Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 26


__ADS_3

Satria memaksakan senyumnya saat Avita dan calon suaminya berpamitan untuk pulang. Ada lubang yang menganga dalam hatinya saat melihat kebersamaan mereka.


Hatinya berdenyut nyeri menyaksikan kebersamaan Avita dengan pria pilihan hatinya. Kini tak ada lagi orang yang akan mendengarkan curahan hatinya. Tak ada lagi yang setia mendengarkan semua kisahnya. Tak ada lagi yang tulus menyayangi dirinya tanpa mengharapkan imbalan.


Satria mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menyesal telah menyia-nyiakan sebongkah hati yang begitu tulus menyayangi dirinya.


"Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Tapi belajarlah untuk selalu menyayangi orang yang tulus menyayangi kamu," ucap Avita sebelum beranjak pergi.


Satria ingin berteriak sekencang-kencangnya. Dia ingin mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Rasa sesak yang membuatnya tak bisa bernapas. Rasa yang membuatnya seperti ikan yang tak berada di tempatnya.


Tak hanya Satria yang merasakan sesak itu. Azwan pun juga tengah merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada Citra kali ini.


"Aku nggak bisa lagi sama kamu. Terlepas apakah kamu saudara aku atau bukan," ucap Citra saat Azwan menelponnya tadi.


"Please Citra. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku nggak akan nyakitin kamu lagi," mohon Azwan.


"Maaf Wan. Aku memang nggak dendam ataupun benci sama kamu. Tapi aku udah terlanjur kecewa sama kamu. Aku udah terlanjur sakit hati sama sikap kamu," jawab Citra.


"Citra please. Aku sayang banget sama kamu. Aku janji nggak akan menyakiti kamu lagi. Please kasih aku satu kali lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Azwan masih berusaha membujuk Citra agar mau menerimanya kembali.


Citra tetap pada pendiriannya. Dia tak mau menerima Azwan lagi. Terlebih lagi sekarang dirinya dan Azwan adalah saudara. Walau mereka lahir dari rahim yang berbeda.


Azwan tak bisa lagi memaksa Citra untuk kembali bersama dengannya. Dia tak bisa lagi memaksa Citra untuk merajut kembali tali kasih mereka yang sempat putus termakan api pengkhianatan.


"Maaf aku lagi sibuk sekarang. Makasih udah ngajarin aku arti rasa sakit dan kecewa. Dan makasih karena selama ini kamu udah mau melindungi aku dari perlakuan kasar anak-anak di sekolah," ucap Citra sebelum menutup telponnya.


Azwan hanya terdiam mendengar ucapan Citra. Dia tak bisa menjawab ataupun membalas ucapan Citra barusan. Akhirnya dia hanya bisa pasrah pada keadaan.


Azwan menghela napas panjang. Dia menyesal telah menyakiti Citra. Dia menyesal mengikuti omongan Dirga yang ternyata hanya bohong belaka. Dia menyesal telah mengikuti semua omongan Shintya yang ternyata hanya sebuah kebusukan belaka.


Sekarang hanya rasa sesak yang bergelayut manja di dadanya. Hanya rasa sesal yang ada dalam hatinya. Hanya rasa sesal yang kini menemani hari-harinya.


Malam semakin larut. Suara binatang malam terdengar saling bersahutan. Bintang dan rembulan masih menampakkan sinarnya.


"Mas Tegar ke mana sih? Kok belum pulang." Citra tampak mondar mandir di ruang tamu menunggu sang kakak pulang ke rumah.


Gadis itu sesekali melirik ke jam dinding yang tertancap pasrah di tembok.

__ADS_1


"Udah mau tengah malam. Tapi Mas Tegar belum pulang juga. Ke mana sih tuh orang?"


Gadis itu merasa khawatir dengan kondisi Tegar. Dia mencoba menelpon sang kakak. Namun tak diangkat. Dia tak menyerah. Dia coba sekali lagi. Sama. Tegar tak mengangkat telpon darinya.


"Mas, angkat dong. Mas Tegar di mana sih?"


Citra terus berusaha menghubungi sang kakak. Tapi tetap saja, Tegar tak mau mengangkat telponnya. Akhirnya Citra menyerah. Dia tak lagi mencoba menghubungi kakaknya itu.


"Ya udahlah. Sebaiknya aku tidur aja. Entar juga balik sendiri," ucapnya.


Citra melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Saat akan mencapai pintu kamarnya, dia mendengar suara motor memasuki halaman rumahnya. Citra segera berlari menuju pintu depan dan membuka kuncinya.


