Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 67


__ADS_3

Arga tampak tercengang mendengar ucapan Anne. Dia tak menyangka Anne akan tahu semuanya.


"Mending sekarang kamu pulang. Aku nggak mau lihat kamu lagi," ucapnya.


"Sayang, aku bisa jelasin sama kamu. Aku sama dia cuman...."


"Cuman temenan dan akhirnya saling merasa nyaman?" potong Anne cepat.


"Enggak. Bukan gitu. Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku sama dia cuman temenan aja kok," jelas Arga.


"Siapa yang percaya? Kalau cuman temenan? Emangnya aku sama kamu dulu nggak temenan?" ujarnya lagi.


Arga terdiam. Dia tak punya kata-kata lagi untuk menjelaskan pada Anne. Dia tak punya kata-kata untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Jujur aja, aku nggak marah sama kamu. Aku cuman kecewa aja. Kamu udah mulai nggak jujur sama aku. Kamu mulai main-main sama kepercayaan yang aku kasih," ucap Anne.


"Sekarang terserah kamu. Kamu mau gimana aja, mau ngapain aja terserah. Karena mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita putus!" lanjutnya.


Mendengar itu mata Arga membelalak tak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enggak. Aku nggak mau putus dari kamu Anne. Aku nggak mau jauh dari kamu," ucap Arga.


"Enggak mau jauh dari aku atau nggak mau kehilangan kesempatan deketin Citra?" sindir Anne.


"Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.


Anne tersenyum miring. "Aku tahu kamu kerja sama sama Bu Luna untuk memisahkan Citra dengan Pak Tian. Aku juga tahu kamu iri dengan Pak Tian yang bisa mendapatkan hati Citra," ucapnya.


Arga seketika terdiam. Dia tak menduga Anne tahu semuanya. Tak ada gunanya lagi untuk berbohong. Lebih baik sekarang dia katakan saja semuanya.


"Aku memang suka sama Citra dan nggak mau kehilangan dia. Citra cuman punya aku. Dia cuman milik aku. Enggak ada orang lain yang bisa miliki dia selain aku," ucapnya.


Segores luka menganga di dalam hati Anne. Dia terluka saat Arga mengatakan itu padanya. Tapi dia berusaha untuk tak menunjukkan itu di hadapan Arga.


"Karena aku yang selalu ada untuk dia. Aku yang selalu lindungi dia dari para pembully itu," lanjutnya.


"Sekarang kamu udah tahu semuanya. Kamu udah bongkar semuanya. Jadi biarkan aku bersama dengan Citra. Biarkan aku jadi pelindungnya selamanya," ucapnya akhirnya.


Anne tersenyum miring. "Aku nggak akan biarkan Citra jatuh ke pelukan kamu. Orang licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Aku akan bantu Citra untuk jauh dari kamu." Ucapnya sambil menunjukkan rekaman di ponselnya.


Mata Arga membelalak tak percaya. Dia berusaha merebut ponsel itu, tapi Anne terus menghindar. Hampir saja Arga bisa meraih tangan Anne. Hampir saja ponsel itu terjatuh dari tangannya. Tapi dengan sigap Azwan datang mengambil ponsel itu.


"Ternyata ada orang yang lebih rendah dari seorang pecundang," ucapnya.

__ADS_1


"Mending elo cepetan pergi dari sini. Sebelum gue panggilin satpam," usir Azwan.


Arga mendengus kesal. Sebelum dia beranjak pergi, pemuda itu masih sempat melontarkan ancamannya pada kedua kakak beradik itu.


Sepeninggal Arga, Anne langsung naik ke lantai atas untuk menemui Citra. Dia akan menunjukkan rekaman percakapannya dengan Arga barusan.


"Kamu harus dengar rekaman ini," ucap Anne.


Citra yang sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya menjadi kaget dan terkejut. Dia lantas menoleh ke belakang.


"Salam dulu kek kalau mau masuk," tegur Citra.


Anne hanya nyengir mendengar teguran dari kakaknya itu.


"Iya maaf. Kamu harus dengarkan rekaman ini." Katanya seraya menyodorkan ponselnya pada Citra.


"Rekaman apa?" tanyanya.


"Udah dengerin aja. Kamu pasti nggak percaya dengan semua ini," ucap Anne.


Citra menurut saja. Dia mulai mengklik tombol play pada ponsel Anne. Kemudian terdengarlah sebuah percakapan antara Anne dan Arga.


Awalnya Citra tak merasa ada yang aneh. Tapi saat lama kelamaan dia merasa ada yang tidak beres dengan percakapan itu. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pernyataan Arga yang secara terang-terangan ingin memisahkan dirinya dengan Tian.


