
Bu Aminah masih terdiam di tempatnya. Wanita itu bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan dari gadis cantik di depannya. Dia ingin sekali jujur. Tapi dia takut jika Anne akan menjauhi Citra. Tapi....
"Tante, tolong jawab pertanyaan aku. Apa benar Citra itu adalah anak kandung Papa?" Anne mengulangi pertanyaannya lagi. Gadis itu sudah tak sabar lagi mendengar jawaban dari Bu Aminah.
Bu Aminah semakin tak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan yang diajukan oleh Anne. Wanita itu menatap Anne dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Em... sebenarnya... sebenarnya Citra itu...."
Anne sudah tak sabar lagi mendengar suara Bu Aminah yang terdengar gugup itu. Gadis itu lantas beranjak dari kamar tidur Citra. Dia berjalan cepat keluar dari kamar itu menuju ruang tamu.
Bu Aminah berusaha mencegah langkah Anne. Tapi usahanya gagal. Wanita itu tak berhasil mencegah langkah Anne yang cepat.
"Jadi semua ini benar?" ujar Anne. Matanya menatap kedua orang tuanya yang tengah memeluk Citra dengan sayang.
"Jadi apa yang aku dengar tadi adalah benar?" pekiknya.
Pak Bayu, Bu Mirna, dan Citra menoleh bersamaan. Mereka terkejut mendengar suara Anne yang terdengar marah itu.
Citra berjalan mendekati Anne. Tapi langkahnya langsung berhenti kala tiba-tiba ada yang memeluknya. Anne menubruk tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Selama ini aku selalu berdoa bisa mempunyai saudara perempuan. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar memberikan aku seorang saudara perempuan." Anne berkata disela isak tangisnya. Bukan tangis marah atau kecewa. Tapi tangis haru dan bahagia. Dia kemudian melepaskan pelukannya.
"Dan sekarang Tuhan kabulkan doa-doa aku. Tuhan memberikan aku saudara perempuan yang baik dan cantik," ucapnya akhirnya. Senyum bahagia tergambar di wajah manisnya.
Citra ikut tersenyum melihat senyuman bahagia itu. Semua yang ada di sana pun juga ikut tersenyum melihat itu. Bahkan Bu Aminah sampai meneteskan air mata melihat berapa Anne menyayangi saudaranya.
"Citra," panggil Pak Bayu.
"Kamu mau kan tinggal sama Papa?"
Citra menatap ke arah Bu Aminah dan Pak Hamzah secara bergantian. Seolah meminta persetujuan dari kedua orang tua yang telah membesarkan dirinya itu.
"Mau ya Nak? Biar Papa bisa menebus semua dosa-dosa Papa sama Mama kamu." Pak Bayu berusaha membujuk Citra agar mau tinggal bersama dengannya.
Tanpa diduga semua orang. Citra menggelengkan kepalanya. Pak Bayu mengerutkan kening melihat gelengan kepala anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Terimakasih atas tawaran Bapak. Tapi maaf. Saya nggak bisa tinggal sama Bapak. Saya mau tinggal sama Bapak Hamzah dan Bu Aminah saja," tolak Citra.
"Meskipun mereka bukan orang tua kandung saya. Tapi merekalah yang merawat saya sejak bayi. Mereka yang membantu saya menjadi seperti sekarang ini. Mereka yang selalu ada untuk saya di saat-saat terburuk dalam hidup saya," lanjutnya.
Bu Mirna terkesiap mendengar jawaban Citra. Wanita cantik itu tak menduga jika Citra akan menolak ajakan suaminya.
"Tapi Papa ingin sekali menebus semua kesalahan-kesalahan Papa di masa lalu. Papa ingin merawat kamu Sayang," ucap Pak Bayu. Lelaki itu masih berusaha membujuk Citra agar mau tinggal bersama dengannya.
Citra menatap Pak Bayu dengan tatapan penuh kelembutan. Kemudian dia tersenyum seraya berkata, "menebus kesalahan masa lalu tak harus dengan mengajak saya tinggal bersama kan? Dengan kalian mau mengakui dan menganggap saya ada aja, saya sudah sangat berterimakasih."
Pak Bayu tak bisa menahan air matanya. Lelaki itu menjatuhkan dirinya dan bersujud di kaki Citra. Hal yang sama dilakukan juga oleh Bu Mirna. Perempuan itu juga berlutut di kaki Citra.
"Maafkan Papa Nak. Maafkan kelalaian dan kebodohan Papa selama ini," ucap Pak Bayu.
