Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 49


__ADS_3

Tian menoleh ke belakang dan berapa terkejutnya dia saat melihat Marta sudah duduk di boncengannya.


"Apa-apaan sih kamu?" Tian berkata sambil melepaskan pelukan Marta di pinggangnya.


Marta semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu semakin tak ingin melepaskan pelukannya di pinggang Tian.


"Jangan kayak gini Mar. Malu dilihat orang," ujar Tian..


"Biarin aja dilihatin orang. Aku nggak peduli. Yang jelas aku kangen sama kamu. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.


Tian menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan sedikit kasar. Dia merasa kesal dengan kehadiran Marta di tempat ini.


"Oke. Kamu mau ngomong apa?" tanya Tian akhirnya.


Senyum kemenangan terukir jelas di wajah Marta. Gadis itu merasa menang karena akhirnya Tian mau berbicara dengannya.


"Buruan!" bentak Tian.


"Enggak di sini," kata Marta.


Tian berdecak kesal mendengar perkataan Marta. Jujur saja dia sudah tak ingin berurusan lagi dengan perempuan itu dan juga keluarganya. Dia tak ingin lagi mengorek luka lama yang dengan susah payah ia balut.


"Aku mau ngomong tapi nggak di sini," ulangnya.


Tian semakin kesal dibuatnya. Pemuda itu tampak tak suka pada perkataan Marta yang semakin membuatnya muak itu.


"Di mana?" tanya Tian lagi.


Senyum penuh kemenangan terukir semakin jelas dan lebar di wajahnya.


"Di tempat biasa kita ketemu dulu," jawab Marta.


Tian merasa sangat kesal dibuatnya. Jujur saja dia mulai tak nyaman saat harus berbicara empat mata dengan seseorang seperti Marta. Dia sama sekali tak ada hari untuk berbicara dengan orang yang sudah membuatnya sakit hati dan kecewa.


"Aku pengin mengenang kebersamaan kita dulu Yan. Aku pengin kembali mengenang masa-masa yang pernah kita lewati dulu," ucap Marta. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengatakan itu.


"Kamu masih ingat kan Yan tempat favorit kita dulu?" tanya Marta.


Tian menghela napas panjang. "Iya. Aku nggak bakalan pernah lupain tempat itu," jawabnya dengan penuh penekanan.


Senyum di wajah Marta semakin lebar saat mendengar jawaban Tian. Dia merasa jika Tian masih mencintainya walaupun nada bicaranya masih terdengar dingin dan cuek.


Tanpa banyak bicara lagi, Marta segera mengajak Tian untuk beranjak dari sana. Marta memaksa untuk ikut bersama dengan Tian. Awalnya Tian menolak. Tapi Marta tetap memaksa. Hingga akhirnya Tian tak bisa menolak lagi.


Sementara itu di dalam kamar perawatan, Citra tampak belajar untuk duduk dan berdiri.


"Pelan-pelan aja Cit," kata Azwan yang membantu Citra untuk berdiri.


Citra menatap Azwan dan tersenyum. Azwan terpesona saat melihat senyuman itu. Senyuman paling tulus yang pernah ia lihat selama hidupnya.

__ADS_1


"Azwan, jaga pandangan matanya," tegur Bu Mirna.


Azwan tampak salah tingkah saat mendengar teguran dari mamanya. Dia kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menyembunyikan rona merah yang tergambar di kedua pipinya.


"Sekarang coba jalan pelan-pelan Cit," kata Azwan setelah bisa menguasai rasa gugupnya.


Citra mulai melangkahkan kakinya perlahan.Gadis itu hampir terjatuh karena kakinya masih terasa lemas. Untung saja Azwan memegangi dirinya dengan kuat dan erat.


"Pelan-pelan aja Cit. Jangan terburu-buru," ucap Azwan.


Bu Mirna tampak mengulas senyum saat melihat Citra sudah mulai belajar berjalan. Hatinya merasa lega karena dia tak harus kehilangan sang anak sambung.


"Ma, Anne beli makan dulu ya. Mama mau nitip?" tanya Anne pada sang mama.


"Boleh deh. Kamu mau beli makan apa?"


"Enggak tahu. Palingan aku beli di kantin Ma," jawab Anne.


"Ya udah Mama pesan nasi ayam geprek ya. Azwan nau nitip juga nggak?" Bu Mirna menawari makanan pada Azwan.


"Samain aja sama pesanan Mama." Azwan menjawab sambil tetap membantu Citra belajar jalan.


"Udah ah. Aku capek," ucap Citra.


Azwan menghentikan apa yang dilakukannya. Dia kemudian mendudukkan Citra ke atas ranjang. Pemuda itu juga membantu Citra berbaring.


"Istirahat ya. Biar cepat sehat," ucap Azwan.


"Citra mau pesan apa Nak? Mau camilan?" tawar Bu Mirna.


Citra menatap wajah sang mama. "Enggak Ma. Citra cuman mau pulang. Bosan di rumah sakit terus," ucapnya.


"Makanya cepetan sehat. Biar bisa pulang. Biar bisa kencan lagi sama Pak Tian," sahut Anne.


