
Malam ini hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar dengan ganasnya. Citra tampak turun ke lantai bawah. Dia hendak menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Citra, kok bangun Sayang?" tanya Bu Mirna yang kebetulan juga berada di dapur.
"Citra haus Ma. Mau ambil air minum," jawab Citra.
Bu Mirna tersenyum mendengarnya. "Gimana sekolah kamu?" Tanya perempuan itu sambil duduk di kursi ruang makan.
"Alhamdulillah lancar Ma," jawab Citra.
Bu Mirna tersenyum saat mendengar jawaban sang anak.
"Gimana hubungan kamu sama Tian? Baik-baik aja kan?" tanya Bu Mirna lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Citra sampai tersedak minumannya. Dia terbatuk-batuk karena mendengar pertanyaan mendadak itu.
"Pelan-pelan Sayang minumnya," ucap Bu Mirna.
Citra memaksakan senyumnya. Jujur saja dia kaget dan terkejut saat Bu Mirna bertanya soal itu padanya. Bukan apa-apa, selama ini Bu Mirna tak pernah bertanya tentang hubungannya dengan Tian.
"Kamu kenapa kaget pas dengar pertanyaan Mama? Hubungan kalian baik-baik aja kan?" Bu Mirna mengulangi lagi pertanyaannya.
Citra masih terdiam mendengar pertanyaan mamanya. Dia sedikit menundukkan kepalanya agar sang Mama tak melihat raut kecewa yang tergambar di wajahnya.
"Citra, Mama tanya kayak gitu bukan karena Mama pengin ikut campur urusan kamu. Tapi Mama cuman mau kamu jujur. Apalagi kalian udah tunangan kan?" ujar Bu Mirna.
Citra memaksakan senyumnya. Dia tak ingin orang lain tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia tak ingin ada yang tahu bagaimana kecewanya dia saat mengetahui sesuatu yang membuatnya terluka untuk ke sekian kalinya.
"Mama doain yang terbaik aja ya buat kami," ucap Citra. Matanya menyiratkan permohonan yang tulus dari dalam hatinya.
Bu Mirna tersenyum. Wanita itu lantas menarik tangan Citra dan menggenggamnya dengan erat.
"Mama selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak Mama," ucapnya.
Citra tersenyum mendengarnya. "Citra ke atas dulu ya Ma. Makasih udah mau dengerin keluh kesah Citra selama ini," pamitnya.
Bu Mirna mengangguk. "Iya Sayang. Kalau ada masalah, kamu boleh cerita sama Mama atau Papa," ucap perempuan itu.
Setelah mengucapkan selamat malam, Citra segera beranjak dari ruang makan. Dia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar, Tian tampak kebingungan. Pikirannya tak tenang. Sejak tadi ponsel Citra tak bisa ia hubungi. Dia ingin menghampiri Citra ke rumahnya. Tapi alam tak mengizinkannya pergi.
"Kamu ke mana sih? Kenapa ponsel kamu mati?" ucapnya dengan nada khawatir.
Tian berusaha untuk menghubungi Citra kembali. Tapi tetap saja. Ponsel Citra tak bisa dihubungi. Dia mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Ponsel Citra rak bisa dihubungi.
__ADS_1
Tian akhirnya putus asa. Dia tak lagi menghubungi Citra. Di saat putus asa melanda, dirinya teringat akan Anne. Ya! Dia harus menghubungi Anne.
Tanpa pikir panjang lagi, Tian segera menghubungi Anne. Lama dia menunggu Anne mengangkat teleponnya. Panggilan pertama Anne tak mengangkatnya. Dia mencoba sekali lagi. Dan berhasil! Anne mengangkat teleponnya.
"Iya selamat malam!" ucap Anne.
"Citra kenapa? Kok HP-nya nggak aktif?" tanya Tian tanpa basa basi lagi.
Anne mengerutkan keningnya. Dia menarik ponselnya dari telinganya dan membaca identitas si penelepon.
"Enggak tahu Pak. Tadi sih masih aktif ya. Soalnya baru aja dia chattingan sama saya," jawab Anne.
"Kamu sekarang lagi ada di mana?" tanya Tian.
"Saya lagi di rumah sih. Kenapa Pak?" Anne balik bertanya pada Tian.
"Bisa minta tolong nggak?" ujar Tian.
"Tolong kasihkan teleponnya sama Citra. Saya mau ngomong sama dia," lanjutnya.