"An," panggil Citra saat dirinya telah selesai mendengarkan rekaman itu.


"Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud untuk merebut Arga dari kamu. Aku nggak bermaksud untuk membuat kamu seperti ini," ucapnya.


Anne menghela napas panjang. Sedetik kemudian seulas senyum tergambar di wajahnya.


"Enggak apa-apa. Kamu nggak salah. Arga aja yang terlalu obses sama kamu. Juga... juga aku yang terlalu berekspektasi tinggi sama hubungan ku dengan Arga," jawab Anne.


Citra menatap saudarinya itu dengan pandangan sendu. Dia tak tega melihat Anne seperti ini. Orang yang selalu baik padanya sejak awal mereka kenal. Orang yang selalu menolongnya di saat dirinya kesusahan.


"Mama... mama tahu soal ini?" tanya Citra.


Anne menggeleng. "Papa dan Mama nggak tahu soal ini. Yang tahu cuman aku, kamu, dan Azwan," jawab Anne.


"Kalau Pak Tian?" tanya Citra lagi.


Anne tersenyum. "Udah. Pak Tian udah aku kasih tahu tadi," jawab Anne.


"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Aku nggak tahu kalau Arga masih menyimpan rasa itu untuk aku. Tapi jujur dari hati aku yang terdalam. Aku sama sekali nggak ada rasa sama dia. Aku nggak pernah jatuh cinta sama Arga," ucap Citra.

__ADS_1


"Iya. Ini bukan salah kamu kok. Kita kan nggak bisa ngontrol perasaan orang lain Cit," jawab Anne.


Citra tersenyum lega. Tadi dia merasa takut kalau Anne akan membenci dirinya setelah tahu perasaan Arga yang sebenarnya. Dia takut kalau Anne akan menjauhi dirinya karena Arga yang masih terobsesi kepadanya.


...****************...


Pagi ini matahari bersinar cerah. Burung-burung kecil berterbangan kesana kemari mencari makanan dan biji-bijian. Bunga-bunga juga tampak segar dan bermekaran dengan cantiknya.


Anne tampak sedang membuat sandwich tuna kesukaannya. Dia menyiapkan dua lembar roti tawar dan bahan-bahan untuk membuat sandwich.


"Selamat pagi adikku yang cantik sedunia," sapa Azwan.


Anne menoleh seraya mengerutkan keningnya. Dia merasa terheran-heran dengan sikap Azwan pagi ini. Tak biasanya dia memujinya seperti ini.


"Tumben muji-muji? Ada apa?" ujar Anne.


Azwan menyunggingkan senyuman mautnya. Dia berdiri di depan sang adik dan menatapnya lekat-lekat.


"Kalau diperhatikan lagi, ternyata adik gue cakep juga ya," ucapnya lagi.


Wajah Anne merona saat mendengar pujian dari sang kakak.


"Gombal banget sih lo. Ada apa? Buruan ngomong!"


Azwan masih tersenyum manis. Kemudian dia berkata, "elo ingat nggak sama ustaz Helmi?"


"Ingat. Kenapa emangnya?" tanya Anne.


"Semalam Ustaz Helmi nelepon gue. Dia minta dicarikan seorang perempuan muslim untuk dinikahkan dengan anaknya," jawab Azwan


"Terus? Apa hubungannya sama gue?" tanya Anne.


"Ya gue ada niatan buat jodohin elo sama dia. Kali aja cocok," jawab Azwan.


Anne membersihkan tangannya di wastafel dapur. "Gue nggak mau pacaran dulu. Masih trauma gue," ucap Anne.


"Dia nggak mau pacaran. Dia maunya ta'aruf dulu," jawab Azwan.


"Bukannya gue nolak ya. Tapi entar dulu deh. Gue masih pengin santai tanpa mikirin soal cowok. Kalau buat kenalan aja it's okey. Tapi untuk ke jenjang serius, kayaknya enggak dulu deh."


"Ya nggak apa-apa. Kenalan aja dulu. Untuk selanjutnya ya itu terserah sama elo."


Anne menghela napas panjang. "Terserah elo aja deh. Yang jelas gue masih pengin sendiri dulu," ucap Anne.

__ADS_1


Azwan mengangguk paham. Dia mengerti sekali dengan kondisi sang adik yang masih merasa trauma dengan kisah cintanya yang tak semulus jalan tol.


"Tapi kalau seandainya dia mau penjajakan dulu, elo mau terima kan?"


__ADS_2