
Arga masuk ke dalam rumah dengan senyum terukir di wajahnya. Matanya menatap ke arah Citra yang juga tengah tersenyum padanya.
"Ehem... serasa jadi obat nyamuk deh," cibir Anne.
Arga dan Citra saling pandang mendengar cibiran Anne. Mereka berdua lantas tertawa.
"Obat nyamuk merk apaan Anne?" tanya Arga.
"Obat nyamuk merk Anne. Puas Lo?" ketusnya.
Tawa Arga semakin tak terbendung mendengar nada ketus Anne. Sedangkan Citra hanya tersenyum saja melihat tingkah keduanya.
"Jangan saling ejek. Nanti kalau jodoh gimana?" ujar Citra.
"ENGGAK!!!" Kompak keduanya menjawab ucapan Citra.
"Tuh kan. Kompak banget kalian berdua," ucap Citra.
"Jodoh aku kan kamu Cit. Aku nggak mau yang lain. Kalau misalnya Tuhan nggak menjodohkan kita, aku bakalan minta sama Tuhan buat menjodohkan kita," ucap Arga.
"Emang elo siapa maksa-maksa Tuhan?" cibir Anne.
Arga mencebikkan bibirnya. "Gue kan anak baik. Tuhan pasti mau lah mengabulkan doa gue," balas Arga.
"Baik dari hongkong," cibir Anne.
"Kan gue emang baik. Elo nggak sadar aja," balas Arga.
Citra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Senyum bahagia tergambar di wajahnya.
"Duh rame banget sih?" ujar Tegar. Pemuda itu baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh Mas Tegar," sapa Arga.
Tegar tersenyum membalas sapaan Arga. Dia kemudian menatap Anne yang sejak tadi menatap ke arahnya.
"Mas Tegar udah enakan?" tanya Citra penuh perhatian.
Tegar mengangguk. "Alhamdulillah. Kalian udah makan?"
"Alhamdulillah kalau udah baikan." Citra menjawab sambil tersenyum.
"Kalian udah makan?" Tegar mengulangi lagi pertanyaannya tadi.
"Belum Mas," jawab Anne malu-malu.
"Lah bukannya tadi elo udah makan ya Anne?" ujar Arga. Tangannya menunjuk pada bungkusan roti yang ada di depan Anne.
"Itu kan roti. Kalau nasi kan belum," kata Anne membela diri.
"Astaga Anne. Badan kecil makannya banyak bener," sindir Arga.
Tegar dan Citra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
"Ya udah. Mau makan apa? Biar Mas pesankan."
"Em... apa ya?"
Saat semuanya bingung menentukan pilihan makanan mereka. Azwan datang membawa dua kotak pizza.
"Wah lagi pada ngumpul ya," tegur Azwan. Senyum hangat terukir di wajahnya.
__ADS_1
Citra terpesona saat melihat senyuman itu. Senyuman yang sudah lama tak pernah ia lihat. Sedangkan Tegar tampak membuang muka saat melihat kedatangan Azwan. Pemuda itu tampak tak suka melihat kedatangan Azwan yang tiba-tiba.
"Eh elu Wan. Dari mana?" sapa Arga. Walaupun dia tak suka kehadiran Azwan, tapi dia berusaha untuk tak menunjukkannya.
Azwan hanya tersenyum mendengar sapaan Arga. "Elo belajar di sini kenapa nggak ajak-ajak gue sih?" ujar Azwan pada sang adik.
"Gue kira, elo udah nggak level lagi dekat-dekat sama Citra," sindir Anne. Matanya melirik tajam ke arah kembarannya itu.
"Anne." Citra memperingatkan saudaranya itu dengan gelengan kepala.
Azwan menatap Anne dengan pandangan mengejek. Pemuda itu merasa ada yang membelanya sekarang.
"Nih gue bawain pizza. Pada belum makan kan?" ujar Azwan. Dia meletakkan kantong itu di atas meja.
Aroma pizza menguar ke seluruh ruangan. Aroma makanan khas negara asal Gianluigi Donnarumma. Tanpa menunggu lama, Anne segera menyerbu pizza yang di bawa oleh Azwan.
"Citra mau yang mana? Biar aku ambilkan," tanya Arga penuh perhatian.
Azwan memalingkan wajahnya melihat perhatian yang diberikan oleh Arga pada Citra. Jujur saja dia masih menyimpan rasa cintanya pada Citra. Rasa cinta yang kini terasa tak berarti lagi.
Tegar bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah melewati Azwan begitu saja. Tanpa menegur atau melihat ke arahnya.
"Mas Tegar mau ke mana?" Tanya Citra saat melihat sang kakak melangkah menjauh dari ruang tamu.
"Mau balik ke kamar. Mau istirahat," jawab Tegar.
Citra bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Tegar. "Aku anterin ke kamar ya. Mas Tegar kan masih pusing," ucap Citra.
Tegar menatap sang adik dengan berbagai perasaan. Dia berusaha menahan gejolak rasa yang sudah lama ia rasakan.
"Ayo Mas." Citra menuntun Tegar untuk kembali ke kamarnya.
Tegar hanya bisa menurut saja. Pemuda itu berjalan menuju kamarnya bersama dengan Citra.
Pemuda itu menatap lekat ke arah Citra dan juga Tegar. Seolah dia sedang mencari sesuatu dari mereka berdua.
Tak hanya Arga yang berpikiran begitu. Anne pun berpikiran yang sama. Gadis itu juga merasa aneh dengan sikap Tegar. Cara dia menatap Citra bahkan berbeda dari caranya menatap Wiwit. Walau baru beberapa kali bertemu dengan Tegar dan Wiwit. Tapi Anne paham bagaimana Tegar memperlakukan Wiwit.