Anne tak segera menjawabnya. Dia agak berat menuruti permintaan Tian kali ini. Karena dia juga sudah tahu apa yang menyebabkan Citra seperti ini.
"Gimana An? Bisa kan?" tanya Tian.
"Gimana ya Pak. Kayaknya Citra udah tidur deh. Saya juga nggak berani ganggu waktu tidurnya dia," jawab Anne.
Anne tak enak hati menolak permintaan Tian. Tapi dia juga merasa kesal karena lelaki itu menyakiti saudarinya secara tak langsung.
"Saya mohon Anne. Tolong bantu saya kali ini aja. Saya janji nggak akan lama kok," mohonnya sekali lagi.
Anne menjadi tak tega saat mendengar suara Tian yang memohon padanya. Dia akhirnya menuruti perkataan Tian.
"Ya udah iya. Tapi sebentar aja ya Pak," ucap Anne.
"Iya Anne. Makasih ya dan maaf udah ganggu waktu kamu," sahut Tian.
Anne berjalan menuju kamar Citra. Dia mengetuk pintu kamar itu dan setelah ada jawaban dari dalam, Anne segera masuk ke dalam kamar itu.
"Belum tidur?" tanya Anne.
Citra menggeleng. "Besok kan hari libur. Jadi pengin lah sekali-kali tidurnya agak malaman," jawabnya.
Anne tersenyum. Dia lantas duduk di samping Citra. "Nih Pak Tian mau ngomong sama kamu." Anne menyodorkan ponselnya pada Citra.
Citra tak segera menerima ponsel itu. Dia malah menatap Anne dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi dia?" tanyanya dengan nada jutek.
Anne mengangkat bahunya. "Udah angkat aja. Siapa tahu dia mau ngomong atau ngejelasin sesuatu sama kamu," ucapnya.
Citra tersenyum miring. "Apapun penjelasan dia, nggak akan mengubah apapun juga. Tetap akan meninggalkan luka di hati aku," tukasnya.
Anne menghela napas panjang. "Dengarkan dulu aja apa yang mau dia omongin Cit. Jangan terus-terusan menghindar kayak gini," ucap Anne.
Citra masih bergeming. Dia masih enggak untuk berbicara dengan Tian. Dia masih enggak untuk mendengarkan penjelasan Tian.
...****************...
Pagi ini hujan masih datang. Jalan-jalan dan juga pepohonan masih tampak basah karena air hujan. Citra tampak keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
"Selamat pagi Ma, Pa, Anne, Azwan!" sapanya begitu dirinya berada di sana.
Semua yang ada di sana tersenyum membalas sapaan Citra.
"Selamat pagi Bi Lani," sapa Citra pada asisten rumah tangga itu.
"Eh selamat pagi Non," jawab Bi Lani.
Anne tersenyum melihat Citra yang kembali ceria seperti biasanya.
"Senang banget kayaknya. Habis menang lotre ya?" ujar Azwan.
Citra tersenyum. "Iya menang lotre yang hadiahnya nggak ternilai," jawab Citra.
"Apa tuh?" sahut Anne.
"Keluarga ini!" jawab Citra pendek.
"Makasih ya Papa dan Mam juga Anne dan Azwan udah mau menampung Citra di sini. Udah mau menerima Citra sebagai bagian dari keluarga kalian," ucap Citra.
Semua yang ada di sana tampak terdiam. Mereka semua berkaca-kaca mendengar ucapan Citra barusan. Terdengar begitu tulus dan datang dari hati.
Bu Mirna bangkit dari duduknya dan menghampiri Citra. Perempuan itu lantas memeluk erat tubuh anak sambungnya itu.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Anne. Dia juga memeluk Citra dengan eratnya. Pak Bayu dan Azwan pun tak mau ketinggalan. Mereka juga ikut memeluk Citra dengan erat.
"Maaf Pak, Bu, Non! Ada Mas Tian di depan," ucap Bi Lani.
Semuanya melepaskan pelukan itu dan menatap ke arah Bi Lani.
"Ada Mas Tian di depan. Nyariin Non Citra," ulangnya lagi.
__ADS_1
Seketika senyum Citra surut. Wajahnya berubah masam kala mendengar nama Tian di sebut. Pak Bayu dan Bu Mirna saling pandang. Sementara Anne berpura-pura menikmati roti bakar di depannya.