
Tubuh Citra menegang seketika saat mendengar teguran itu. Dia menghentikan langkahnya dan berdiri di anak tangga paling bawah.
"Dari mana saja kamu?" Azwan mengulangi pertanyaannya. Matanya menatap Citra dengan tajam.
"Aku dari... dari... dari...."
"Dari mana?" Suara Azwan semakin meninggi saat melihat Citra yang gugup.
"Kamu itu cewek. Harusnya pulang sekolah ya langsung pulang. Jangan kelayapan dulu," bentak Azwan.
Citra menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia takut dan tak berani menatap wajah Azwan.
"Kalau udah bosan tinggal di sini, keluar aja dari sini," ucap Azwan.
Citra. semakin menundukkan kepalanya. Setetes air mata mengalir tanpa sempat ia cegah. Hatinya terasa ngilu mendengar ucapan Azwan.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari luar.
Azwan menoleh dan mendapati Anne yang baru saja masuk ke dalam rumah. Melihat Citra yang sedang menundukkan kepalanya, Anne segera menghampiri saudaranya itu.
"Kamu kenapa Cit?" tanya Anne.
Citra menggeleng lemah tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.
Kemudian Anne menatap ke arah Azwan. Matanya menyorot tajam pada kembarannya itu.
"Elo apain Citra sampai dia kayak gitu?" tanya Anne.
Azwan tersenyum miring mendengar pertanyaan Anne. Alih-alih menjawab, Azwan justru kembali mengeluarkan kata-katanya yang tajam.
"Kalau numpang itu harus tahu diri. Jangan seenaknya aja. Emang kamu pikir kamu siapa? Kamu cuman anak haram dari wanita yang nggak jelas asal usulnya," ucap Azwan.
PLAAAKKK!!!!
Dada Anne naik turun saat mendengar ucapan penuh penghinaan itu ke luar dari mulut Azwan. Dia tak menyangka jika Azwan yang terkenal kalem justru mempunyai lidah yang amat sangat tajam.
"Jaga ucapan lo. Ini masih belum seberapa dengan apa yang udah lo lakuin ke Citra," ucap Anne.
Azwan memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan Anne. Seulas senyum sinis menghiasi wajah Azwan yang menyimpan kemarahan pada Citra.
Tanpa berkata apapun lagi, Azwan beranjak meninggalkan Citra dan Anne. Dia melangkah keluar dari rumah dan menutup pintu dengan keras.
Citra memejamkan matanya saat mendengar suara pintu dibanting. Hatinya kembali berdenyut mendengar ucapan penuh penghinaan itu.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kan Cit?" tanya Anne.
Citra menghapus sisa air matanya dan memaksakan senyumnya. "Aku nggak apa-apa kok. Udah biasa kan aku dihina kayak tadi!" ucap Citra.
Anne memeluk saudarinya itu. "Maafin Azwan ya. Maafin sikap dia yang terkesan arogan. Dia cuman lagi sembari aja. Dia cemburu lihat kamu jalan sama Pak Tian," ucap Anne tanpa melepaskan pelukannya.
"Enggak apa-apa kok. Aku udah maafin dia," jawab Citra.
Anne melepaskan pelukannya. Gadis itu kemudian tersenyum manis pada Citra.
"Aku kagum banget sama kamu Cit. Kamu nggak pernah nyimpan dendam pada siapapun. Bahkan kamu nggak marah saat ada yang menghina," ucap Anne.
Citra tersenyum. Senyum yang terkesan dipaksakan. Walau tak bisa dipungkiri jika hatinya terasa sakit dan ngilu.
"Aku bangga bisa jadi saudara kamu Cit," ucap Anne akhirnya.
Citra kembali tersenyum mendengar ucapan bernada kagum dari Anne.
"Kita ke atas yuk! Mandi habis itu kita nongki-nongki cantik di balkon. Ada yang mau aku ceritain sama kamu," kata Anne.
Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian keduanya naik ke lantai atas rumah mewah itu.
Di lain tempat, Azwan tampak menumpahkan segala kesalnya. Dia berteriak kencang. Mengeluarkan segala rasa yang membuat hatinya teriris perih.
"Kenapa engkau harus mempertemukan kami? Kalau pada akhirnya harus seperti ini?" teriaknya lagi.
"AAAAARRRRGGGHHHH.... KENAPA HARUS KAMU CIT? KENAPA HARUS KAMU YANG AKU CINTAI? KENAPA?"