"Mas Tegar ke mana aja sih?" Tanyanya saat dirinya berdiri di depan Tegar.


Pemuda itu melepas helmet yang di pakainya. Dia menatap Citra sekilas dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam rumah.


"Mas," panggil Citra. Tangannya mencekal lengan sang kakak agar berhenti melangkah.


"Apa sih? Enggak usah sok peduli," ketus Tegar. Dia mengibaskan tangan Citra hingga gadis itu hampir terjengkang.


"Mas Tegar dari mana sih? Kok jam segini baru pulang? Aku dari tadi nungguin Mas Tegar pulang. Aku khawatir sama Mas Tegar," ucap Citra.


Tegar menyunggingkan senyum miring. Dirinya tak tersentuh sama sekali dengan ucapan Citra barusan. Hatinya saat ini sedang di penuhi oleh rasa yang selama ini membelenggunya.


Tanpa berkata apapun juga, Tegar beranjak dari hadapan Citra. Pemuda itu melangkah menuju kamarnya meninggalkan Citra yang masih terdiam dengan sejuta tanya di hatinya.


*****


Rembulan malam telah berganti dengan mentari. Gelap malam telah pergi berganti dengan terangnya sang dewa pagi.


Citra baru saja selesai mandi dan bersiap untuk sarapan. Saat itulah dia berpapasan dengan Tegar. Ingin rasanya dia menyapa sang kakak. Namun dia kembali ingat sikap Tegar semalam. Jadi Citra menguntungkan niatnya itu.


Tegar melirik sekilas ke arah Citra. Kemudian dia kembali menatap lurus ke depan dan melanjutkan langkahnya menuju belakang rumah.


Citra menghela napas panjang melihat sikap aneh Tegar. Gadis itu hanya bisa mengelus dada dan berusaha memaklumi sikap Tegar.


"Mas Tegar kenapa Mbak?" tanya Citra pada Wiwit.

__ADS_1


Wiwit hanya mengangkat bahunya. Gadis itu memang terlihat cuek dan terkesan tak peduli pada Tegar. Berbeda dengan Citra yang terlalu peduli pada sekitarnya. Tak heran jika ada yang berubah sedikit saja, Citra bisa merasakannya.


"Kok aneh banget sikapnya sejak semalam," lanjut Citra.


Wiwit lagi-lagi mengangkat bahunya. Dia sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi dengan sang kakak.


"Udahlah biarin aja. Entar juga baik sendiri. Kan udah biasa Mas Tegar kayak gitu," ucap Wiwit mencoba menenangkan sang adik.


Citra mengangguk saja. Dia tak mau terlalu berlarut-larut memikirkan sikap aneh Tegar. Karena hari ini dia dan semua anak di sekolahnya akan menghadapi ujian kenaikan kelas.


"Lebih baik aku fokus ke ujian hari ini deh daripada harus terus kepikiran Mas Tegar," ucapnya dalam hati.


"Kamu berangkat sekolah bareng sama siapa Cit?" tanya Wiwit.


"Bareng sama Anne, Mbak. Nanti dia jemput aku ke sini," jawab Citra.


Wiwit membulatkan bibirnya. Dia kemudian kembali fokus pada makanannya.


"Citra udah selesai sarapannya, Nak?" tanya Bu Aminah.


"Udah Bu," jawab Citra.


Bu Aminah tersenyum mendengar jawaban sang anak. "Ya sudah. Buruan ganti bajunya. Arga udah nunggu kamu tuh didepan."


Wiwit menatap Citra penuh tanya. Tadi katanya berangkat bareng Anne. Kenapa sekarang malah Arga yang jemput?


"Iya Bu. Citra ganti baju dulu ya," jawab Citra. Senyum manis terkembang di wajahnya.


Citra bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Tak perlu waktu lama, Citra sudah keluar lagi dan siap untuk berangkat ke sekolah.


Setelah berpamitan, Citra segera keluar dan menemui Arga. Di luar Arga sudah siap dengan motor besarnya. Arga tersenyum saat melihat Citra keluar dari dalam rumahnya.


"Yuk berangkat," ajak Citra. Gadis itu kemudian naik ke atas boncengan motor Arga.


"Sudah siap?" tanya Arga saat Citra sudah naik ke boncengannya.


Citra menganggukkan kepalanya. Setelah mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Arga melajukan motornya. Saat itu Citra menoleh ke arah kamar Tegar. Di sana Tegar menatap ke arahnya melalui jendela kaca. Matanya menyorot tajam ke arah Citra dan Arga.

__ADS_1


__ADS_2