segera mengembalikan cermin itu pada Anne.
"Beneran pacaran juga nggak apa-apa kok Cit. Kamu udah gede ini. Papa sama Mama setuju kok kalau kamu sama siapa tadi namanya? Tian ya?" ujar Bu Mirna.
Citra mengangguk malu-malu. Wajahnya kembali memerah karena ucapan mamanya.
"Iya. Kamu udah sampaikan ke dia belum kalau Papa pengin ketemu sama dia?" tanya Pak Bayu.
Belum sempat Citra menjawab, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara.
PRAAANNGGGG!
__ADS_1