Puas berteriak, Azwan terduduk lemas. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Air mata seorang lelaki yang terasa begitu menyakitkan. Perlahan suara isak tangis mulai terdengar. Isak tangis yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Assalamu'alaikum," tegur seseorang.
Azwan menoleh dan mendapati seorang berpakaian selayaknya seorang ustaz berdiri di belakangnya. Orang itu tersenyum pada Azwan.
"Mari Nak ikut saya," ucapnya.
Azwan mengernyitkan keningnya. Dia merasa tak pernah kenal dengan orang itu. Dia juga tak pernah melihat orang itu sebelumnya.
"Jangan takut. Saya bukan orang jahat. Mari!" ajaknya lagi.
Suaranya yang lembut! membuat Azwan tak merasa takut lagi. Dia kemudian mengikuti langkah orang itu. Mereka berdua berjalan menuju sebuah musala yang berada tak jauh dari sana.
"Kenapa dia membawa gue ke sini?" tanyanya dalam hati saat orang itu membawanya ke musala.
__ADS_1
Azwan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia tak pernah melihat ada musala di sekitar sini. Ataukah dirinya yang terlalu fokus pada hal lain sehingga tak melihat ada musala kecil di tempat ini.
"Kenapa diam saja Nak?" tanya orang itu.
Azwan menatap orang itu dengan pandangan kebingungan. Dia hanya berdiri mematung di depan pintu musala.
"Mari Nak silahkan masuk. Adukan semua keluh kesahmu pada sang Pencipta. Insya allah, Allah akan mendengarkan setiap doa-doa mu," ucap orang itu seolah tahu apa yang sedang melanda Azwan.
Azwan masih terdiam di ambang pintu. Pandangannya memindai setiap sudut tempat itu. Memastikan bahwa di sana adalah tempat yang aman.
"Jangan takut. Di sini bukan tempat orang jahat kok," kata orang itu seolah dapat membaca pikiran Azwan.
Azwan hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian dengan mengucap basmalah, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam musala. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba ia rasakan. Ada rasa damai dan tenteram saat kakinya menyentuh dinginnya lantai musala.
*****
Malam semakin beranjak naik. Tapi Azwan belum pulang juga. Citra tampak gelisah memikirkan Azwan. Dia takut terjadi apa-apa dengan pemuda itu. Dia sudah berusaha menghubungi ponsel pemuda itu. Namun Azwan tak mengangkatnya.
"Kamu ke mana sih?" tanyanya entah pada siapa. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan yang luar biasa.
Citra mondar-mandir di depan kamarnya. Dia berulang kali melongok ke lantai bawah untuk melihat apakah Azwan sudah pulang atau belum. Namun tak ada siapapun di sana. Dia semakin khawatir saat ponsel Azwan tak bisa dihubungi.
Akhirnya Citra memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Saat akan membuka pintu kamar, terdengar seru mesin motor memasuki pekarangan rumah. Cepat-cepat Citra turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang.
Citra sudah hampir sampai di anak tangga terakhir saat wajah Azwan terlihat muncul dari balik pintu. Citra bermaksud mendekati Azwan. Tapi dia kembali teringat kata-kata Azwan tadi. Dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghampiri Azwan.
Citra bermaksud untuk kembali ke kamarnya saat Azwan menegurnya.
"Citra," panggilnya.
Citra menghentikan langkahnya. Tapi dia tak menoleh ke arah Azwan. Dia tetap memunggungi Azwan. Dia tak berani menatap wajah Azwan yang mungkin juga masih marah padanya.
"Maafin gue. Gue udah kasar sama elo tadi," ucapnya.
Mendengar permintaan maaf Azwan, Citra perlahan-lahan menoleh ke belakang. Dia memberanikan diri menatap wajah pemuda yang pernah menjadi raja dalam hatinya itu.
"Maafin kata-kata gue yang kasar. Gue nggak bermaksud untuk mengusir atau menghina elo tadi. Gue cuman... gue cuman... gue cuman ngerasa cemburu aja ngelihat elo jalan sama cowok lain," ungkap Azwan.
Citra menghela napas panjang. Kemudian seulas senyum terkembang di wajahnya. Sorot matanya tak memperlihatkan jika dirinya merasa marah dan benci pada Azwan.
"Aku udah maafin kamu kok. Kita kan saudara. Udah sepantasnya saling memaafkan," ucap Citra.
Azwan memaksakan senyumnya saat mendengar ucapan Citra. Walau tak bisa dipungkiri jika hatinya terasa sakit saat mendengar Citra menyebutnya saudara. Ada perasaan tak rela kala Citra menyebutnya saudara.
__ADS_1