
Citra hampir saja terjengkang ke belakang kalau saja tak ada yang menangkap tubuhnya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya orang itu yang tak lain adalah Tian.
Citra menggeleng. "Makasih," ucapnya pendek.
Citra berusaha berdiri dan berjalan. Namun lagi-lagi dia hampir terjatuh. Tian dengan sigap menangkap tubuh Citra yang hampir saja ambruk.
"Aku anterin kamu pulang." Tian berucap sembari menuntun Citra. Kini tinggal mereka berdua saja di sekolah. Setelah melakukan aksinya tadi, Dirga segera berlalu dari sana.
Citra hanya diam saja mendengar ucapan Tian. Dadanya bergemuruh hebat saat ini.
"Kita obati luka kamu dulu. Biar nggak infeksi," ucap Tian. Dia membawa Citra ke UKS yang berada tak jauh dari lapangan.
Citra masih diam saja. Dia menuruti saja apa yang Tian katakan.
"Duduk sini ya." Tian mendudukkan Citra di bangku yang ada di sana.
Pemuda itu lantas membuka kotak P3K yang tergantung pasrah di tembok UKS.
Tian menuangkan alkohol ke atas sebuah kapas. Kemudian dia mulai membersihkan luka yang ada di kaki Citra.
Citra meringis saat kapas berisi alkohol itu menyentuh lukanya. Terasa perih dan kebas.
"Tahan ya. Emang perih tapi lama kelamaan enggak perih lagi kok," ucap Tian.
Citra mengangguk pelan. Sudut matanya menitikkan air mata saking perihnya. Tian yang melihat itu segera mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Sakit ya?" Tanya Tian sembari menatap mata Citra. Kemudian dia melanjutkan lagi mengobati luka Citra.
Citra mengangguk. "Udah selesai Mas?" tanya Citra tiba-tiba.
Tian mendongakkan kepalanya. Seulas senyum terukir di wajahnya. Dadanya bergetar hebat saat mendengar Citra memanggilnya dengan sebutan itu.
"Sebentar lagi selesai," ucapnya.
Citra kembali diam. Dia sesekali meringis saat lukanya diobati oleh seseorang yang sempat ia benci itu.
"Nah udah selesai," ucap Tian. Pemuda itu membereskan kembali alat yang dia gunakan untuk mengobati luka Citra.
"Makasih," ucap Citra. Seulas senyum terukir manis di wajahnya.
Tian terpesona saat melihat senyuman itu. Senyuman yang sempurna yang pernah ia lihat.
"Eh iya sama-sama," ucapnya saat sudah bisa menguasai rasa terkejutnya.
Citra bangkit dari tempat duduknya. Dia berusaha berjalan keluar dari dalam UKS. Tapi baru beberapa langkah, tubuhnya akan ambruk. Untung saja Tian dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Aku anterin kamu pulang ya," ucap Tian.
Citra tak bisa menolak tawaran Tian. Gadis itu sedikit terpaksa menerima tawaran Tian. Gadis itu akhirnya mengangguk pasrah. Tian tersenyum melihat anggukan kepala Citra.
Keduanya lantas keluar dari ruang UKS. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi keduanya dengan pandangan penuh kebencian.
*****
Anne tampan sedang menikmati senja dengan duduk manis di balkon rumahnya. Dia menatap semburat jingga yang tampak begitu cantik menghiasi langit. Senyum manis terukir di wajahnya.
Saat sedang menikmati indahnya senja, tiba-tiba saja bayangan wajah Arga terlintas di benaknya.
"Astaga! Kenapa jadi kebayang-bayang wajah Arga sih?" kesalnya.
Anne berusaha menepis bayang wajah Arga dari benaknya. Tapi bayangan itu semakin jelas terlihat. Anne berdecak kesal karena bayangan wajah Arga tak juga mau hilang dari otaknya.
__ADS_1
Tak hanya Anne yang merasa kesal. Arga juga sama kesalnya.
"Kenapa harus wajah dia sih yang kebayang-bayang? Bikin mood jadi jelek aja deh," kesalnya.
Arga melempar pensil yang digunakannya untuk menggambar sketsa. Pemuda itu lantas mengacak rambutnya dengan kesal. Apalagi setelah melihat hasil sketsa yang dia buat.
