Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 31


__ADS_3

Citra masih terduduk di atas ranjang. Walaupun malam telah larut, namun matanya enggan untuk terpejam. Pikirannya di penuhi oleh suara dan tatapan Tegar.


"Izinkan aku menjadi pendamping hidupmu. Izinkan aku mengisi kekosongan hatimu."


Ucapan Tegar kembali terngiang di telinganya. Ucapan yang membuatnya bimbang dan tak tahu harus bagaimana.


Citra menghela napas panjang. Dadanya kembali terasa sesak dan membuatnya sulit bernapas. Citra memejamkan matanya. Dia berusaha mengusir bayang-bayang Tegar dari benaknya.


"Jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu."


Ucapan Arga tiba-tiba saja kembali terngiang di telinganya. Citra membuka matanya perlahan. Dia mengucapkan istighfar berulang kali dalam hatinya. Dia terus mengulangi itu hingga hatinya tenang dan nyaman.


Citra kembali menghela napas panjang. Dia berusaha menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Tiba-tiba saja ponsel yang ia letakkan tak jauh darinya, berdering. Citra segera meraih ponselnya. Dia membaca identitas si penelpon.


"Kok." Gumamnya dengan kening berkerut.


"Assalamu'alaikum Pak," sapa Citra.


"Wa'alaikumsalam Citra. Udah tidur ya?" balas orang di seberang telpon.


"Em... belum Pak. Ada apa ya Pak?" tanya Citra.


"Jangan panggil Pak dong. Berasa tua saya kalau kamu manggil Pak," ucap orang itu.


Kening Citra kembali berkerut mendengar ucapan orang yang menelponnya. Kenapa dia tidak boleh memanggilnya Pak?


"Ini kan di luar sekolah. Jadi panggil Mas aja ya," ucap orang itu lagi.


Kening Citra semakin berkerut heran. Apa sebenarnya maksud orang ini menelponnya? Kalau memang ada yang ingin disampaikan, kenapa tidak di sekolah saja? Toh dia juga akan bertemu dengan Citra besok.


"Maaf Pak eh Mas. Ada apa ya?" tanya Citra.


Seulas senyum terukir di wajah tampan guru muda itu. Hatinya berbunga-bunga mendengar Citra memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Ah enggak ada apa-apa kok. Cuman pengin ngobrol aja sama kamu," jawabnya.


Citra semakin terheran-heran dibuatnya. Sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan oleh pemuda ini?


"Em... besok kamu ada acara nggak?" tanya guru muda itu pada Citra.


"Besok? Em...."


"Maksud saya apa kamu ada acara sepulang sekolah besok?" tanyanya.


"Eng... enggak kok Pak. Kenapa ya?"


"Kok Pak lagi sih? Kan tadi udah di kasih tahu manggil Mas aja." Guru muda itu memprotes panggilan yang keluar dari mulut Citra.


"Maaf Pak eh Mas. Saya nggak terbiasa memanggil Pak Tian dengan sebutan Mas," jawab Citra.


Tian manggut-manggut mendengar jawaban Citra. Dia sangat maklum. Karena memang dirinya dan Citra tak pernah dekat.


"Iya, nggak apa-apa kok. Tapi saya harap kamu terbiasa manggil saya dengan sebutan Mas ya. Masa sih calon suaminya dipanggil Pak?" ujar Tian dengan percaya dirinya.


"Calon suami? Maksudnya apa lagi nih orang? Makin nggak jelas aja deh ini orang," ucap Citra dalam hati.


"Jadi gimana? Besok bisa kan?" tanya Tian.

__ADS_1


Citra mengerutkan keningnya lagi. "Bisa apa Mas?"


"Saya belum bilang ya tadi?"


"Bilang apa?"tanya Citra semakin bingung.


Tian menghela napas panjang. "Besok kamu ada waktu kan setelah pulang sekolah?"


"Iya ada. Emang kenapa Mas?"


"Besok saya mau ngajak kamu jalan. Bisa kan?"


Citra terdiam seketika. "Jalan? Maksudnya apa sih?"


"Saya pengin ngajak kamu jalan. Ya kalau istilah anak zaman sekarang, kencan gitu. Mau kan?"


"Em... gimana ya? Lihat besok aja lah Mas," jawab Citra.


"Ya udah. Istirahat gih. Udah malam," ucap Tian.


Citra menutup telpon setelah mengucapkan salam. Dia lantas mematikan lampu kamarnya dan menarik selimutnya. Dia berusaha memejamkan matanya walau susah. Akhirnya dia bisa tidur juga.


*****


Suara adzan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Citra segera bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat ekor matanya menangkap bayangan kakak perempuannya. Citra tersenyum ke arah Wiwit.


"Pagi Mbak," sapa Citra.


Wiwit melirik sekilas ke arah Citra. Tanpa berbicara apapun, gadis itu melewati Citra begitu saja. Citra mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan perubahan sikap Wiwit.


Sedetik kemudian dia tampak mengangkat bahunya. "Mungkin lagi ada masalah. Entar deh aku tanya sama Mbak Wiwit," ujarnya.


Gadis itu lantas melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dia segera mandi dan mengambil air wudhu.


