Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 43


__ADS_3

Citra sedang memilih buku untuk ia baca di perpustakaan sekolah. Dia menyusuri tiap rak yang memajang berbagai buku novel. Citra mengambil salah satu novel dan membawanya ke bangku di samping jendela.


Citra mulai membuka novel itu. Dia mulai membaca halaman pertama. Namun bayangan wajah Tian yang sedang tersenyum, memenuhi buku itu. Citra memejamkan matanya seraya mengucap istighfar.


Gadis itu melanjutkan lagi membaca. Dia mulai fokus dengan bahan bacaannya saat sebuah tangan menariknya agar berdiri.


"Ternyata elo di sini!" sentak Shintya. Matanya menatap tajam ke arah Citra yang berdiri di depannya.


"Ayo ikut gue!" Shintya menarik lengan Citra dengan kasar. Aksinya itu sempat di cegah oleh Bu Hanifah, penjaga perpustakaan. Tapi Shintya sama sekali tak menggubris perkataan Bu Hanifah.


Shintya terus menarik lengan Citra hingga ke tengah lapangan basket. Di sana sudah ada tiga ember air. Entah untuk apa air itu nantinya.


"Elo itu benar-benar nggak tahu diri ya! Udah gue kasih tahu jangan dekat-dekat dengan Azwan. Elo masih aja dekati dia. Mau elo apa sih?" sentak Shintya.


Citra diam saja. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sama sekali tak merespon ucapan Shintya.


"Heh!" Shintya memegang dagu Citra dan mengangkat wajah gadis itu.


"Enggak usah pura-pura polos. Enggak usah pura-pura jadi orang yang paling tersakiti. Gue tahu! Karena elo nggak bisa ngambil hati Azwan, elo jadi ngedeketin orang tuanya, iya kan?"


Shintya berteriak tepat di depan wajah Citra. Tangannya juga menunjuk tepat di depan muka Citra. Shintya mengeluarkan segala unek-uneknya pada Citra.


Citra semakin menundukkan kepalanya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Isak tangis mulai terdengar.


"Enggak usah sok nangis lo. Enggak usah merasa sok teraniaya. Gue udah muak sama lo Cit!" sentak Shintya.


Tangannya mengangkat ember berisi air dan mengguyurkannya ke badan Citra. Citra menunduk takut saat tangan Shintya terangkat tinggi.


Saat Shintya menuangkan air itu ke atas kepala Citra, sesosok tubuh jangkung merangkulnya dan...


BYUUURRR!!!!!


Air itu membasahi tubuh Tian. Citra menatap wajah Tian yang melindunginya dari guyuran air dari ember yang dibawa oleh Shintya.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Termasuk Sasha dan gengnya. Juga Luna yang tampak kagum pada kesigapan Tian melindungi Citra. Di sisi lain sekolah, Dirga dan beberapa anak basket juga melihat kejadian itu.


"Cari mati tuh si Shintya," ucap Maria yang melihat itu bersama dengan Sasha dan yang lain.


Sasha tak merespon ucapan Maria. Matanya terus terfokus pada dua orang yang tengah berpelukan di tengah lapangan itu.


"Bener banget. Pasti bakalan panjang tuh urusannya kalau kayak gini," sahut Karin.


Sasha masih saja terdiam. Dia masih memperhatikan Citra yang masih dalam dekapan Tian.


Seseorang mendekat ke arah keduanya. Luna segera menghampiri Citra dan membawanya ke ruang guru.


"Kamu nggak apa-apa kan Citra?" tanya Luna. Dia melirik ke arah Tian. Berharap lelaki itu memperhatikan dirinya yang memberi perhatian pada Citra.


Citra menggeleng. "Enggak apa-apa Bu. Terimakasih," ucap Citra.


Luna tersenyum mendengar ucapan anak didiknya itu. Guru muda itu segera membawa Citra masuk ke dalam ruang guru dan memberikan minuman padanya.


Sementara itu, Shintya tampak gemetar karena ketakutan. Dia terlihat gugup saat melihat wajah Tian yang tengah menatap ke arahnya.


Tian mengangkat tangannya. Dia memberi kode agar Shintya menutup mulutnya.


"Saya paling nggak suka ada tindakan perundungan. Apalagi hal itu terjadi di sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi tempat belajar," ucap Tian. Matanya menatap tajam ke arah Shintya.