"Duh kenapa jadi wajah si Anne sih? Kan tadi gue mau gambar wajahnya Citra," gerutunya.
Arga hendak meremas kertas itu. Tapi saat melihat lagi sketsa wajah yang ia buat, dia mengurungkan niatnya itu. Dia tatap lekat-lekat sketsa itu. Seulas senyum tersungging kala melihat hasil sketsa itu.
"Ternyata dia cakep juga ya. Senyumnya manis. Sama kayak Citra. Dia juga selalu ceria. Saat ada di dekatnya, gue suka ngerasa ramai aja. Dia memang pintar membuat suasana jadi lebih hidup," gumam Arga.
"Eh astaghfirullahalazim. Kenapa jadi muji-muji kuntilanak kesiangan ini sih? Cewek bawel yang manja banget," kesalnya.
Di tempat lain Citra baru saja sampai di rumahnya setelah matahari tenggelam. Tegar yang sejak siang menunggu kedatangan Citra, kontan menjadi emosi. Apalagi dia melihat Citra pulang dengan diantar oleh seorang lelaki.
"Dari mana kamu? Jam segini baru pulang?" tanya Tegar dengan nada menyelidik.
"Da-dari sekolah, Mas," jawab Citra dengan suara bergetar karena gugup.
Citra menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tak berani menatap wajah Tegar yang sudah merah padam menahan amarah.
"Sekolah apa jam segini baru balik? Dianterin cowok lagi?" bentaknya.
Citra semakin menundukkan kepalanya saat mendengar suara Tegar yang menggelegar bagai petir itu.
"Mau jadi perempuan apa kamu? Mau jadi perempuan nggak benar kamu?" bentak Tegar lagi.
Citra semakin tak berani menatap wajah Tegar. Dia semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak terasa setetes bening meluncur bebas dari matanya. Hatinya terasa nyeri saat mendengar Tegar membentaknya tadi.
"Jawab pertanyaan aku. Siapa cowok yang nganterin kamu pulang?" tanya Tegar.
"Dia... dia... dia...."
Citra merasa takut mendengar suara keras Tegar. Dia sampai beringsut ke belakang saking takutnya. Citra tak lantas menjawab pertanyaan Tegar tentang Tian.
"SIAPA COWOK ITU?" Suara Tegar terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Citra memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar suara Tegar yang terdengar menakutkan itu.
"Dia... dia... dia... dia guru di sekolah aku." Suara Citra terdengar lirih saat menjawab pertanyaan Tegar.
Tegar mengepalkan kedua tangannya saat mendengar jawaban Citra. Matanya menyala merah. Menandakan amarahnya yang memuncak.
"Kenapa kamu mau pulang bareng dia? Kamu ada hubungan apa sama cowok itu? Kamu pacaran sama dia? Hah?!"
Citra semakin merasa takut saat mendengar suara Tegar yang terdengar menakutkan itu.
"Enggak. Aku nggak punya pacar," jawab Citra.
Tegar memegang kedua bahu Citra dan mendorongnya hingga ke tembok. Kemudian dengan rakus, Tegar mencium bibir Citra.
Citra yang terkejut seketika mendorong tubuh Tegar agar menjauh darinya. Air mata semakin mengalir deras. Dia merasa dilecehkan oleh orang yang dianggapnya sebagai kakak olehnya.
Citra menatap mata Tegar dengan mata yang basah oleh air mata. Bibirnya yang juga tampak terluka. Dia menyeka darah yang menetes dari bibirnya.
Tegar melihat itu menjadi merasa bersalah. Dia berusaha mengusap air mata Citra. Tapi dengan cepat Citra menepis tangan Tegar dengan kasar.
"Jangan sentuh aku." Citra berucap dengan marah. Matanya menatap nyalang ke arah Tegar.
"Maafin aku Cit. Aku nggak sengaja. Maafin aku," ucap Tegar. Dia masih berusaha mendekat dan menyentuh Citra.
Citra beringsut mundur. Dia tak ingin Tegar menyentuh dirinya. Karena dia berjalan dengan langkah mundur, dia tak melihat apa yang ada di belakangnya. Kakinya terpeleset dan diapun terjatuh.