Mendengar nama Tian disebut, wajah Citra merona. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Cie... cie... dia malu-malu lho," goda Anne.


Azwan memalingkan wajahnya saat mendengar nama Tian disebut. Hatinya terasa sakit saat mengetahui ada seorang pria yang bisa membuat Citra bahagia. Dia merasa tak terima jika ada lelaki yang berhasil merebut perhatian serta hati Citra darinya.


...****************...


Malam telah beranjak naik. Ribuan bintang-bintang tampak bertebaran memenuhi langit malam ini. Rembulan pun tampak bersinar terang diantara ribuan bintang di langit.


Tian berdiri di dekat jendela kamarnya. Matanya menerawang jauh. Dia kembali teringat percakapannya dengan Marta tadi sore.


"Udah lama ya kita nggak ke sini?" ujar Marta.


Tian tak menanggapi perkataan Marta. Dia sibuk menata hatinya agar tak goyah pada apapun yang dikatakan oleh Marta padanya.

__ADS_1


"Kamu tahu? Aku sering banget ke sini lho kalau aku kangen sama kamu. Aku sering ke sini saat hati aku merindukan kamu," ujarnya lagi.


Tian masih terdiam. Dia sama sekali tak merespon ucapan Marta. Sedangkan Marta mulai menampakkan emosinya.


"Maafkan aku. Maafkan keegoisanku dulu. Maafkan yang nggak bisa menghargai kamu dan keluarga kamu," ucapnya.


Tian menyunggingkan senyum sinis saat Marta mengatakan hal itu. Dia sama sekali tak peduli pada ungkapan kata maaf yang keluar dari mulut Marta.


"Yan!" Marta menarik lengan Tian agar pemuda itu mau menatapnya.


"Aku tahu mungkin rasa sakit hati kamu nggak bisa di sembuhkan hanya dengan kata maaf. Aku tahu mungkin kesalahan yang aku buat udah keterlaluan. Tapi aku mohon Yan. Aku mohon maafkan aku. Maafkan segala kesalahan aku dulu. Maafkan segala yang pernah aku lakuin ke kamu," ucap Marta.


Tian lagi-lagi menyunggingkan senyuman sinis. Pemuda itu telah mati rasa pada perempuan yang kini berdiri dan memohon maaf padanya.


"Yan! Lihat aku," katanya. Dia berusaha agar Tian mau menatapnya. Agar Tian mau melihat berapa dia bersungguh-sungguh meminta maaf pada pemuda itu.


"Aku mohon Yan. Maafkan aku. Maafkan semuanya dan kita bisa memulai semuanya dari awal lagi," ucapnya.


Tian menoleh saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Marta. Matanya menatap tajam ke arah wanita itu.


"Aku bisa saja memaafkan kamu. Tapi untuk kembali bersama dengan kamu... maaf aku nggak bisa." Tian berkata tegas sembari menatap manik mata Marta.


Melihat tatapan tajam yang Tian berikan, membuat Marta sedikit takut. Dia takut jika Tian akan semakin marah padanya.


"Kenapa nggak bisa Yan? Kamu belum punya istri kan?"


Tian menghela napas panjang. "Aku memang belum punya istri. Tapi...."


"Tuh kan. Apalagi yang membuat kamu ragu untuk kembali sama aku?" potong Marta cepat.


Tian kembali menatap Marta dengan tajam. Kilatan emosi terlihat jelas dalam sorot matanya.


"Aku memang masih terlihat sendiri. Tapi hati aku sudah ada yang mengisi," tegasnya.


Marta tampak terkejut mendengar perkataan tegas Tian. Selama ini dia tak pernah melihat Tian menggandeng seorang gadis. Dia selalu terlihat sendiri dalam setiap kesempatan. Makanya Marta berkesimpulan bahwa Tian tak memiliki kekasih lagi setelah putus darinya beberapa bulan yang lalu.


Tian bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil tas punggungnya dan segera memakainya. Melihat itu Marta juga ikut berdiri.


"Kamu mau ke mana Yan? Aku masih belum selesai ngomong," ucapnya.


Tian tak menggubris ucapan Marta. Dia lantas berjalan menjauh dari tempat itu. Dia terus berjalan menuju tempat parkir sepeda motornya tadi.


Marta mengejar langkah cepat Tian dari belakang. Dia juga terus memanggil nama Tian agar pemuda itu melambatkan langkahnya.


"Yan tunggu dulu. Aku masih belum selesai ngomong sama kamu. Tian!"


Tian segera naik ke atas motornya dan segera memakai helmnya. Dia tak peduli pada seruan Marta dan usaha perempuan itu untuk mencegahnya pergi.


"Tian!" Marta menarik lengan Tian agar pemuda itu tak pergi meninggalkan dirinya. Namun Tian tetap menjalankan motornya dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Iiihhh... Nyebelin banget sih jadi orang," gerutu Marta.


"Kalau aku nggak bisa dapatkan kamu. Cewek manapun juga nggak boleh dapatkan kamu. Karena kamu cuman untuk aku," gumamnya.


__ADS_2