Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 28


__ADS_3

Gadis berambut pirang itu tersenyum manis pada Arga. Dia mengulurkan tangannya bermaksud untuk bersalaman dengan pemuda tampan itu. Namun dengan cueknya Arga beranjak pergi dari hadapan gadis itu. Dia berjalan kembali ke kamarnya.


"Elo aja yang temenin dia Mas. Gue mau belajar. Besok ada ulangan," ucap Arga pada Nanda.


Nanda melongo mendengar ucapan sang adik. Belum sempat ia melayangkan protesnya, Arga sudah naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Kapan sih dia mau menganggap aku ada?" ujar gadis itu. Entah pada siapa dia berbicara.


Nanda mengulas senyum. Kemudian dia berjalan mendekati gadis itu.


"Elo udah lihat sendiri kan gimana Arga? Sebaiknya elo lupain dia. Lupain Arga. Buka hati lo buat cowok lain. Jangan terlalu berharap pada Arga yang jelas-jelas udah nolak lo," sahut Nanda.


Gadis itu terdiam mendengar ucapan Nanda yang panjang lebar itu. Dia menghela napas panjang. Kemudian mata birunya menatap Nanda dengan pandangan penuh tanya.


"Apa dia sudah punya kekasih? Apa dia mencintai gadis lain selain aku?" tanyanya dengan bahasa Inggris.


Nanda mengangkat bahunya. "May be yes. May be no," jawab Nanda.


"Tapi yang jelas, Arga udah mengikat hatinya untuk orang lain. Gadis yang bisa membuat Arga menjadi anak rumahan. Bukan anak pembangkang," tegas Nanda.


Gadis bermata biru itu menundukkan kepalanya. Dia sepertinya menyesali sesuatu yang telah terjadi di masa lalu.


"Apakah gadis itu, gadis yang sering bersama dengan Arga?" Gadis itu menunjukkan sebuah foto pada Nanda. Dalam foto itu jelas terlihat wajah manis Citra sedang tersenyum. Di sampingnya ada Arga yang tampak tersenyum juga sambil menatap wajah Citra.


Lagi-lagi Nanda tersenyum. Dia tak mengiyakan atau membantah. Dia hanya mengatakan jika gadis itu adalah gadis yang baik-baik. Gadis yang selalu bisa membuat kedua orang tuanya tersenyum.


"Aku akan menemui gadis itu. Aku akan memintanya untuk menjauh dari Arga," katanya akhirnya.


"Silahkan saja. Tapi satu hal yang harus kamu ingat," sahut Nanda.


"Arga nggak akan tinggal diam saat ada yang menyakiti gadis pujaannya," ucap Nanda akhirnya.


Gadis bermata biru itu menahan geram. Dia merasa tertantang dengan ucapan Nanda barusan. Dia juga ingin melihat seberapa cintanya Arga pada gadis itu.


Tanpa membalas ucapan Nanda, gadis bermata biru itu pergi meninggalkan rumah itu. Dia pergi dengan membawa sejumput kecewa dan juga rasa cemburu dalam hatinya.


Sementara itu di dalam kamarnya, Arga masih sibuk dengan ponselnya. Sepertinya dia baru saja menelpon seseorang.


"Udah pergi tuh bule kampung?" Ujar Arga saat telinganya mendengar deru mesin mobil menjauh dari rumahnya.


Senyum miring terukir di wajahnya. Dia lega karena gadis pirang itu telah pergi dari rumahnya. Tapi dia juga harus ekstra hati-hati lagi. Karena gadis berambut pirang itu akan melakukan apapun juga untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Gue akan selalu melindungi kamu Citra. Enggak akan aku biarkan seekor semut pun menyakiti kamu." Ucapnya sambil menatap foto Citra yang terbingkai manis di meja belajarnya.

__ADS_1


Tak hanya Arga yang mendapat tamu tak di undang. Citra pun juga sama. Dia mendapat kunjungan dari seseorang yang selama ini berpura-pura menjadi sahabatnya.


"Elo benar-benar nggak tahu malu ya?" bentak Shintya.


Citra mengernyitkan keningnya. Dia tak mengerti arah pembicaraan Shintya.


"Elo udah gue peringati untuk nggak dekat-dekat sama Azwan. Tapi kenapa elo masih deketin dia? Mau lo apa sih?" bentaknya lagi.


Citra hanya diam mendengar pertanyaan Shintya. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tak berniat untuk membalas ucapan Shintya sedikitpun.


"Ini peringatan terakhir dari gue. Sekali lagi gue lihat elo dekat-dekat sama Azwan, lo tahu sendiri akibatnya," ancam Shintya.


Setelah mengatakan ancamannya pada Citra. Gadis itu pergi meninggalkan rumah Citra. Sebelum benar-benar pergi, gadis itu kembali menatap Citra dengan tatapan membunuh.


Citra hanya bisa menghela napas panjang. Dia sama sekali tak memikirkan ucapan Shintya barusan. Yang ia pikirkan justru bagaimana caranya agar dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Tegar.


