
Kini hari-hari Tian selalu diliputi perasaan bahagia. Tak pernah ada rasa sedih atau kesepian dalam hari-harinya kini.
Seperti pagi ini, Tian tampak sudah rapi dengan pakaian kebanggaannya. Dia telah siap untuk berangkat menjemput sang pujaan hati.
"Iya ini udah mau berangkat. Tunggu di rumah ya. Bye sweety. Assalamu'alaikum," ucap Tian.
Mendengar Tian memanggilnya sweety, wajah Citra merona merah. Jantungnya berdegup kencang kala mendengar panggilan itu.
"Hayo lho senyum-senyum sendiri! Lagi senyumin siapa tuh?" ujar Anne.
Citra terlonjak kaget mendengar suara Anne. Tapi rasa kagetnya tak bisa menyembunyikan rona merah dalam wajahnya.
"Ha! Pasti habis ditelepon sama Pak Tian ya," ucap Anne lantang.
Wajah Citra kian merona mendengar nama Tian disebut oleh adiknya itu.
"Cie... cie... kakakku sold out akhirnya." Azwan ikut-ikutan menggoda Citra. Membuat gadis itu semakin tersipu malu.
Hatinya sedikit sakit saat mendengar Azwan menyebut dirinya sebagai kakak. Ada perasaan aneh yang menyergap hatinya saat mendengar kata itu.
"Cie... cie... semakin tersipu malu dia. Cie... cie!" goda Anne lagi.
Citra menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Assalamu'alaikum." Tian mengucapkan salam ketika sampai di rumah Citra.
"Assalamu'alaikum," ulangnya saat tak ada yang menjawab salamnya.
"Wa'alaikumusalam." Sayup-sayup terdengar suara seseorang menjawab salamnya.
Wajah Tian semakin berseri saat tahu siapa yang menjawab salamnya dan membukakan pintu untuknya.
"Masuk dulu Pak. Papa mau ngomong sama Pak Tian," ucap Citra mempersilahkan.
Tian menganggukkan kepalanya. Sekarang, dia tak memaksa Citra untuk memanggilnya dengan panggilan lain. Dia membebaskan Citra memanggilnya apa saja. Asalkan Citra nyaman dengan panggilan itu.
...****************...
Berita tentang pertunangan Citra cepat tersebar ke seluruh sekolah. Banyak diantara mereka yang penasaran siapa lelaki yang mau dengan Citra. Tak terkecuali Sasha dan Shintya. Kedua gadis itu merasa iri sekaligus tak suka saat mendengar berita itu.
"Gue jadi penasaran siapa cowok yang mau sama cewek udik kayak dia?" Sasha bertanya sambil menunjuk Citra dengan dagunya.
"Sama. Gue juga penasaran. Masa sih ada cowok yang mau sama cewek kayak dia?" sahut Karin.
"Paling juga dia udah ngasih badannya. Makanya tuh cowok mau sama dia." Timpal Shintya yang juga sedang menatap Citra dengan tatapan iri.
"Heh! Citra memang nggak secantik kalian. Tapi dia masih punya hati dan harga diri. Enggak perlu umbar badan juga banyak yang mau sama dia," sahut Maria.
__ADS_1
Ketiga gadis itu menoleh dan mendapati Maria berdiri sambil melipat tangannya di dadanya.
"Sebelum ngatain orang, sebaiknya kalian ngaca dulu. Apa kalian udah pantas dan suci? Sampai-sampai kalian dengan nggak tahu dirinya ngatain orang lain?" lanjut Maria.
Matanya kini menatap Shintya yang juga sedang menatapnya.
"Gue peringatan kalian ya. Sebelum terlambat, sebaiknya kalian taubat deh. Sebelum Tuhan marah dan mencabut nyawa kalian satu per satu." Ucapnya seraya melangkah menjauh dari ketiganya.
"Hhuuuuhh! Dasar cewek stress," umpat Karin.
"Bukan stress lagi sih dia. Udah gila dia," timpal Shintya.
Sasha hanya diam mendengar ucapan kedua gadis yang ada di sampingnya itu. Dia tak ikut menimpali ucapan mereka.
"Yuk ah. Ke kantin. Lapar gue!" ajak Karin.
"Dasar tukang makan," cibir Shintya.
"Yuk Sha! Cabut!" ajak Shintya pada Sasha.