"Mungkin cuman perasaan gue aja. Mereka kan kakak adik. Ya walaupun Citra bukan anak kandung Bu Aminah. Tapi kan tetap saja mereka saudara. Enggak mungkin lah mereka seperti itu," ucap Anne dalam hati.
*****
Menjelang sore, mereka bertiga menyudahi acara belajar bersamanya.
"Aku pamit pulang ya Cit. Besok aku ke sini lagi," pamit Anne. Gadis itu membereskan buku-bukunya memasukkannya ke dalam tas sekolahnya.
"Aku juga pamit ya Cit. Besok boleh kan aku ikut belajar bareng lagi?" ujar Arga.
"Iya. Kalian hati-hati ya di jalan," sahut Citra.
Anne tersenyum dan memeluk tubuh gadis di sampingnya itu.
"Mau ngapain lo Ga?" Tanya Anne saat melihat Arga akan memeluk Citra juga.
"Mau peluk pujaan hati gue lah. Ya kali mau peluk elo," sahut Arga.
"Enak aja. Bukan mahram. Udah sana sana. Jangan dekat-dekat sama Citra," usir Anne.
"Elo tuh yang sana. Gue kan cuman mau dekat sama calon ibu dari anak-anakku," balas Arga sengit.
"Eh udah udah. Kok malah jadi berantem sih," kata Citra menengahi.
__ADS_1
"Arga duluan tuh Cit yang cari gara-gara," adu Anne.
"Enak aja. Anne tuh yang cari perkara duluan," balas Arga.
Citra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua sahabat baiknya itu.
"Anne, Arga. Stop! Enggak malu apa dilihat orang?" ujar Citra.
Keduanya akhirnya mengakhiri pertikaiannya. Anne mengerucutkan bibirnya sedangkan Arga menundukkan kepalanya.
"Hati-hati ya pulangnya. Kalau udah sampai rumah kabari aku." Citra mengingatkan keduanya untuk berhati-hati.
Arga dan Anne menganggukkan kepalanya hampir berbarengan.
"Oh iya. Ini aku ada kue buat Bunda." Citra menyodorkan sebuah kantong pada Arga.
Arga menerima kantong itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa yang hangat menjalari hatinya saat mendengar Citra menyebut kata 'Bunda'.
"Dan ini buat Mama sama Papa. Aku sendiri yang bikin. Semoga kalian suka ya," ucap Citra.
Anne menerima bungkusan itu dengan senang hati. "Pasti Mama sama Papa suka deh. Apalagi yang bikin anak cantiknya."
"Yup. Bunda pasti suka nih. Apalagi yang bikin calon mantunya." Arga tak mau kalah dengan Anne.
Wajah Citra merona merah saat Arga menyebut dirinya sebagai calon mantu.
Setelah berpamitan, keduanya lantas bergegas meninggalkan pelataran rumah Citra. Arga menaiki motor besarnya, sedangkan Anne dijemput oleh sopir pribadi keluarganya.
Senja telah beranjak menjadi malam. Suasana sepi dan hening mulai menyelimuti alam semesta. Bintang dan rembulan tampak sedang beriringan memberikan sinarnya yang lembut dan terang.
Satria duduk termenung di pinggir pantai. Suara deburan ombak pantai selatan membuatnya semakin tenggelam dalam lamunannya.
Sebuah tangan halus menyentuh pundaknya. Satria menoleh dan mendapati seseorang yang telah lama tak pernah ia temui berdiri di belakangnya.
"Udah lama nunggu ya?" tanya gadis cantik itu. Dia kemudian duduk di samping Satria.
Satria hanya tersenyum membalas pertanyaan gadis itu. "Enggak kok. Kamu pasti sibuk banget kan di rumah sakit?" ujar Satria.
Avita tersenyum membalas ucapan Satria. "Enggak juga. Aku baru aja fitting baju. Jadinya ya telat deh ke sininya," jawab Avita.
"Fitting baju? Kamu...."
Avita tersenyum. "Iya. Aku mau nikah," potong Avita.
Satria terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Avita. Dia tak menyangka jika Avita akan menikah dengan orang lain.
"Aku sadar Sat. Enggak selamanya aku harus nunggu sesuatu yang nggak pasti. Enggak selamanya aku harus menunggu seseorang itu membuka hatinya untuk aku."
"Dan aku juga sadar. Saat satu pintu tertutup untuk aku. Ada pintu lain yang terbuka dan siap untuk menerima kehadiran aku," pungkasnya.
Satria terdiam mendengar ucapan Avita. Serasa ditampar rasanya saat mendengar kalimat sindiran itu.
"Maaf Vit. Aku nggak pernah bisa melihat dan nggak pernah peka sama perasaan kamu," ucap Satria. Ada penyesalan yang terdengar dari nada suaranya.
Avita tersenyum mendengar ucapan Satria. "Oh iya kamu mau cerita apa? Mungkin ini kesempatan terakhir kita bertemu. Karena setelah menikah nanti aku akan pindah ke luar kota," kata Avita.
Satria menatap gadis di sebelahnya. Dia terkejut mendengar penuturan dari Avita barusan.
"Kamu mau pindah?" tanya Satria memastikan.
Avita menganggukkan kepalanya. "Aku ikut suami pindah ke Manado. Karena suamiku tugas di sana," jawab Avita.
__ADS_1
Lagi-lagi Satria tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya diserang perasaan tak biasa saat mendengar Avita akan menikah. Di saat hatinya mulai bisa terbuka untuk gadis itu, dia justru harus menerima kenyataan bahwa Avita memilih menutup pintu hatinya untuknya.
Di saat dirinya mulai bisa menerima kehadiran Avita. Dia justru harus ikhlas melepaskan gadis itu. Melepaskan segala cintanya dan mengubur semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.