__ADS_1
Tegar segera menarik tangan Citra agar tak terjatuh. Namun dirinya justru ikut terjatuh dan menimpa tubuh Citra. Tepat saat itu Pak Hamzah dan Bu Aminah baru pulang dari kios.
"Astaghfirullahalazim. Apa yang kalian lakukan?" pelik Pak Hamzah.
Bu Aminah segera berlari saat mendengar sang suami memekik keras.
"Ada apa Pak?" tanya Bu Aminah.
Pak Hamzah menatap ke arah sang istri. Kemudian matanya kembali menatap ke arah Citra dan Tegar yang masih di lantai.
"Astaghfirullahalazim. Apa yang kalian lakukan?" tanya Bu Aminah.
Tegar dan Citra segera bangkit saat mendengar suara kedua orang tua mereka. Mereka lantas merapikan bajunya.
"Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Pak Hamzah. Mereka kini telah duduk di ruang tengah rumah itu.
Citra dan Tegar tampak sama-sama menundukkan kepala mereka masing-masing. Keduanya kompak terdiam saat mendengar pertanyaan Pak Hamzah.
"Tadi Citra nggak sengaja terpeleset. Terus aku coba nolongin dia. Tapi aku malah ikut terjatuh. Dan...."
"Dan kalian melakukan perbuatan yang tidak senonoh, begitu?" tuduh Pak Hamzah. Mata orang tua itu berkilat marah.
Tegar terdiam seketika mendengar tuduhan dari Pak Hamzah.
"Itu bibir kamu kenapa luka Cit?" tanya Bu Aminah.
"Tadi kena gigit Bu," jawab Citra lirih.
Bu Aminah dan Pak Hamzah menatap kedua anak angkatnya itu dengan pandangan menyelidik. Kedua orang tua itu seolah menuntut penjelasan dari keduanya.
"Sekarang jelaskan sama Bapak dan Ibu. Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian tiduran di lantai dan saling menindih?" tanya Pak Hamzah.
Tegar dan Citra kompak terdiam. Mereka tak ada yang membuka mulut untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya....
"Kami berdua... Kami berdua tadi sedang...."
"Astaghfirullahalazim. Kalian tahu, apa yang kalian lakukan itu adalah dosa besar? Apalagi kalian berdua adalah saudara. Walaupun kalian tak lahir dari rahim yang sama." Pak Hamzah memotong ucapan Tegar dengan cepat. Orang tua itu tak mendengarkan penjelasan Tegar hingga akhir.
"Apa salah kalau saya mencintai Citra, Pak?" ucap Tegar dengan berani.
"Saya mencintai Citra dan bermaksud akan memperistrinya," ucap Tegar lagi..
Pak Hamzah dan Bu Aminah tampak terkejut mendengar ucapan Tegar. Mereka tak menduga jika Tegar menyimpan rasa cinta untuk Citra.
"Salah," jawab Pak Hamzah tegas.
"Kenapa Pak? Saya dan Citra tak ada hubungan darah. Kami adalah dua orang yang berbeda dan kebetulan kalian asuh sejak kecil."
"Kalian memang berbeda dan tak ada hubungan darah. Tapi kalian tidak boleh saling jatuh cinta. Kalian harus hilangkan rasa cinta itu."
"Kenapa saya harus mengubur dalam-dalam rasa cinta itu?" tanya Tegar.
"Kalian berdua tidak akan pernah bahagia jika memaksakan untuk bersama," jawab Bu Aminah.
Tegar geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Bu Aminah. Pemuda itu tak habis pikir dengan hasil pemikiran ibu angkatnya itu.
"Konyol sekali. Kita belum menjalaninya tapi kalian seolah sudah tahu apa yang akan terjadi," Ucap Tegar.
Kedua orang tua itu terdiam mendengar ucapan Tegar barusan. Dalam hati, mereka membenarkan apa yang diucapkan oleh Tegar. Tapi mereka tak ingin menunjukkan itu pada Tegar dan Citra.
"Baiklah kalau kalian tetap memaksa. Tapi kami minta kamu penuhi persyaratan dari kami," ucap Pak Hamzah.
"Apapun syaratnya akan saya penuhi," jawab Tegar dengan tegas.
__ADS_1