Sasha tak merespon ajakan Shintya. Dia masih terdiam di tempatnya.
"Sha!" panggil Shintya.
"Hah! Iya kenapa?" tanya Sasha.
Sasha menggeleng. "Kalian tadi ngajak ke mana? Kantin ya? Yuk, gue juga lapar!"
Kedua temannya itu mengerutkan keningnya. Tapi sejurus kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Keduanya lantas berjalan mengikuti Sasha yang sudah melangkah menuju kantin.
Sementara itu, Citra, Anne, dan Maria tampak sedang menikmati jam istirahat mereka dengan bertukar cerita. Maria bercerita tentang liburannya ke Manado. Dia juga bercerita tentang indahnya laut Bunaken.
"Oh iya. Ada tuh oleh-oleh buat kalian," ucap Maria.
"Wah, makasih Maria!" ucap Citra tulus.
"Sama-sama. Sebenarnya udah dari kemarin gue siapin. Tapi gue lupa bawa. Baru sekarang deh gue bawa," sahut Maria.
"Dasar lo! Belum juga tua udah pikun aja. Untung hidung lo nggak ketinggalan," gurau Anne.
"S****n lo. Kalau hidung gue ketinggalan, gue napas pakai apa dong?" sahutnya.
"Ya pakai paru-paru lah. Manusia kan bernapas pakai paru-paru," ucap Anne.
"Iya ya. Eh tapi kalau nggak ada hidung gimana gue hirup udaranya?" tanya Maria lagi.
"Pakai mulut lah," jawab Anne enteng.
__ADS_1
"Kan kalau lagi pilek, kita menghirup udara pakai mulut," lanjutnya.
Maria manggut-manggut mendengar jawaban Anne. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
"Citra!" panggil Tian.
Citra menoleh. Senyum manis terukir di wajahnya saat melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Hemm... dasar pangeran bucin," lirih Anne. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Citra sama Pak Tian pacaran ya?" Maria menggamit lengan Anne seraya berbisik.
Anne tersenyum. "Elo nggak tahu ya kalau mereka berdua udah tunangan?" ujar Anne.
Maria menggeleng. Gadis itu memang sempat mendengar kabar bahwa Citra sudah bertunangan. Tapi dia tak tahu dengan siapa?
"Udah hampir sebulan mereka tunangan. Elo benar-benar nggak tahu?" tanya Anne meyakinkan.
Maria lagi-lagi menggeleng. Dia benar-benar tak tahu tentang itu.
"Mereka berdua udah lama dekat. Sebelum kita ujian kemarin, mereka udah dekat. Bahkan saat Citra masih jadi pacarnya Azwan, Pak Tian udah deketin Citra," jelas Anne.
Maria tersenyum simpul mendengar penjelasan Anne. Dalam hati dia merasa bersyukur dan ikut senang melihat Citra bahagia.
"Bisa ikut saya sebentar?" ujar Tian saat dirinya sudah berdiri di depan Citra.
"Ke mana Pak?" tanya Citra.
Tian tersenyum. "Ke kantin," jawab Tian.
Citra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ehem... Ehem! Citra doang nih yang diajak? Kita berdua nggak nih?" ujar Maria.
Tian tertawa mendengar ucapan Maria. Dia lantas berkata, "mau ikut juga? Ya udah ayo!"
Wajah Maria berseri-seri mendengar itu. "Beneran Pak?" tanyanya meyakinkan.
Tian mengangguk. "Mau nggak? Kalau nggak mau ya udah," ucap Tian.
"Mau... mau... mau! Ya kali kita nolak rejeki. Ya nggak An?" sahut Maria.
Anne hanya tersenyum melihat tingkah Maria. Dia berharap Maria benar-benar telah berubah. Dia berharap Maria tak lagi berbuat jahat pada Citra.
Di kejauhan, seseorang tengah menatap Citra dengan penuh kebencian. Dia tak rela melihat Citra bahagia sementara dirinya harus menanggung cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dia tak rela lelaki idamannya memilih wanita lain sebagai pendampingnya.
"Jangan kotori hati dengan benci. Jika kita tak suka pada seseorang, cukup berdoa semoga kita selalu bisa dilimpahi kebahagiaan seperti dia." Ucap seseorang sambil berdiri dan menatap ke arah taman sekolah.
__ADS_1