
Bu Aminah terpaku di tempatnya. Wanita itu terkejut melihat siapa yang ada di ruang tamu rumahnya. Seseorang yang pernah sangat ia benci. Ingatannya kembali ke masa lalu. Masa di mana sang adik berjuang seorang diri dengan perut yang membesar.
"Ambar, sebaiknya kamu temui Bayu. Dia harus tahu kalau kamu sedang hamil anaknya," ucap Aminah muda kala itu.
Ambar menghela napas berat. Dadanya sesak saat mendengar nama sang suami disebut oleh orang lain.
"Ambar." Aminah memegang pundak sang adik. Mengelus punggungnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Mbak tahu apa yang kamu rasakan. Mbak paham kalau kamu pasti merasa tersisih dan terbuang. Tapi kamu jangan egois Ambar. Anak dalam kandungan kamu harus tahu siapa ayahnya," ucap Aminah.
Ambar menggeleng pelan. Perempuan muda itu seolah enggan bertemu atau menemui suaminya yang mungkin telah bahagia bersama dengan istri barunya.
"Aku nggak mau ngerusak kebahagiaan Mas Bayu Mbak. Aku nggak mau jadi duri dalam rumah tangga Mas Bayu dan istri barunya," sahut Ambar.
"Dan soal anak ini... Aku akan tetap merawatnya. Dengan atau tanpa Mas Bayu. Kelak jika dia sudah dewasa, dia pasti akan mencari sendiri ayah kandungnya." Ambar mengelus perutnya yang sudah semakin membesar.
Aminah hanya mampu menghela napas panjang mendengar ucapan sang adik. Dalam hati dia tak tega dan ingin sekali membantu adiknya. Tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia tak ingin sang adik merasa semakin tersisih jika dirinya terus menerus memaksa Ambar menemui Bayu.
"Mau apa kamu ke mari?" Suara Bu Aminah tampak menggelegar memenuhi ruang tamu rumahnya.
"Belum puas kamu membuat Ambar ku meninggal." Bu Aminah mulai terisak.
"Belum puas kamu buat anak Ambar tumbuh tanpa seorang ibu di sampingnya?" ujarnya.
"Maafkan saya Mbak Minah. Maafkan kelalaian saya dan keluarga," ucap Pak Bayu.
Bu Aminah tersenyum miring. Sedangkan Citra hanya berdiri mematung. Tak mengerti dengan apa yang tengah para orang tua itu bicarakan.
"Citra," panggil Pak Hamzah.
"Tolong buatkan minuman untuk tamunya ya Nak," pinta Pak Hamzah.
Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian gadis itu berjalan masuk ke bagian dalam rumahnya.
"Aku ikut ya Citra," kata Anne.
Citra tersenyum dan menganggukkan kepalanya sekali lagi. Anne pun tersenyum melihat anggukan kepala sang sahabat.
Pak Hamzah menatap kepergian Citra dengan perasaan campur aduk. Lelaki itu sudah menganggap Citra sebagai anaknya sendiri. Dia begitu menyayangi Citra seperti dia menyayangi anak-anaknya yang lain.
"Sekarang apa mau kamu datang ke mari? Kamu mau mengambil Citra dari kami?" pekik Bu Aminah. Wanita itu tak bisa lagi menahan emosi yang bersarang dalam dadanya.
"Mbak Minah." Kali ini Bu Mirna yang membuka suaranya.
"Saya minta maaf karena baru sekarang mencari anak Ambar. Maafkan saya dan Mas Bayu yang baru sekarang mengetahui fakta yang sebenarnya." Bu Mirna mencoba meredam emosi yang berkobar dalam dada Bu Aminah.
Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum sinis. Hatinya masih terasa sakit saat menatap wajah-wajah yang selalu membuat adiknya menangis dan sakit hati.
Wanita itu kembali mengingat kejadian yang membuat adiknya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Kejadian yang begitu menyayat hati Bu Aminah kala itu.
Kala itu, Ambar tengah menggendong Citra kecil. Wajah Citra yang polos tampak sangat menggemaskan. Ditambah lagi dengan kedua pipinya yang nampak gembul.
__ADS_1
"Citra lagi tidur ya Ambar?" tanya Bu Aminah yang baru saja pulang dari pasar.
"Iya Mbak. Habis minum susu terus bobok lagi dia," jawab Ambar. Senyum manis terkembang di wajah wanita muda itu.
Bu Aminah pun ikut tersenyum melihat sang adik. "Kamu taruh aja dulu Citra-nya. Biar kamu juga bisa ikut istirahat," kata Bu Aminah.
Ambar mengangguk kepalanya. Wanita muda itu meletakkan Citra kecil ke dalam boks bayi yang ada di kamar itu.
"Mbak," panggil Ambar saat dirinya telah meletakkan Citra.
"Em... aku boleh minta tolong?" ujarnya.
Kening Aminah berkerut. "Minta tolong apa?" tanyanya.
Ambar tak lantas menjawab pertanyaan sang kakak. Wanita muda itu tampak memainkan jemarinya. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya terlihat gugup dan bimbang.
"Ambar," panggil Aminah.
Ambar menatap sang kakak. Wanita muda itu memaksakan senyumnya.
"Kamu mau minta tolong apa?" Aminah mengulangi lagi pertanyaannya.
"Em... aku... aku pengin... aku pengin ngajak Citra menemui ayahnya Mbak," lirih Ambar.
Aminah terkesiap mendengar jawaban sang adik. Tapi dalam hati wanita itu tak bisa mungkir. Wanita itu senang karena sang adik mau menerima sarannya.
"Alhamdulillah. Mbak senang banget kamu bilang begitu Ambar." Aminah mengulas senyum saat mengatakan hal itu.