"Maafkan Mama juga Nak. Maafkan kesalahan Mama. Enggak seharusnya Mama bersikap egois. Maafkan Mama Nak," ucap Bu Mirna.
"Jangan seperti ini Pak, Bu. Jangan seperti ini," ujarnya.
Anne yang sedari tadi hanya diam saja tampak tak kuasa menahan air matanya. Dia tak kuasa menahan rasa haru dalam dadanya.
Pak Bayu dan Bu Mirna akhirnya mau juga berdiri. Keduanya memeluk Citra dengan erat. Lelehan air mata masih saja menetes dari kedua netra tuanya.
*****
Hari begitu cepat berlalu. Tak terasa ujian kenaikan kelas akan segera dimulai. Semua siswa dan siswi tampak sibuk belajar dan berlatih. Tak terkecuali Anne dan Citra. Keduanya sekarang sering sekali belajar bersama.
Seperti siang ini, mereka belajar bersama di rumah Citra sembari menemani Citra menjaga rumah.
"Eh Citra." Anne memanggil Citra sembari mengunyah cilok yang tadi dia beli sebelum ke rumah Citra.
"Kamu beneran nggak marah atau dendam gitu sama Papa? Secara kan Papa nggak pernah ngerawat kamu."
Citra tersenyum mendengar pertanyaan konyol dari saudara tirinya itu.
"Buat apa Anne? Dendam cuman akan membuat hati kita semakin gelap dan kotor," jawab Citra.
__ADS_1
"Kalaupun aku menyimpan dendam dan amarah itu, apa itu akan bisa menghidupkan ibuku lagi? Kan nggak mungkin. Jadi ya aku ikhlasin aja. Lagian dengan ikhlas hati kita bisa lebih tenang dan tenteram," ucapnya lagi.
Anne manggut-manggut mendengar jawaban bijak dari Citra. Rasa kagumnya pada Citra tak pernah surut bahkan semakin bertambah. Walau kadang rasa iri juga menyerang hatinya.
"Kalau sama Mama?" tanya Anne.
"Kamu nggak marah atau dendam juga sama Mama?"
Citra menggeleng. "Seperti kata aku tadi. Buat apa menyimpan dendam dan amarah? Toh semuanya sudah terjadi kan? Enggak mungkin bisa kita tarik mundur lagi kan?"
Anne lagi-lagi hanya bisa manggut-manggut mendengar jawaban Citra. Jawaban yang sama sekali tak pernah ia duga.
"Sekarang tugas kita adalah memperbaiki yang salah. Meluruskan yang bengkok dan merapikan yang berantakan," ujar Citra.
"Maksudnya?" Anne mengerutkan keningnya. Dia tak paham maksud ucapan Citra barusan.
Citra hanya tersenyum mendengar pertanyaan Anne. "Maksudnya tuh, sekarang kita berusaha untuk memperbaiki diri dan apa yang salah di masa lalu. Supaya ke depannya kita nggak mengulangi kesalahan itu. Dan supaya kita bisa berhati-hati dalam melangkah," jelas Citra.
Anne membulatkan bibirnya. Kepalanya mengangguk mengerti.
"Udah ah belajar lagi. Setelah ini kita akan coba latihan soal." Citra berkata sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Siap Bu Guru," ucapnya.
Citra tersenyum mendengar ucapan Anne. Kemudian mereka kembali fokus pada kegiatan belajar mereka berdua.
Tanpa mereka sadari tiga pasang mata melihat keduanya dari tempat yang berbeda. Ketiganya menampakkan sorot kagum pada sosok Citra yang begitu dewasa menghadapi masalah.
"Aku semakin kagum sama kamu. Kamu adalah cewek yang begitu lapang dada menerima semua cobaan dari Tuhan," ucap seseorang yang berada tak jauh dari tempat mereka belajar.
"Elo makin dewasa aja Citra. Gue makin kagum aja sama kedewasaan dan cara berpikir lo. Gue makin sayang sama elo." Arga bergumam sambil menatap ke arah Citra. Senyum tak lepas dari wajah tampannya.
"Semakin gue jahat ke elo. Elo semakin membuka hati untuk maafin gue. Semakin gue berusaha merusak suasana hati elo, hati elo selalu memberikan ruang untuk tetap tenang," ucap Azwan dalam hati. Dia merasa menyesal telah menyakiti Citra. Tapi dia juga tak bisa mungkir kalau hanya dengan cara ini dirinya bisa melepaskan cintanya.
"Lagi belajar ya," tegur sebuah suara.
__ADS_1