Dua rakaat sudah selesai ia tunaikan. Citra melipat kembali mukenah dan juga sajadah yang ia gunakan untuk salat. Dia kemudian menyimpan kembali kedua benda itu ke tempatnya.


"Citra," panggil Tegar.


Citra menoleh ke arah Tegar. Senyum tipis terkembang di wajah gadis manis itu.


"Udah selesai salatnya?" tanya Tegar saat dirinya berdiri di depan Citra.


"Alhamdulillah udah Mas. Mas Tegar mau salat?" tanya Citra.


Tegar tersenyum mendengar pertanyaan Citra. "Iya. Rencananya sih aku mau jadi imam kamu. Tapi ternyata kamu udah selesai salat," ucap Tegar.


Citra tersenyum. "Entar aja kalau mau jadi imam," jawab Citra asal.


Tegar membalas jawaban Citra dengan senyum. Gadis itu kemudian beranjak dari hadapan Tegar. Dia kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan tugasnya.


Sepeninggal Citra, Wiwit berjalan mendekat ke arah Tegar. "Aku belum salat Mas. Mau jadi imamku?"


Tegar menoleh ke belakang. Senyum miring terukir di wajah tampannya. Tanpa menjawab perkataan Wiwit, Tegar berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Wiwit mendengus kesal. Dia merasa kesal karena Tegar sama sekali tak menghiraukan keberadaannya.


"Kenapa sih? Giliran Citra aja, dia lembut banget," gerutu Wiwit.

__ADS_1


Gadis itu lantas berbalik dan melangkah menuju kamarnya sendiri. Dia tak jadi melaksanakan ibadah subuhnya.


Matahari telah naik. Sinarnya yang hangat menerobos masuk ke dalam kamar Citra. Gadis itu lantas membuka jendela agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamarnya.


Citra menghirup udara yang masuk ke dalam kamarnya. Dia memejamkan matanya dan menikmati hangatnya cahaya matahari dari balik jendela kamarnya.


"Citra." Terdengar suara seseorang memanggil seraya mengetuk pintu kamarnya.


Citra segera berjalan menuju pintu kamar. Dia kemudian segera membuka pintu kamarnya.


"Ada yang nyariin tuh," ucap Wiwit dengan nada sedikit ketus.


"Siapa Mbak?" tanya Citra.


"Mana aku tahu. Lihat aja sendiri. Memangnya aku satpam apa kamu tanya-tanya," ketus Wiwit.


Citra tak membantah lagi. Dia malas berdebat untuk hal yang tidak penting. Tanpa menghiraukan ucapan ketus Wiwit, gadis itu segera melangkah menuju ruang tamu rumahnya.


Seorang pemuda tampak sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Pemuda itu tampak sedang berbincang dengan Pak Hamzah.


Melihat kedatangan Citra, Pak Hamzah lantas berdiri. "Kalau begitu Bapak tinggal ke belakang dulu ya," ucapnya.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan sopan. Senyum tipis terukir di wajah manisnya.


"Bapak tahu dari mana alamat rumah saya?" tanya Citra begitu dirinya tinggal. berdua saja dengan Tian.


Ya! tamu yang datang itu adalah Tian. Guru muda yang menaruh hati pada Citra.


Tian mengulas senyum. "Enggak dari mana-mana. Saya selalu mengikuti kamu setiap pulang sekolah. Makanya saya tahu alamat rumah kamu," jawab Tian.


"Bapak menguntit saya?" tuduh Citra. Matanya menyorot tajam saat menatap mata Tian.


Tian lagi-lagi tersenyum. "Bukan menguntit. Saya hanya ingin tahu saja alamat rumah kamu. Makanya saya mengikuti kamu," jelasnya.


"Sama aja. Mengikuti seseorang tanpa sepengetahuan orang itu, bisa dipidanakan lho Pak," kata Citra.


Dia merasa tak suka dengan apa yang dilakukan oleh guru muda itu.


Tian menghela napas panjang. "Maaf kalau kamu merasa terganggu dengan tindakan saya. Saya hanya ingin tahu alamat rumah kamu. Itu aja," kata Tian.


Citra mendecih. Matanya menatap Tian dengan sorot tak suka. Dia merasa risih sekarang.


"Maaf saya masih sibuk sekarang. Sebaiknya Bapak pulang." Citra mengusir Tian seraya berdiri dari tempat duduknya.


Tian berdiri dari tempat duduknya. Pemuda itu menatap Citra dengan lembut dan penuh kasih.


"Maaf kalau kedatangan saya mengganggu kamu. Saya hanya ingin berkunjung dan bersilaturahmi dengan anak didik saya," ucap Tian.


Citra memalingkan wajahnya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Terkesan angkuh memang. Tapi Citra tak peduli.


"Makasih ya. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum," ucap Tian sebelum meninggalkan rumah Citra.


"Wa'alaikumsalam," jawab Citra lirih.


Tian segera beranjak dari hadapan Citra. Saat akan memasang helmet, Tian masih sempat menoleh ke arah Citra. Tapi Citra memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak ingin melihat ke arah pemuda yang diam-diam menaruh hati padanya itu.


"Heh! Sok jual mahal. Padahal udah gatel pengin di garuk."

__ADS_1


__ADS_2