"Andaikan Mas Tegar tahu perasaan aku. Apa Mas Tegar masih mau dekat sama aku? Dekat sama itik buruk rupa yang dengan lancangnya mendekati pangeran," gumamnya.


Lagi-lagi dia menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak saat mengingat perlakuan manis Tegar pada Wiwit. Perlakuan yang biasa saja sebetulnya. Tapi bagi Citra, itu luar biasa. Perhatian yang mampu membuat hati Citra merasa cemburu.


"Dulu aku pernah jatuh cinta pada Dirga. Pemuda yang berhasil memporak-porandakan hati aku. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia sama sekali tak melirikku. Dia hanya menganggap aku tak lebih dari seekor lalat yang menjijikkan." Citra terus bergumam sendirian.


Tanpa dia sadari sepasang mata sedang mengawasi dirinya. Sepasang telinga sedang mendengarkan ungkapan dari hati kecilnya. Dan sepasang tangan ingin memeluknya saat ini.


Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Semua siswa siswi menyambut hari ini dengan suka cita. Termasuk Anne dan Citra. Mereka berdua tampak senang sekali karena akhirnya ujian itu berakhir juga.


"Hah! Lega deh rasanya. Akhirnya aku bisa bebas nonton drakor tanpa ada kereta api uap," ucap Anne asal.


Citra yang mendengar itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun senyuman manis tetap terukir di wajahnya.


"Eh Citra. Besok kan udah nggak ujian tuh. Kamu nginep dong di rumah. Biar aku ada temannya kalau nonton drakor."


"Emang boleh aku menginap di rumah kamu?" tanya Citra.


"Ya boleh lah. Siapa juga yang ngelarang kamu nginep di sana. Itu kan rumah kamu juga Cit," jawab Anne.


"Emang nggak ada yang keberatan kalau aku nginep di rumah kamu?" tanya Citra lagi.


"Keberatan? Emangnya siapa yang keberatan sih?"


"Gue." Sebuah suara menyahut ucapan Anne. Keduanya lantas menoleh ke belakang. Tampaklah di sana wajah jutek Shintya.


Shintya berjalan mendekati keduanya. Tatapan matanya terkunci pada sosok Citra yang kini tengah menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Gue yang keberatan kalau cecunguk ini nginep di rumah lo." Shintya berkata sambil menoyor kepalan Citra.


"Apaan sih? Rumah juga rumah gue. Kenapa jadi elo yang ribet," sahut Anne.


Shintya tersenyum miring mendengar sahutan dari Anne. Kemudian dia kembali mendekat ke arah Citra yang semakin menundukkan kepalanya.


"Gue rasa elo nggak lupa sama omongan gue semalam," bisik Shintya.


Citra mengangguk pelan. Dia tak berani menatap wajah Shintya yang terlihat seperti singa kelaparan.


"Bagus. Jangan macam-macam sama gue. Karena gue bisa bikin hidup lo seperti di neraka kalau elo berani deket-deket sama Azwan lagi," ancamnya dengan suara lirih.


Citra hanya mengangguk pelan. Dia tak berani membantah ucapan Shintya. Dia merasa takut dengan ancaman yang Shintya katakan padanya. Dia tak mau menambah beban hatinya lagi. Dia hanya ingin bersekolah dan lulus.


"Dan elo. Gue peringati sekali lagi. Jangan ikut campur urusan gue sama Citra." Ucapnya sambil menatap tajam ke arah Anne.


"Elo itu cantik. Elo harusnya berteman sama gue dan gengnya Sasha. Dan elo bisa masuk ke jajaran cewek paling populer di sekolah," ucap Shintya.


"Daripada elo temenan sama cewek cupu ini. Dapat apa lo?" ejeknya.


"Tawaran elo menarik juga. Tapi makasih deh. Gue nggak tertarik temenan sama orang yang tukang bully kayak elo dan Sasha," tegas Anne.


"Yuk Cit kita pulang." Anne mengajak Citra untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Shintya yang masih berdiri dengan menahan geram.


Citra masih terdiam. Dia tak bicara sepatah katapun walau sekarang dia sedang berdua dengan Anne saja.


"Kamu nggak apa-apa kan Cit?" tanya Anne.Gadis itu merasa khawatir karena Citra diam saja.


"Enggak. Aku nggak apa-apa."


Fiuh! Akhirnya keluar juga suara Citra. Anne mengulas senyum saat mendengar lirih suara Citra.


"Syukur deh kalau kamu nggak apa-apa," sahut Anne.


"Kita makan dulu yuk. Aku lapar nih." Anne berkata sambil memegangi perutnya.


Citra tersenyum mendengar ucapan Anne. Kemudian dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kita makan bakso di sana aja ya." Katanya lagi sambil menunjuk warung bakso yang ada di seberang jalan.


Lagi-lagi Citra menganggukkan kepalanya. Gadis itu lantas mengikuti langkah Anne. Baru beberapa langkah sebuah suara mengejutkan keduanya. Suara seorang perempuan yang memanggil nama Citra. Suara yang terasa asing di telinga keduanya. Keduanya pun menoleh ke belakang.


"Siapa ya?"

__ADS_1


__ADS_2