Ambar pun ikut tersenyum. Wanita muda itu tampak senang karena sang kakak mendukung apa yang menjadi keinginannya.
"Minggu besok saja Mbak," jawab Ambar antusias.
Dalam bayangan wanita itu tampak wajah Bayu yang tersenyum senang saat melihat putri mereka telah lahir. Wanita itu membayangkan betapa bahagianya Bayu melihat anak mereka. Anak yang selama ini selalu mereka nantikan kehadirannya.
Namun, semua bayangan indah itu sirna seketika. Bayangan indah itu hilang saat Ambar melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bayu sedang berbahagia menyambut kehadiran bayi kembarnya.
"Kita pulang saja Mbak," ajak Ambar.
Aminah tampak kebingungan melihat perubahan sikap Ambar. Kemarin Ambar begitu antusias untuk pergi menemui Bayu. Tapi sekarang dia tampak tak suka saat berada di depan rumah Bayu.
Ambar melangkah meninggalkan Aminah yang masih berdiri mematung di depan gerbang. Wanita itu tak peduli pada suara Aminah yang terus saja memanggil namanya.
"Sejak itu Ambar selalu terlihat murung. Dia tak pernah lagi tersenyum. Ambar seolah hilang dari hidup kami," kisah Bu Aminah.
Bu Mirna tampak tergugu di samping sang suami. Air matanya menderas saat mendengar kisah pilu itu. Dia tak menyangka akibat dari keegoisannya membuat seorang anak terpisah selamanya dari sang ibu.
"Maafkan aku Mbak. Maafkan keegoisan ku," sesal Bayu.
"Seharusnya aku nggak mengabaikan Ambar. Seharusnya aku nggak membiarkan dia keluar dari rumah malam itu," sesal Bayu.
Citra keluar dari dalam dengan membawa nampan berisi empat cangkir minuman. Dia tersenyum hangat pada semua orang yang ada di ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
"Silahkan diminum Om, Tante," ucapnya. Dia meletakkan cangkir minuman itu di depan Bu Mirna dan Pak Bayu.
Pak Bayu memaksakan senyumnya saat mendengar suara lembut Citra. Suara yang sangat mirip dengan sang ibu.
"Makasih Sayang," jawab Pak Bayu.
Bu Mirna mengulas senyum. Ingin rasanya wanita itu bersujud di kaki Citra dan memohon maaf atas segala kesalahannya.
Citra membalas senyuman Bu Mirna dengan senyuman pula. Setelah itu dia segera berlalu dari sana dan kembali ke kamarnya. Di sana Anne telah menunggunya.
"Citra, aku pinjam novel kamu yang ini ya?" Anne mengacungkan sebuah buku yang tengah dibacanya pada Citra.
"Iya boleh. Tapi jangan sampai rusak ya Anne. Soalnya aku sayang banget sama buku itu," jawab Citra.
"Iya Citra. Aku pasti bakalan jaga buku kamu," ucap Anne.
Anne kembali fokus pada buku bacaannya. Sedangkan Citra kembali fokus pada novel yang sedang ia tulis di laptopnya.
Di luar kamar, Pak Bayu tampak bersujud di kaki Bu Aminah. Lelaki itu memohon maaf atas segala kesalahan yang. telah ia lakukan dulu.
Bu Aminah berusaha membantu Pak Bayu berdiri. Tapi Pak Bayu tak mau berdiri sebelum Bu Aminah memaafkan dirinya.
"Aku sudah memaafkan kamu Bayu. Ambar pun juga sudah memaafkan kamu. Sekarang kamu bangun. Jangan seperti ini," ucap Bu Aminah.
"Iya Bayu. Ambar tidak akan suka. jika kamu seperti ini. Dia. pasti akan sedih kalau kamu seperti ini," imbuh Pak Hamzah.
Akhirnya Pak Bayu mau juga berdiri. Lelaki itu kembali duduk di samping sang istri.
"Saya juga minta maaf ya Mbak Minah. Coba saya tahu fakta itu, Citra pasti bisa cepat bertemu dengan ayah kandungnya," timpal Bu Mirna. Wanita itu tampak menyesal karena tak mengetahui fakta ini sebelumnya.
"Enggak apa-apa Mirna. Kamu nggak salah. Mungkin inilah takdir yang Tuhan tuliskan untuk Citra.
"Di mana Citra? Aku ingin bertemu dengannya dan memeluk anak itu." Pak Bayu mengedarkan pandangannya mencari sosok sang putri.
Bu Aminah bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar Citra. Perempuan itu memanggil Citra dengan perasaan campur aduk. Perempuan itu takut jika Pak Bayu akan mengambil Citra dari sisinya.
"Citra," panggil Bu Aminah.
"Ibu." Sambut Citra dengan senyuman.
"Pak Bayu mau ngomong sama kamu. Kamu keluar sebentar ya," kata Bu Aminah.
Citra menganggukkan kepalanya. Tanpa merasa curiga, gadis itu keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu.
"Tante." Anne memanggil Bu Aminah saat dirinya melihat perempuan itu akan beranjak dari sana.
"Boleh aku nanya sesuatu sama Tante?" ujar Anne.
Bu Aminah tersenyum mendengar ucapan Anne. "Mau tanya apa anak cantik?"
Anne mengulas senyum tipis. "Apa benar Citra itu saudara aku?" tanya Anne polos.
__ADS_1
Bu Aminah terkejut mendengar pertanyaan dari gadis cantik di depannya ini. Perempuan itu menjadi bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan Anne.
"Tante, apa benar Citra itu anak kandung Papa dari wanita lain?"