Shintya hanya bisa menundukkan kepalanya saja. Dia tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sang guru.


"Terlepas dari apapun masalah diantara kalian, saya nggak suka ada tindak perundungan seperti ini," imbuhnya.


"Tindakan kamu ini sudah masuk kategori kriminal. Jika Citra mau, dia bisa menuntut kamu dengan tuduhan perundungan dan tindakan tidak menyenangkan," lanjutnya.


Shintya semakin gemetar mendengar ucapan Tian. Dia tak ingin masa depannya hancur dan masuk penjara. Dia masih ingin sekolah dan menuntut ilmu.


*****

__ADS_1


Semenjak kepergian Citra dari rumah. Tegar pun memutuskan untuk pergi juga dari rumah Bu Aminah. Dia memilih mengontrak rumah yang tak jauh dari tempat kerjanya.


Awalnya Bu Aminah dan Pak Hamzah tak mengizinkan Tegar keluar dari rumah ini. Tapi Tegar terus menyakinkan keduanya. Dia terus meyakinkan kedua orang tua angkatnya untuk mengizinkannya pergi dari rumah.


Tak hanya itu saja. Saat ada mutasi, Tegar dengan tegas menyatakan ingin di mutasi. Padahal komandannya tak ingin memutasi Tegar. Tapi karena Tegar terus mendesak dan mengatakan alasan yang masuk diakal, akhirnya komandannya mengabulkan permintaannya.


"Bu, Pak! Tegar mau pamit. Mulai besok, Tegar akan pergi ke Kalimantan. Tegar akan pindah tugas ke sana," pamitnya.


Bu Aminah tak bisa berkata apa-apa lagi. Wanita paruh baya itu hanya bisa meneteskan air matanya. Pak Hamzah juga demikian. Pria itu tak bisa mencegah atau meminta Tegar untuk tetap di sini bersama dengan mereka.


"Bapak sama Ibu merestui langkahmu Nak. Semoga kamu bisa bahagia di tempat yang baru," ucap Pak Hamzah.


Tegar mengangguk. Setelah berkata demikian, Tegar segera berpamitan untuk berangkat. Berat rasanya meninggalkan kedua orang yang telah mengasuhnya sejak kecil. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tak ingin semakin patah hati jika terus berada di kota ini. Dia ingin menyembuhkan luka hati yang selama ini coba ia balut sendiri.


"Mas Tegar!" Panggil Wiwit saat dirinya baru saja turun dari angkot.


Tegar menoleh ke arah Wiwit. Sedetik kemudian pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak ingin melihat wajah yang sudah menghancurkan cintanya.


"Mas Tegar mau kemana?" tanyanya saat dia sudah berada di dekat Tegar.


Tegar tak merespon pertanyaan Wiwit. Dia tetap diam dan menatap ke satu arah dengan tatapan menerawang.


"Mas Tegar!" Wiwit mengulangi panggilannya saat Tegar tak juga meresponnya.


"Kenapa sih kalau sama aku, Mas Tegar dingin banget? Padahal aku selalu perhatian sama Mas Tegar." Wiwit bergelayut manja di lengan Tegar.


Tegar berusaha melepaskan tangan Wiwit. Pemuda itu merasa risih dengan sikap Wiwit yang dinilai sudah keterlaluan.


Tanpa berkata apapun juga, Tegar melangkah meninggalkan Wiwit yang masih berdiri di sana. Tegar terus melangkah tanpa peduli dengan suara Wiwit yang terus memanggil namanya.


"Ish! Selalu aja kayak gitu. Giliran sama Citra aja, dia bisa lembut. Giliran sama aku, udah kayak kulkas sepuluh pintu," gerutunya.


Wiwit membalikkan badannya dan berjalan menuju ke rumahnya. Saat dia berada di depan pintu, gadis itu mendengar percakapan kedua orang tua angkatnya. Matanya membulat sempurna saat mendengar berita itu.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara cewek s****n itu. Semua ini gara-gara dia. Gara-gara dia Mas Tegar pergi dari rumah ini. Gara-gara dia juga aku jadi nggak punya kesempatan untuk dekat dengan Mas Tegar. Dan sekarang dia bikin aku semakin jauh dari Mas Tegar," geram Wiwit.


__ADS_2